Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 19



"Baiklah, salam kenal semuanya, saya Levy Mionne. Saya selaku wali kelas akan mengajarkan pada kalian tentang sihir proteksi."


Gerald menguap di sela-sela penjelasan gurunya itu. Belum saja kelas dimulai, pemuda itu sudah lelah fisik dan batin. Dia terus diikuti oleh Kannon yang terus menempel padanya. Saat ini pun Kannon hanya melihatinya dengan mata yang berbinar.


Pemuda itu memutar bola matanya. Dia begitu lelah, padahal dia masih belum melakukan apa-apa.


"Bu, bagaimana dengan yang tidak bisa menggunakan sihir?"


Wajah ramah Levy terusik karena pertanyaan dari Lacy. Sebisa mungkin dia mempertahankan senyumnya dan berkata, "Tidak ada, kalian tidak harus mengikuti kelas ini."


Lacy terdiam. Dia menganggap perkataan dari gurunya itu sebagai ejekan pada orang sepertinya.


Semua murid tertawa mendengar perkataan Levy, bahkan ada yang berteriak, "Seorang nulla tidak diterima disini. Mereka seharusnya mati saja."


Lacy mengertakkan giginya. Kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna saking kesalnya. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia tidak mau membuat masalah di hari pertamanya masuk.


"Kasihan, dia harusnya berdiam diri saja di rumah. Buat apa dia bersusah payah bersekolah di sekolah sihir," gumam Kannon.


Gerald masih dapat mendengar dengan jelas gumaman itu. Dia benar-benar tidak nyaman dengan situasi ini. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah Lacy. Disana, dia dapat melihat dengan jelas bahwa Lacy tengah menundukkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sedang mati-matian menahan amarah.


"Sudah, sudah. Mari kita kembali ke pelajaran," ujar Levy menengahkan.


Gerald menatap sinis wanita itu. Sekilas, dia bisa melihatnya tersenyum. Wanita itu tampaknya sangat puas dengan perbuatannya dan itu semakin membuat Gerald geram.


Dia ingin sekali membantu Lacy, tapi dengan cara apa? Sihir miliknya masih lemah dan tidak terasah. Saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melindungi gadis pujaannya itu.


Suasana di kelas kembali sunyi. Semua sibuk mendengarkan penjelasan dari Levy. Namun, tidak dengan Gerald. Pemuda itu malah asik menatap Lacy. Dia masih khawatir dengannya.


"Sihir protection ini pertama kali diperkenalkan oleh keluarga Kavrlot yang menyandang status penyihir agung. Sihir ini sangat mudah, namun terbilang cukup sulit juga. Apa kalian tahu kenapa?"


Mulut seluruh murid yang ada disana terkunci. Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari wanita itu, hingga Mage mengangkat tangannya.


"Sihir protection adalah sihir tingkat rendah yang pengaplikasiannya cukup mudah, namun tingkat kesulitannya berada di kekokohannya," jelasnya.


Levy bertepuk tangan, mengapresiasi jawaban yang benar dari Mage. Diikuti oleh seluruh murid, terkecuali Gerald. Dia masih saja sibuk memperhatikan Lacy. Pemuda itu tidak fokus dengan kelasnya.


"Benar sekali, kekokohan sihir ini tergantung dengan kemampuan si penyihir itu sendiri. Jika sihir yang ada di dirimu lemah, maka protector yang kau buat akan lemah juga. Oleh sebab itu, banyak yang meningkatkan stamina dan berlatih sihir agar bisa mencapai kekokohan yang maksimal dari protector miliknya."


"Protector yang kita buat ini, terhubung pada tubuh kita. Semakin kuat dan kokoh protector itu, semakin terkuras energi kita. Jika protector yang kuat itu terkena damage, maka tubuh kita akan merasakannya," lanjut Levy.


Lacy mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Gadis itu tampaknya tidak memperhatikan penjelasan Levy. Dia terlanjut kesal dengan perkataan wanita yang seperti ular itu.


"Lacy, apa kau baik-baik saja?" bisik Mao.


Lacy tersenyum. Dari sekian banyak orang, hanya Mao lah yang mau berteman dengannya yang seorang nulla itu. Saat dia masih kecil, ayahnya Mao sering berkunjung ke rumahnya dengan membawa Mao.


Jika Shern dan Cana, bibinya, sibuk, dia akan bermain dengan Mao. Tidak seperti yang lainnya, tatapan Mao pada dirinya bukanlah tatapan mencibir, tapi tatapan hangat yang ingin berteman dengannya.


"Aku tak apa," jawab Lacy.


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia sangat ingin pergi dari sana. Dia tidak cocok dengan pelajaran yang hanya duduk saja di kelas seperti ini. Dia harus melayangkan pedangnya, baru dia akan merasa nyaman.


"Unleashed Authority of the Ruler : Forgotten Memories"


Kepala Lacy tiba-tiba berdengung setelah mendengar bisikkan itu. Dia melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu siapa yang melakukannya. Dia bertanya-tanya apa maksud dari mantra itu, hal apa yang diperbuatnya?


Gadis itu kembali melihat ke luar jendela. Disana, dia sangat terkejut ketika melihat seseorang dengan jubah berwarna hitam tengah bersembunyi di balik pohon. Sambil menggebrak meja, Lacy bangkit dari duduknya. Dia benar-benar terkejut melihat orang itu.


"Lacy Deandris, keluar dari kelasku sekarang juga. Kau terlalu berisik dan mengganggu yang lain," ucap Levy.


Seluruh murid mulai rusuh. Sebagian dari mereka menggunjing secara terang-terangan sikap Lacy, sedangkan yang lainnya bergosip dengan teman disebelahnya.


Lacy terdiam sembari masih melihat ke luar jendela. Tentu saja, dia dengan senang hati mengindahkan perkataan Levy. Jika sempat, dia ingin menemukan orang itu dan mengusir sakit yang masih bersarang di kepalanya.


Melihat Lacy yang dengan senang hati keluar itu, Gerald dan Mage saling bertukar pandang. Mereka berdua tidak menyangka gadis itu akan dengan mudahnya mendengarkan perintah Levy.


Gerald pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tempat Lacy melihat tadi. Sebenarnya, dari tadi Gerald masih memperhatikan gadis itu. Ketika dia terperanjat kaget, Gerald sempat melihat ke arah yang sama. Namun, dia tidak melihat apa-apa disana. Hanya pohon-pohon yang saling bersampingan.


Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia terlalu pusing untuk melanjutkan kekhawatirannya itu.


"Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya," ujar Levy.


...****************...


Hari yang cukup cerah untuk menikmati kopi pagimu. Arnold menghela nafasnya lega. Dia begitu puas dengan pemandangan indah di hadapannya, secangkir kopi yang ada di tangannya, dan ketengan yang ada di sekolah Alphrolone.


Entah sudah berapa lama dia bisa menikamati ketenangan dan kesunyian di sekolah ini. Biasanya, dia kewalahan dengan urusan sekolah yang dilimpahkan padanya dari kepala sekolah. Dia bahkan tidak punya cukup waktu untuk beristirahat.


Tapi sekarang, dia bisa bersantai dengan tenang, tanpa gangguan, tanpa masalah, dan tanpa kerjaan yang menumpuk.


"Pak Arnold, coba pergi periksa hutan di belakang sekolah. Sepertinya protector disana rusak."


Arnold mematung mendengar perintah dari Eden, sang kepala sekolah. Dia menatap pria itu dengan wajah memelas. Dia baru saja menikmati waktu bersantainya, masa pria itu tega memberinya pekerjaan.


Namun sayang, wajah memelas Arnold tidak berlaku pada Eden. Pria tua itu hanya memandangnya sembari terus menyuruhnya memeriksa hutan di belakang sekolah. Entah karena dianya yang tidak peka atau karena dia tidak punya hati.


Alhasil, dengan langkah yang terpaksa, Arnold berjalan ke hutan belakang sekolah. Sambil terus bergumam kesal di sepanjang jalan, Arnold merapalkan mantra sihir pendeteksi. Mencoba mencari tahu apakah ada makhluk tak diinginkan di sekitar hutan itu.


"Tidak ada apa-apa. Dia terlalu berhati-hati, dasar pria tua bangka. Kapan dia pensiun?" gerutu Arnold.


Pria itu hendak kembali ke zona nyamannya ketika sudah selesai melihat-lihat. Namun, dia melihat sesuatu berwarna putih dari ujung matanya. Arnold terdiam mematung.


"Apa itu hantu? Lihat tidak ya?" batinnya.


Muncul pergolakan batin dari Arnold. Di satu sisi, dia penasaran dengan makhluk apa itu, namun di sisi lain dia terlalu takut untuk melihat. Akhirnya, setelah beberapa perdebatan terjadi di pikirannya, Arnold memberanikan diri untuk melihat.


Disana, dia bisa melihat dengan jelas Lacy yang tengah berdiri diantara dua pohon yang besar. Gadis itu seperti sedang berbicara dengan sesuatu, namun Arnold tak tahu apa itu. Dengan perlahan, pria itu mendekatinya supaya bisa mendengar percakapan mereka.


"...malam ini,"


"Baik, malam ini, bulan purnama, bawa Konny ke portal ilusi, hutan Praesidium, perintah diterima," ucap Lacy.


Arnold mengernyitkan dahinya bingung. Cara bicara Lacy tampak aneh baginya. Gadis itu seperti sedang dihipnotis. Mengetahui ada yang tidak beres, Arnold langsung mengikuti Lacy. Dia tidak lagi mengikuti orang yang berbicara dengannya, karena Arnold tahu, kalau orang itu sudah menghilang dari hutan itu.


Arnold berjalan di belakang Lacy yang tampak sempoyongan. Pria itu bergegas ke hadapannya dan melihat wajah Lacy.


Arnold terkejut, ternyata Lacy benar-benar terhipnotis. Matanya tampak kosong dan dia terus bergumam kata-kata perintah dari orang tadi.


"Sadarlah Lacy!" teriak Arnold pelan. Dia takut orang itu masih memperhatikannya.


Pria itu mengguncang-guncang tubuh kecil Lacy agar dia tersadar. Namun, hal itu tidak lah berhasil. Alhasil, dengan berat hati Arnold memukul belakang leher gadis itu dan membuatnya pingsan.


"Cara terbaik untuk menyadarkan orang yang terhipnotis," ujarnya sembari menggotong Lacy ke UKS.