
...We...
...|Tiga puluh lima|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Atan terdiam di tempat duduknya. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia lihat hari ini. Wanita itu adalah Putri. Dia datang kerumah dan sedang berbincang bersama ibunya. Ada Brina juga.
Pulang kerja tadi, dia berencana akan menjemput Tyra di tempat kerjanya. Tapi,
“Om Atan ... ” teriak Brina, berlari dari arah ruang tamu menerjang kaki Atan dengan pelukan erat. Tak bisa meluapkan kekesalan, Atan membalas pelukan gadis kecil itu dengan sebuah gendongan dan cubitan gemas di pipinya. Anak kecil tidak akan tau masalah orang dewasa, jadi ini bukan salah Brina.
“Eh, Brina main ke rumah om Atan udah lama kah?” tanya Atan, tetap di tempatnya berdiri. Lantas Putri datang mendekat.
“Sudah hampir sejam lebih. Kamu lembur?”
Wajah penuh senyum Atan berubah datar. “Kantor lagi sibuk.” jawabnya, tanpa mau memperhatikan Putri yang berdiri tepat nya sambil mengusap pipi Brina.
“Oh.” jawab Putri singkat, lalu dia melanjutkan. “Aku pingin ngomong sama kamu.”
Ingin sekali Atan memaki Putri dengan umpatan yang kasar, namun ia tahan mati-matian karena ada Brina. Kalau dipikir-pikir, Atan sekarang tau trik Putri untuk mendekatinya. Wanita itu menggunakan Brina untuk memuluskan tujuannya.
“Brina, main sama nenek sebentar ya? Om Atan mau bicara sebentar sama mamanya brina.”
Gadis kecil itu mengangguk antusias hingga poninya memantul ceria, kemudian turun dari gendongan Atan dan berlari masuk mendekati Lastri.
“Ngomong apa lagi, Put? Belum puas kamu jebak aku sampai jadi gila?” kata Atan setelah memastikan Brina tidak ada lagi diantara mereka.
Putri menunduk, menatap jari kakinya yang menapak lantai. “Aku—”
“Aku menemui Tyra setelah pulang dari rumah kamu waktu itu. Dan kamu pasti tau betul apa yang terjadi setelahnya karena memang seperti itu tujuan kamu sebelumnya padaku, kan?”
Putri menggigit bibir bawahnya, hatinya terasa sakit membayangkan Atan menyentuh wanita lain selain dirinya. Katakan saja dia egois dan tidak tau malu, tapi untuk kali ini Putri benar-benar ingin menjadi milik Atan sekali lagi.
“Aku tidak menduga kamu tega melakukan itu padaku, Put.” lanjut Atan, masih tidak memberikan kesempatan pada Putri untuk bicara. “Kamu tega membuat aku harus melakukan dosa besar yang mungkin tidak akan termaafkan sampai aku mati nanti.”
Seperti tidak ada penyesalan, putri memilih mencari pembahasan lain.
“Aku coba ngelamar di kantor kamu, tapi masih nunggu panggilan.”
Pernah merasakan tertimpa sebuah barang berat, yang jatuh mengenai satu sisi tubuh kita hingga rasanya nyeri sampai ngeri? Itu yang dirasakan Atan sekarang. Sejauh itukah putri melakukan semua ini? Seniat dan senekat inikah Putri yang menginginkan dia lagi? Atan sempat terpaku hingga kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah menduga sisi nekat pada diri Putri itu, ternyata begitu mengerikan.
“Apa maksud kamu?” tanya Atan dengan dahi mengerut tidak percaya.
“Ya, coba-coba aja sih. Kalau keterima ya lumayan bisa satu kerjaan sama kamu.” akunya percaya diri.
Jangan salahkan Atan jika umpatan lolos begitu saja dari bibirnya saat ini. Putri memang semenyebalkan itu, sosoknya sangat berbeda dengan Putri yang dia kenal pintar, menghargai orang lain, baik, dan penyabar dulu saat mereka masih bersama dan berstatus pasangan kekasih. Atan melipat bibirnya kedalam, lalu melepaskannya dengan sebuah dengusan nafas besar dan menoleh ke sisi kanan membuang tatapan. Ia tidak habis pikir mengapa putri sampai senekat itu ingin kembali padanya. Bahkan rela melepas pekerjaan lamanya yang sudah pasti bisa menjamin masa depan, hanya untuk berada satu perusahaan dengannya.
Atan kembali memutar wajah, ia tautkan manik matanya dengan manik mata milik Putri yang dulu, begitu ia damba dan sukai.
“Sekarang aku tanya,” Atan sengaja menjeda, menyorotkan maniknya lebih tajam pada Putri yang ternyata tak gentar sedikitpun. “Apa mau kamu?” katanya sedikit berbisik. Atan lelah jika harus membuang-buang tenaga untuk menghadapi masalah seperti ini yang justru, berimbas pada mentalnya.
Atan kembali menghela nafasnya. Kedua bahunya luruh. Dia tidak akan bisa melihat perempuan menangis. Namun tetap, dia harus tegas karena ada Tyra yang menjadi tujuan hidupnya saat ini. Perempuan itu sudah menjadi prioritasnya setelah ibu dan juga Linda. “Tidak, aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Hanya saja, aku tidak suka dengan sikap dan perilaku yang sedang kamu tunjukkan padaku.” kata Atan, berharap Putri tau dan peka dengan tujuan ucapannya. “Kalau kamu ingin aku kembali lagi ke kamu seperti dulu, maaf.” Atan meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menenangkan hati saat akan mengatakan sebuah kalimat yang pasti akan menyakitkan untuk harga diri Putri. “... aku nggak bisa, Put. Ada Tyra yang sudah menempati sisi rapuh yang pernah kamu hancurkan saat itu.”
Atan memilih berlalu setelahnya, melewati Putri yang terdiam. Mau tidak mau, dia harus menjatuhkan pilihan dan mengambil keputusan, agar tidak ada lagi kesalahpahaman antara dia dan Tyra. Sembari berjalan masuk, Atan menyapa Brina dan meminta maaf jika harus mandi terlebih dahulu. Sedangkan Lastri, tau apa yang sedang terjadi dan juga dihindari Atan sekarang. Tak lama setelah itu, Putri masuk dan mengajak Brina untuk pulang karena dia sudah mendapatkan jawabannya. Dia tidak akan bisa meraih kembali sosok Zelatan Adonizio yang masih dia simpan rapih dalam hati.
“Saya pamit, bu.” katanya pada wanita yang dulu juga menjadi salah satu orang yang terluka dan dia khianati.
“Terima kasih sudah mampir kesini ya, Brina. Hati-hati dijalan.” pesan Lastri agar Putri tidak celaka.
Dengan lugu, Brina menjawab. “Brina mau main kerumah nenek dan om Atan lagi boleh?”
Putri tersenyum kikuk sedangkan Lastri tulus mengusap dan mengusap pipi bulat Brina. “Tentu boleh dong sayang. Tapi kalau mama ngizinin lho ya. Brina nggak boleh nakal sama mama. Kasihan mama ya?”
Brina mengangguk, lalu mencondongkan badan dari gendongan Putri dan mencium pipi Lastri.
“Nenek baik, Brina sayang nenek.”
Begini kah nanti rasanya kalau memiliki cucu? Lastri semakin tidak sabar menimang cucu.
“Nenek juga sayang Brina.”
“Dadah nek ...”
Lastri mengibaskan telapak tangan di udara, lalu mengusuk satu lengan Putri.
“Hati-hati. Jaga putri kamu baik-baik. Dia adalah masa depan kamu untuk saat ini.” kata Lastri yang mendapat anggukan dari Putri.
“Iya, bu.”
“Semoga semua yang kamu lewati, menjadi pelajaran hidup buat kamu mengambil langkah dan memutuskan sesuatu dimasa depan.”
Putri ingin menangis mendengar itu. Harinya yang masih terasa pilu setelah menerima penolakan Atan, sekarang semakin nyeri karena Lastri seolah juga ikut menyampaikan sebuah penolakan halus kepada dirinya.
“Terima kasih, Bu. Putri akan mengingat kata-kata ibu.” jawabnya, kemudian meraih telapak tangan Lastri dan menyalami untuk segera pergi.
“Semoga kamu bertemu dengan orang yang lebih baik dari mantan suami kamu, dan lebih baik juga dari Atan.”
Putri tersenyum.
“Semoga, Bu.”
Satu kuncinya, Tyra. Putri ingin bertemu dengan gadis itu dan bicara dari hati ke hati. Mungkin atau bisa jadi, ada kesempatan dan Tyra mau merelakan Atan untuknya.
Putri tertawa dalam hati, menertawakan kebodohannya sendiri karena sudah menjadi gila karena seorang pria. Selanjutnya, dia mengolok dirinya sendiri dengan sadis.
“Dasar tidak tau malu kamu, Putri.”[]
...—To be continue—...
###
Curcol,
Kayaknya Othor butuh liburan. 😂