
Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, namun langit masih terlihat gelap. Masih banyak orang yang dengan nyamannya tidur di kasur kesayangan mereka, namun berbeda dengan Lacy.
Gadis itu sudah mulai berlari di sekitar tempat tinggalnya. Tadi malam, dia baru saja menerima kabar bahwa dia diterima di sekolah Alphrolone. Jujur saja, dia tidak percaya dengan kabar itu. Berulang kali dia membaca surat dari sekolah dengan seksama. Namun isinya tetaplah sama, yaitu 'Lacy Deandris diterima di sekolah Alphrolone'.
Ingin rasanya Lacy berteriak, menyombongkan diri pada orang-orang yang pernah mengejeknya. Akan tetapi, dia sadar bahwa jalannya baru saja dimulai.
Hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah berlatih sebelum dirinya benar-benar masuk asrama sekolah.
Lacy mulai tidak fokus dengan larinya. Kepalanya diisi dengan pikiran yang tidak terlalu penting. Hingga tanpa sadar dia berlari memasuki hutan.
Hutan itu adalah tempat biasanya Lacy berlatih dengan pedangnya. Tempatnya memang tidak jauh dari tempat dia tinggal. Karena kalian tahu sendiri, kota Ponta adalah kota terbuang. Kota itu seakan terisolasi karena dikelilingi oleh hutan.
Seharusnya, Lacy bisa dengan mudah mencari jalan keluar dari hutan itu. Setiap hari dia pergi ke hutan, namun tampaknya kali ini gadis itu tersesat.
Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Itu bukanlah tempat biasanya dia berlatih. Sepertinya dia masuk terlalu dalam ke hutan.
Lacy menelan ludahnya dengan susah payah. Sudah menjadi peraturan tak tertulis bagi warga kota Ponta untuk tidak masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Bahkan, dia sudah diperingatkan berulang kali oleh bibi Cana.
Cana adalah orang yang mengurus Lacy dari kecil. Sejak kecil, gadis itu tidak mengetahui siapa orang tuanya, yang dia ketahui hanyalah dia sudah tinggal bersama bibi Cana sejak lama.
Lacy membalikkan badannya. Dia bermaksud untuk menyusuri kembali jalannya, berharap dia akan kembali dengan selamat. Namun, sebuah suara membuat langkahnya terhenti.
Seakan terhipnotis, gadis itu melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Dia terus berjalan dan terus berjalan hingga bertemu sebuah pemukiman. Dari kejauhan, Lacy dapat melihat bahwa pemukiman itu telah ditinggalkan untuk waktu yang cukup lama.
Tidak ada cahaya yang menerangi pemukiman itu. Tanda-tanda kehidupan pun tak ada. Lacy menjadi penasaran. Baru kali ini dia melihat sebuah pemukiman di tengah hutan yang sering dia kunjungi. Dia menyusuri jalan itu dan memperhatikan bangunannya satu per satu.
Sepertinya, perkiraan Lacy salah. Itu bukan hanya pemukiman, itu adalah sebuah kota. Walaupun seperti sudah lama tidak ditinggali, rumah-rumah disana tampak megah dan tidak ada jamur sama sekali.
Lacy berdecak kagum, baru kali ini dia melihat bagunan seperti itu. Dia mulai bertanya-tanya kenapa kota itu ditinggalkan, padahal semua terlihat baik-baik saja dimata Lacy.
Hingga dia menemukan sebuah pemandangan yang membuat mulutnya menganga lebar.
...****************...
Di sisi lain, Gerald yang tidak bisa tidur karena pesta kemarin malam, berjalan mondar-mandir di taman kediamannya. Sudah hampir satu jam dia seperti itu.
Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Masih lama baginya untuk bersiap pergi ke asrama Alphrolone. Masih ada waktu sekitar 10 jam lagi. Pemuda itu tidak bisa tidur, tapi tidak tahu juga mau melakukan apa.
Akhirnya, pemuda itu tetap mondar-mandir sampai Berner yang baru bersiap memulai hari, menghampirinya.
"Apa kau ada perlu sesuatu tuan muda?"
Gerald menghiraukan pertanyaan pria tua itu. Alhasil, Berner hanya bisa berdiam diri menunggu tuannya itu memerintahnya.
Beberapa menit pun berlalu, Gerald masih berjalan mondar-mandir. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Saatnya semua orang di kediaman Bender itu beraktivitas.
Harmin yang baru saja keluar dari kamarnya, mendapati Gerald sedang mondar-mandir di taman hanya bisa terheran-heran. Dia sudah cukup capek dengan pesta tadi malam. Pria itu menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkah menuju ruang makan.
Begitu pun dengan Katarine. Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat pemuda yang menjadi beban itu sedang mondar-mandir. Namun, dia tidak terlalu memperdulikannya. Dia sudah cukup senang dengan fakta bahwa Gerald akan pergi hari ini.
"Sekarang sudah jam berapa?" tanya Gerald pada Berner.
Berner mengambil jam sakunya. Pria tua itu memang suka sesuatu yang jadul. Dia begitu suka dengan barang-barang antik, bahkan dia mengoleksinya.
"Sudah pukul setengah 7 pagi, tuan. Apa kau sudah mau sarapan?"
Gerald menggelengkan kepalanya dan melenggang pergi meninggalkan pria tua kepala pelayan keluarganya itu. Dengan langkah yang mantap, pemuda itu pergi meninggalkan kediaman Bender.
"Aku akan pergi ke kota sebentar. Aku akan kembali saat mau pindah ke asrama. Sampai saatnya aku kembali, jangan cari aku," ucap Gerald sembari berlari pergi.
Berner yang melihat tuan mudanya itu pergi dengan tergesa-gesa hanya bisa terdiam. Dia sudah sangat terbiasa dengan sikap tuan mudanya yang selalu random. Pria tua itu pun berbalik dan masuk ke dalam kediaman. Masih banyak pekerjaan yang menunggu dirinya.
Dia hanya perlu memikirkan bentuk visual dari hal yang ingin dia buat dan merapalkan mantra. Sangat mudah dan jelas bagi Gerald yang tidak suka hal rumit.
Gerald terus berlari dan berlari. Jarak antara rumahnya dan kota bisa dibilang cukup jauh. Biasanya dia akan menggunakan kereta atau portal sihir di rumahnya untuk ke kota. Tapi, kali ini dia tidak menggunakan transportasi itu. Mungkin dia terlalu bersemangat.
Beberapa waktu pun berlalu, kota sudah terlihat di depan. Pemuda itu mempercepat langkahnya hingga dia bisa melihat seorang pria tampan berkacamata tengah sibuk membersihkan halaman depan tokonya.
"Alven!!!!" panggilnya.
Alven tersontak kaget dan menolehkan kepala menuju sumber suara. Disana dia dapat melihat Gerald yang sedang terengah-engah karena habis berlari. Keringat pemuda itu bercucuran hingga membasahi tanah.
"Ada apa pagi-pagi kau datang kesini?" tanya Alven terheran-heran. Masalahnya, tokonya saja belum dia buka. Tidak ada alasan Gerald untuk terburu-buru begitu.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, pemuda itu berkata, "Aku mau berlatih,"
"Tidak bisa."
Tubuh Gerald membatu ditempat. Dia tidak menyangka mendengar jawaban yang tidak diharapkan dari pria itu.
"Kenapa?" tanya Gerald dengan nada memelas.
"Ruangannya belum kusiapkan. Kami baru saja mau buka, nak. Lagipula buat apa kau datang sepagi ini?"
Ya, Alven sendiri bingung kenapa pemuda itu begitu bersemangat. Menurutnya, dia terlalu berlebihan. Jarang ada penyihir yang sangat suka latihan. Jika ingin berlatih pun, mereka akan menunjukkan wajah yang lesu. Alven sudah sering bertemu penyihir yang seperti itu, hingga dia mulai ragu ingin memulai usahanya itu.
"Tidak apa, aku bisa bantu bebersih. Kalau begitu aku akan masuk."
Gerald melenggang pergi meninggalkan Alven yang termenung menatapnya menjauh. Alven memutar bola matanya. Dari awal dia sudah tahu kalau pemuda itu sangat susah untuk dihadapi, namun kekurangannya adalah dia terlalu mudah untuk dibodohi. Oh, apakah itu sebuah kelebihan? Setidaknya kekurangan Gerald itu bisa dimanfaatkan oleh Alven.
"Bos, kotak jeruk kemarin sudah aku letakkan di masing-masing ruang dimensi. Dua kotak di ruang kanan, dua kotak di ruang kiri, dan 7 kotak di ruang tengah. Apa ada lagi pekerjaan yang harus kukerjakan?"
Noya muncul dengan wajah lesunya. Tampaknya wanita itu tidak tidur untuk waktu yang cukup lama. Dia memberikan ceklis kerjaannya pada bosnya yang masih berusaha membersihkan halaman depan itu.
Alven mengambilnya dengan senang hati. Pria itu tersenyum bangga pada Noya. Bawahannya itu selalu melakukan pekerjaan dengan sangat bagus.
"Baiklah, kau bisa istirahat. Aku akan mengurus sisanya."
Noya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya yang pegal menuju ruang istirahat karyawan. Sedangkan, Alven melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, di ruang dimensi paling kiri, Gerald tengah berlari sembari memunguti barang-barang yang berserakan. Pemuda itu betul-betul berlatih sembari membersihkan ruangan.
Sebenarnya, Gerald mulai menyesali pilihannya itu. Pasalnya, dia baru ingat kalau ruangan itu sangatlah luas. Dia mulai ragu kalau dia akan bisa berlatih sihir hari itu juga.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menyudahi membereskan ruangan dan mulai mengambil boneka latihan. Dengan susah payah, pemuda itu menyeret boneka latihan yang lumayan berat itu ke tengah ruangan.
"Aku pikir disini sudah cukup."
Gerald mundur ke belakang sambil masih melihati boneka latihan itu. Dia mengukur jarak yang pas untuk mulai berlatih. Setelah dirasa cukup, pemuda itu langsung menghela nafas pelan. Tak lama, muncul sebuah cahaya berwarna kuning menyelimutinya.
Sembari menunjuk ke arah boneka, pemuda itu berkata, "Thread Maker Activated : Thread Lance".
Benang-benang mulai bermunculan dari jari jemari pemuda itu. Mereka dengan cepat melesat menuju sang boneka. Benang-benang itu sangat tajam bak sebuah tombak. Dalam sekejap, mereka mampu membuat boneka latihan itu hampir hancur.
Hanya hampir. Melihat itu Gerald tampak kecewa, namun dia tidak putus asa. Dia mengembalikan keadaan boneka seperti semula menggunakan mesin berbentuk kotak yang melayang dibelakangnya.
Pemuda itu menekan tombol yang diatasnya bertuliskan restored. Beberapa detik kemudian, boneka latihan yang dadanya telah bolong karena sihir milik Gerald, kembali pulih seperti semula.
"Baiklah, Mari kita mulai lagi," ucapnya dengan percaya diri.