Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 34



Lacy menghela nafasnya. Dia merasa bersalah pada Gerald. Pemuda itu harus membuat protector yang baru sendirian, dan dia tidak tahu akan hal itu. Dia menjadi khawatir. Karena dia tahu, jika inti protector dihancurkan, itu akan membuat pembuatnya merasakan sakit yang teramat sangat.


Gadis itu melirik sekilas ke arah Gerald. Dia merasa harus meminta maaf, namun gengsi.


"Apa kau mau terus-terusan seperti itu?" tanya Mao tiba-tiba.


Lacy terkejut. Dia tersipu malu karena dirinya terekspos oleh sahabatnya sendiri. Dengan terbata-bata, dia berkata, "Apaan sih? Memangnya aku kenapa?"


"Kamu mau minta maaf ke Gerald kan? Mending lakuin sekarang deh. Yah~walaupun aku tahu dia nggak akan mempermasalahkan itu."


Lacy terdiam. Ucapan Mao ada benarnya. Pemuda itu tidak pernah menyalahkan Lacy. Malah, dia akan senang jika bisa membantunya. Pemuda itu memperlihatkan ketertarikannya akan Lacy dengan sangat jelas. Dia seperti terobsesi padanya.


Lacy menghela nafasnya panjang. Dia menelan kembali niatan untuk meminta maaf pada Gerald. Lebih baik dia tidak berurusan lebih jauh dengan pemuda itu. Kalau tidak, dia akan terus merasa bersalah.


Gadis itu melangkahkan kakinya, menempatkan diri disamping sahabatnya. Mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Levy. Wanita itu membahas tentang bagaimana hebatnya seorang penyihir yang berhasil menemukan sihir protector. Dia kembali menjelek-jelekkan seorang nulla di depan yang lainnya.


Sebenarnya Lacy sangat ingin protes pada guru itu. Semua murid yang ada di sekolah ini sudah melewati ujian yang cukup sulit untuk bisa masuk. Dia tidak bisa membedakan mereka hanya karena tidak punya sihir.


Dari dulu, Lacy sangat benci pada orang yang berpikiran sempit. Semua orang disini adalah sama, yang membedakan hanyalah kemampuan masing-masing. Tidak semua orang yang tidak memiliki sihir adalah orang lemah. Seorang nulla dan wizard sama-sama manusia.


"Baiklah, pelajaran hari ini, sampai disini dulu. Kalian boleh pergi."


Levy membubarkan kelas. Wanita itu pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang terburu-buru. Seperti ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Namun, langkahnya terhenti karena dihadang oleh Arnold.


Levy berdecak kesal. Dia hampir memaki pria itu, jika Eden, sang kepala sekolah, tidak muncul dari belakang Arnold.


Levy tersenyum canggung. Dia benar-benar ingin cepat pergi dari ruangan itu, tapi dihadang oleh atasannya.


"Oh, cepat sekali. Anda sudah mau pergi bu Levy?" tanya Eden dengan suara ramahnya.


Levy mengangguk dan menjawab dengan suara yang bergetar karena gugup.


Eden tersenyum. Dia melanjutkan, "Jangan keluar dulu sebentar. Saya disini mau memberitahukan tentang ujian ini. Sudah waktunya para murid tahu tentang hal ini."


Seluruh murid yang sudah berdiri, kembali duduk begitu melihat kepala sekolah mereka masuk ke ruangan.


"Ehem~ apa kabar murid-muridku semua? Saya disini ingin memberikan sedikit informasi pada kalian tentang ujian kedua. Tugas kalian yang diberikan oleh ibu Levy akan menjadi ujian kedua kalian setelah ujian masuk."


"Mungkin kalian semua sudah tahu akan hal ini. Tapi, dari pihak sekolah ingin mengganti peraturannya," lanjut Eden.


Suasana di ruang kelas menjadi ricuh. Semuanya menanyakan, peraturan apa diganti oleh pihak sekolah. Arnold mengetok meja dua kali, menyuruh mereka untuk berhenti berbicara.


Eden tersenyum dan melanjutkan, "Ujian protector ini tidak akan berlangsung selama seminggu. Para penyihir tinggi sedang kewalahan dan memerlukan bantuan dari semua murid sekolah sihir secepatnya. Oleh karena itu, mulai dari sekarang ujian protector ini akan berubah menjadi ujian survival."


Para murid kembali ricuh. Lacy terdiam, begitu pun dengan teman-teman sekelompoknya.


"Harap tenang," teriak Arnold.


Eden kembali melanjutkan penjelasannya setelah seluruh murid diam. Dia berkata, "Setiap kelompok memiliki 4 protector. Kelompok yang lain akan menghancurkan protector dari kelompok lain hingga semuanya hancur. Jika semua protector dari satu kelompok habis, maka kelompok itu dinyatakan gugur dan otomatis gagal dalam ujian kelulusan."


Suasana di ruangan itu berubah menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah tenggakkan ludah dari mereka.


"Ya, mungkin itu saja dari saya. Selamat mengerjakan ujiannya. Kalau ada yang cidera silahkan langsung pergi UKS. Ingat, ini hanyalah ujian survival sekolah. Saya tidak mau mendengar ada yang mati hanya karena ujian ini. Sekian, terimakasih."


Eden dan Arnold melangkahkan kaki keluar dengan santainya. Sedangkan, para murid hanya bisa melongo mendengar pesan yang disampaikan oleh sang kepala sekolah di akhir kata.


Begitu pun dengan Gerald. Dia mengumpat dalam hati. Itu artinya, mereka diperbolehkan untuk melukai satu sama lain. Pemuda itu melirik teman-teman sekelompoknya. Mereka semua terlihat pucat, menandakan mereka takut dengan serangan kelompok lain.


Kenapa? Karena salah satu cara menghilangkan protector adalah dengan membuat penggunanya tidak sadarkan diri. Kalau kelompok lain, mungkin mereka tidak tahu siapa saja yang membuat protector-nya. Tapi, untuk Gerald pribadi, sudah jelas kalau yang membuatnya adalah dia.


Gerald dapat melihat sekilas kalau Lacy menatapnya khawatir. Sepertinya gadis itu juga sadar, kalau dirinya sekarang terancam diserang oleh kelompok lain.


"Ha~ini akan menjadi ujian yang sulit bagiku," keluh Gerald.