
...Double up yuk, mumpung lagi longgar...
...Jangan lupa di dukung ya pasangan TyTan ini ... Untuk yang setia bersama ‘We’ sejauh ini, terima kasih banyak-banyak. Othornya bukan apa-apa tanpa dukungan dari kalian....
...🙇🙇🙇...
...We...
...|Empat puluh|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Aroma disinfektan yang menyapa penciuman Tyra membuat perutnya begitu mual. Ditambah lagi membayangkan keadaan Atan dan kehadiran Putri disana, membuat Tyra ingin jatuh pingsan namun memilih tetap bertahan diantara kepalanya yang terasa semakin pening.
Hingga langkah Tyra sampai didepan sebuah ruangan yang tadi diberitahukan oleh Putri melalui sebuah pesan, kini Tyra berada disini. Tatapan mereka bertemu, Putri dan Tyra saling menyorot satu sama lain.
Atan sudah di pindahkan ke ruangan lain setelah menjalani operasi di bagian tulang bahunya yang tidak pada posisi sebenarnya. Selain itu, luka lainnya ada di beberapa bagian tubuhnya namun tidak separah bahunya.
“Apa yang terjadi dengan Atan?” tanya Tyra dingin sembari menatap sudut lain dari wajah Putri, tidak ingin menyulut permusuhan meskipun dalam hatinya dia ingin meluapkan semua rasa marahnya terhadap perempuan dihadapannya ini.
“Ceritanya panjang. Dan aku yakin kamu tidak akan ingin mendengarnya.” jawab Putri dengan suara rendah dan mata membengkak. Tyra sadar betul jika Putri pasti ikut merasakan kesedihan, mengingat wanita itu juga masih terlihat memiliki rasa yang besar pada kekasihnya.
“Ya. Simpan saja cerita itu untukmu. Aku tidak ingin tau. Yang aku ingin tau, apa yang sedang terjadi sampai Atan harus menerima tindakan medis. Separah apa lukanya?”
“Dia mengalami cidera bahu yang mengharuskan dokter untuk melakukan operasi.”
Hati Tyra seperti disayat. Sakit luar biasa.
Mengenyahkan rasa enggan dalam hatinya untuk Putri, Tyra membawa arah pandangannya tepat pada pupil mata wanita itu. Tyra ingin menegasakan sesuatu diakhir pembicaraan atau pertemuan mereka nanti
“Dia tertabrak mobil saat Dio mendorongnya.”
Tyra mengerutkan kening. Dio? Siapa?
“Dio—”
“Apa kamu lupa? Jangan menceritakan apapun padaku. Simpan itu untukmu sendiri!” karena Tyra hanya akan mendengarnya dari Atan. Dia tidak ingin mendengarnya dari orang lain.
Putri mengangguk. Ia sedikit paham sekarang mengapa Atan lebih memilih Tyra dari pada dirinya. Tyra adalah wanita yang menarik. Dia berprinsip, dan juga tegas. Dan kedua hal itulah yang selama ini disukai para pria, termasuk Atan. Mungkin ada sisi lain dari seorang Tyra hingga mampu membuat Atan jatuh hati pada gadis belia ini.
“Setelah ini, tolong jauhi dia.” Tyra mulai kembali bicara setelah menimbang semuanya. Dia tidak akan mau melepas Atan begitu saja. “Aku sudah meminta secara baik-baik padamu sebanyak dua kali, jadi tolong jauhi dia karena aku, sedang mengandung anaknya.”
Putri mengangguk, sedangkan Retno melebarkan mata karena terkejut.
Ini saatnya dia menyerah kan? Atan tidak lagi mau menerimanya sebagai pasangan. Pria itu hanya ingin berteman. Ditambah lagi Tyra yang memberitahunya jika perempuan itu sedang mengandung anak dari Atan. Yang perlu dia pikirkan sekarang adalah bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan Dio, sang mantan suami yang ingin merebut Brina darinya.
“Ya. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” kata Putri dengan nada lemah lembut. “Aku sadar jika wanita yang dipilih Zio bukan lagi aku, tapi kamu.”
Tidak memberikan reaksi apapun, Tyra hanya menatap lurus pada Putri yang terlihat kembali berderai air mata.
Putri membawa tatapan matanya pada perut Tyra yang rata. Disana ada janin yang merupakan calon anak Atan yang mungkin hadir karena ulah dan keegoisannya.
“Maaf sudah melakukan semua kebodohan yang berakhir menyusahkanmu, Tyra.”
Masih tidak ingin menunjukkan rasa sakit hatinya, Tyra berusaha menguatkan diri.
Tyra tidak peduli atas Putri yang meninggalkannya. Namun diam-diam air matanya jatuh. Ada sedikit rasa simpati yang muncul dalam benaknya sebagai sesama wanita. Namun dia juga tidak ingin mengorbankan cintanya pada Atan demi wanita lain. Tentu saja Tyra memilih egois untuk urusan hati.
Seperginya Putri, Retno yang masih penasaran dengan ucapan Tyra tentang kehamilan, menarik satu lengan perempuan yang sudah ia dampingi selama delapan tahun itu. Lantas bertanya dengan alis tertaut dan wajah gelisah.
“Kamu bercanda kan? Kamu nggak beneran hamil kan?” tanya Retno menuntut.
Mendengar suara Retno dan bagian tubuhnya dipaksa berbalik, Tyra tersadar dari lamunan yang sedikit merutuki dirinya sendiri. Dia merasa tidak sanggup melihat Retno dan memilih menundukkan kepala. “Aku nggak bohong. Aku memang hamil.”
Dan saat itu juga Retno lemas. Bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini.
“Astaga Rex. Ngapain Lo ngelakuin sampai sejauh itu?” de-sah Retno frustasi. Bagaimana image Tyra Dimata publik setelah ini?
“Ada alasan yang nggak bisa aku ceritain ke kamu. Maaf,”
“Gue nggak butuh permintaan maaf Lo. Sekarang yang gue pikirin itu nasib Lo, Rex. Gimana kalau Lo dihujat diluar sana. Gue yang sakit ati, tau!”
Tyra memberanikan diri mengangkat wajah. Matanya langsung bertemu dengan mata Retno yang sudah berembun. Wajah laki-laki itu juga terlihat gusar. Tura tidak peduli kalau sampai berita ini bocor ke publik dan dirinya di hujat. Tapi yang menjadi beban untuknya adalah, bagaimana nasib anaknya nanti? Atau, bagaimana tanggapan mama dan papanya yang sudah mulai percaya dan membuka hati padanya?
Tyra menangis.
“Kalau nggak lagi sakit, udah gue mam-pusin tuh si Atan.” sungut Retno tak terima. Baginya, Tyra itu sudah seperti adik baginya. Bahkan lebih dari itu, Tyra sudah seperti tanggung jawabnya.
Melihat Tyra menangis pun membuat hatinya terasa perih. Retno mengumpat dalam hati, mengapa takdir tidak pernah mau membagi satu kebahagiaan untuk Tyra? Apa salah gadis itu sampai harus hidup seperti ini? Retno ikut meneteskan air mata, kemudian membawa Tyra kedalam pelukan. Dia juga menyesal sudah berkata sedikit jahat untuk masa depan Tyra dan ancaman untuk Atan.
“Lo kenapa sih Rex?” tanya Retno, mengeratkan pelukan hingga kini Tyra menangis semakin keras hingga tersedu. Semua beban di pundaknya ingin dia lepas dengan tangisan. Dia lelah. “Tolong jaga diri Lo dan janin yang ada dalam kandungan Lo, Oke?”
Tyra masih menangis dan memeluk Retno kuat-kuat.
“Oke, oke. Jangan nangis lagi, hm? Kita lihat Atan didalam.”
Mereka pun akhirnya masuk. Didalam, tidak ada siapapun karena sejak tadi yang menunggu Atan disini adalah Putri. Tyra tau jika Lastri sudah tua, dan juga harus merawat Linda yang sehari lalu juga mengalami hal sama. Atau mungkin, berita ini memang belum sampai pada mereka? Mengingat Atan saja masih belum sadar.
Dari tempatnya berdiri, Tyra meraih satu lengan Retno karena tidak kuasa melihat keadaan Atan yang sekarang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Bahunya dibebat perban, begitupula satu kakinya sebelah kanan yang dibalut kain coklat. Satu lengannya terpasang infus, dan di hidungnya terpasang ¹nasal kanul untuk membantunya mendapatkan pasokan oksigen yang lebih baik.
“Kuat, Ra. Gue tau Lo cewek yang kuat.” kata Retno memberi dukungan pada Tyra yang sudah hampir tumbang hilang kesadaran.
Tyra memang setegar karang selama ini. Tapi bagaimana pun, dia hanya seorang wanita. Dan dia tidak sekuat itu. Ada kalanya dia kembali ke kodratnya sebagai seorang perempuan yang tentu saja butuh sebuah perlindungan.
“Aku mau ke kamar mandi,”
Perutnya mendadak mual karena takut dan panik secara bersamaan. Ia pun segera berlari dan memuntahkan sisa makanan yang tersisa di lambungnya karena sejak sore hari dia belum memakan apapun setelah tadi juga sempat muntah satu kali.
Menunggu Tyra kembali dari kamar mandi, Retno memperhatikan Atan. Dia menatap sendu dengan sedikit emosi yang ingin unjuk diri. Lalu, dengan sinis dia berkata pada Atan yang masih nyaman memejamkan mata,
“Lo mau jadi bapak, bangun Lo! Jangan bikin calon bini dan anak Lo khawatir sampai lemes gitu.” cerocosnya tak kenal takut. Retno masih belum rela sepenuhnya ketika tau Tyra hamil karena pria yang kini terbaring dengan mata terlelap nyaman didepannya. “Kalau Lo masih nggak mau bangun juga nanti malem dan bikin Tyra makin bingung, gue tonjok anu Lo yang udah berani bikin Tyra bunting!” []
...—To be continue—...
###
¹Nasal Kanul adalah alat bantu pernafasan yang diletakkan pada lubang hidung untuk mendukung kebutuhan oksigen pada pasien yang dapat bernafas spontan tapi membutuhkan dukungan oksigen tambahan misalnya pada kondisi hipoksia ringan sampai sedang.
Retno bikin suasana sedih Othor jadi buyar 😂 dasar jerapah absurd. Mana ada orang sakit malah diancam di tonjok anunya biar sadar?
Sebenarnya ini salah Lo Thor. Ngapain Lo bikin gue ngomong kaya gitu? *RetnoBe-laik
Mau di kasih 🌈 atau ⚡ buat endingnya? Hehehe, canda sayang ✌️