We

We
Tiga puluh empat




...We...


...|Tiga puluh empat|...


...Selamat membaca...


...[•]...


“Kamu tidak menyesal jika suatu saat nanti putri saya menuntut sesuatu kepada kamu. Iri pada keluarga kamu misalnya?”


Atan menoleh kepada Tyra. Dia tersenyum hangat menatap kekasihnya itu, lalu mengusap satu sisi kepalanya penuh kasih sayang.


“Saya tau Tyra perempuan baik. Dia tidak akan melakukan itu kepada keluarga saya.”


Firdaus menatap lama pun lekat pada fitur wajah Atan. Mencari-cari sesuatu yang mungkin disembunyikan, atau mungkin sebuah alibi. Tidak ada, Atan tidak menunjukkan hal itu sama sekali. Pria ini tulus. Pria dewasa yang pasti akan sanggup membimbing Tyra dan menjadi tauladan sang putri dalam rumah tangga.


Akhirnya, Firdaus bisa melepaskan putrinya dengan lega sekarang.


“Mam, kapan jadwal mama longgar. Papa Minggu depan hari sabtu.”


Riyana melotot, tidak biasanya firdaus akan menanyakan jadwalnya jika tidak berhubungan dengan sesuatu yang mendesak. Ada apa?


“Papa mau keluar kota?” tanya Riyana, memastikan.


“Enggak. Kita undang dia makan malam di rumah.”


Mendengar itu, Tyra tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia tertawa lebar, menatap papanya dengan mata berbinar. Sedangkan Riyana pun tau maksud suaminya itu mengajak pria yang dibawa Tyra kerumah. Restu itu diberikan.


“Kamu boleh datang kerumah kami hari Sabtu malam, jika tidak sibuk.” ajak Firdaus sembari memulai sesi makan malam karena makanan sudah terhidang sekitar semenit yang lalu.


Tak jauh beda dengan Tyra, Atan pun menyunggingkan senyuman bahagia karena Firdaus ternyata bisa menerimanya, bisa menerima keadaannya, bisa menerima dia apa adanya setelah tau tentang keluarga dan dia adalah tulang punggung.


Punggung ia tegakkan dengan posisi sigap. Degup jantung yang semula tidak beraturan, kini terasa lebih berirama dan tenang. Lantas dia berkata, “Tentu saja saya akan datang, Om.”


Firdaus mengangguk dan Riyana menatap lekat dengan mata melebar ke arah Tyra yang justru diberi hadiah sebuah tawa kecil dan gerakan mulut mengajukan sebuah pertanyaan, “Mama juga suka dia kan?”


Riyana semakin melebarkan mata. Ini adalah interaksi pertama mereka setelah bertahun-tahun acuh. Tyra akan berterima kasih pada Atan karena sudah berhasil membawanya kembali kerumah.


Pembicaraan berlanjut membahas berbagai macam hal yang berhubungan dengan bisnis. Hingga sesi makan malam itu berakhir dengan senyuman mengembang di bibir ke empat orang yang kini saling pamit. Firdaus memberikan pelukan pada tubuh jangkung Atan dengan beberapa kali tepukan ringan di punggung.


“Tolong jaga putri saya.”


Atan mengangguk, sedangkan Firdaus tak bisa menyangkal rasa senang dalam benaknya. Bagaimana pun juga, Tyra adalah putrinya, putri satu-satunya yang sangat dia sayangi diam-diam. Dia tidak bisa membimbing Tyra dengan baik karena terlalu sibuk dengan dunianya, mungkin Atan lah orang yang akan berhasil menggantikan posisinya untuk menjaga dan membimbing Tyra.


“Tentu saja, om.”


“Tolong sayangi dia karena dia tidak pernah mendapatkan hal itu dari kami.”


Keberanian Atan untuk membalas pelukan Firdaus tiba-tiba muncul. Dia merangkul pria berusia diatas lima puluh tahun itu, seperti merangkul ayahnya.


“Saya akan menyayangi Tyra, sama seperti menyayangi ibu dan adik saya.”


Firdaus melepas pelukan, dan lagi-lagi mengagumi pria muda ini dalam diam. “Terima kasih, saya tunggu hari sabtu.”


Atan mengangguk, kemudian tatapannya berpindah pada Riyana. Ia membungkuk lima belas derajat lalu berkata, “Terima kasih Tante sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu kami. Saya akan datang memenuhi undangan om Firdaus hari sabtu.”


“Jangan telat.” tukas Riyana tegas, memperingatkan Atan karena dia tidak suka menunggu.


Wah, tipikal ibu-ibu posesif nih. Tapi yang begini ini, biasanya galak-galak sayang.


Atan mengacungkan ibu jarinya. Matanya kini melihat bagaimana Tyra datang mendekat pada sang ibu dengan gerakan canggung. Masih dengan sorot mata galak, Riyana memandangi putrinya yang sudah lama tidak dia berikan kasih sayang lantaran marah dengan keputusan yang diambil Tyra tanpa persetujuan darinya dan Firdaus.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Tyra menerjang tubuh sang ibu. Pelukan hangat dari seorang ibu yang begitu ia rindukan, dia dapatkan hari ini. Dia tidak lagi bisa membendung haru dan tangisnya. Ia lupakan semua emosi yang membuncah dan selama ini dia tahan, dengan tangisan tersedu. Dia memeluk erat tubuh Riyana.


“Maafkan Tyra yang nggak mau dengerin mama.”


Riyana tetap diam, namun telapak tangannya mengusap punggung sang putri dengan penuh rasa sayang. Dia merindukan Tyra, sangat merindukannya.


“Tyra mohon, maafin Tyra, mam.”


Pertahanan Riyana pun luluh karena mendengar tangisan Tyra. Dia ... ikut menangis.


“Tolong jaga dirimu baik-baik, sayang. Mama cuma nggak pingin kamu membatasi semua yang berhubungan dengan kesehatan kamu, sayangi dirimu sendiri, dan mama harap kamu bisa berhenti dari dunia model itu, mama nggak suka.”


Tyra bimbang. Tidak semudah itu berhenti dari sirkle dunia hiburan. Dia terikat kontrak, dan tidak akan bisa lari atau terkena penalti.


“Tyra akan berusaha, mam. Untuk sekarang, Tyra masih harus memenuhi kontrak kerja yang sudah Tyra buat.”


Riyana tau, dan dia tetap berharap jika Tyra bisa keluar dari dunia itu.


“Dan setelah semua rampung, Tyra akan berhenti dan menekuni bisnis clothing milik Tyra.”


Riyana melepaskan pelukan, lalu mengesat airmata di pipi Putri cantiknya yang kini sudah dewasa. Setelah itu, Tyra memeluk papanya, dan tangisan itu kembali pecah. Firdaus memberikan petuah yang sama dengan Riyana. Papanya itu ingin Tyra berhenti dari dunia modeling, tidak apa-apa jika hanya berbisnis pakaian, toh sama-sama pekerjaan dan tentu saja lebih aman.


“Terima kasih buat mama dan papa yang mau nerima Tyra lagi.”


“Jangan kecewain mama papa lagi.” ketus Riyana. Atan sampai heran, apa wanita itu memang setelannya judes begitu? Atau hanya didepan Tyra dia bersikap begitu? Hah, sudahlah.


“Tyra nggak akan melewatkan kesempatan yang diberikan mama sama papa.” jawab Tyra antusias ketika mama dan papanya sudah masuk kedalam mobil. Dia bersama Atan akan pulang setelah melihat dua sejoli yang menikah lebih dari dua puluh lima tahun menikah itu pergi.


Mereka berjalan menuju Ferrari milik Tyra setelah mobil papa dan mama Tyra tidak lagi terlihat.


“Papa kamu seru lho orangnya.” kata Atan sambil mengeluarkan remote dari saku celananya.


“Seru apanya? Papa itu aslinya orangnya bosenin, monoton, dan yang dibahas juga itu-itu saja.”


“Kayaknya memang bukan tipikal kamu ya pria seperti itu. Bagaimana kalau aku ternyata seperti papa kamu?”


Tyra mendelik. Dia menatap Atan dengan wajah serius di arah berlawanan dengan tempat Atan berdiri. Telapak tangannya yang hampir menarik handle pintu mobil, terhenti.


“Ya udah, bye.”


“Kok gitu?” protes Atan saat bercandanya justru menjadi serius untuk Tyra.


“Ya mau gimana lagi.”


Atan terkikik geli, dia merasa terhibur dengan kekesalan Tyra karena wajah cantiknya yang sekarang sedikit berisi itu, semakin menggemaskan. Oh ya, Atan baru sadar jika Tyra sekarang sedikit berubah. Tubuhnya tidak sekurus dulu. Pernah saat sleepcall, Tyra memberitahunya jika akhir-akhir ini nafsu makan perempuan itu bertambah pesat, membuat Retno pusing dan sering marah-marah padanya.


“Mau mampir jalan-jalan dulu, atau langsung pulang?” tawar Atan mencari kesepakatan. Karena Tyra itu suka sekali mengubah tujuan secara tiba-tiba.


“Pulang aja deh, waktunya bisa buat kangen-kangenan dirumah.”


Atan mengulurkan tangan setelah berhasil menautkan kunci seatbelt. “Kangen dicium ya?”


Sial. Itu benar. Selain nafsu makannya yang bertambah, nafsu lainnya juga ikut-ikutan muncul. Dia ingin selalu didekat Atan, dan diperhatikan prianya itu.


“Kok tau?” celetuk Tyra dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat yang justru, terlihat semakin menggemaskan bagi Atan.


“Ya lah.” sahut Atan dengan dua telinga yang sudah memerah karena malu dan gugup. Mobil berjalan pelan meninggalkan area parkir.


“Kalau begitu, nanti sampai rumah kasih cium yang banyak boleh?” []


...—To be continue—...