Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 14



Gerald melamun. Dia masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja dialaminya. Hingga tanpa sadar, dirinya sudah sampai di sekolah Alphrolone.


Pemuda itu berjalan tanpa memperhatikan sekitar. Alhasil, dia menabrak seseorang sampai terjatuh. Gerald meringis kesakitan. Dia hampir memaki orang itu, namun dia tersadar kalau itu adalah salahnya.


"Maaf, aku tidak fokus," ucap Gerald.


"Tidak apa, aku bisa melihatnya dengan jelas."


Gerald mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara yang sangat familiar baginya. Saat dia mengangkat kepalanya untuk melihat orang itu, Gerald langsung menyesali dirinya yang meminta maaf. Ya, orang itu adalah Arnold, orang yang paling menyebalkan baginya.


Gerald menghela nafasnya kesal. Bagaimana tidak? Baru saja dia mengalami hal yang sulit dicerna oleh otaknya, kini dia sudah bertemu dengan orang yang membuat kepalanya makin sakit.


"Bukankah kau sendiri yang bilang nggak mau ketemu denganku di hari pertama aku masuk asrama? Sungguh sial sekali dirimu wahai paman tersayangku," ejek Gerald.


Arnold mendengus kesal. Bukan maunya untuk bertemu dengan Gerald hari itu. Tapi, dari 634 peserta yang diterima, hanya Gerald lah yang belum memasuki asrama. Mau tidak mau dia harus mencari pemuda itu untuk memastikannya baik-baik saja. Tentu saja, itu adalah perintah dari kepala sekolah.


"Sudahlah, aku sedang sibuk. Tinggal kau saja yang belum menempati asrama. Cepat sana pergi!" ucap Arnold kesal seraya pergi meninggalkan Gerald sendirian.


Gerald tersenyum senang, dia merasa telah menang melawan Arnold yang menyebalkan itu. Dengan langkah yang ringan, dia berjalan menuju kamar asramanya. Dia seakan sudah lupa dengan apa yang baru saja terjadi dengannya.


Sehari sebelumnya, pemuda itu sudah diberitahu dimana kamarnya. Jadi, dengan mudahnya dia menyusuri lorong asrama yang ramai. Dia sudah hapal jalan menuju kamarnya.


Beruntungnya, Gerald sekamar dengan Emil, Mage, dan Ladon. Pemuda itu cukup lega dia tidak harus bercanggung-canggung ria lagi.


Saat akan membuka pintu kamar, Gerald mendengar sebuah suara memanggilnya. Dia melihat Mage sedang berjalan menuju arahnya sembari membawa sebuah kantong yang sepertinya berisi cemilan.


"Kau baru datang?" tanya Mage.


Gerald menganggukkan kepalanya. Sambil menggelengkan kepala, Mage berkata, "Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan kebiasaanmu,"


Gerald menggerutu menanggapi ucapan temannya itu. Ini bukanlah kebiasaannya. Dia hanya terlibat suatu masalah di jalan tadi. Itu bukanlah salahnya, salahkan saja si kusir dan sosok misterius itu.


Gerald dan Mage memasuki kamar mereka dengan diiringi oleh celotehan Gerald. Pemuda itu berusaha keras untuk menjelaskan kejadian yang baru saja menimpanya pada Mage. Namun, temannya itu hanya manggut-manggut peduli tak peduli.


"Oh, ayolah apakah aku peduli dengan ceritamu? Tentu saja tidak kawan~" ejek Mage.


"Ada apa?" tanya Emil yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dia terlalu bingung ketika melihat Gerald dan Mage yang bertengkar. Gerald menjelaskan semua kejadian yang dialaminya tadi pada Emil. Dan apa respon pemuda berambut pink itu?


"Oh~"


Sama seperti Mage, Emil tidak terlalu memperdulikan cerita Gerald. Begitu pun dengan Ladon. Daritadi dia hanya tidur di kasurnya. Dia tidak terusik sama sekali dengan suara berisiknya Gerald.


Gerald menghela nafasnya tak percaya. Dia bahkan hampir mati, tapi temannya tidak peduli sama sekali. Sekarang dia merasa kembali menjadi seorang yang sebatang kara, tidak punya siapa-siapa dan tidak punya rumah.


Tok...tok...tok..


Terdengar suara ketukan pintu. Mage yang berada dekat dengan pintu, langsung membukanya dan memperlihatkan seorang pemuda tampan berambut panjang tengah menunggu mereka.


"Oh, apakah kamar kalian sudah lengkap?"


Mage mengangguk mengiyakan pertanyaan Fred, senior mereka. Sedari tadi, pemuda itu bolak-balik memeriksa apakah orang di kamar mereka sudah lengkap. Tentu saja, itu membuat Mage dan kawan-kawan menjadi jengah. Mereka harus melihat orang itu setiap beberapa menit.


"Baiklah, aku akan segera memberitahukannya pada yang lainnya. Selamat datang Gerald. Kuharap kau tidak akan terlambat lagi lain kali."


Gerald mengernyitkan dahinya. Sekilas dia bisa melihat seniornya tersenyum padanya. Apa itu hanya senyum ramah saja? Atau jangan-jangan....


Bulu kuduk Gerald berdiri. Dia merinding memikirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Pemuda itu terlalu overthinking.


Fred pergi meninggalkan mereka. Semuanya kembali menjadi tenang. Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan oleh Ladon yang terbangun.


"Wahh!!!!!" teriak Gerald kaget.


Pemuda itu langsung melemparkan baju yang dia pegang ke wajah Ladon. Dia begitu kesal dengan pemuda bertubuh kekar itu. Tak bisa kah dia hidup dengan tenang sekali saja, pikirnya.


"Oh, kau sudah datang Gerald?"


Gerald bergidik ngeri mendengar pertanyaan dari Ladon yang baru saja bangun tidur. Dengan wajahnya yang menyeramkan, pemuda itu mengucek-ngucek matanya dengan gaya yang imut. Seketika Gerald ingin muntah dengan pemikirannya sendiri.


"Ya, aku baru saja datang dan hampir pergi karena dirimu," jawab Gerald sarkas.


Dia benar-benar hampir mati karena serangan jantung gara-gara Ladon. Ladon memiringkan kepalanya bingung. Andai saja wajahnya tidak semenyeramkan itu, mungkin dia terlihat imut. Namun, kenyataan menghantam hancur ekspektasi. Wajah masih terlihat menyeramkan walau dia bertingkah imut.


Gerald menghela nafasnya panjang. Mengapa dia berteman dengan orang yang aneh. Dia tidak sadar kalau dirinya pun juga sama saja dengan temannya.


"Apa kalian tidak bertanya kenapa aku tiba-tiba bangun?"


Gerald, Mage, dan Emil menjawab dengan kompak pertanyaan dari Ladon. Ketiga pemuda itu kembali mengerjakan urusannya masing-masing. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan Ladon.


Bagi mereka itu adalah hal yang cukup aneh dan terasa canggung. Apalagi dengan wajahnya yang menyeramkan. Ayolah~ mereka masih normal. Mereka juga punya rasa takut tersendiri.


"Apa kalian tahu nanti ada pembagian kelompok untuk murid baru?" tanya Emil.


Gerald dan Mage terhenti sejenak. Mereka dengan kompaknya melihat satu sama lain dan menggelengkan kepala.


"Apa tujuannya?" tanya Gerald bingung. Dia tidak pernah mendengar sejarah sekolah Alphrolone membagi muridnya menjadi kelompok.


Bukan rahasia umum, Alphrolone adalah sekolah yang bersifat individualis. Tidak ada yang mau membantu satu sama lain disana, yang ada mereka ingin menjatuhkan murid lainnya.


Jadi itu adalah hal yang sangat aneh jika tiba-tiba Alphrolone membuat kelompok untuk murid barunya. Dalam rangka apa mereka membuat keputusan itu.


"Entahlah, aku pun tak tahu. Tapi aku harap kita tidak sekelompok," ujar Emil.


Suasana kamar mereka tiba-tiba menjadi sunyi. Nada bicara Emil berubah menjadi dingin. Dia tidak terlihat sepertinya dirinya yang biasa, yang asal ceplas-ceplos dan ceria.


Jujur saja, Gerald cukup terkejut melihat sikap temannya yang tiba-tiba berubah. Dia tidak tahu mengapa Emil bisa berkata seperti itu. Namun, tak dapat dipungkiri kalau dia cukup kesal mendengarnya.


Dia merasa seakan telah direndahkan oleh Emil. Gerald mengepalkan tangannya sangat erat ketika melihat tatapan sini dari pemuda berambut pink itu.


"Kita semua adalah pemilik sihir terlemah. Kalau kita sekolompok, maka akan banyak orang yang merundung kita."


Ladon dan Mage menganggukkan kepala setuju dengan pernyataan Emil. Tapi, tidak dengan Gerald. Pemuda itu sangat tidak setuju. Memang apa salahnya menjadi pemilik sihir terlemah? Pikirnya.


Pemuda itu sangat tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Dia sangat tahu kalau dirinya lemah dan dia menerima akan hal itu. Tapi, orang-orang tidak bisa memandangnya sebelah mata hanya karena jenis sihir miliknya.


Gerald melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia tidak ingin berdebat dan dia cukup lelah. Mungkin sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah menenangkan dirinya dengan air dingin.


...****************...


"Tuan muda sudah sampai dengan selamat di asrama," ucap Berner.


Harmin dan Katarine mengehela nafas lega mendengarnya. Mereka begitu terkejut saat mendengar kabar dari Arnold bahwa Gerald belum sampai di asrama. Padahal sudah dari 3 jam yang lalu mengantarnya.


Harmin yang begitu panik, langsung menyuruh pengawalnya untuk mencari Gerald, namun mereka tidak bisa menemukan jejaknya.


Tentu saja Harmin dan Katarine sangat khawatir. Jika terjadi sesuatu pada anaknya, itu adalah salah mereka karena sudah menyuruhnya keluar dari rumah. Mereka menjadi merasa bersalah.


Tapi untungnya, tidak terjadi sesuatu yang sangat buruk pada anak semata wayangnya itu. Mereka benar-benar lega ketika mendengar Gerald sudah sampai di asrama.


"Siapa yang menyelamatkannya?" tanya Katarine.


Berner terdiam. Dia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada tuannya itu. Namun, dengan tekad yang bulat, pria tua itu berkata, "Tuan Louise, nyonya,"


Sekarang giliran Katarine dan Harmin yang terdiam. Mereka tidak menyangka mendengar nama yang sudah lama tidak mereka dengar.


"Louise? Louise Bricht?" tanya Katarine kaget.


"Bagaimana dia bisa sampai disini?" lanjutnya.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan sangat kencang. Disana, mereka dapat melihat seseorang dengan jubah masuk dengan santainya.


Orang itu membuka tudung jubahnya dan memperlihatkan wajahnya yang tampan serta rambutnya yang berwarna putih. Harmin dan Katarine terperanjat. Tanpa banyak omong, mereka langsung menundukkan kepala menyambut orang itu.


"Apakah aku tidak boleh kembali ke kediamanku sendiri, Sir Harmin?" tanya orang itu.


Harmin bergidik ngeri. Dengan terbata-bata pria itu menjawab, "T-Tentu saja tidak, tuan Louise."


"Baguslah, karena sekarang aku punya banyak pertanyaan untuk kalian," ucap Louise seraya duduk di sofa seberang pasangan suami istri itu.


Tampaknya Louise sedang sangat marah. Cahaya sihirnya yang berwarna merah darah terlihat dengan sangat jelas tengah mengelilingi tubuhnya.


Harmin terpaku ditempat. Dia hanya bisa melihat pria itu dengan tajamnya melihat mereka, seakan ingin menebasnya dengan pedang yang tersampir di pinggangnya.


"Apa yang kalian tunggu? Duduklah. Banyak hal yang ingin ku diskusikan."


Dengan tubuh yang gemetar, Harmin beserta Katarine duduk dengan perlahan. Mereka hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata merah pria itu.


"A-ada hal apa yang ingin anda diskusikan tuan?" ucap Katarine agak hati-hati.


Louise tersenyum, dan berkata, "Hugo telah hilang."


Setelah mengatakan hal itu, senyuman yang terlukis di wajahnya mendadak sirna dan kembali ke wajah yang serius dan tampak menyeramkan.