Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 35



Plakk~


Suara tamparan terdengar sangat jelas di lorong sekolah yang gelap. Dada Levy naik turun, karena menahan amarahnya. Wanita itu mengangkat tangannya lagi untuk menampar siswa dihadapannya.


Namun, dia mengurungkan niatnya itu ketika melihat siswa dihadapannya menutup mata dan menolehkan kepalanya. Seperti mencoba menghindari tamparan itu.


Levy menurunkan tangannya. Dia menghela nafasnya panjang. Tampaknya, dia begitu marah karena gagal membuat Lacy gugur dalam ujian. Dia menatap tajam siswa itu.


"Kenapa protector mereka masih berdiri kokoh? Bukankah kau bilang sudah membereskannya?" teriak Levy.


Siswa itu tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Padahal, dia sudah yakin kalau kemarin protector milik Gerald dan Lacy sudah hancur berkeping-keping.


"Kalau kerjamu seperti ini, aku tidak bisa membantu nilaimu. Percuma sihirmu itu kuat, kalau protector lemah seperti itu saja tidak bisa kau hancurkan," lanjut Levy.


Wanita itu berkacak pinggang. Dia benar-benar kesal. Andai dia bisa membuat Lacy gugur dalam ujian dengan kekuatannya sebagai seorang guru, dia akan melakukannya. Namun, sayangnya dia masih diawasi oleh Arnold dan Eden sebagai atasannya.


Levy mendecak kesal. Dia tidak suka dengan kedua pria itu. Pemikiran mereka terlalu berbanding terbalik dengannya. Dia benci pada orang yang terlalu menaruh harap pada seseorang yang tidak bisa menggunakan sihir. Pada dasarnya, mereka hanyalah seorang budak bagi orang yang bisa menggunakan sihir.


"Cepat hancurkan protector itu. Kalau protector-nya tidak bisa, serang saja orang yang membuatnya. Pokoknya, aku mau Lacy gugur dalam ujian ini."


Levy menunjuk siswa itu, memperingati tentang konsekuensi jika dirinya gagal lagi. Siswa itu mengangguk dan meninggalkan Levy sendirian di lorong yang sunyi. Begitu pun dengan Levy, dia meninggalkan lorong sunyi itu menuju ruang kantornya.


...****************...


Gerald dan teman sekelompoknya duduk berkeliling membentuk lingkaran. Mereka membahas tentang bagaimana cara menghancurkan protector milik kelompok lain.


Diantara kelompok yang lain, kelompok mereka adalah kelompok yang berada di kasta terendah. Sudah pasti protector kelompok mereka adalah sasaran empuk untuk kelompok lain sebagai batu loncatan.


"Apa ada yang punya strategi?" ucap Mage memulai pembahasan.


"Bagaimana kalau orang yang membuat inti protector bersembunyi, sementara yang lain melindungi?" saran Cecilia.


Semua nya terdiam. Tidak ada yang bisa menjamin kalau ide itu bisa berhasil. Tapi, selain itu juga tidak ada yang bisa mereka lakukan.


"Kenapa tidak jalan bersamaan saja? Walaupun mereka menyerang, kita masih bisa membantu satu sama lain," saran Mao.


Mage, Emil, dan Ladon mengangguk. Kannon dan Cecillia bergumam kagum dengan ide Mao. Sedangkan, Gerald dan Lacy hanya diam saja.


Entah apa yang dipikirkan mereka berdua, namun keduanya menghela nafas panjang secara bersamaan. Semua menjadi heran. Tidak ada yang salah dengan ide Mao, bahkan itu bisa jadi ide yang bagus. Tapi, mengapa mereka berdua malah menghela nafasnya.


"Kenapa kalian menghela nafas seperti itu?" tanya Kannon.


"Tidak ada, hanya saja aku merasa kasihan pada kelompok kita."


"Sepertinya banyak yang menganggap remeh kita, sampai datang begerombol seperti itu," lanjut Lacy sembari melirik sedikit ke belakangnya.


Sekilas, mereka melihat beberapa siswa yang bersembunyi di balik tembok. Segerombolan siswa itu seperti menunggu saat yang tepat untuk menyerang Lacy dan teman-teman.


Gerald kembali menghela nafasnya panjang. Bukan apa-apa, dia hanya memikirkan sisa uang tabungannya yang sudah mulai menipis. Pemuda itu bahkan berpikir untuk meminta uang lagi pada Harmin. Namun, walaupun isi kepalanya itu sangatlah absurd, wajahnya sangatlah serius. Seakan-akan dia sedang memikirkan cara menyingkirkan para siswa itu.


"Apa kau punya ide Gerald?" tanya Kannon.


Gadis itu menatap Gerald dengan tatapan penuh harap. Matanya berbinar seakan menunggu jawaban yang mengesankan dari pemuda itu. Tapi, Gerald yang memang dasarnya tidak peduli dengan semua itu, hanya menatapnya dengan tatapan bodoh, namun masih terlihat tampan.


"Apalagi ide yang bagus selain bertahan? Aku tidak bisa membiarkan mereka meremehkan kita lebih jauh lagi. Lagipula, ini kan survival. Pilihannya hanyalah menyerang atau diserang," ucap Emil dengan tatapan penuh api.


Pemuda itu sepertinya sangat bersemangat dengan ujian ini. Seluruh tubuhnya seakan sudah terbakar oleh api semangatnya. Namun, Mage, yang berada disampingnya menggelengkan kepalanya. Dia berkata, "Tidak ada gunanya kita menyerang mereka."


Mage membenarkan posisi kacamatanya sembari melanjutkan, "Mereka pasti hanyalah anggota biasa. Kita harus mencari orang yang membuat inti protector mereka juga, kalau mau ini selesai lebih cepat."


"Benar, tidak mungkin orang yang membuat inti protector akan menyerang. Itu hanya akan menguras energi sihirnya," balas Lacy.


Mereka kembali terdiam. Mereka harus menemukan solusi terbaik secepatnya.


Diantara kesunyian itu, Lacy tiba-tiba berdiri. Gadis itu pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan sepatag kata pun. Melihat itu, Mao berkata, "Mungkin dia pergi untuk mengambil pedangnya."


Tak lama setelah Lacy pergi, segerombolan siswa yang bersembunyi di balik tembok, langsung mendekati mereka.


Emil menatap mereka sinis. Dengan nada mencibir, Emil berkata, "Wah, wah~ sepertinya kita kedatangan sekumpulan lalat disini. Apa kalian menemukan makanan disini?"


"Ha! Tentu saja, kami menemukan makanan yang sangat enak, terimakasih pada kalian," balas salah satu dari mereka dengan sarkas.


"Wah~kalian percaya diri sekali. Apa kalian tidak curiga makanan itu memiliki racun di dalamnya?"


Tak lama setelah Emil berkata seperti itu, segerombolan murid itu terjerat oleh jaring laba-laba yang tiba-tiba muncul dari atas mereka.


Emil menghela nafasnya kecewa. Pemuda itu mendekati mereka satu per satu sembari melihati artefak yang mereka pakai untuk dia ambil. Namun, tidak ada yang menurutnya bagus. Akhirnya, segerombolan murid yang tergantung terbalik itu dililit dengan jaring laba-laba dan dibuat seperti mumi oleh Emil.


Dengan santainya, Emil berbalik dan mendekati teman-temannya. Dia berkata dengan nada cerianya, "Hama disini sudah dibersihkan."


"Apa kau mau membiarkan mereka begitu saja?" ujar Ladon.


Emil melihat sekilas ke arah murid-murid itu. Dia berkata, "Kenapa? Mereka bukanlah sang pembuat inti, tidak ada gunanya membuat mereka pingsan. Biarkan saja mereka seperti itu, biarkan mereka menderita karena kehabisan nafas."


Emil melangkahkan kakinya pergi sembari tertawa puas. Tawanya tampak begitu jahat. Mereka menatap satu sama lain. Dalam hati, secara bersamaan mereka berkata, "Dia adalah seorang psikopat."