
Lacy menaruh tangannya di dagu. Gadis itu melihat-lihat senjata yang cocok baginya untuk ujian survival ini.
Sebenarnya, Lacy terbiasa memakai dua pedang untuk bertarung. Tapi, entah kenapa dia ingin bertarung dengan satu pedang hari ini. Namun, dia tidak bisa menemukan pedang yang bagus untuk dirinya.
Gadis itu terus mengelilingi gudang senjata milik sekolah dengan wajah yang ditekuk. Tidak ada senjata yang menarik perhatiannya. Padahal, dia memerlukan pedang itu untuk secepatnya.
Lacy menghela nafasnya lelah karena sudah berkali-kali keliling, namun tidak menemukan apa yang dia mau. Gadis itu mendecak kesal. Dia mengulurkan tangannya pada pedang yang pernah dia pakai di ujian masuk. Namun, sebelum tangannya menyentuh pedang itu, matanya tertuju pada sesuatu yang bersinar di bawah rak.
Lacy menundukkan kepalanya dan menemukan sebuah pedang yang sepertinya terjatuh ke bawah rak. Dia mengulurkan tangannya untuk mendapatkan pedang itu.
Lacy mengernyit bingung. Jika dilihat sekilas, pedang itu terlihat biasa saja. Desain-nya tidaklah begitu unik. Bahkan, mata pedangnya sudah tumpul. Pedang itu tampak sudah lama tidak terpakai. Lacy menyimpulkan kalau pedang itu sudah terjatuh dan tersembunyi di bawah rak untuk waktu yang cukup lama.
Yah~sebenarnya untuk mata pedang yang tumpul, Lacy masih bisa mengasahnya. Gadis itu juga memilih pedang bukan berdasarkan desainnya. Tidak ada salahnya mengambil pedang itu kan?
Akhirnya, Lacy pergi ke penjaga gudang senjata sekolah untuk memberitahukannya kalau dia akan meminjam pedang itu. Ya, meminjam. Sekolah membolehkan siswa meminjam senjata yang tersedia di sekolah. Para siswa tidak boleh mengambil senjata milik sekolah untuk senjata pribadi.
Namun, saat Lacy memperlihatkan pedang yang diambilnya pada penjaga, dengan santainya dia berkata, "Ambil saja untuk dirimu. Aku akan membicarakannya pada kepala sekolah. Anggap saja hadiah karena sudah menemukannya."
Lacy mengernyit bingung. Memangnya boleh, pikirnya. Awalnya, Lacy menolak dan bilang kalau dia hanya akan meminjamnya sampai ujian survival ini selesai. Tapi, sang penjaga juga tidak mau kalah. Dia terus mengatakan pada gadis itu untuk mengambilnya saja. Jadi, mau tak mau Lacy menerima tawaran itu dengan suka cita. Gadis itu meninggalkan sang penjaga dengan wajah yang senang.
Tak lama setelah Lacy pergi, Eden datang menghampiri sang penjaga gudang sambil menatap Lacy yang sudah pergi jauh.
"Halo Ian, apa ada sesuatu yang menarik? Kau terlihat sangat senang," ucap Eden pada penjaga itu.
Ian, sang penjaga gudang senjata, tertawa kecil. Dia berkata, "Tentu saja aku senang, akhirnya pedang yang kau titipkan itu ditemukan."
Wajah Eden yang awalnya tersenyum, berubah menjadi kaku setelah mendengar ucapan Ian. Pria itu bahkan tidak mendengar lagi ocehan Ian tentang bagaimana susahnya mencari pedang titipan milik Eden.
Eden sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu langsung menatap ke arah Lacy yang sudah tak terlihat lagi. Dia segera pergi meninggalkan Ian yang terus-menerus memanggil dirinya. Eden berlari mengejar Lacy.
Pria itu terus berteriak dalam hati, "Jangan sampai, jangan sampai." dengan wajah yang frustasi. Entah kenapa pria yang berwibawa dan biasanya kalem itu menjadi sefrustasi ini hanya karena sebilah pedang.
Jarak antara Eden dan Lacy semakin dekat. Namun, sebelum pria itu benar-benar menghentikan Lacy, dia dipanggil oleh Arnold. Dengan wajah pasrah, dia melihat Lacy kembali pergi menjauhinya.
"Ada apa? Kenapa wajah anda seperti itu?" tanya Arnold.
Eden menggeleng. Dia berkata, "Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang berjalan melihat-lihat protector yang ada. Ada apa kau mencariku?"
"Ada banyak dokumen yang menunggu persetujuanmu, termasuk masalah penyusup di hutan belakang sekolah juga," jelas Arnold.
"Oh, benar juga. Apa kau sudah menemukan pelakunya?"
Arnold menggelengkan kepala. Dia pun sudah berhari-hari kesusahan mencari penyusup itu. Dia bahkan sampai berteori kalau penyusup itu menyamar dan masuk ke lingkungan sekolah. Entah jadi murid, jadi guru, ataupun staff.
Arnold menghela nafasnya. Dia sudah terlalu capek dengan pekerjaan ini. Dia hanya ingin bersantai menikmati harinya, bukan bekerja seperti mati-matian tiap hari. Andai hari itu tiba, pikirnya.
Eden menggelengkan kepalanya. Walaupun, dia masih harus bertemu Lacy, tapi dia tidak bisa menunda pekerjaannya lagi. Asal kalian tahu saja, sebelum Arnold datang menjemput, Eden keluar untuk mencari ketenangan sebenatar dari pekerjaannya yang menumpuk. Yah~pekerjaan sebagai kepala sekolah tidaklah mudah.
Akhirnya, Eden dan Arnold pergi menuju ruangan kepala sekolah untuk kembali berkutat pada pekerjaan yang menunggu mereka.
...****************...
"Oh, apakah kalian sudah selesai?"
Lacy mengernyit bingung karena bertemu teman sekelompoknya berjalan menjauhi tempat tadi. Padahal, dia baru saja mau membantu mereka.
"Sudah, sekarang kami mencari para pembuat inti. Apa kau sudah menemukan senjata?" ucap Emil.
Lacy mengangguk dan menunjukkan pedang yang dibawanya. Dia melanjutkan, "Tapi mata pedangnya masih tumpul, aku masih harus mengasahnya."
Kini mereka semua yang mengernyit bingung. Pedang yang diperlihatkan oleh Lacy tidaklah terlihat spesial sama sekali. Itu betul-betul pedang yang sangat buruk, dan terlihat kuno. Kannon bahkan mengomentari, "Apa kau tidak mau mengambil pedang yang lain? Masih banyak pedang yang bagus di gudang senjata sekolah ini."
Namun, Lacy menggelengkan kepalanya. Dia beralasan kalau dia sangat menyukai pedang itu. Hanya sedikit polesan sedikit, maka pedang itu akan menjadi senjata yang sangat berguna bagi dirinya.
Mereka semua saling bertukar pandang. Mereka tidak bisa mengalahkan gadis itu. Akhirnya, Mage mengeluarkan alat pengasah pisau dari kantong sihir miliknya. Dia memberikannya pada Lacy. Sedangkan, Kannon membantu Lacy untuk membasahi pedang dan batu asahan agar tidak kering. Sungguh kerjasama yang bagus.
Beberapa waktu pun berlalu. Lacy sudah selesai mengasah pedangnya. Pedang itu tampak sangat mengkilat dan tajam. Pedang itu juga tampak sangat bersih seperti baru. Semuanya berdecak kagum, kecuali Mage yang hanya berdiam melihat pedang itu.
"Wah, pedang itu seperti pedang yang berbeda dari yang tadi," puji Cecilia.
"Iya, lumayan. Tidak terlalu buruk," imbuh Kannon.
Lacy tersenyum bangga dengan pujian yang keluar dari teman-temannya. Namun, pandangannya tertuju pada Mage yang hanya berdiam diri dengan wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Kenapa Mage? Apa ada yang salah?" tanya Lacy.
"Ah, tidak. Bagaimana kau menemukan pedang itu?"
"Oh, aku menemukannya di bawah rak. Kayaknya pedang ini jatuh terus ketendang ke bawah rak. Untung aja tadi aku lihat ada sesuatu yang bersinar dari sana," ucap Lacy dengan cerianya.
Mage hanya menganggukkan kepalanya dalam diam. Dia terus-menerus menatap pedang itu dengan tatapan aneh.
"Ah, sudahlah. Itu sudah tidak penting, ayo cari pembuat inti dari kelompok lain. Aku mau menyelesaikan ujian ini dengan segera," ucap Gerald.
Pemuda itu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan mereka, diikuti oleh yang lainnya di belakang. Kecuali, Mage yang masih berdiam diri. Setelah melihat temannya sedikit menjauh dari dirinya, dia menggumam, "Aku menemukannya."
Lalu, Mage berlari mengejar teman-temannya dengan senyuman, seperti tidak terjadi apa-apa.