
...We...
...|Empat puluh satu|...
...Selamat membaca...
...[•]...
Sunyi, hanya terdengar suara detik jarum jam berputar di tempatnya. Sekarang pukul sebelas malam, Atan membuka mata. Dia sadar dari tidurnya yang cukup lama.
Matanya mengerjap menyesuaikan dengan sinar yang masuk ke dalam pupil mata, kemudian bibirnya meringis merasakan ngilu di sekujur tubuhnya yang engselnya terasa seperti terlepas dari tempatnya. Lantas, dia merotasikan pandangan dan menemukan yang Tyra tertidur di sofa dengan posisi meringkuk. Letaknya cukup jauh dari ranjang yang dia tiduri, dan membangunkan pun merasa kasihan. Hingga akhirnya Atan mendengar suara pintu dibuka, lalu Retno muncul bersama seorang suster dengan satu kantong cairan baru yang hendak di pasang pada gantungan.
“Udah bangun?” tanya Retno pelan, takut membangunkan Tyra yang sedang tertelap dan menikmati mimpi.
Atan tersenyum. “Makasih udah—”
“Nggak usah bilang makasih.”
Atan diam menanggapi suara ketus Retno, sedangkan suster yang sedang melakukan pekerjaannya itu, menahan senyuman.
“Sudah ya, mas. Nanti kalau ada masalah atau butuh sesuatu, bisa panggil saya lagi di ruangan tadi.”
“Iya suster, terima kasih.”
Setelah suster itu keluar, Retno menatap tajam dan jengkel pada Atan. Retno ingin sekali menimpuk wajah Atan yang terlihat tidak merasa berdosa itu dengan bantal. Ngeselinnya minta ampun.
“Laper ngga?”
Atan menggeleng sambil memejamkan mata menahan sakit di bahunya yang baru saja di operasi.
“Sejak kapan Tyra disini?”
Retno memutar bola mata malas. “Ya sejak kamu dipindahin disini.”
Atan kembali mengarahkan sudut matanya pada Tyra. Kekasihnya itu terlihat damai dalam tidurnya. Wajahnya sedikit pucat, dan tanpa make-up.
“Dia mau makan?”
“Enggak! Dia muntah terus! Dia hamil anak kamu tau nggak?”
Ups, Retno keceplosan. Dengan gerakan pelan Retno menutup mulut, bersamaan dengan itu, mata Atan menatap tajam sembari mengerutkan kening. Ia mencoba bangkit lantaran terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan manager kekasihnya itu.
“Hamil?” tanya Atan mengulangi, ia takut hanya salah dengar. Tapi Retno memilih bungkam dan berhasil membuat Atan geram. “Retno. Tyra hamil?”
“I-itu, kamu tanya sendiri saja sama dia nanti kalau sudah bangun. Aku ngantuk.” kilah Retno sambil pura-pura menguap lebar. “Dah ah, ngantuk beneran ini. Besok aja ngobrol lagi. Kalau perlu sesuatu, bangunin aku aja, jangan T-rex.”
Atan hanya diam memperhatikan laki-laki nyentrik itu berjalan menuju sofa yang ada disebelah Tyra. Khusus buat Retno, Atan tidak akan cemburu. Buktinya, bertahun-tahun mereka hidup bersama juga aman, tentram, damai. Justru yang bahaya itu dirinya, baru berteman beberapa bulan saja Tyra bahkan sudah hamil?
Atan melipat bibirnya, menatap Tyra yang tertidur pulas, lantas bayangan malam itu kembali terbesit. Jika memang Tyra hamil, itu artinya dia akan menjadi seorang ayah. Tiba-tiba hati Atan menghangat, dia tersenyum.
Keesokan paginya, Tyra menggeliat diatas sofa tempatnya tidur. Lalu matanya yang sembab mengerjap. Ia bangun perlahan, bibirnya menyecap, lalu tangannya menggaruk surainya yang sedikit lepas dari ikatan. Setelah itu matanya melihat ke arah Atan yang ternyata masih memejamkan matanya.
Kedua kaki Tyra turun dari sofa, berjalan perlahan mendekati Atan, lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang. Ditatapnya wajah damai itu sambil tersenyum.
“Pagi sayangku, papanya adek,” Tyra tidak membenci janinnya, justru dia merasa senang karena ada bagian dari Atan dalam dirinya.
Puas memandangi wajah tampan nan manis sang kekasih, Tyra mengulurkan tangan membelai kening Atan yang begitu ia sukai, lalu turun ke pipi dan dia usap dengan ibu jarinya. “Cepat bangun ya sayang. Aku kangen bercanda sama kamu.” ucapnya pelan. Tangannya meraih telapak tangan Atan untuk ia genggam. Tyra begitu menyesal karena memberi Atan izin bertemu dengan Putri, kemarin. “Kalau tau begini, aku nggak kasih izin kamu ketemu dia.” lanjutnya, dengan suara sendu dan mata yang sudah berair. “Aku akan membuat laki-laki yang nyakiti kamu itu, mendekam dipenjara.”
Sebenarnya Retno juga sudah membicarakan hal ini dengan Tyra semalam sebelum Tyra tertidur. Dan Retno bersedia membantu Tyra membawa kasus ini ke kepolisian jika memang Atan menyetujuinya setelah sadar nanti.
“Ah, ada satu hal yang harus kamu tau nanti saat bangun.” kata Tyra dengan manik matanya yang berbinar. “Ada bagian dari dirimu, dalam diriku.” bisiknya singkat, kemudian dia mengecup telapak tangan Atan penuh cinta. “Aku, hamil.”
Tyra terkejut saat tiba-tiba tangannya digenggam oleh Atan. Tubuhnya mematung karena tertangkap basah. Ternyata Atan sudah bangun?
“S-sayang? S-sudah bangun?” tutur Tyra gugup setengah mati. Niatnya bicara diam-diam dan merahasiakan kehamilannya untuk sementara dari Atan, tapi ...
“Sudah, semalam.”
Atan berusaha membawa telapak tangan Tyra untuk sampai di bibirnya, namun mustahil. Ia meringis kesakitan karena cidera bahu yang baru kemarin mendapat operasi.
“Nggak perlu dipaksa. Kamu masih sakit.”
Atan terkekeh geli atas kebodohan dan kecerobohannya. “Lupa.” kata Atan dengan cengiran kaku di wajahnya. Sedangkan Tyra, menepuk dada prianya itu hingga mengaduh.
“Eh, maaf. Lupa.” pekik Tyra saat melihat wajah sang kekasih berubah mengernyit menahan keluhan.
Ingin sekali Atan mencubit gemas Tyra yang saat ini terlihat begitu imut dan menggemaskan dengan wajah paniknya. Momen manis seperti ini memang selalu tercipta tanpa mereka sengaja. Tyra selalu berhasil membuat Atan merasa bahagia, meskipun juga terkadang sebal karena sifat keras kepalanya.
“Jadi benar?” tanya Atan, menghentikan usapan telapak tangan Tyra di dadanya.
“Be-benar apanya?”
“Bisa bantu naikkan sedikit tuas ranjangnya sayang? Biar aku bisa ngobrol enak sama kamu.”
Tanpa banyak bicara, Tyra mencari tuas di sisi ranjang dan menekannya hingga kini posisi Atan menjadi setengah duduk.
“Makasih, ya.” kata Atan di bumbui senyuman manis untuk Tyra.
“Eumm.”
Tatapan mereka kembali bertemu, dan Tyra menghindar.
“Sayang,” panggil Atan pelan, ingin mengusap puncak kepala Tyra tapi mustahil. “Beneran?” tanyanya lagi, ingin tau berita yang disampaikan Retno semalam, dari bibir Tyra sendiri.
Dengan wajah merona dan sisa rasa percaya dirinya, Tyra mengangkat wajah, kemudian mengangguk pelan. Ia takut Atan tidak suka mendengar berita ini, lalu memaksanya melakukan sesuatu yang mungkin tidak dia sukai. Tapi, melihat senyuman terbit dibibir Atan, Tyra merasa sedikit lega. Atan menerimanya dengan lapang dada.
“Kamu nggak marah?” tanya Tyra membuat Atan mengerutkan kening.
“Untuk apa aku marah? Aku malah senang saat tau kamu hamil.”
Wajah Tyra semakin merona. Hatinya terasa berdebar seperti pertama kali jatuh cinta. Atan memang pria yang tumbuh dan dibesarkan oleh orang yang hebat hingga memiliki kebaikan dan kesabaran yang begitu besar.
“Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, karena sudah membuat kamu—”
“Enggak. Aku seneng kok, tapi aku nggak tau bagaimana caranya memberitahu mama papa. Aku takut karena mereka baru saja membuka hati kembali untuk menerima ku.”
Isi pikiran mereka sama rupanya. Sejak semalam Atan juga memikirkan itu. Dia bahkan sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang diberikan Firdaus untuk mereka berdua yang kemungkinan besar akan mencoreng nama baik keluarga. Bagaimanapun juga, mereka harus memberitahu karena tidak mungkin menyembunyikan kehamilan Tyra yang akan semakin membesar.
“Jangan khawatir. Aku akan bicara dengan papa kamu.”
“Bagaimana kalau papa marah dan nggak mau nerima anak kita?” tanya Tyra khawatir.
“Aku akan menerima kamu. Aku akan tetap ada di sisi kamu, apapun keadaannya.”
Rasa cinta Tyra semakin besar untuk Atan. Pria itu sungguh membuatnya jatuh hati setengah mati.
“Terima kasih.”
Tyra mendekat, kemudian mencium Atan tepat di bibirnya. Namun Tyra menjauh begitu saja saat mendengar teriakan seseorang dari arah sofa.
“Sengaja bikin gue sebel Lo ya, Rex?!”
Tyra menjauh, sedangkan Atan terkikik geli mendengar suara parau Retno yang protes setelah melihat kemesraan mereka.
“Kenapa? Iri?” cebik Tyra.
“Iri pala Lo?!”
“Makanya, cari pacar sana—”
Perseteruan antara si model dan sang manager terhenti kala mendengar suara pintu ruangan berderit. Seorang perempuan tua, dan seorang gadis yang berjalan dengan menggunakan kruk atau tongkat ketiak yang menyangga badannya, masuk kedalam ruangan.
Retno yang tidak pernah melirik perempuan, terpanah saat matanya melihat gadis yang semakin mendekat itu. Linda, berhasil menarik perhatiannya. []
...—To be continue—...