We

We
Empat puluh delapan



...We...


...|Empat puluh delapan|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Hari ini, tepat pukul delapan pagi, acara pengucapan ijab akan dilakukan di kediaman orang tua Tyra. Firdaus yang meminta agar ijab tersebut di lakukan dirumahnya lantaran Tyra adalah anak satu-satunya yang tidak akan memungkinkan bagi dirinya untuk kembali memiliki kesempatan menjadi wali untuk pernikahan anaknya.


Dan ya, semuanya setuju termasuk Atan dan ibunya. Tidak ada salahnya dengan permintaan tersebut karena Firdaus adalah ayah Tyra.


Pernikahan tertutup rapat. Tidak ada satu media pun yang diundang atau terlihat disana. Hanya sanak saudara dari Firdaus dan Riyana yang datang. Sedangkan dari pihak Atan, ada paman—kakak kedua Lastri—dan keluarga yang datang dari Surabaya untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.


Atan sangat tampan dengan tubuh tinggi tegap dan wajah manisnya, sudah siap dengan kemeja putih dan celana hitam serta peci hitam di kepalanya. Jas ada didalam mobil, berikut beberapa syarat melamar anak gadis orang, yakni seserahan. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup berguna untuk perempuan cantik seperti Tyrana Agnalia.


“Aku kuaget lho, samean moro-moro rabi ngene. Gak onok angin, bapak moro ngejak nang jakarta. Dek Atan rabi, ngunu jarene, luangsung aku mendelik.” celetuk Agus, saudara sepupu Atan yang usianya lebih muda lima tahun. (Aku kaget lho, kamu tiba-tiba menikah begini. Nggak ada angin, bapak tiba-tiba ngajak ke Jakarta. Dek Atan menikah, begitu katanya, sontak aku terbelalak.)


“Rabine ambek artis, pisan.” lanjutnya dengan logat Jawa medok khas Surabaya. (Menikah nya sama artis, pula.)


Atan yang memang dasarnya orang jawa tulen, ya, paham dengan apa yang dikatakan sepupunya itu. Dia tersenyum manis pada Agus.


“Duduk artis mas Agus, model. Tapi maringene tak kongkon pensiun. Dadi ibu rumah tangga ae. Aku sing golek duwek.” (Bukan artis mas Agus, model. Tapi setelah ini saya suruh pensiun. Jadi ibu rumah tangga saja. Saya yang cari uang.) begitu timpalnya. Atan memang sosok pria yang kalem namun tegas dalam mengambil keputusan kalau bicara.


“Sip! Mugi-mugi di paringi langgeng yo.” (Sip! Semoga langgeng, ya.)


“Amin. Makasih do'a nya, mas.”


Pria yang wajahnya lebih tua dari Lastri namun masih sehat dan bugar yang dipanggil Atan pak dhe muncul dari balik tirai ruang tengah.


“Wis siap toh, le? Wes jam pitu.” (Sudah siap kan, nak? Sudah jam tujuh.)


Lastri muncul bersama Linda yang hari ini terlihat sangat cantik dengan gamis brukat berwarna ungu muda.


“Sudah, pak dhe.” sahut Atan mengambil posisi tegap dengan bahu tegak.


“Jangan lupa do'a. Biar ijabnya lancar.”


Atan mengangguk mendengar tutur sang ibu yang tadi juga sempat di katakan pak dhe nya.


Ada enam orang yang sekarang berangkat menuju kediaman keluarga Tyra, dengan mobil Atan. Para tetangga juga tadi sempat menengok sebentar ketika Atan berjalan keluar rumah, lalu mendo'akan dan mengucap selamat. Atan bersyukur karena do'a yang dia terima hari ini, semuanya baik.


Semoga lancar ijab nya.


Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.


Dua do'a itu yang tidak berhenti mengalir untuknya dan Tyra. Dan semoga semua itu di kabulkan oleh Tuhan yang maha Esa.


Sedangkan di kediaman Firdaus, Tyra yang sudah selesai di make-up, menunggu kedatangan pihak Atan di dalam kamar yang sudah lama tidak ia tempati. Diam-diam dia mengesat air mata, karena pada akhirnya semua menjadi indah. Orang tuanya kembali menerimanya meskipun dalam keadaan seperti yang sudah mereka ketahui. Lalu, menikah dengan pria baik yang ia cintai, apalagi ada calon anak mereka di dalam perutnya. Hidup Tyra terasa begitu sempurna sekarang.


Telapak tangan Tyra mengusap perutnya yang kini tertutup kebaya cantik berwarna putih yang ia dan Atan pesan pada salah satu designer ternama yang dikenal Tyra. Wajahnya yang ayu, dirias tipis namun tetap terlihat elegan.


“Setelah ini, kita akan tinggal bersama Ayah ya, nak.” bisiknya menahan tangis. Dia tidak ingin menyulitkan MUA nya untuk kembali menata riasan karena menangis di jam krusial yang sebentar lagi menjadi satu hari yang begitu berharga untuknya. “Mama sayang kamu.”


Pintu terayun terbuka dan Tyra mendapati Retno dengan baju batik modern yang membuatnya terlihat tampan. Rambut yang biasanya dibiarkan memanjang sampai menutupi mata itu, di pangkas dengan model kekinian high and tight. Tyra ingat semalam managernya itu meminta izin untuk memangkas rambut. Dan sekarang, Retno terlihat begitu Gentle dan juga ... sangat tampan.Mata sipitnya terlihat jelas, hidungnya mancung, wajahnya bersih tanpa jerawat, alisnya tebal dan bibirnya sedikit pink meskipun tidak memakai lipbalm.


“Wah, kenapa kamu nggak dari dulu aja kayak gini, Pah.”


“Kenapa? Lo nyesel nggak naksir gue?”


”Ya nggak lah.” sahut Tyra cepat tanpa berfikir bla, bla, bla, karena dia tau pilihannya hanya kepada Zelatan Adonizio.


Potek hati abangnya neng, kenapa bicaranya jujur amat sih?!


“Kemana-mana Atan tetap nomor satu.”


“Dah tau gue kalau Lo bucin Ama dia. Tuh buktinya Lo bunting.” celetuk Retno kesal. Pria itu duduk di sisi ranjang, lalu mengeluarkan ponsel mahalnya. “Linda ikut nggak?” tanyanya malu-malu tanpa berani menatap mata Tyra.


Tyra tersenyum jail. “Kenapa, mau ngecengin?”


Retno hanya diam dan terus menggulir profil instaons seseorang, melihat-lihat barang kali ada update-an terbaru. Siapa tau dia dapat kisi-kisi dresscode yang digunakan orang itu hari ini.


“Ngomong jujur aja, mumpung dia masih single sekarang sebelum di empat orang.”


Retno menghentikan gerakan ibu jarinya diatas layar ponsel, kemudian menatap Tyra dengan sorot penasaran dan ingin tau. “Ya kalau siSetan ngijini!”


Jawaban Retno membuat Tyra seketika itu menyorot tajam si manager. “Sebut calon suami gue begitu lagi, gue gagalin rencana pedekate Lo ke adik ipar gue.” ancam Tyra sengit dengan wajah kesal dan datar setengah mati, juga kepalang tangan dinaikkan sebatas dada, yang mengundang nyali Atan untuk menciut. Kalau Tyra sudah menggunakan panggilan Lo-gue, itu tandanya dia marah dan nggak ada harapan dan kata-kata baik yang terlontar dari mulutnya. Retno tau itu sejak dulu.


Tyra menurunkan kepalan tangannya, “Jadi kamu mau gebet si Linda beneran?”


“Ya kalau dia mau, dan gue dapet izin dari kakaknya sih, mau Rex. Tapi gue yakin Linda nggak mau, dan Atan nolak gue—”


“Ya berjuang dong, Pah. Buktiin kalau kamu serius sama dia. Masa orang kayak kamu gini kalah sebelum berperang? Letoy dong! Nggak seru ih?!” cebik Tyra yang langsung di hadiahi Retno lembaran bantal yang mengenai punggungnya.


“Vang-sat lu ya!”


“Penganten dan penghulunya udah siap, Ra.” kata adik Firdaus yang dipanggil Tyra Tante Ane. Wanita itu memiliki anak seumuran Tyra yang juga sudah menikah. Dia yang akan mendampingi Tyra keluar nanti setelah ijab selesai diucapkan.


“Kalau gitu, gue keluar dulu, Rex.” kata Retno langsung mengambil sikap berdiri dan berjalan keluar setelah mendapat persetujuan dari Tyra.


Sekarang, jantung Tyra begitu berdebar menanti momen dimana Atan akan menjadikan dirinya menjadi milik laki-laki itu secara utuh, meskipun nanti harus kembali mengucap ijab setelah anak mereka lahir. Setidaknya, momen inilah yang paling berharga dalam hidup yang akan ia kenang sampai nanti.


Ruang tamu luas yang disulap menjadi tempat akad dipenuhi oleh anggota keluarga beserta pihak dari Kantor Urusan Agama yang tidak lain menjadi penghulu dari acara sakral ini.


Ada sebuah meja berukuran tidak terlalu besar, yang kini membuat Atan, Firdaus, penghulu, dan pak dhe dari Atan duduk saling berhadapan.


Firdaus mengulurkan tangan diatas meja sesuai instruksi penghulu, kemudian disambut Atan dengan telapak tangan dingin. Tatapan mereka bertemu, kemudian terkunci demi mengucap janji suci dan tanggung jawab yang akan dialihkan oleh Firdaus kepada Atan.


Ijab itu berlangsung hikmad, hingga seruan ‘Sah’ menjadikan semua hati yang ada disana merasa lega. Penghulu membacakan do'a untuk kedua pengantin, kemudian Tyra dibawa keluar oleh Tante Ane.


Momen inilah yang membuat Atan tersenyum disela tangisnya. Ia melihat wanita cantik yang dia cintai itu sedang berjalan menghampirinya yang sekarang sudah terikat. Setelah berdiri di depan Atan, Tyra yang anggun itu menyalami telapak tangan Atan dan mengecupnya singkat, lalu Atan membalasnya dengan ciuman di kening. Mereka berdua tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari yang berkesan mendalam dan begitu bermakna dalam hidup kedua anak manusia yang saling mencintai itu.


Setelah itu, Atan dan Tyra saling tatap. Lalu dengan tegas Atan berkata,


“Aku akan mencintaimu sampai aku kembali ke pangkuan sang kuasa, Tyrana Agnalia. Cintaku, tidak akan ada akhirnya untuk kamu.”


Tyra dan semua orang yang menyaksikan itu terharu dan meneteskan air mata saat suara bergetar Atan mengatakan itu didepan semua orang.


“Aku akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku. Selamanya.”


***


Suasana rumah Firdaus kini ramai oleh suara keponakan dan orang yang berbincang. Keluarga besar firdaus yang hadir seakan sedang melakukan Reuni keluarga. Mereka juga mengikuti sertakan keluarga Atan diantara mereka. Definisi keluarga baik memang sudah menempel pada keluarga besar Firdaus.


Presmanan disediakan keluarga Tyra di samping ruang tengah yang ada disebelah kolam renang. Setelah ijab berlangsung tadi, acara berlanjut dengan keakraban dua keluarga yang sudah bersatu.


Dan kesempatan ini, tidak disia-siakan oleh seseorang untuk melakukan aksi pendekatannya.


Retno yang memang terlihat memukau hari ini berhasil menarik perhatian banyak orang. Termasuk Linda yang juga tak kalah terkejut dengan penampilan baru pria yang usianya satu tahun lebih muda dari kakaknya itu.


“Kamu, Linda adiknya Atan kan?” tanya Retno, tiba-tiba berdiri di samping Linda yang sedang mengambil ayam balado untuk makan siangnya hari ini.


“Ah, iya, mas.” jawab Linda yang terkejut karena suara madu milik Retno menyapa telinganya. “Oh, mas ini managernya mbak Tyra kan?”


Retno tersenyum ke arah Linda. Tatapan mereka bertemu. “Ya. Kenalin, Retno Sangkala.”


Linda menunduk guna menatap telapak tangan Retno yang putih bersih, jauh berbeda dengan kulitnya yang hanya sebatas kuning Langsat, lalu menyambutnya dengan senyuman tak kalah manis hingga satu lesung pipinya muncul. Linda mendongak kembali, lalu menyebutkan namanya. “Belinda Adiyasa.”


...—End—...


###


WE sudah tamat ya, Atan dan Tyra pada akhirnya bersatu ☺️ 👏👏👏👏


Terima kasih sudah mendukung cerita WE dengan memberikan vote, hadiah, like dan juga komentar. Mohon maaf jika selama berada di lapak ini, Author Vi's punya salah kata atau ada tutur bahasa yang kurang berkenan di hati teman-teman pembaca sekalian. 🙇


Cerita ini akan Vi's beri satu ekstra part saja ya, karena Vi's masih ada dua tanggungan lain yang belum kelar. 😂


Ditambah lagi, Vi's juga mau fokus untuk menyusun draft cerita selanjutnya untuk Belinda, adik dari si Atan yang ternyata berhasil membuat Si Retno klepek-klepek. Wkwkwkwk


Kalau ada waktu luang, silahkan mampir ke cerita-cerita Vi's yang lain juga ya ...😉


Sekali lagi, Vi's ucapkan buaaaaaanyak sekali terima kasih untuk dukungan yang pembaca baik hati sekalian berikan kepada author. Karena tanpa kalian, author bukan siapa-siapa. 🥰


I'll always love you, guys. And I'll try my best to all of my novel story.


See you


regret,


VizcaVida


❤️❤️❤️