Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 21



"Ha??"


Gerald begitu kaget mendengar pernyataan seniornya itu. Tawa canggungnya keluar begitu saja. Wajahnya pun tidak bisa dikondisikan. Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya dengan benar.


"Dari awal lihat dia itu, duniaku seakan berpusat padanya. Walaupun, dia adalah seorang nulla aku tidak peduli," jelas Fred.


Wajah Gerald semakin masam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Ingin rasanya dia mengklaim kalau Lacy adalah miliknya, namun kata-kata itu tidak bisa terucap. Pemuda itu terlalu tercengang mendengar pernyataan seniornya itu.


"Eee~ kak, kakak bukannya masih ada kelas? Udah disini biar saya aja yang jagain Lacy, kakak kembali ke kelas aja, gimana?"


Fred mengernyitkan dahinya. Pernyataan Gerald ada benarnya juga. Dia adalah ketua osis, dan dia harus mencontohkan hal yang baik bagi junior-nya.


Fred menganggukkan kepala. Dia segera melangkahkan kaki meninggalkan Gerald yang tersenyum penuh kemengangan sembari melambaikan tangan.


Setelah melihat senior berambut panjang itu pergi, Gerald langsung menurunkan tangan dan menghilangkan senyumannya. Pemuda itu langsung berdecak kesal karena merasa ada pesaing. Tapi, dia tidak akan menyerah dengan mudahnya. Jika dilihat baik-baik, antara dirinya dan Fred, jelas dia lah yang lebih ganteng.


Gerald kembali menyunggingkan senyum ketika memikirkan hal itu. Dia merasa puas karena telah menang dalam satu aspek dari senior itu. Dengan bangga, dia membuka pintu UKS dan menyapa Lacy.


Namun, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Lacy yang tengah tertidur. Wajah gadis itu tampak tenang dan tidak terusik sama sekali. Benar-benar seperti seorang malaikat, pikir Gerald.


Dengan perlahan, pemuda itu mendekatinya. Dia mengagumi wajah gadis itu dari dekat, dan tanpa sadar berdecak kagum melihatnya. Bagaimana bisa ada seorang yang secantik dia. Jika sudah melihat Lacy, maka gadis-gadis lain akan terlihat seperti biasa saja dimata Gerald.


Gerald berpangku tangan di samping kasur Lacy. Alih-alih membangunkannya, pemuda itu malah menunggu Lacy untuk bangun sendiri. Namun, sudah beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kalau gadis itu akan bangun.


Gerald pun panik. Dia berpikir, "apa dia sudah mati?"


Dengan tangan yang bergetar, Gerald menaruh jarinya di bawah hidung Lacy untuk mengetahui apakah gadis itu masih bernafas atau tidak.


Gerald menghela nafas lega ketika merasakan hembusan nafas dari gadis itu. Dia kembali berpangku tangan meengaguminya.


"Apa kau akan tetap disitu? Kau mengganggu pekerjaanku."


Sebuah suara mengagetkan Gerald yang tengah mengagumi gadis pujaannya. Dia menolehkan kepala dan melihat seorang wanita dengan gaun putih bak seorang dokter tengah menatapnya dengan tatapan jengah.


"Daripada kau tidak ada kerjaan disitu, mending kau membantu ku," ucap wanita itu.


Gerald mengernyit bingung. Dia masih tidak tahu guru-guru yang bekerja di sekolah ini. Dia juga tidak ada melihat berita. Dengan ragu, dia bertanya, "Anda...siapa ya?"


Wanita itu terdiam. Dia terlalu tercengang untuk berbicara. Bagaimana bisa ada orang yang tidak mengenalinya. Dengan nada yang ketus, wanita itu menjawab, "Aku Eve, Eve Waves. Aku adalah guru UKS disini."


Kali ini, Gerald yang terdiam. Dia merasa pernah mendengar nama belakang itu. Tapi, dimana ya?


"Apa kau punya hubungan darah dengan Kannon Waves?" tanya Gerald lagi.


"Ya, dia adalah putriku. Apa kau temannya?"


Gerald kaget dan tidak bisa berkata-kata. Ibu dari gadis yang telah mengusiknya seharian ada di hadapannya. Tawa canggung terdengar dari mulut Gerald. Hari ini terlalu banyak hal yang membuatnya tercengang. Ingin rasanya dia tidur sebentar.


Brakk~


Eve berteriak keget ketika melihat Gerald pingsan. Wanita itu langsung menggotongnya menuju kasur di sebelah Lacy dan mencoba memeriksanya.


"Ini dimana?" tanya Gerald linglung.


"UKS. ckck~ anak zaman sekarang terlalu lemah."


Eve berbalik meninggalkan pemuda itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Gerald menolehkan kepalanya ke arah kasur Lacy. Dia berniat untuk mengagumi wajah tidur gadis itu lagi. Namun, saat menoleh, dia terkejut bukan main karena melihat Lacy yang sudah membuka matanya.


Gadis itu menatap Gerald dengan pandangan mencibir. Sepertinya dia melihat Gerald yang pingsan begitu mengetahui kalau Eve adalah ibu dari Kannon. Lacy memutar bola matanya dan menggelengkan kepala. Dia juga beralih memunggungi pemuda itu agar tidak melihat wajahnya.


Gerald menangis dalam hati. Dia merasa sudah ditolak oleh gadis pujaannya karena tingkah bodohnya.


"Apa kau tidak ada kerjaan menungguku disini?" tanya Lacy.


Sepertinya gadis itu sudah bangun sejak Gerald masuk ke ruangan itu, dan dia sangat terusik dengan pandangan dari pemuda itu. Pandangannya seakan ingin memakannya hidup-hidup.


"Oh, aku kesini tadi untuk memberitahukan ada tugas dari bu Levy. Kita ada di kelompok yang sama."


Gerald pun menjelaskan apa yang baru saja Mage jelaskan pada Lacy. Gadis itu mendengarkan dengan seksama, namun juga mengernyit bingung. Mengapa seorang guru menyuruh muridnya yang tidak memiliki sihir untuk membuat sebuah protector?


"Apa wanita itu tidak terlalu egois? Di kelas kita, bukan hanya aku yang seorang nulla. Apa dia bermaksud untuk mengusik seorang nulla di kelasnya?" seru Lacy.


Gerald terdiam. Dia pun tak tahu maksud dari wali kelasnya itu. Jika dilihat dari sikapnya sih, jelas kalau wanita itu tidak suka dengan keberadaan seorang nulla di kelasnya. Tapi, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan mereka. Tugas seorang guru adalah untuk mengayomi muridnya.


"Bagaimana kalau kita kesampingkan hal itu dulu? Kita diberi mandat oleh Mage untuk mengambil alih aula."


"Apa dia gila??!!" teriak Lacy.


"Aula itu besar dan luas. Diantara kita, yang bisa memakai sihir hanya dirimu. Kalau kau membuat protector untuk seminggu disana, bisa-bisa..."


Lacy tak melanjutkan ucapannya. Tak dapat dipungkiri, dia khawatir pada Gerald. Dia merasa dirinya hanyalah seorang beban bagi kelompoknya. Diantara 8 orang, hanya dialah yang tak bisa memakai sihir dan ampasnya, Gerald bersanding dengan dirinya untuk membuat protector.


Gerald terkejut mendengar Lacy yang berteriak. Namun, dia begitu senang melihat Lacy yang khawatir padanya. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Dia tak dapat menyembunyikan perasaan senangnya itu, hingga dia dianggap aneh oleh Lacy.


Gadis itu menceramahi Gerald karena dia tidak rasional. Dengan ketusnya, Lacy berkata, "Apa kau sudah gila? Aku sedang mengkhawatirkanmu, tapi kau tersenyum seolah tidak ada apa-apa,"


Lacy terdiam sejenak. Dia mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mencerna apa yang telah dia ucapkan. Sedangkan, Gerald masih tersenyum senang di hadapannya.


Begitu tersadar, gadis itu langsung gelagapan. Dengan terbata-bata, dia berkata, "M-maksudku adalah aku khawatir kau akan mati dan menjadi beban untuk kami, bukan seperti yang kau pikirkan."


Pipi gadis itu merona merah. Sejak kecil, dia memang tidak bisa merangkai kata-kata dengan bagus dan selalu membuat orang lain salah paham. Dia tidak mau mengakui dirinya khawatir pada Gerald dan membuat pemuda itu salah paham tentang maksudnya.


"Iya, iya. Aku paham. Apa kau mau terus-terus berbaring disana? Aku mau pergi ke aula. Aku mau lihat apa yang bisa kita lakukan disana tentang tugas ini. Setidaknya kita bisa menyusun strategi kan?" jelas Gerald.


Lacy mengangguk dan mengikuti langkah Gerald dari belakang, meninggalkan Eve yang menatap mereka dengan tatapan kesal.


Wanita itu tidak bisa bekerja sama sekali karena teriakan mereka. Dia juga kesal karena mereka tampak tidak sadar kalau bukan hanya mereka berdua yang ada disana. Sambil berdecak kesal, wanita itu berkata, "Masa muda."


Eve menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tiada habisnya itu.