We

We
Empat puluh tiga




...We...


...|Empat puluh tiga|...


...Selamat membaca...


...[•]...


Sesampainya dirumah, Atan dan Tyra duduk berdampingan macam pengantin yang baru dipertemukan. Tapi bedanya sekarang, mereka duduk berdampingan itu bukan karena menjadi raja dan ratu sehari, melainkan sedang menjalani sidang dadakan yang diadakan dua keluarga, baik dari pihak Tyra, maupun Atan.


Semuanya diam. Masih terkejut tentu saja. Apalagi Retno yang menjadi dalang terbongkarnya kasus bunting si Tyra. Keringat sebesar jagung muncul di keningnya. Habis sudah citra bagusnya didepan calon gebetan, karena dia adalah biang masalah karena bibir lemasnya yang tidak bertulang, memang suka nyerocos sembarangan. Kalau saja tadi dia bisa mengontrol emosi dan jaga ucapan, pasti tidak akan seperti sekarang. Tidak seperti sedang di jadikan saksi atas dakwaan kasus pembobolan ke-pe-ra-wa-nan.


Astaga, Retno ingin lari sejauh mungkin. Lalu terjun bebas ke laut agar dimakan ikan paus megalodon. Supaya apa? Supaya dia tidak di cerca habis-habisan dengan pertanyaan rumit oleh pak hakim yang terhormat, Firdaus.


“Jadi, benar yang kamu katakan tadi, Ret?”


Tuh, kan? Om Fir ngomong begitu saja Retno makin panas dingin. Lalu matanya melirik ke arah Atan dan Tyra berada. Mereka menatap lurus dengan raut cemas. Aduduh, ada-ada saja. Ono-ono wae.


“Sa-saya keceplosan, Om.”


Ingin sekali Retno menampar mulutnya sendiri karena menjawab seperti itu. Dari sekian banyak jawaban yang sudah dia tata dan persiapkan sejak beberapa menit lalu, mengapa justru jawaban sialan itu yang keluar dari mulutnya?


Jangan ditanya bagaimana ekspresi Atan dan Tyra sekarang. Karena mereka berdua adalah tertuduh, dan tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu vonis. Atan memejamkan mata, sedangkan Tyra menggigit bibirnya karena takut.


“Itu benar, om. Tyra sedang mengandung anak saya sekarang.” kata Atan bersikap gentleman yang justru, membuat Retno kesal. Mau mengelak bagaimana, semua memang sudah terjadi dan Atan, tidak ingin melibatkan siapapun, menjadikan dirinya sendiri sebagai pelaku.


Riyana menggeleng tidak percaya. Lastri hanya diam dalam dekapan dokter yang selama ini sudah seperti anak sendiri.


“Kamu pernah melakukan itu dengan pria lain selain Atan?” tanya Firdaus meminta kejelasan. Tyra memberikan tanggapan dengan gelengan kepala yang tertunduk.


“Kami di je—”


Kalimat Tyra terhenti karena Atan meraih telapaknya diam-diam dan di genggam kuat. Tatapan Atan berbicara agar tidak lagi melibatkan siapapun, dan jadikan dia saja sebagai orang yang melakukannya, agar permasalahan tidak semakin rumit. Tyra peka, dia memilih diam.


“Kalian kenapa?” tanya Firdaus spontan setelah mendengar sedikit ucapan putrinya yang terdengar ganjal.


“Kami di jembatan bertemu malam itu. Lantas kami pulang bersama, dan—” terang Atan mencoba mengalihkan topik. Namun terputus paksa karena suara mama Tyra menginterupsi.


“Aduh, cukup. Saya mual dengernya.” kata Riyana yang memang sejak awal tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Dia hanya ingin semua cepat berakhir dengan sebuah keputusan. “Sudahlah, pa. Nikahkan saja mereka, daripada nanti perut Tyra makin gede. Malu kita.”


Ada sengatan menyakitkan yang dirasakan Lastri dalam hatinya ketika Riyana berkata terang-terangan. Tapi perkataan pedas itu benar. Jika tidak segera dinikahkan secepatnya, perut Tyra akan semakin membesar, dan tentu saja sebagai keluarga tersohor, nama Firdaus dan Riyana dipertaruhkan.


Firdaus mengangguk. Usul Riyana memang jalan keluar satu-satunya. Tidak ada pilihan lain.


“Jika saya minta kamu menikahi Tyra dalam waktu dekat, apa kamu sanggup, Tan?”


Atan menoleh ke arah Lastri, meminta persetujuan sang ibu agar restu itu tidak terlewatkan. Lastri pun mengangguk. Tidak ada pilihan lain, apalagi sampai menunda.


“Saya siap, om.” jawab Atan tegas.


***


Atan bersimpuh di kedua kaki sang ibu. Dia bahkan menangis dan memohon ampunan dari ibunya karena melakukan sebuah kesalahan fatal yang bisa mencoreng nama baik keluarga. Khususnya nama besar Firdaus.


Seperginya keluarga Tyra tadi, Lastri menangis. Dan Atan tau betul apa yang kembali membuat sang ibu menitihkan air mata. Semua itu karena kebodohannya yang tidak bisa menahan diri. Ya, setidaknya dia bisa menahan diri meskipun dibawah pengaruh obat, dan kata-kata pasrah Tyra yang menggodanya.


“Ibu malu, nak.” katanya pilu.


Atan tidak bisa bicara apa-apa. Risiko ketahuan memang seperti ini, bikin malu. Dan sekarang Atan masih berusaha membuat ibunya tenang, mau menerima kenyataan jika Tyra memang sedang mengandung anaknya. Apalagi kehamilan yang dilalui Tyra, tergolong sulit. Perempuan itu mengalami mual muntah yang terbilang cukup parah hingga Atan merasa tidak sanggup untuk tidak mendampingi Tyra.


Disisi lain hatinya, Atan juga tidak ingin lagi melibatkan Putri. Sudah cukup Putri membuat semuanya jadi kacau seperti sekarang. Bahkan Tyra sekarang hamil, juga karena ulah Putri yang kekanakan.


“Ibu tau, dokter Fir tidak bicara apapun selain meminta pengakuan dari Tyra itu, hanya untuk menjaga perasaan ibu.” lanjut Lastri masih belum bisa berdamai dengan kenyataan. Pasalnya Atan tidak pernah melakukan hal memalukan seperti ini selama Lastri membesarkannya. Tapi sekarang? Mengapa tiba-tiba Tyra mengandung anak dari putranya? Tidak mungkin Atan membuat Tyra hamil tanpa sebab.


“Sekarang ibu tanya, kamu serius sama Tyra?”


Lastri menatap punggung Atan yang selama ini berjuang untuk dirinya dan juga Linda, lalu satu hembusan nafas lolos dari hidungnya saat kemarahan itu ia paksa mereda karena mengingat semua perjuangan dan kerja keras putranya yang tak kenal lelah. “Ibu benar-benar malu sama dokter Firdaus. Selama ini dia sudah baik sama ibu. Dan sekarang apa balasannya?”


“Atan akan tanggung jawab, Bu. Atan nggak akan membiarkan Tyra begitu saja saat tau dia hamil.”


“Masalahnya, mereka itu orang terpandang. Nama mereka menjadi taruhannya, nak.”


Atan bergerak dan meringis menahan sisa ngilu di sekujur tubuhnya. “Itu tidak akan terjadi. Om Firdaus bahkan sudah menentukan tanggal pernikahan kami.”


Lastri menarik nafas besar, Lala mengusap surai putranya yang hitam berkilau. “Ibu tidak bisa berbuat apapun, karena kamu memang harus bertanggung jawab sebagai seorang pria sejati.”


Atan mengangguk.


“Sayangi Tyra sampai kapanpun. Sayangi dia dengan cara yang sama seperti pertama kali kamu menyukai dan memiliki perasaan padanya.”


Atan lagi-lagi mengangguk. Dia pasti akan melakukan itu tanpa diminta.


“Tuntun dia untuk terus berada dijalan yang benar, nafkahi dia lahir dan batin secara layak.” Tutur Lastri memberi wejangan untuk kehidupan baru yang akan Atan Arungi bersama sang pujaan hati. “Dan satu hal lain yang harus kamu perhatikan,”


Atan mengangkat wajahnya, menatap sendu pada wajah berkerut sang ibu yang kini menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang tak kalah keriput. Atan memejamkan mata. Dia tau apa yang akan dikatakan sang ibu.


“Jangan terlalu mengutamakan ibu karena kamu sudah memiliki keluarga sendiri. Utamakan istrimu meskipun kamu memang masih punya kewajiban pada ibu sebagai seorang anak.”


Mendengar itu, Atan menangis. Dia tergugu dan kembali meletakkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu. Hari ini begitu menyesakkan karena melihat ibunya menangis berkali-kali, karena dia.


“Maafkan Atan, bu.”


Lastri mengusap kembali kepala Atan, kali ini tidak lagi ada sedikitpun kemarahan. Yang ada hanya kasih sayang, tercurahkan begitu saja karena Atan memang kebanggaan dan akan selalu menjadi putra kesayangannya.


“Ibu memaafkan mu, nak.”


Atan bangkit susah payah, kemudian memeluk sang ibu dengan satu lengannya yang bebas.


“Atan sayang ibu.”


Lastri pun turut menangis dalam pelukan sang putra. “Ibu juga sayang kamu. Sayangi juga istri dan anakmu kelak, sama seperti menyayangi ibu.”


***


Setelah memohon ampun kepada sang ibu, Atan berjalan tertatih menuju kamarnya. Dia harus segera merebahkan diri karena sudah merasa kepayahan.


Ranjang empuk yang sudah hampir enam tahun menopang tubuhnya, menjadi tempat berlabuh lelahnya. Ia meringis, mengatur posisi agar bahu yang cidera itu tidak sakit untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan. Dia melakukan ibadah lima waktunya, isya'.


Dan ketika Atan sudah bersiap untuk melakukan ibadah, Linda masuk tanpa permisi membawa air putih, kemudian meletakkannya diatas meja yang tidak jauh dari ranjang Atan. Gadis itu lantas bersidekap dengan tatapan tajam penuh telisik.


“Jadi, malam itu ya?” tanya Linda mencoba mengorek informasi, kapan sebenarnya kejadian itu terjadi hingga menjadi asal mula kehamilan Tyra.


“Kamu masih kecil—”


“Mas benar-benar sadar saat melakukan itu?” tanya Linda yang ingin sekali tau. Dia juga takut dan tidak ingin kakak tersayang nya sampai menjadi korban yang di kambing hitamkan oleh orang lain untuk menutupi kebejatan pria lain.


“Kamu ini mau interogasi mas ya?”


“Jawab aja deh, mas. Linda emosi jadinya. Tyra nggak sedang hamil anak orang lainkan?”


Atan tersenyum mendelik mendengar asumsi Linda pada hubungannya dan Tyra. Linda ini tipikal perempuan yang hampir sama sifat dan rasa ingin taunya. Mirip seperti Tyra.


“Engga adek ku sayang. Anak itu memang anak mas, kok.” kata Atan memberi jawaban tegas. “Mas yang melakukan itu pertama kali pada Tyra.”[]


...—To be continue—...


###


Lagian sih, tanya-tanya segala Lin-Lin. Kan jadinya ngomong jujur si Atan. 🤦🏻‍♀️