
...We...
...|Dua puluh enam|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Nafas yang terhirup satu sama lain, wajah yang kian mendekat, dan ujung hidung hampir bersentuhan, Atan tau apa yang setelah ini akan terjadi. Jika dia tidak segera menghindar dan menarik diri, dia akan mengkhianati janjinya untuk Tyra.
Untungnya, mengingat Tyra berhasil mengembalikan kewarasan Atan hingga tanpa berfikir panjang dia menjauhkan Putri dari dirinya. Ia mendorong tubuh wanita itu menjauh hingga tubuh sintal sang mantan kekasih itu jatuh terpental diatas sofa yang sedang menjadi penopang tubuh mereka berdua.
“Kenapa?”
Atan berdiri tegap. Tanpa bicara dan memberi tanggapan untuk Putri, dia meraih kunci mobilnya dari saku celana dan segera undur diri dari rumah Putri, perlu dicatat, tanpa berpamitan. Kaki jenjangnya berjalan cepat keluar dari rumah milik Putri, lantas bergegas menjalankan mobilnya menuju bandara untuk menjemput Tyra.
Sedangkan Putri, mengumpat marah karena rencananya gagal, dan Atan pergi dengan keadaan berhasrat tinggi. Sebenarnya Putri tau siapa yang hendak ditemui Atan setelah mengantarkan dirinya pulang. Bayangan yang muncul dalam benak Putri bagaimana Atan akan melampiaskan hasratnya itu untuk Tyra, membuatnya semakin marah. Seharusnya dia tidak perlu menunggu Atan menciumnya, tadi. Seharusnya ia pancing saja agar Atan lebih agresif padanya. Seharusnya itu yang dia lakukan.
“Brengsek!! Sialan!!” umpatnya berteriak seperti orang kehilangan kewarasan. Putri benar-benar putus asa. Lalu, dia menyambar kunci mobil dan hendak menyusul Atan
Namun sepanjang menyusuri jalanan ditengah kemacetan hingga sampai di bandara, Putri tidak menemukan sosok Atan. Semua itu membuatnya begitu marah dan pergi dengan segera dari sana untuk melampiaskan kekesalannya.
Sedangkan disisi lain, Tyra yang sudah bertemu Atan, langsung menuju mobil karena Atan terlihat sedang tidak baik-baik saja. Retno tidak bisa ikut karena harus terbang ke Kalimantan sebab mendapat kabar jika sang nenek sedang sakit.
Tyra bisa melihat bagaimana Atan berkeringat banyak di keningnya, dan pria nya itu sesekali mende-sah pelan.
“Kamu oke, sayang?” tanya Tyra. Dia berniat menggantikan Atan mengemudi jika memang kekasihnya itu sedang kurang enak badan. Dari pada celaka, kan?
“Aku-nggak apa-apa.” jawab Atan, masih berusaha mengendalikan dan menahan tubuhnya yang terasa begitu aneh. Dia merasa, jika tubuhnya sedang begitu berhasrat ketika permukaan kulitnya tersentuh setelah meminum teh buatan Putri tadi.
Tyra berusaha meredam rasa khawatirnya, lalu mempercayakan semuanya kepada Atan. Hingga akhirnya mereka sampai dikediaman Tyra, dia melihat Atan yang langsung membanting punggungnya pada sandaran kursi kemudi dengan kening yang basah oleh keringat dingin setelah mereka masuk ke dalam rumah.
Tyra yang sudah tidak lagi bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, meraih satu lengan Atan yang membuat pria itu terjingkat kaget dan langsung menatap manik mata Tyra sejenak, lalu bergerak gusar menatap dalam tundukan kepala.
“Kamu sakit?”
Atan tidak menjawab, tapi kembali menyandarkan punggungnya. Kali ini dia menggigit bibirnya kemudian melepaskannya kembali dengan meloloskan nafas dari bibirnya yang kini terbuka kecil.
“Kamu istirahat dulu di rumahku. Aku ada persediaan obat jika kamu merasa kurang enak badan.” tawar Tyra yang sama sekali tidak mendapat penolakan dari Atan. Mereka sama-sama keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah Tyra, tentu saja setelah Tyra meminta Atan untuk memasukkan mobilnya kedalam halaman rumahnya, tadi.
Setelah berhasil menutup dan mengunci pintunya kembali, Tyra melihat Atan yang sudah duduk di sofa ruang tamu lalu dia bergegas berlari ke dalam untuk mengambil kotak obat dan segelas air untuk Atan. Dia berharap Atan segera mendapatkan pertolongan.
Kembali dari ruang tengah, Tyra membawa kotak P3K dan air putih dalam gelas tinggi yang terisi penuh.
“Sekarang apa yang kamu rasakan, sayang?” tanya Tyra agar bisa mengambil satu atau dua obat untuk ia berikan kepada Atan sebagai pertolongan pertama.
“A-aku merasa sekujur tubuhku terasa panas.” jawab Atan dengan suara terbata dan nafas memburu yang masih belum mau pergi. “Aneh.” lanjutnya singkat sambil memejamkan mata dan mengarahkan lengannya menutupi kening untuk menahan gejolak menggila dari dalam dirinya saat melihat Tyra dengan pakaian yang semakin mempengaruhi libidonya.
Tyra mengerutkan kening. Atan tidak sedang terpengaruh sesuatu kan? Obat perangsang misalnya? Batinnya mendumalkan sebuah asumsi. Tyra bukan orang awam dalam hal seperti ini. Dunia yang dilakoninya sudah berada pada daftar penutup jika di hadapkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan hal seperti itu.
Diam-diam, Tyra memperhatikan sesuatu yang ada diantara kedua paha Atan. Disana, Tyra bisa melihat bagai celana bahan pria itu mengembung membentuk sesuatu yang ditutupi oleh kain berwarna coklat susu itu. Tyra dengan cepat tau, jika Atan dalam pengaruh sebuah obat yang entah darimana pria itu telan.
Dengan gerakan perlahan, Tyra menarik diri menjauh dengan posisi berdiri. Atan menurunkan lengannya dan menatap Tyra dengan kedua hazel yang terlihat sayu.
“Kamu, meminum sesuatu?” tanya Tyra tiba-tiba. Dia hanya ingin membuat jarak aman agar Atan tidak melakukan sesuatu yang berlebihan pada dirinya.
Terlihat Atan menegakkan duduk dan punggungnya. Pria itu bahkan mendesis dan memicing menahan sesuatu yang sudah dapat Tyra ketahui tanpa diberitahu.
“Tidak.”
Atan memejam kuat-kuat karena putus asa. Dia tidak bisa menyembunyikan lagi apa yang dia rasakan sekarang, termasuk pertemuannya dengan Putri. Dia akan berterus terang pada Tyra.
“Sebelum jemput kamu ke bandara, teman saya meminta saya datang kerumahnya untuk membantu memasang lampu rumahnya yang putus dengan yang baru.”
Tyra diam mengamati.
“Setelah itu dia menyuguhkan teh, dan aku minum.”
Jika teman Atan adalah seorang perempuan, sebabnya sudah terbaca jelas sekarang oleh Tyra. Ini karena pengaruh obat yang dicampurkan kedalam minuman, dan entah apa tujuannya. Menjebak Atan kah? Jika iya, secara otomatis Tyra memiliki seseorang yang kemungkinan besar menjadi saingan untuk memiliki Atan.
“Sudah, cuma itu. Lalu aku mulai merasa kepanasan, dan aku bergegas jemput kamu ke bandara karena ingat ada janji ketemu kamu saat pulang hari ini.”
Atan yang merasa semakin tersiksa, kembali membanting tubuhnya pada sandaran kursi. Dia memang tidak sejauh itu untuk tau penyebab apa yang sedang dirasakannya saat ini, karena dia bukanlah orang yang suka mengkonsumsi sesuatu yang dilarang agamanya.
“Jadi, sekarang tolong beri aku obat apa yang menurut kamu cocok untuk saya. Apa teman saya itu berusaha meracuni dengan mencampurkan sesuatu kedalam minuman?” gumam Atan dengan suara husky nya yang parau.
Tyra mengepal kuat mendengar permohonan Atan yang tidak akan ada obatnya selain ... menyelesaikannya dengan sesuatu yang saling tertaut. Sesuatu yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan sah dalam ikatan pernikahan.
Tyra menatap tak kalah putus asa pada wajah Atan yang terlihat semakin tersiksa. Kemudian maniknya turun pada pusat tubuh Atan yang memang menegang yang tentu saja tanpa berani pria itu sebutkan ketika Tyra bertanya perihal keluhannya tadi.
Pikiran Tyra mulai berisik di otaknya. Dua hal saling bertentangan antara ya dan tidak untuknya memberi pertolongan pada sang kekasih.
Tyra semakin gusar saat mendapati Atan mengerang cukup panjang. Pria itu benar-benar dalam kesulitan. Tersiksa.
Lalu, dengan langkah takut yang coba ia redam, Tyra mendekati Atan. Ia berdiri tepat didepan kedua kaki Atan yang terbuka lebar dengan punggung bersandar dan mata terpejam.
Tyra menyentuh telapak tangan Atan yang mengapung di udara disisi kedua tubuhnya yang tergeletak pasrah. Kemudian, tanpa diminta, Tyra duduk di pangkuan Atan yang sontak membuat pria itu membuka mata dan bergerak ingin menjauhkan Tyra dari dirinya yang sekarang, sedang mendamba sebuah sentuhan.
“Apa ini, oke?” tanya Tyra dengan kosa kata yang hilang entah kemana. Dirinya mendadak gugup dan juga takut saat merasakan milik Atan yang berada tepat didepan pusat tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan. Turun—”
Ucapan Atan terhenti saat Tyra menciumnya. Bibir mereka bertemu dan tanpa menolak Atan membalas ciuman yang dia terima dari sang kekasih, kemudian menyelipkan telapak tangannya di balik surai Tyra yang jatuh dari cepolan.
Bibir mereka berpisah sejenak karena Tyra menarik diri menjauh. Mata mereka kembali bertemu, bersirobok dengan sorot sayu.
“Kamu, sedang dalam pengaruh obat perangsang yang dimasukkan kedalam minuman yang kamu minum.”
Atan terkejut, tapi tidak bisa melakukan apapun selain diam dan memperhatikan bagaimana Tyra bicara.
“Dan, akan menghilang jika kamu melakukan sesuatu yang bisa membalas hasrat yang muncul akibat obat itu.”
Atan mulai mengerti sekarang. Mungkin Putri sengaja menjebaknya agar tidur bersamanya, tadi. Untung saja semua cepat terbaca dan Atan segera pergi dari sana.
Tyra kembali mengecup bibir Atan, kemudian menatap dengan sorot hangat.
“Gunakan aku.” kata Tyra, yang sontak membuat Atan semakin melebarkan matanya dan berusaha menjauhkan Tyra dari dirinya.
“Tidak. Aku tidak akan melakukan apapun padamu.” kata Atan mulai memberontak dan gelisah dalam waktu berbarengan. “Cepat menyingkir dariku—”
Tyra mengalunkan kedua lengannya pada bahu Atan yang membuat pria itu berhenti bergerak.
“Aku tidak rela, jika kamu melakukan itu dengan wanita lain.” tukas Tyra. “Jadi tolong, gunakan aku saja.” []
...—To be continue—...
###
😬😬😬😬😬😳😳😳