Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 8



Pikiran Gerald mengawang di udara. Sudah seminggu sejak ujian selesai. Dirinya telah kembali ke kediaman Bender untuk menunggu hasil ujian.


Pemuda itu sudah mulai bosan dengan hari-harinya yang kerjanya hanya melamun. Itu adalah hal yang baru untuk Gerald. Biasanya dia tidak mempermasalahkannya dirinya yang hanya bisa melamun. Tapi kini dia merasa bosan.


Di kediaman Bender dia tidak bisa menggunakan sihir. Walaupun dia bisa menggunakan sihir, dia tidak bisa mengasahnya karena aturan ibunya.


"Tuan muda, nyonya besar memanggil anda,"


Gerald mengangkat kepala dan melihat Berner dihadapannya. Dia melihat pria tua itu dengan tatapan lesu.


"Tidak bisakah dia saja yang kesini?"


Gerald menangkupkan wajahnya. Pemuda itu sedang tidak ingin bertemu dengan Katarine, ibunya. Dia tidak mau melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju kamar ibunya yang jaraknya dari ujung ke ujung.


Andai saja dia bisa teleportasi, mungkin dia akan dengan senang hati bertemu ibunya. Namun, apa daya dia tak mampu.


Gerald menghela nafasnya panjang. Dengan perasaan yang malas, dia melangkahkan kaki menuju kamar ibunya. Namun, ketika dia keluar dari kamar, pemuda itu malah berpapasan dengan Arnold yang sedang berkunjung ke kediamannya.


"Hah~kenapa aku bertemu seorang gelandangan disini?" keluh Arnold.


Gerald menghiraukan ucapan pamannya itu. Dia terlalu malas untuk membalas. Dia terus melangkahkan kakinya tanpa melihat Arnold.


"Oh, tumben diam saja. Apa kau mengaku kalah?"


Arnold mengikuti Gerald dari belakang. Pria itu terus mengoceh dan mengejek Gerald. Dia terus saja mengatakan gelandangan pada pemuda itu.


"Bisakah kau diam sejenak? Aku terlalu malas untuk membalas ucapanmu," pinta Gerald.


"Tidak, aku akan terus mengejekmu."


Arnold menjulurkan lidahnya. Sungguh, pria yang kekanak-kanakan, pikir Gerald. Ya, begitulah sifat asli Arnold sang penyelamat kota. Dia selalu bertingkah kekanakan pada keluarganya, namun bertingkah dewasa dan sok tampan dihadapan orang lain.


Jujur saja, setiap kali dia melihat pamannya bertingkah berbanding terbalik dengan dirinya yang biasanya, Gerald merasa mual. Dia selalu ingin muntah melihat Arnold yang seperti itu.


"Bisakah kalian berjalan dengan cepat?"


Gerald dan Arnold tersentak kaget mendengar suara Katarine yang menggema. Sontak, mereka berdua mengalihkan pandangan dan melihat Katarine yang sedang berdiri di pintu menunggu mereka.


Gerald hanya bisa tersenyum canggung. Dia dapat merasakah bahwa ibunya itu sedang marah. Entah apa yang membuatnya marah.


Dengan sigap, Gerald beserta Arnold masuk ke kamar Katarine.


"Kalian ini lama sekali. Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Katarine.


Gerald dan Arnold terdiam. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan dari singa betina itu. Kalau mereka salah menjawab, itu akan menjadi hari terakhir bagi mereka.


Walaupun Gerald dan Arnold selalu berselisih, namun jika sama-sama menyangkut tentang Katarine mereka akan berdamai sejenak. Kedua laki-laki itu akan bekerja sama agar tidak dimarahi oleh Katarine.


"Tidak, aku hanya bertanya tentang ujiannya kemarin," ucap Arnold.


Kaki pria itu gemetar. Dahinya dipenuhi oleh keringat dingin. Tangannya pun basah karena keringat. Dia benar-benar takut dengan tatapan kakak perempuannya itu.


Katarine menyipitkan matanya. Sebenarnya dia tahu kalau adik laki-lakinya itu berbohong, namun dia hiraukan hal itu karena itu bukanlah masalah utamanya.


Wanita itu lebih penasaran dengan hasil ujian Gerald. Dia sudah tidak tahan lagi menampung pemuda pemalas itu. Dia ingin cepat-cepat mengirimnya ke asrama Alphrolone agar bisa beristirahat dengan tenang.


Katarine bahkan sudah berpikiran untuk meninggalkan Gerald di panti asuhan saja kalau dia tidak diterima di sekolah Alphrolone.


"Jadi, apa hasil ujian Gerald sudah keluar?" tanya Katarine.


"Pengumumannya lusa kan?" tanya Gerald bingung.


"Aku tahu, tapi kan Arnold guru disana. Apa salahnya sih gali informasi dari orang dalam."


Arnold menggelengkan kepalanya. Sepertinya kakaknya itu sudah sangat frustasi ingin mengeluarkan Gerald dari rumah.


"Tunggu saja dua hari lagi," ucap Arnold.


"Nggak bisa. Biar Gerald bisa siap-siap. Jadi di hari pengumuman, dia tinggal pergi." potong Katarine.


"Sedih sekali, aku merasa tidak diterima disini," ucap Gerald sembari menyeka matanya yang tidak berair.


Katarine dan Arnold menatap jengah pemuda itu. Dilihat bagaimana pun, dia memang tidak diterima lagi disana. Dia sudah cukup merepotkan dengan hanya tinggal selama 16 tahun.


"Hufft~ sebenarnya aku malas untuk mengumumkannya dengan mulutku sendiri. Tapi, dia lolos. Lusa dia sudah boleh tinggal di asrama."


Katarine berteriak kegirangan. Suaranya bergema dan cukup nyaring. Harmin yang terkejut akan suara istrinya pun bergegas pergi ke kamarnya dan bertanya ada apa.


"Lusa Gerald akan pergi dari rumah," ujar Katarine kegirangan.


Gerald yang melihat pamannya lesu karena tidak bisa bergembira bersama, mentertawakannya dalam hati. Pemuda itu mengumpati Arnold dan bersumpah akan terus mengganggunya di sekolah.


"Kuharap aku tidak bertemu denganmu di hari pertamamu sekolah."


Arnold pergi meninggalkan kamar Katarine. Pria itu meninggalkan Gerald bersama kedua orangtuanya yang masih bergembira mendengar kabar kepergiannya.


"Bagaimana besok kita adakan pesta?" saran Harmin.


Katarine menganggukkan kepalanya, sedangkan Gerald yang berada di belakang Katarine menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Harmin tersenyum bahagia dan memanggil Berner untuk menyiapkan pesta besok. Gerald menghela nafasnya panjang. Sekarang dia benar-benar merasa diabaikan di rumah ini. Yang benar saja, mengadakan pesta kepergiannya? Sungguh konyol.


...****************...


Disebuah hutan yang hijau, sekumpulan rusa tengah menyantap rerumputan yang lezat. Suasana disana tampak tenang dan damai. Terdengar suara burung bernyanyi yang tambah membuat suasana hutan menjadi nyaman.


Namun, kedamaian itu terusik dengan munculnya seseorang yang memakai jubah yang menutupi wajahnya tepat di tengah kerumunan rusa. Para rusa yang terkejut, berlarian meninggalkan sosok itu sendirian.


Dengan cahaya berwarna tosca yang masih menyelimuti tubuhnya, sosok itu berjalan menyusuri hutan menuju sebuah gubuk yang terbengkalai. Sosok itu memasukinya sembari membuka tudung jubahnya.


"Kau sudah kembali Hugo?"


Sebuah suara mengejutkan sosok itu. Dia berbalik dan mendapati seorang wanita dengan gaun putihnya yang indah nan menawan sedang menatapnya. Sepertinya wanita itu sudah menunggu Hugo sedari tadi.


Hugo melepaskan jubahnya dan menggantungkannya di dekat pintu masuk. Pria itu menghela nafasnya panjang. Raut mukanya menggambarkan kelelahan. Dia bersender di sebuah sofa yang sudah sangat rusak. Busa sofanya sudah terhambur kemana-mana.


"Kau tahu, para peserta tahun ini sungguh menarik."


Wanita yang merupakan rekan Hugo itu menempatkan dirinya di depan pria itu. Dia duduk bersila didepannya, menunggu kelanjutan cerita Hugo.


"Mereka sangatlah kuat. Kupikir sebentar lagi kita akan segera melancarkan rencana kita," ucap Hugo.


Wanita didepan Hugo menelan ludahnya dengan susah payah. Bola matanya yang berwarna biru laut menyala terang. Cahaya berwarna tosca mulai menyelimuti tubuhnya.


Hugo yang melihat itu langsung memegang kepala rekannya. Sembari menyeringai pria itu berkata, "Belum saatnya, Tanaya. Ini belum saatnya untuk kau mengamuk. Kita tunggu waktu yang tepat."


Setelah mengatakan hal itu, bola mata Hugo yang berwarna keabuan ikut menyala terang. Mengingatkan kita pada sesosok misterius yang mengamati ujian masuk sekolah Alphrolone saat itu.


Hugo bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jubah yang dia gantung di dekat pintu. Pria itu mengambilnya dan melangkahkan kaki keluar dari gubuk. Dengan suara yang tenang namun dapat membuat bulu kuduk berdiri, dia berkata, "Saatnya berburu"


Pria itu meninggalkan Tanaya sendirian dan pergi berburu rusa untuk makan malam ini. Dengan hanya berbekal belati kecil, pria berambut hitam keabuan itu berhasil menangkap 7 rusa yang besar.


Hugo tersenyum bangga. Dia hendak memindahkan rusa-rusa hasil buruannya itu ke gubuk dengan sihirnya. Namun, sebelum bisa melakukannya, dia mendengar sebuah suara berisik yang mendekatinya.


Pria itu segera bersembunyi di tempat terdekat. Tak lama, terlihatlah beberapa orang dengan seragam berwarna putih. Hugo dapat melihat dengan jelas sebuah emblem yang tersampir di seragam mereka. Dia sangat tahu emblem darimana itu.


Tanpa mengambil hasil buruannya, Hugo segera pergi ke kediamannya dengan wajah yang cemas. Pria itu tampak ketakutan setelah melihat orang-orang itu.


"Tanaya, kita harus segera pergi dari sini," teriak Hugo.


Tanaya yang kebingungan hanya bisa terdiam melihat Hugo yang datang tiba-tiba.


"Kita ubah rencananya, kita tidak bisa tinggal lebih lama disini," jelas Hugo sembari mengemasi barang-barangnya.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Tanaya sembari melihati Hugo yang mondar-mandir di depannya.


Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Hugo memegang tangan Tanaya dan berkata, "Kita akan mencari master," dan keduanya menghilang karena sihir teleportasi milik Hugo.


Selang beberapa detik setelah mereka menghilang, pintu gubuk itu didobrak oleh sekumpulan orang dengan seragam putih yang dilihat oleh Hugo di hutan tadi.


Mereka menyusuri sekeliling gubuk, mencari kehadiran Hugo dan Tanaya yang baru saja pergi.


Seseorang yang tampaknya pemimpin dari gerombolan itu menerobos masuk. Dia melirik ke kanan dan ke kiri.


"Sepertinya mereka belum lama pergi, cepat pergi dan temukan mereka. Aku tidak mau ada lagi kegagalan."


Semua orang berseragam putih itu berlarian keluar sesuai perintah orang itu. Sembari menyeringai, seseorang dengan rambut berwarna merah itu berkata, "Mari kita lihat berapa lama lagi kalian akan bertahan?"


Sebuah cahaya berwarna merah mulai menyelimuti pria itu. Namun, berbeda dengan cahaya Hugo dan Tanaya, cahaya pria itu tampak gelap serta terlihat berbahaya.


Pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan gubuk itu. Setelah maju beberapa langkah, seketika muncul sebuah batu yang besar jatuh dari langit dan menghancurkan gubuk itu.


Senyum puas dan bangga terlukis di wajah pria itu. Bekas luka di pipinya seakan menyusut saking lebarnya senyuman pria itu. Dengan jentikan jari, batu besar yang menghancurkan gubuk tua itu menghilang dan meninggalkan puing-puing rumah yang sudah hancur.


"Saatnya....berburu. Teman lamaku" ucap pria itu diiringi dengan tawanya yang menakutkan.