
Arnold dan Lacy melangkahkan kakinya menuju UKS. Selama perjalanan berbincang-bincang tentang bagaimana gadis itu bisa bertemu dengan Yasser. Tapi, Arnold merasakah sebuah pandangan yang menusuk punggungnya sedari tadi. Pria itu merasa tidak nyaman dan terus melirik kebelakang, dimana Gerald tengah mengikuti mereka.
"Sampai kapan kau mau melihatku seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?"
Alih-alih menjawab, Gerald malah tambah menatap sinis Arnold. Dia menatap pria itu seakan-akan ingin menyerang dan melemparkannya jauh-jauh dari Lacy.
Arnold tertawa canggung. Dia menjadi bingung harus bagaimana. Untungnya, ada sekretaris dari kepala sekolah yang menyelamatkan dirinya.
"Pak Arnold anda dicari kepala sekolah sekarang juga."
Dengan kegirangan dan mata yang berbinar-binar, dia berkata, "Benarkah? Gerald, kuserahkan Lacy padamu. Aku pergi dulu, dah."
Arnold pergi begitu saja, meninggalkan Gerald dan Lacy yang terbengong. Namun, begitu melihat kesempatan yang terbuka lebar didepannya, Gerald langsung menuntun Lacy menuju UKS.
"Eee~ aku..bisa jalan sendiri loh," ucap Lacy. Gadis itu tampak segan untuk menerima bantuan dari Gerald.
"Nggak papa kok. Aku siap membantumu," balas Gerald dengan tatapan penuh cinta.
Lacy tertawa canggung. Baru kali ini dia menghadapi lelaki yang segigih, dan segila Gerald. Entah kenapa, dia tidak bisa menolaknya ataupun menendangnya seperti lelaki-lelaki yang pernah dia temui. Gerald berbeda dari yang lain. Kenapa ya?
Gadis itu selalau merasakan perasaan yang aneh jika berada di sampingnya. Bukan perasaan suka, ataupun cinta. Melainkan, perasaan yang membuatnya harus selalu tunduk.
Tubuh Lacy terhuyung. Setiap kali dia memikirkan itu, kepalanya selalu sakit. Seakan-akan ada yang menusuk-nusuk kepalanya dengan jarum.
"Oh, ya ampun, apa kau tidak apa-apa? Kau terlihat babak belur," ucap Eve setelah melihat Gerald dan Lacy memasuki UKS.
Tanpa banyak bicara, Eve langsung menyembuhkan Lacy dengan sihirnya, dan membuat tubuh gadis itu bagus lagi seperti semula.
"Terimakasih," ujar Lacy.
Gadis itu berbalik dan berniat pergi menuju asrama. Tentu saja, dengan diikuti Gerald dibelakangnya. Namun, saat hendak keluar, pintu UKS di dobrak paksa dengan sangat keras. Memperlihatkan Fred yang tertawa sinis menatap dirinya.
"Lacy Deandris," panggilnya.
Gerald dan Lacy menelan ludah, menunggu kelanjutan ucapan dari senior mereka.
"Kau ditangguhkan atas segala aktivitas sekolah karena tuduhan berkomplot dengan orang asing, dan diduga telah membawa orang asing itu masuk ke wilayah Alphrolone."
Fred tersenyum sinis setelah mengatakannya. Bahkan, dia memperlihatkan sebuah video, dimana Lacy sedang berada di hutan belakang sekolah bersama seseorang, menggunakan artifak sihir.
Jelas, Lacy sangatlah terkejut. Dia memang ingat kalau pernah ke hutan belakang sekolah, tapi dia tidak ingat pernah bertemu orang itu.
Tanpa banyak basa-basi, Fred langsung menyuruh anggotanya membawa Lacy keluar dari UKS dan memisahkan Gerald dari gadis itu.
Lacy diseret keluar tanpa adanya perlawanan. Gadis itu tampak tenang dan tidak berusaha memberontak. Dia mengikuti seniornya itu dengan senang hati. Selain karena tidak ingin membuat masalah lain, dia juga mau mendengar dengan jelas akar dari permasalahannya.
"...bawa ke portal ilusi, Konny Brian."
Sebuah bisikan terdengar di telinga Lacy. Gadis itu berhenti sejenak dan membuat semua seniornya protes dan menjadi marah. Namun, dia tidak menggubrisnya. Dia malah mengulangi bisikan itu dengan bergumam.
"Kalian bisa pergi, aku akan mengurusnya dari sini," perintah Fred.
Semua anggota osis yang menuntun Lacy pun pergi satu per satu. Meninggalkan Fred yang menyunggingkan senyuman sinis melihat Lacy.
Pemuda itu menunduk untuk menyesuaikan tingginya dengan Lacy. Sambil berbisik, dia berkata, "Benar, bawa Konny Brian ke portal ilusi. Kau tidak mungkin melupakan perintahku kan, anak manis?" ucap Fred dengan wajahnya yang sedikit menyeramkan.
Mari kita kembali saat Lacy disuruh keluar dari kelas bu Levy. Tanpa sadar, gadis itu langsung pergi menuju hutan belakang sekolah untuk menemui orang berjubah itu. Dia seakan terhipnotis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, dia tidak bisa memikirkan kemungkinan orang itu adalah penyusup yang berbahaya.
Saat sampai di hutan belakang dan bertemu orang itu, ingatan Lacy langsung kabur. Dia tidak bisa mengingat apa-apa, tapi dia sadar tubuhnya seperti bergerak sendiri.
Kalian tahu siapa seseorang berjubah itu? Dia adalah Fred. Fred yang telah menghipnotis Lacy, menyuruhnya untuk membawa Konny ke portal ilusi. Entah untuk tujuan apa.
Kembali ke waktu yang sekarang, dimana Lacy berjalan sendirian dengan perlahan sembari masih menggumamkan kata-kata tadi.
"Lacy? Apa kau sudah pergi ke UKS? Gerald mana?"
Sebuah suara terdengar dari kejauhan. Itu adalah Mage, dia hendak pergi menjemput Gerald karena tahu pemuda itu akan lama dan tidak akan kembali ke asrama jika Lacy belum kembali.
"Bawa Konny Brian..."
"Ha? Apa?" tanya Mage memastikan.
"Bawa Konny Brian..." gumannya lagi.
Kali ini Mage berhasil mendengarnya dengan jelas. Namun, dia mengernyit bingung. Untuk apa Lacy mencari Konny dan mau dibawa kemana dia?
Alhasil, Mage mengikuti langkah Lacy sambil terus mendengarkan gumaman kecilnya. Disitu dia tersadar, kalau ada yang tidak beres terjadi pada Lacy. Berulang kali pemuda itu memanggilnya, namun tidak ada respon dari Lacy. Malahan, dia masih sibuk bergumam kata-kata yang sama berulang kali.
Tiba-tiba, teman sekelompok Mage datang menghampirinya. Sambil terengah-engah, Emil berkata, "Mage, aku dengar Lacy ditangguhkan dari semua aktivitas sekolah karena membawa penyusup, oh Lacy?"
Mereka beralih menatap Lacy yang masih bergumam, kemudian beralih pada Mage untuk meminta penjelasan. Namun sayangnya, pemuda itu juga tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Apa tidak sebaiknya kita adukan ke pak Arnold saja? Mungkin dia bisa membantu," saran Mao.
"Tidak, tadi dia dipanggil oleh kepala sekolah, kan." sanggah Kannon.
Semuanya terdiam. Mereka tidak bisa menemukan solusi yang tepat. Mereka terlalu fokus dalam memikirkan cara menghentikan Lacy, sampai tidak sadar kalau Lacy-nya sendiri sudah pergi sangat jauh dari mereka.
"Kyaaa!!!"
Sebuah teriakan menyadarkan mereka. Mereka sadar Lacy sudah tak berada dihadapannya. Tanpa basa-basi, mereka langsung pergi menuju sumber teriakan itu.
Disana, mereka dapat melihat Konny dan Lacy yang sedang bertarung. Konny menahan tubuh Lacy dengan sihir gravitasinya, namun sialnya gadis itu sangatlah tangguh. Dia berulang kali lepas dari jeratan sihir itu.
Lacy menggenggam 2 buah pisau kecil yang tidak ada gagangnya dengan sangat erat, hingga darah segar mengalir dari tangannya. Entah dari mana dia mendapatkannya.
Lacy kembali berusaha menyerang Konny. Dengan wajah yang panik, pemuda itu berlari ketakutan dan bersembunyi di belakang Ladon.
"Hei, apa kau tidak punya malu menjadikan orang lain tamengmu?" sindir Kannon.
"Berisik, apa kalian tidak melihatnya? Dia itu monster, monster," balas Konny.
Lacy terhenti. Dia menjatuhkan kedua pisau yang ada ditangannya. Tatapannya tampak kembali seperti semula, tidak kosong lagi. Melihat itu, Konny langsung menjatuhkan Lacy ke tanah menggunakan sihirnya.
"Hei, bukankah dia sudah berhenti? Lepaskan sihirmu, dia kesakitan," ujar Mao.
"Apa kau bercanda? Dia baru saja ingin menyerangku, aku mungkin saja bisa mati."
"Benar, gadis itu terlalu bahaya. Bahkan dia membawa penyusup ke sekokah ini."
"Iya, dia adalah monster, keluarkan saja dia dari sini, kami tidak membutuhkan seorang nulla tidak berguna sepertinya."
Suasana menjadi ricuh. Emil mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, begitu juga dengan Kannon. Walaupun, gadis itu tidak suka dengan Lacy, tapi perkataan mereka tidak bisa dibenarkan.
Kannon pun mengakui kalau Lacy adalah gadis yang sangat kuat. Bahkan, dia bisa mengimbangi sihir gravitasi Konny hanya dengan kemampuan fisiknya. Sedangkan mereka, mengelu-elukan pecundang yang hanya bisa bersembunyi di belakang Ladon karena sihir tipe controller miliknya.
"Thread Maker Activated : Thread Seal"
Tiba-tiba, badan Konny diselimuti oleh benang-benang yang tipis. Benang itu melilit tubuhnya dengan sangat erat, hingga dia meringis kesakitan. Sihir gravitasi yang ada di Lacy pun hilang.
Sontak, yang lainnya mengalihkan pandangan mereka ke orang yang menggunakan sihir benang itu. Mereka bisa dengan sangat jelas melihat Gerald yang menghampiri. Pemuda itu tampak begitu marah hingga bola matanya yang berwarna ungu kemerahan itu menyala. Cahaya berwarna hijau emerald pun menyelimutinya.
Dengan penuh amarah, dia berkata, "Jangan sentuh dia."
Gerald mengangkat tangan kanannya dan mengepalkannya perlahan, membuat benang yang ada di tubuh Konny menjadi semakin kencang. Darah segar mulai mengalir di hampir sebagian tubuhnya. Dagingnya terkoyak.
Semua terkejut melihatnya. Pemandangan didepannya betul-betul tidak enak untuk dipandang. Bahkan, ada yang hampir muntah karenanya.
Mage dan teman sekelompok Gerald berusaha menghentikannya. Namun, pemuda itu tidak menggubris sama sekali. Dia seakan sudah dibutakan oleh amarah. Yang ada, pemuda itu semakin mengencangkan benang-benang miliknya.
"Mind Contol Magic Activated : Second Consciousness"
Sebuah suara terdengar di telinga Gerald. Perlahan-lahan, cahaya hijau emerald yang menyelimuti tubuhnya serta matanya yang menyala itu memudar.
Pemuda itu mengerjapkan matanya berulang kali. Dengan bingungnya, dia berkata, "Eh, ada apa nih? Apa yang terjadi?"
Dia mengalihkan pandangannya ke arah Konny yang sudah dipenuhi luka dan terkulai lemas. Gerald berteriak, "Wah!!!! Kenapa nih? Dia kenapa? Cepat bawa ambulance, bu Levy atau siapa pun!!! Ah, terlalu lama, biar aku saja yang bawa dia."
Gerald pun menggotong Konny yang penuh luka ke ruang UKS. Meninggalkan orang-orang terbengong sekaligus bingung dengan tingkahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Lacy.