
...We...
...|Dua puluh lima|...
...Bab ini di indikasi bisa menimbulkan sakit kepala. Jadi setelah membaca, silahkan beristirahat untuk menetralisir rasa marah, ingin mengumpat, atau apapun jenis letupan-letupan yang timbul didalam hati dan kepala. Author sarankan juga, agar menyediakan air minum agar tenggorokan terasa lega, dan tubuh semakin sehat. 😁✌️...
...Terima kasih...
...Selamat membaca...
...[•]...
Sabtu sore, Putri bersiap untuk jemputan Atan yang katanya pria itu hanya akan mengantarkan sampai didepan rumah karena ada keperluan yang tidak diketahui Putri—dalam artian tidak sebenarnya.
Dia memberitahu Atan melalui sebuah pesan, semalam, jika Brina ingin bertemu dan sedang menunggunya dirumah. Tapi Atan meminta maaf dengan sungguh tidak bisa mengajak Brina bermain, dan hanya bisa menemani putri menjemput gadis kecil itu dari tempat penitipan, kemudian segera pergi untuk keperluan yang begitu penting hari ini, katanya.
Tak kehabisan akal, Putri sudah menyiapkan skenario agar Atan mau bertemu, mampir dan masuk kerumahnya sebentar untuk meminum teh. Ya, secangkir teh saja dan setelah itu Atan boleh pergi.
Tak lama menunggu di lobby depan kantor pajak tempatnya bekerja, mobil Atan terlihat memasuki area depan dan berhenti tepat didepan putri. Tidak ada sambutan atau pintu dibuka khusus untuknya. Putri berjalan memutar kap depan dan membuka pintu mobil sendiri kemudian duduk di samping kursi kemudi.
Aroma Atan terhirup, dan Putri terbawa suasana untuk bernostalgia.
“Lama nunggu, put?” tanya Atan, lantas menjalankan mobil keluar dari area tempat kerja Putri.
“Enggak kok.”
Merasa nggak enak, Atan pun kembali bersuara untuk meminta maaf kepada putri perihal penolakannya bertemu dengan Brina. Dia tidak bermaksud mengecewakan gadis cilik itu, karena memang dia memiliki kepentingan yang harus dia penuhi. Dia akan menjemput Tyra di bandara. Kekasihnya itu akan sampai di tanah air pukul setengah tujuh malam.
“Tolong sampein ke Brina ya. Aku minta maaf karena nggak bisa ketemu sama dia.”
Putri tersenyum penuh makna, namun tak terlihat oleh Atan karena terlalu fokus pada jalanan yang macet.
“Nggak apa-apa. Barusan mama telepon, Brina udah di jemput dari penitipan dan diajak main kerumah mama papa.” sengaja, putri dengan sengaja tidak memberitahu Atan untuk hal ini agar pria itu tetap datang menjemputnya.
Atan menoleh sebentar. “Terus ini, kita jemput Brina di rumah papa kamu?” tanya Atan memastikan. Dia tidak ingin terlambat menjemput Tyra, namun juga tidak enak jika harus meninggalkan Putri begitu saja dengan Brina dengan menaiki kendaraan umum.
“Enggak. Karena udah kepalang tanggung, tolong anter aku pulang aja. Nanti Brina biar aku yang jemput kerumah papa.”
Ada kelegaan dalam hati Atan. Pasalnya, dia harus sampai di bandara sebelum pukul enam malam, dan sekarang jalanan macet parah karena weekend. Menghubungi Tyra sekarang juga tidak mungkin. Jadi, biarkan saja dulu dia mengantar Putri, kemudian setelah Putri sampai dirumahnya, Atan akan mengirim pesan untuk Tyra agar mau menunggunya sebentar jika terlambat.
“Oh iya, Zio. Lampu ruang tengahku mati. Kamu bisa tolongin aku buat ganti lampu sebentar tidak?” pinta Putri dengan nada memohon dan sedikit manja. “Oh hampir lupa, kamu kan ada janji? Kalau nggak bisa nggak apa-apa deh. Nanti aku benerin aja sendiri sebelum jemput Brina.” pancingnya, menunggu reaksi Atan.
Atan menoleh sekilas. “Nanti aku gantiin.”
Putri bersorak gembira dalam hati. Sepertinya, rencananya akan berhasil.
“Ah, makasih ya. Kamu memang bisa diandalkan. Tapi, maaf jadi ngerepotin kamu.”
Atan menjawab datar. “Iya, nggak apa-apa.”
Sesampainya dirumah, Putri bergegas membuka pintu dan berlari kecil menuju gudang di belakang untuk mengambil tangga agar Atan bisa dengan cepat memberikan bantuan yang ... sudah dia rencanakan.
Putri dapat mendengar bunyi saklar di coba, dan lampu memang benar-benar tidak berfungsi karena tadi pagi Putri sudah menggantinya dengan lampu rusak. Ia pun kembali dengan mengangkat tangga susah payah yang sontak membuat Atan datang mendekat dan menolongnya.
“Ngapain kamu angkat beginian? Kan bisa panggil aku, Put?” kata Atan dengan wajah memicing. Kemeja yang digunakan pria ini kali ini mampu membuat Putri berdebar. Hitam, adalah warna yang sangat cocok untuk Atan.
“Ya biar kamu bisa cepet, Zio. Kan kamu mau pergi juga ada keperluan.”
“Iya, tapi ini berat lho.”
Putri terkikik mendengar suara khawatir Atan yang amat sangat dia rindu dan harapkan.
Dan setelah membuka kaki tangga, Atan bergegas naik, lalu menunggu Putri yang sekarang sedang berlari ke dalam kamar untuk mengambil lampu ganti yang sudah dia siapkan juga tadi pagi.
Tak butuh waktu lama sampai Putri kembali membawa lampu ganti, Atan menerima lampu LED itu dari tangan Putri dan bergerak semakin naik.
“Nggak usah, Put. Aku langsung balik setelah ini selesai.”
“Nggak etis ih tamu nggak dibikinin minum?!” celetuk Putri memaksa agar Atan mau. “Udah, pokoknya aku bikinin. Diminum nggak diminum, yang penting aku nggak nelantarin tamu.”
Atan tertawa mendengar putri bicara begitu.
“Oke deh.”
Putri berjalan ke dapur dengan hati yang sedikit bimbang. Dia kembali dilanda bingung antara melakukan rencananya ini atau tidak. Namun entah setan dari mana yang berbisik di telinganya, Putri pun mengambil langkah cepat sambil menenteng tas kerja yang sebelumnya dia letakkan di nakas dekat dapur. Ia menyalakan kompor dan memasak air.
Setelah air itu siap, dia menuangnya kedalam sebuah cangkir yang sudah ia beri teh, gula, dan ... sebuah serbuk yang ia pesan dari seseorang.
Dengan gerakan hati-hati dia mengaduk. Akan tetapi, Atan yang tiba-tiba muncul di balik punggungnya dengan membawa tangga yang sudah selesai di gunakan, membuat Putri terkejut hingga berjengit kaget.
“Tangga nya taruh mana, Put?”
“O-oh. Taruh gudang belakang rumah, tolong.”
Atan menyanggupi tanpa bicara panjang lebar. Dan saat dia kembali, putri sudah tidak ada di dapur dan menunggunya dengan secangkir teh hangat di ruang tengah yang saat ini terang benderang karena lampu LED yang menyala.
Lengan Atan mengapung diudara untuk memastikan jarum jam masih bisa berkompromi untuk sekedar menyesap teh buatan Putri, agar perempuan itu merasa senang. Masih ada waktu sekitar dua jam, dan semoga saja jalan tidak semakin macet saat menjelang petang.
Atan duduk di kursi berseberangan dengan tempat duduk Putri. Dia segera meraih cangkir teh tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Putri yang hanya menyajikan satu cangkir teh untuk dirinya. Ada setoples kue kering juga sebagai pendamping teh, tapi Atan tidak berniat santai sambil memakan kudapan. Dia harus bergegas karena tidak sabar melihat Tyra pulang.
“Habisin, biar yang bikin seneng.” celetuk Putri memperingati agar Atan tidak membuat tehnya buatannya tersisa.
Atan tersenyum, lalu meletakkan kembali cangkir teh diatas meja. Dia menatap seluruh sudut ruangan berukuran tidak terlalu luas dari rumah Putri, kemudian berpendapat.
“Rumah kamu cukup nyaman.” katanya, yang diangguki oleh Putri yang sedang berkutat dengan ponsel. Lalu, pandangan Atan jatuh pada foto Brina yang dicetak dengan ukuran cukup besar tertempel di dinding ruangan ini. Gadis kecil itu memang cantik dan menggemaskan. Atan selalu suka jika harus di pertemukan dengan Brina. Dia sedikit menyesal menolak permintaan Brina bertemu, seperti yang dikatakan putri dalam pesannya semalam.
Duduk diam begini, lama-lama membuat Atan merasa gerah.
“Brina besok sudah balik ke sini?” tanya Atan sambil mengibaskan kemeja didepan dadanya. Badannya terasa semakin gerah. Mungkin efek dari tenaganya yang sedikit terpakai untuk mengangkat tangga yang tidak terlalu berat tadi ke gudang, jadi sekarang dia merasa kepanasan. Begitu pikirnya.
“Nanti aku jemput. Memangnya kenapa?” tanya Putri sambil memperhatikan gelagat Atan yang masih terus mengipasi dirinya sendiri dengan kemeja di dadanya. “Kamu gerah? Mau aku ambilin kipas angin?”
Atan menggeleng dan mengibaskan tangannya ke udara sebagai bentuk penolakan. “Enggak. Aku mau balik sekarang.”
“Lho, kok buru-buru sih. Habisin dulu kalau gitu, teh nya.”
Atan menurut saja. Dia menenggak habis minuman di cangkir karena merasa semakin gerah saja. Putri berjalan mendekat, dan meraih satu lengan Atan sambil mengucap terima kasih yang justru, membuat Atan merasa ingin disentuh lebih banyak.
Atan mendesis singkat, lalu menepuk pelan telapak tangan Putri sebagai isyarat agar wanita itu tidak perlu sungkan. Tapi yang ia rasakan justru seperti mendapatkan sengatan listrik ketika kulit mereka bersentuhan.
Putri tersenyum disudut bibir. Dia seperti mendapatkan jackpot karena obat itu bereaksi dalam waktu kurang dari lima menit. Keringat kecil mulai muncul diatas permukaan kulit kening Atan.
“Kamu kenapa?” tanya Putri basa-basi. Dia hanya ingin mengulur waktu agar semua rencananya berjalan mulus. Tidak perlu khawatir Brina akan mengganggu karena dia sudah meminta pada kedua orang tuanya agar Brina jangan diantar pulang sebelum dia sendiri yang menjemput.
“E-enggak.” jawab Atan mulai tidak bisa fokus. Tubuhnya kepanasan, akan tetapi merasa suka saat Putri menyentuhnya. Ada apa ini?
“Apa aku bikinin minuman lagi?” tanya Putri langsung berdiri, memasang tampang khawatir kelewat serius, yang kontan mendapat sebuah tarikan dari Atan.
Tubuh putri jatuh ambruk diatas kedua paha Atan, dan tatapan mereka bertemu.
Nafas Atan yang semakin memburu karena merasakan sensasi terbakar pun, mampu menarik minat Putri untuk mendekatkan wajah mereka. Sedangkan Atan, hanya diam mematung melihat batang hidung Putri yang semakin dekat padanya.
Sial!!
Umpat Atan saat menyadari sesuatu sedang terjadi pada dirinya. Dia berusaha meyakinkan diri untuk tidak melakukan kesalahan apapun setelah ini. Tapi ... Kenapa bibir putri begitu menggodanya? []
...—To be continue—...
###
How about this part baeb? 🤡