
...We...
...|Tiga Puluh|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Kesibukan masih sama. Setiap datang, Atan akan memeriksa beberapa dokumen pegawai dan karyawan perusahaan di Earth Beauty. Dan khusus hari ini, dia akan melakukan rekrutmen dan seleksi karyawan baru untuk bagian marketing. Ini adalah pertama kalinya dia terjun untuk melakukan pemilihan SDM yang akan menentukan kualitas kerja di Earth Beauty.
Tania—teman satu profesinya di bagian HR—baru saja meletakkan setumpuk daftar riwayat hidup dan lamaran pekerjaan dari ribuan calon pencari kerja yang sudah dikelompokkan berdasarkan subjek pekerjaan yang dipilih dan status pendidikan, serta pengalaman si pelamar kerja, di mejanya. Sebenarnya bukan Atan saja yang harus disibukkan untuk mengecek semua data ini, melainkan separuh tim HR akan terlibat. Karena Earth Beauty membuka lowongan pekerjaan besar-besaran. Melihat yang seperti ini, Atan jadi ingat bagaimana dia melamar pekerjaan di sini dulu. Bagaimana dia melalui proses seleksi, dan berbagai macam tes lain yang sungguh tidaklah mudah. Hingga dia mengucap syukur karena sudah berada diposisi ini sekarang.
“Tolong pilih yang kompeten, sesuai yang di butuhkan perusahaan.” kata Ruya keras memperingatkan anak buahnya untuk jeli dalam memilih. Atan dan tujuh anggota lainnya mengiyakan dengan suara lantang dan mulai memilah satu persatu, menyisihkan mana yang masuk kualifikasi dan tidak, lalu memasukkannya dalam daftar kandidat pegawai baru di sini. Butuh dua ratus orang untuk bagian produksi, sepuluh staff pemasaran, satu staff HR, dan sepuluh cleaning servis. Atan kebagian untuk memilih kandidat di staff pemasaran karena kemahirannya menilai ketangkasan seseorang ketika menjual produk berdasarkan pengalaman si pelamar yang tercantum di daftar riwayat hidupnya.
Belum sampai sepuluh menit bekerja, ponsel Atan bergetar tanda pesan masuk. Dia ingin mengabaikan tapi melihat pesan tersebut datang dari Tyra—kekasih yang sangat ia cintai, hati Atan mendadak bahagia. Sekilas dia melihat isi pesan yang muncul sesaat di kolom pemberitahuan.
T-rex
Semangat ❤️
Atan tersenyum sendiri setelah membaca pesan tersebut. Kepalanya menggeleng kemudian kembali melakukan pekerjaan. Balasnya nanti saja. Dia masih ingin fokus melakukan pekerjaan. Dia tidak ingin mengurangi profesionalitasnya dalam bekerja.
Jam berputar tanpa terasa karena terlalu sibuk bekerja. Atan bahkan baru mengangkat kepalanya untuk melihat sekitar ketika jam menunjuk angka setengah dua belas siang. Atan mengembuskan nafasnya, punggung tua memang tidak bisa berbohong. Rasa punggungnya sekarang seperti kaku, encok barangkali kalau kata ilmu kedokteran.
Dia juga baru ingat jika memiliki kewajiban untuk dan harus membalas pesan Tyra kalau tidak ingin kekasihnya itu ngambek dan cemburu. Ah, oke lah, semoga itu tidak terjadi. Atan bergegas meraih ponsel, cuci mata dengan mantap foto profil WhatsApp Tyra sebentar yang membuat senyuman terkembang di bibirnya, lantas mengetuk kotak ketik pesan untuk membalas Tyra.
Sorry baru bales. Lagi ada rekruitmen tenaga kerja baru. Kantor sibuk.
Lalu dia kirim. Kemudian mengetik lagi,
Sudah makan siang?
Centang pesan tersebut dengan cepat berubah biru. Tyra sedang online padahal wanita ini tipikal sulit di hubungi, kalau yang nge-chat si Retno.
T-rex.
Atan membaca nama itu sekali lagi, dan jarinya refleks mengetuk edit. Otaknya yang cerdas, loading beberapa saat untuk memikirkan nama yang pas untuk ia sematkan pada nomor Tyra. Lalu,
Dia menambahkan kata Lovely sebelum T-rex. Sepicisan itu bapak-bapak kalau lagi jatuh cinta. Bisa-bisa Tyra terpingkal kalau tau namanya ditulis seperti itu di ponsel Atan.
Lalu Atan kembali membuka pesan tersebut.
Lovely T-rex
Belum, ini masih ada satu take untuk pemotretan. Setelah ini cabut ke suatu tempat.
Atan mengetik balasan dengan cepat.
Kemana?
Tyra juga menjawabnya dengan cepat.
Lovely T-rex
Ada deh, kepo amat
Atan tertawa tanpa suara, sampai Dina yang sedang berjalan mendekat ke meja Bu Ruya memergokinya.
“Kenapa ketawa-ketiwi sendiri begitu, Tan?”
Atan yang sudah kepalang tertangkap basah pun hanya bisa membalas,
“Eh, enggak mbak.”
Dina berlalu ke meja Ruya, dan Atan kembali meletakkan ponselnya diatas meja untuk melanjutkan pekerjaan. Namun saat dia hendak membuka lembaran kedua milik si pelamar, Atan menghentikan gerakan karena mendengar Dina berkata,
“Ada sih Bu, satu orang yang menurut saya cocok jadi staff HR. Pendidikan dan pengalamannya lumayan bagus. Namanya Putri.”
Putri?
Semoga saja tebakan yang ada di kepalanya, salah. Semoga Putri yang disebutkan Dina, bukanlah Saputri Aninda, sang mantan kekasih.
***
“Lo itu makin nyusahin kalau sedang jatuh cinta gini, Rex.”
Tyra tersenyum, lalu menonjok lengan Retno yang hari ini sengaja menyetir mobil milik Tyra karena pertemuan kali ini dirasa perempuan itu cukup istimewa. Dia datang ke Earth Beauty untuk bertemu pihak marketing dan menandatangani surat kontrak kerja. Dia juga punya tujuan lain disini, bertemu kekasihnya, Atan.
“Sabar, Pah. Aku kan sedang berusaha mencari pendamping hidup, sekarang. Kamu nggak usah protes banyak-banyak kalau masalah begini.” kata Tyra sambil melipat bibir ke dalam dan mengangguk mantap saat melihat Retno yang kesal.
“Nyebelin! Lo mau PHK gue dengan alasan nikah, kan?”
Sialan betul mulut Retno ini. Tyra bergerak mengulurkan tangan dan menepuk bibir Retno yang sekarang semakin lancip saja.
“Kalau aku niat PHK kamu, ngapain nunggu nikah? Sekarang juga bisa aku lakuin.” sahut Tyra ikut kesal karena rajukan Retno yang terlihat aneh. Ya memang, pada kenyataannya jika Tyra berniat memecat Retno, sudah dia lakukan sejak dulu.
“Memang Lo udah sreg sama si se-tan?”
Tyra mendelik. Matanya nyaris melompat keluar karena Retno menyebut Atan dengan sebutan se-tan.
“Lama-lama gue timpuk mulut Lo pake papan telenan ya kalau ngomongnya ngawur gitu.” ketus Tyra tidak terima saat sang pujaan hati malah di sebut se-tan sama manusia jadi-jadian.
“Udah, jawab aja.”
Tyra mengalihkan pandangan. Wajahnya sudah merona karena mengingat sejauh apa hubungan mereka, bahkan dia dan Atan sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh Retno. Sebuah dosa besar yang akan menjadi rahasia mereka berdua.
“Aku udah sayang banget sama dia. Bahkan kalau kamu nggak percaya, aku nggak peduli.” kelakarnya yang terdengar kering, nggak lucu sama sekali ditelinga Retno.
“Lo bucin, ntar kalau patah hati jangan lari ke gue. Capek gue ngurusin Lo kalau patah hati.”
Tyra menatap Retno dengan sorot mata teduh. Se-menyebalkan itu ya dia kalau sedang patah hati. Orang sabar seperti Retno saja sampai angkat tangan, menyerah.
Diam-diam dalam hati Tyra berkata lirih.
Semoga tidak.
“Ya udah, ntar kalau patah hati aku tanggung sendiri,”
Lagi-lagi hati Tyra berbisik, semoga tidak terjadi. Apa yang mereka lakukan sudah kelewat jauh. Sudah berbagi peluh.
“Gue pegang ucapan Lo. Awas saja kalau mewek didepan gue sambil nyebut-nyebut nama si Atan.”
Tyra tertawa masam. Dia hanya bisa berdo'a agar hubungannya kali ini berhasil. Dia tidak ingin berpisah dari Atan, dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Memangnya Atan masih jadi leader marketing nya Earth Beauty?” tanya Retno memecah lamunan gundah gulana Tyra tentang hubungan kedepan dengan Atan.
Tyra menggeleng. “Engga. Dia sekarang jadi staff HR. Aku denger dari kepala marketing yang sekarang, Atan adalah calon kepala HR setelah HR yang sekarang pensiun.”
Retno mengangguk. Setidaknya, gaji pria itu bisa memenuhi jiwa sosialita perempuan di sampingnya ini.
Mobil sport merah milik Tyra memasuki area parkir Earth Beauty yang tentu saja, menjadi perhatian banyak orang. Setelah memarkir dengan sempurna, Retno melepas seatbelt sembari memberi sepatah petuah untuk perempuan cantik itu.
“Gue cuma mau pesen ke elo, jaga diri baik-baik. Kalau memang nanti Lo nikah sama dia dan nggak lagi nerusin kerja jadi model, Lo tetap harus berani bersuara. Gue lihat Atan itu pria berprinsip, dan mungkin keras kepala.”
Tyra diam. Dalam hati dia membenarkan.
“Kalau sampai dia berani nyakitin elo atau bikin lo nangis, gue bakal jadi orang pertama yang habisi dia.” []
...—To be continue—...
###
Retno ini perhatiannya melebihi seorang kakak ke adik lho, BTW 🤭