
Ayo teman-teman pembaca yang mampir kesini ...
Untuk yang belum memberi Like, silahkan di like ya untuk cerita pasangan TyTan. Tinggal di tap gambar jempol yang itu lho, gak sulit kok, gampang. Gratis-tis, nggak bayar.
Itung-itung amal juga, dan jadi kebaikan untuk kalian karena sudah buat authornya seneng.
Terima kasih ☺️
...We...
...|Dua puluh Empat|...
...Selamat membaca...
...[•]...
“Hati-hati disana.” kata Atan sembari mengusap surai lembut milik Tyra yang kali ini diikat rapi menjadi satu bagian dengan poni macam tenda pernikahan di keningnya. Kontan saja semua itu tidak lepas dari pengamatan Retno yang ada disebelah mereka berdua, menyorot dengan tatapan sinis.
Atan sengaja datang lebih dulu dan menunggu Tyra didalam. Tujuannya, agar pembuat berita tidak memuat berita lain yang lebih membuat situasi dunia Maya semakin ramai.
Ini menjadi pertemuan kedua dengan Atan, bagi Retno. Dan pria ini memang tipe Tyra sekali.
“Eum. Nanti kalau sudah sampai aku kabari.” jawab Tyra, mendongak menatap wajah tampan sang kekasih yang masih tergambar jelas di ingatannya meskipun kini sedang tertutup masker. “Kamu juga hati-hati.”
Empat hari, adalah waktu terlama bagi Tyra pergi keluar negri—untuk saat ini—setelah menjadi kekasih atan. Bagaimana tidak? Dia pasti akan sangat merindukan Atan saat berada disana karena mereka berada di atmosfer negara dan udara yang berbeda.
“Aelah Lo kayak mau minggat nggak balik aja Rex?!” ketus Retno tak sabaran melihat gelagat malu-malu guguk dari Tyra di depan Atan. Gadis ini bukan tipikal kalem kalau lagi pacaran. Retno tau betul peringai Tyra kalau pacaran. Kalau bersama Atan bisa memasang model ala-ala kucing peliharaan yang manjanya nggak ketulungan minta dielus, beda dengan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya dulu. Tyra tidak pernah selembut ini dengan laki-laki. Suer, Retno berani bersumpah atas nama pemilik warung soto di depan apartemen tempat tinggalnya yang menjadi saksi hidup kemarahan Tyra pada kekasihnya. Tyra itu tipikal keras kepala dan nggak mau ngalah.
Mendengar cibiran Retno, Atan tersenyum. Dan mata Atan yang menyipit itu justru membuat Tyra ingin melompat kedalam pelukan pria itu dan mengecup bibirnya. Ups, keceplosan.
“Tolong jaga Tyra dengan baik disana ya, pak manager.” kata Atan meminta dengan nada lembut, rendah dan tentu saja terdengar penuh kasih sayang yang membuat Retno iri.
“Tentu. Itu sudah tugasku.”
“Tolong, cegah dia kalau mau pergi ke klub atau mengambil minuman dosa.”
Retno tau maksud ucapan Atan, dan dia mengacungkan ibu jari didepan wajahnya.
“Aku nggak pernah minum begituan, kok.”
Retno menoyor kepala Tyra sampai gadis itu oleng dan di raih oleh Atan agar tidak terjatuh. Sebal, Tyra mendelik ke arah Retno sebagai peringatan. Managernya ini, tidak bisa ya merahasiakan sedikit saja kelakuan buruknya didepan Atan. Atau bisa-bisa kekasihnya itu ilang feeling mendengar kelakuan liar dirinya yang dulu memang sering menenggak minuman penuh dosa itu.
“Nggak usah sok suci deh Lo Rex. Bosen gue lihat kelakuan Lo yang macem se-tan itu.”
Merasa terpojok oleh perkataan Retno, Tyra langsung saja melayangkan bogem ke lengan si manager dengan wajah berekspresi panik bukan main. Sedangkan Atan, hanya tersenyum geli dan menatap sang kekasih dengan sorot hangat dan penuh kedewasaan.
“Nggak apa-apa, itu masa lalu. Sekarang, jangan dilakuin lagi yang kayak gitu. Bahaya buat diri kamu, dan kesehatan kamu.” tutur Atan, kembali mengusap surai Tyra lebih perhatian dari sebelumnya. “Tolong, jaga diri baik-baik disana ya, sayang.”
Trompolin mana? Tyra ingin melompat gaya katak berdansa saat mendengar Atan memanggilnya dengan sebutan sayang. Ouh, tolong Tyra! Tingkat kebucinannya pada sosok Atan sudah pada level maksimal. Bisa-bisa dia terkapar dan batal terbang ke Amrik kalau seperti ini.
Tyra tersenyum dan menyambut lengan Atan yang masih sibuk dengan surainya, lalu meremasnya lembut. “Eum. Aku akan jaga diri. Nggak akan macem-macem disana.”
“Bohong. Jangan percaya.” kata Retno, yang sontak mendapat hadiah sebuah injakan kasar dari kaki Tyra yang berbalut boots kulit mahal keluaran Gucci hingga tubuh jangkungnya membungkuk dan wajahnya meringis kesakitan.
“Eh, jangan begitu sayang. Kasihan Retno.”
“Biar tau rasa. Bikin kesel aja.”
Atan lagi-lagi tersenyum. Wajah marah Tyra begitu menggemaskan.
“Kamu siap-siap gih. Kamu harus segera Check-in. Nanti kelamaan malah antri.”
“Itu tugas retno.” sahut Tyra cepat. “Pah, jerapah check-in gih!”
Atan geleng-geleng kepala melihat interaksi Tyra pada Retno yang terasa lucu baginya.
“Iya T-rex. Nyebelin ih. Kaki aku sakit tau!”
Meskipun mendumal, Retno pada akhirnya meninggalkan keduanya untuk menuju tempat check-in dan setelah itu mengambil boarding pass.
Atan menatap Tyra, begitu juga sebaliknya.
“Saya belum pernah merasakan perasaan seperti ini sama seseorang yang baru di hidup saya.” gumam Atan yang disambut gelak tawa dari Tyra.
“Perasaan yang kayak gimana?”
“Eummm, gimana ya? Kayak nggak rela kamu pergi dari sini.”
Tyra menyorot sendu manik mata Atan yang begitu indah. Hazel itu begitu menawan.
Atan mengangguk. “Tolong, jaga diri kamu baik-baik disana.” kata Atan, sampai mengulangi pesan yang sama sebanyak tiga kali agar Tyra menjaga diri baik-baik disana.
Tyra mendekat dan memeluk tubuh beraroma coklat kesukaannya. Dia juga berat meninggalkan Atan, tapi bagaimana lagi, ini tuntutan pekerjaan yang menyangkut nama baiknya.
“Iya, sayang. Aku janji nggak nakal disana. Kamu juga nggak boleh nakal disini selama aku pergi, ya.”
Atan membalas pelukan Tyra dan mengangguk.
“Eumm. Pasti. Saya nggak akan melakukan sesuatu yang membuat kamu kecewa.”
Tyra menjauhkan diri dan mendongak demi menatap lagi wajah sang kekasih.
“Hari sabtu, aku jemput disini.” kata Atan penuh kepastian. Sedangkan Tyra, tersenyum hangat dibalik maskernya.
“Turunin maskernya dong.” pinta Tyra yang juga menurunkan masker miliknya. Sekarang, dia bisa melihat sekali lagi wajah Atan dengan jelas sebelum terbang ke amerika. Lalu, kakinya berjinjit dan mengecup singkat bibir Atan.
Debaran yang membuat jantung terasa bekerja semakin keras hingga badan lemas terasa begitu nyata pada Atan. Dia belum pernah merasakan yang seperti ini. Dicium oleh seorang wanita hingga membuat matanya terasa berkunang, baru kali ini dia merasakannya.
Melihat ekspresi terkejut Atan, Tyra mengulas senyum di bibirnya. “Terima kasih sudah khawatir sama aku. Aku janji akan menjaga diri seperti yang kamu inginkan, Mas Atan.”
Mas? Rasanya wajah Atan merona sekarang. Kenapa jika Tyra yang menyebutkan itu, jantungnya terasa begitu cepat saat berdetak?
“Bye, sampai jumpa hari sabtu.”
***
“Sumpah, gue pingin banget punya koleksi baju design buatan Tyra.” celetuk salah satu teman kantor Putri.
“Gue juga. Kemaren pas ngeluarin model baru cuma ada 100pcs doang, dan yang pesen bukan cuma orang indo lho. Ada banyak orang luar negeri yang berhasil, dan rata-rata memang orang luar. Gue gagal dapetin padahal udah pantengin akun nya dari setengah jam sebelum PO di buka. Gara-gara internetnya kalah cepat kali ya?”
“Bulan ini gue nggak mau gagal. Gue harus dapetin salah satu koleksinya kalau Tyra launchingin model baru.”
Putri yang merasa panas, akhirnya ikut bicara.
“Memangnya, sebagus apa sih design bikinan Tyra? Gue kok baru denger nama itu ya?” kata Putri.
“Yeelah, lu baru muncul dari goa ya, Put? Tyra itu model terkenal banget dari brand sekelas dunia. Dia juga jadi owner bisnis bajunya sendiri yang sukses banget dan mungkin lagi booming di berbagai negara. Dia itu cewek pinter lho. Nggak cuma sekedar pamer body didepan kamera.”
Mendengar puja-puji rekan kerjanya untuk Tyra, rasa ingin tau putri akan seorang Tyra makin besar. Lalu, apa alasan gadis itu memilih Atan jika strata dan level hidup mereka jelas-jelas berbeda? Cuma ingin bersenang-senang kah?
Putri mencari topik lain.
“Oh, Tyra yang lagi rame dibicarain nitizen katanya punya pacar itu ya?”
“Tuh tau.” celetuk salah satu perempuan yang suka berkata pedas saat bicara dengan semua orang itu.
“Eh, kayaknya pacarnya kali ini bukan dari kalangan orang kaya atau pejabat deh.”
Umpan Tyra mulai disambar. Dia senang jika tau banyak tentang Tyrana tanpa harus susah payah mencari tau dari Atan.
“Eum. Sependapat. Biasanya, Tyra itu kalau update, fotonya suka yang berbau-bau kekayaan gitu. Tapi tempo hari, cuma dashboard kayak mobil biasa kaya mobil kita-kita deh.”
“Yang gue pingin tau, cowoknya itu cakep apa kagak?”
“Ya pasti cakep lah. Mana mungkin Tyra mau kalau nggak cakep dan berduit. Orang kaya itu diciptakan untuk orang kaya. Kalau kita mah, tunggu keajaiban takdir aja.” lanjut mereka bergosip sambil terkikik atas asumsi mereka sendiri.
Putri semakin risau. Dia bahkan ingin menghubungi Atan sekarang juga dan bertemu untuk bicara banyak hal. Termasuk merealisasikan tujuannya yang sudah ia coba susun.
“Menurut Lo, pacar Tyra cakep nggak put?”
Putri yang disebut namanya, terlonjak kaget dan kembali dari lamunan.
“Ya. Cowoknya cakep banget. Dia juga cowok baik.”
Dua orang didepan Tyra itu saling tatap.
“Lo sok tau.”
“Gue nggak sok tau. Tapi gue memang tau, siapa pria yang sedang kalian bicarakan itu.” []
...—To be continue—...
###
Untuk visual, yang ada di cover mereka itu cocok kok 🤭
Bab selanjutnya, diharap tidak emosi ya ...
see you