
"Alven?" panggil Gerald.
Alven mengerang kesakitan setelah melihat Gerald dihadapannya. Dia tidak bisa menahan tubuhnya lagi, dan berakhir jatuh tersungkur. Pria itu pingsan.
Gerald panik melihatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kalau dia membawa Eve kesini, Alven akan dianggap sebagai penyusup dan dia akan diadili karena dianggap sudah membawa penyusup masuk ke sekolah.
Jalan satu-satunya adalah membawa Alven ke dalam ruangan rahasia itu dan bersembunyi disana untuk sementara. Gerald memapah tubuh Alven dan membawanya memasuki ruangan rahasia.
Pintu di belakang pemuda itu tertutup otomatis. Ruangannya menjadi gelap. Namun, tak lama setelah pintu tertutup, obor yang ada di dinding menyala. Obor-obor itu beresonasi dengan cahaya sihir miliknya, seperti lampu otomatis yang jika didekati akan menyala.
Lorong ruangan rahasia itu sangatlah panjang, seperti tidak ada ujungnya. Hampir saja Gerald menyerah dan membiarkan Alven tergeletak di tanah. Tapi, melihat tubuh pria itu yang terluka parah, Gerald menjadi tidak tega.
Akhirnya, dengan mulut yang terus mengeluh, Gerald membawa Alven yang begitu berat baginya menuju ujung ruang rahasia itu.
Sesampainya di sebuah ruangan yang sangat terang dan didominasi oleh warna putih, Gerald melempar Alven ke atas kasur yang entah kenapa ada disana.
Alven meringis kesakitan setelah dibanting oleh pemuda itu keatas kasur. Kesadarannya mulai kembali karena rasa sakit yang teramat sangat.
"Bisakah kau sedikit lembut, nak? Aku sedang terluka, apa kau tidak lihat?" protes Alven dengan suara seraknya.
"Oh, maaf. Habisnya kau sangat berat, lagipula kenapa kau bisa terluka? Dan kenapa kau ada di sekolah ini?" tanya Gerald.
"Ak-"
"Stop, obati dulu lukamu, nih," potong Gerald sembari memberikan pria itu berbagai macam obat yang ada di ruangan.
Alven menghela nafasnya dan menerima pemberian Gerald. Sembari mengoleskan obat dilukanya, Alven bertanya, "Kau sendiri ngapain disini? Bukannya ini sudah jam pulang sekolah?"
"Aku mau membuat jebakan disekitar protector-ku tadi, tapi begitu sampai disini ternyata protector milikku udah dihancurin sama orang. Makanya aku mau cari tempat buat menyembunyikan inti protector."
Gerald menjawab sembari melihat ke sekeliling ruangan itu. Dia berdecak kagum karena walaupun kecil, ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang yang cukup untuk bertahan hidup. Pemuda itu jadi berpikir, apakah ini adalah tempat persembunyian orang? Lihat saja barang-barang ini, semuanya terlihat baru.
"Lalu, apa yang kau lakukan disana? Bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini?" tanya Gerald sambil membolak-balikkan sebuah kotak ditangannya.
Alven terdiam. Tangannya yang mengoleskan obat ke lukanya pun terhenti. Pria itu tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Gerald. Dia hanya terus menutup mulutnya sambil terus mengobati lukanya.
"Tidak mau menjawab? Tidak apa, aku juga tidak terlalu peduli sebenarnya."
Gerald menghentikan tour-nya di ruangan itu dan duduk tenang di sofa dekat kasur yang ditempati Alven.
Pemuda itu terus menatapnya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain melihat Alven yang sedang mengobati luka. Semua benda yang ada di ruangan itu sudah dia lihat dan periksa. Tidak ada yang spesial, semua hanya benda sehari-hari yang sangat biasa.
"Bukankah kau bilang mau mencari tempat untuk menyembunyikan inti protector, nak? Tidakkah kau berpikir ini adalah tempat yang bagus?" tanya Alven sembari menaruh obat-obatan itu ke tempat semula.
Gerald membelalakkan matanya. Benar juga, tempat ini adalah tempat rahasia. Tidak ada yang bisa menduga kalau inti protector-nya ada disini.
Pemuda itu langsung bangkit dari duduknya dan segera membuat protector. Tak lupa, dia menambahkan command agar tidak ada yang bisa masuk, selain dirinya dan teman kelompoknya.
"Seminggu," jawab Gerald singkat.
"Apa kau lupa kalau aku ada disini? Aku tidak akan bisa keluar selama seminggu kalau kau memasang command itu," protes Alven.
"Bukankah itu tujuannya? Kau mau sembunyi disini kan?"
Alven terdiam. Memang benar, dia mencoba bersembunyi disana. Tidak ada salahnya juga dia mendapat bantuan dari pemuda itu. Akhirnya, Alven hanya berdiam diri melihat Gerald membuat sebuah protector yang menyelimuti seluruh aula.
Sebenarnya, pria itu ingin protes lagi. Dia sangat tahu kemampuan Gerald. Energi sihirnya tidak akan cukup untuk mempertahan protector itu selama seminggu. Namun, dia memilih diam saja. Itu adalah pilihan pemuda itu, siapa dirinya, berani mengatakan semaunya. Dia juga bukanlah seorang guru disana.
Gerald tersenyum bangga setelah berhasil membuat protector itu.
"Lalu, aku akan membuat beberapa jebakan di luar. Kau tetap disini kan? Kalau begitu, jumpa sapa kita sampai disini saja. Dadah."
Gerald pergi meninggalkan Alven begitu saja. Pemuda itu berlari menyusuri lorong yang sangat panjang tadi. Dengan senyuman yang masih tersungging, dia menggerutu, "Ah! Aku lupa lorong ini sangat panjang, buang waktu saja."
Pemuda itu terus berlari hingga mencapai ujungnya. Dia mengucapkan mantra yang sama dengan saat dia membuka pintu. Untungnya, pintu rahasia itu terbuka.
Gerald langsung pergi ke depan pintu aula dan menaruh beberapa jebakan disana. Dengan langkah yang ringan, dia meninggalkan aula untuk kembali ke asrama. Tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.
Di satu sisi, Alven yang sudah selesai mengobati luka-luka kecilnya itu mulai melucuti bajunya. Bisa terlihat kalau luka yang berada di tubuhnya bukanlah luka yang kecil. Ada luka tebasan yang membentang dari pundak kirinya hingga perut.
Alven meringis kesakitan. Dengan sisa energi sihir yang dia punya, pria itu menutup luka yang menganga.
Setelah menutup luka besar yang ada di tubuhnya, nafas Alven tersengal karena kelelahan. Pria itu terbaring lemah diatas kasur dengan bertelanjang dada.
"Capek, tidak ada energi sihir yang tersisa di tubuh ini," keluhnya.
Dia menutup mata dengan lengannya. Mencoba untuk tidur dan beristirahat. Berharap hal itu akan mengembalikan energi sihirnya.
Namun, ketika rasa kantuk mulai menghampirinya, dia mendengar suara dentuman yang sangat keras diatasnya. Alven menggeram kesal. Dia hanya ingin tidur. Tidak bisakah kalian melakukan renovasi di waktu yang lain, pikirnya.
Alven terdiam sejenak ketika menyadari sesuatu. Gerald baru saja membuat protector disini. Mungkin saja suara dentuman tadi adalah bunyi orang yang mau menghancurkan protector ini.
Pria itu mengalihkan pandangannya pada inti protector yang berada tak jauh darinya. Dia menyipitkan mata. Dalam hati dia berkata, "Apa kubantu saja anak tengik itu? Dia sudah membantuku disini. Yah~tidak ada salahnya sih."
Alven langsung bergegas menuju atas dengan menggunakan sihir teleportasi. Sesampainya diatas, pria itu dapat melihat dengan jelas ada beberapa anak yang menggunakan bros di dada kirinya sedang mencoba menghancurkan dinding protector.
Dengan sekali lihat, dia bisa menyimpulkan kalau mereka bukanlah teman seangkatan dari Gerald. Mereka pastilah senior dari pemuda itu. Alven menghela nafasnya. Dia tidak mengerti mengapa para senior itu mencoba menghancurkan sebuah protector yang dibuat oleh juniornya. Tidak ada hal yang menguntungkan bagi mereka.
Alven mengangkat tangannya kearah anak-anak itu. Cahaya sihirnya mulai mengaliri tangannya. Cahaya sihir yang seperti benang tipis itu mulai menembus dinding protector dan melayang ke arah anak-anak yang masih mencoba menghancurkannya.
Dia mulai memanipulasi pikiran anak-anak itu dan membuat mereka pergi dari sana. Alven menghela nafasnya lagi. Dia tidak menyangka akan berbuat baik pada pemuda yang dianggapnya sebagai sumber uang itu.
Alven membalikkan badannya, hendak kembali ke ruangan rahasia untuk beristirahat. Namun, sebelum sempat melangkah, dia mendengar suara ketukan di dinding protector. Pria itu mengalihkan pandangannya dan menemukan seorang pria dengan tubuh kekar dan tampak berwibawa sedang tersenyum menatapnya.