
Deru nafas saling bersautan. Keringat Gerald sudah mulai membasahi wajahnya. Teman sekelompoknya pun sudah hampir kehabisan nafas. Semuanya tampak lelah dan kesal. Gerald menatap sinis beberapa orang yang ada dihadapannya.
"Dasar brengsek," gumamnya. Sedangkan orang yang berada dihadapan mereka itu hanya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Apa yang terjadi? Mari kita kembali ke beberapa menit yang lalu. Saat Gerald dan teman-temannya berjalan menyusuri lorong sekolah untuk mencari para pembuat inti dari kelompok lain.
Awalnya mereka berjalan sambil bersenda gurau. Langkah mereka diiringi dengan tawa. Tidak ada yang menyangka kalau mereka sudah masuk ke dalam jebakan. Dimana, tubuh mereka semakin lama semakin berat. Kaki mereka tidak lagi terangkat, sudah seperti mendaki sebuah gunung yang kemiringannya sangat curam.
Orang yang pertama kali sadar tentu saja Lacy. Gadis itu adalah satu-satunya yang pernah merasakan hal ini. Ya, apalagi kalau bukan sihir gravitasi. Lacy langsung mengalihkan pandangannya, mencari orang yang menggunakan sihir ini.
"Apa kalian merasa langkah kalian sangat berat?" tanya Kannon.
Mereka semua mengangguk mengiyakan. Emil berkata, "Kupikir cuma aku saja yang merasakannya. Yah~ kalian tahulah, staminaku tidak terlalu bagus."
"Ini sihir gravitasi," bisik Lacy, namun masih terdengar oleh yang lainnya.
Otomatis, mereka semua memasang sikap siaga. Mereka mengedarkan pandangan, mencari sang biang kerok. Tak lama, terdengar suara langkah yang menggema di lorong sepi itu. Sesosok bayangan terlihat mendekat ke arah mereka.
Sosok itu berjalan sembari bertepuk tangan. Lama-kelamaan, sosok itu menunjukkan wajahnya. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Konny. Walaupun masih berbalut perban di seluruh tubuhnya, kita masih bisa mengenalinya dengan rambut hijau pudar yang mencuat diantara perbannya.
"Wah, dia seperti seorang mumi," bisik Kannon.
"Halo teman-temanku dari kelompok terbuang."
"Wah, dia masih bersikap sombong setelah dibuat seperti mumi oleh Gerald," bisik Emil.
"Diam!!!! Gara-gara kau wajah tampanku tertutup perban ini. Sial, kalau saja aku tidak lengah, aku bisa menghabisimu dengan cepat," teriak Konny frustasi.
"Ya, itulah yang dikatakan pecundang setelah kalah dari orang yang dia anggap lemah," celetuk Emil yang makin membuat Konny marah.
Konny langsung menambahkan tekanan gravitasi pada mereka dan membuat mereka sedikit merunduk saking beratnya.
"Ini karena kau Emil. Kalau kau tidak membuatnya marah, pundak ini tidak akan terasa semakin berat," seru Mage.
Emil menekuk wajahnya. Dia kesal karena dimarahi oleh temannya itu, namun dia juga berusaha untuk mengimbangi tubuhnya agar tidak terhantuk dengan tanah.
"Kalian semakin berisik ya. Sudahlah, serahkan saja pembuat inti kelompok kalian. Kami akan membebaskan semua selain pembuat inti, bagaimana tawaran yang menarik bukan?" ucap seorang gadis yang berkuncir dua di sebelah Konny.
Mereka semua saling bertukar pandang, dan tak lama mereka semua tertawa. Kenapa mereka tertawa? Bukan masalah yang besar, hanya karena mata gadis itu yang kecil dan bibirnya yang berbentuk seperti angka tiga.
Namun, berbeda dengan yang lain, Lacy justru masih berusaha lepas dari sihir milik Konny itu. Disaat semuanya masih disibukkan oleh mereka yang tertawa, Lacy berhasil menjauhi area sihir milik Konny. Gadis itu langsung melesat kebelakang teman-teman Konny dan membuat mereka pingsan.
Suara seperti pecahan kaca terdengar jelas di telinga mereka. Gerald dan kawan-kawan berhenti tertawa. Konny dan seorang gadis disampingnya menengokkan kepalanya ke belakang. Disana, mereka berdua dapat melihat dengan jelas teman-teman mereka yang sudah terbaring pingsan di tanah.
Konny menatap marah Lacy. Dia langsung membuat gadis itu terjatuh ke tanah dengan sihir gravitasinya yang cukup kuat. Hal itu tentu saja membuat sihirnya yang menekan pergerakan Gerald dan yang lainnya terlepas.
Tanpa aba-aba, Gerald langsung melesat pergi untuk menyelamatkan gadis pujaannya. Namun, pergerakkannya dihentikan oleh gadis bermuka aneh disamping Konny. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak semaunya.
"Kau lumayan imut. Bagaimana kalau kau menjadi bonekaku saja?" ucap gadis itu sembari menggerakkan jari-jarinya seperti bermain boneka marionette.
"Sayang sekali tapi dia adalah milikku."
Kannon membuat sihir airnya menjadi boomerang dan memotong benang tipis yang mengendalikan tubuh Gerald.
Gadis berwajah aneh itu mendesis kesal. Dia menjadi lebih marah karena Kannon yang berani-beraninya menantang dirinya.
"Beraninya pemegang sihir elemental melawan sihir contoller-ku!!"
"Ha, kau saja yang lebih lemah dariku. Pemilik sihir controller pun bisa kalah dari pemilik sihir builder. Apa kau tidak ingat mengapa orang yang ada disampingmu itu dibungkus perban seperti mumi? Itu karena dia kalah dari pemilik sihir yang kalian anggap lemah."
Kannon tampaknya sudah tidak tahan lagi diperlakukan seperti orang lemah. Dia terus memprovokasi gadis berwajah aneh itu sampai akhirnya sang gadis mengarahkan sihirnya pada Mage yang masih terbengong.
Sama seperti Gerald sebelumnya, tubuh Mage pun tidak bisa dia gerakkan semaunya. Dia terus berteriak meminta tolong ketika tubuhnya mendekati Cecilia tanpa sebab. Tentu saja, itu membuat Cecilia panik. Gadis itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa berdiri mematung disana sembari menitikkan air mata ketika melihat Mage yang semakin dekat.
Emil yang tak tahan melihat itu, langsung melesat ke arah gadis berwajah aneh untuk membuatnya pingsan. Namun, sebelum hal itu terjadi, tubuhnya juga sudah dikendalikan oleh gadis itu. Begitu pun dengan Ladon dan Kannon. Ladon bahkan mengeluarkan sihir bom-nya tanpa sebab dan melamparkan bom itu tepat diantara Cecilia dan Mage. Membuat kedua orang itu terpental dan terbentur dinding.
Emil mengeluarkan sihir jaringnya untuk mengikat Kannon dan melemparkannya cukup jauh dari tempat itu. Gadis berwajah aneh itu berdecak kesal. Dia marah karena Emil berhasil keluar dari sihirnya berkat ledakan dari sihir Ladon. Pemuda itu bahkan menjauhkan Kannon dari range sihirnya.
Lalu, kemana Gerald? Tentu saja dia pergi untuk menolong gadis pujaan hatinya. Namun bodohnya, dia masuk kedalam range sihir gravitasi milik Konny dan membuat langkahnya semakin berat. Ya, sepertinya dia sudah tidak berpikir jernih sekarang.
Konny menyunggingkan senyum miringnya. Dia berkata, "Pevi, cepat habisi mereka. Aku akan buat si bodoh ini menyesal karena sudah menantangku."
"Dasar brengsek," bisik Gerald.
"Ha, salahkan dirimu sendiri yang menyerang orang yang salah. Penyihir lemah sepertimu tidak seharusnya menantang orang yang sudah diberkati sejak lahir seperti diriku."
Amarah Gerald semakin memuncak. Dia mulai menggertakkan giginya kesal. Tangannya telah mengepal sempurna. Cahaya sihirnya yang berwarna kuning pucat mulai menyelimuti tubuhnya.
Melihat hal itu, Konny malah tertawa terbahak-bahak. Dia kembali mencemooh Gerald. Dia mengatakan kalau cahaya sihirnya itu lah yang menandakan kemampuan antara dirinya dan Gerald sangat berbeda.
"Aku tidak tahu kenapa kau begitu terobsesi pada seorang nulla ini."
Konny mendekati Lacy yang masih tersungkur di tanah karena sihir gravitasinya. Pemuda itu mengangkat wajah Lacy dengan memegang dagunya. Bisa terlihat di balik perban itu, kalau dia sedang tersenyum licik melihat wajah cantik milik Lacy.
"Jangan coba-coba kau sentuh wajah Lacy dengan tangan kotormu itu," pekik Gerald.
"Tangan kotor? Aku saja tidak melakukan apa-apa. Mengapa kau sampai semarah itu?"
Konny mengangkat tubuh Lacy dengan mudahnya dan membuatnya menghadap Gerald yang masih kesulitan berjalan. Sambil menyunggingkan senyuman licik yang tidak bisa terlihat karena perbannya itu, Konny mengeluarkan sebilah pisau kecil dari kantong sihirnya dan menaruhnya tepat di tepi leher Lacy.
"Aku penasaran, jika aku melukai gadis ini, apa kau akan mengamuk seperti waktu itu?"
"Hentikan," ucap Gerald pelan.
Konny mulai menekan ujung pisau itu ke leher indah milik Lacy. Setitik darah mulai mengalir dari luka itu. Lacy hanya terdiam. Dia tak dapat berkutik. Tubuhnya terasa berat. Bahkan, untuk mengambil pedang yang tersampir di pinggangnya pun dia tak bisa.
Lacy mengumpat dalam hati. Ujung-ujungnya, dia kembali tidak berguna bagi kelompoknya. Dia hanya bisa menjadi beban. Andaikan dia memiliki sihir, dia pasti sudah sedari tadi lepas dari sihir gravitasi murahan ini.
"Hei, kau mengganggu jalan ku."
Sebuah suara mengalihkan pandangan mereka semua. Konny menengokkan kepalanya ke arah suara yang berada tepat di belakangnya. Disana, dia dapat melihat seorang pria tinggi dengan jubah yang kotor dan lusuh tengah menatap mereka.
"Apa kau tahu dimana kantor kepala sekolah?" tanya pria itu.
Mereka semua hanya terdiam. Tidak ada yang mau menjawab pertanyaan dari pria itu. Mereka seakan merasakan hawa yang sangat mengerikan keluar dari tubuhnya.
"Apa kalian bisu?" tanya pria itu lagi.
Pria itu mengedarkan pandangannya. Matanya langsung terpaku pada Gerald yang masih kesusahan untuk berjalan. Sambil menunjuk Gerald, dia berkata, "Oh, aku ingat kau. Kau yang tersesat di hutan itu kan? Apa kau tahu dimana kantor kepala sekolah? Aku ada urusan penting dengannya."
"D-di ujung koridor, lalu belok kiri," ucapnya ragu.
Pria itu menganggukkan kepalanya. Dia melewati Konny, Lacy, dan Gerald dengan mudahnya. Padahal, sihir gravitasi milik Konny masih aktif dan pria itu berada dia range sihirnya.
Melihat hal itu, Konny hanya bisa terbengong saja. Namun, dia tidak mau ambil pusing tentang pria barusan. Pemuda berbalut perban itu langsung menekan Gerald ke tanah hingga dia tak sadarkan diri. Konny juga memukul tengkuk Lacy untuk membuatnya pingsan.
Dengan santainya, Konny dan gadis bermuka aneh itu pergi meninggalkan mereka pingsan di lantai lorong yang dingin.
Snap~
Tiba-tiba, suara jentikan jari terdengar di telinga Konny. Pemandangan Gerald dan teman-temannya yang tumbang, berubah menjadi Gerald yang sudah siap untuk memukul wajahnya.
"Ha?"
Belum sempat bereaksi apa-apa, Konny sudah dihajar oleh Gerald. Begitu pun dengan gadis berwajah aneh itu, dia sudah diikat dengan belukar milik Mao dan dibuat pingsan oleh Lacy.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa dihajar oleh si pecundang ini? Seharusnya dia yang kalah. Kenapa bisa seperti ini?" teriak Konny dalam hati sembari terus dipukuli oleh Gerald.
Konny tak dapat berkutik karena terlalu bingung. Dia terus dipukuli oleh Gerald sampai dia pingsan, dan suara seperti pecahan kaca kembali terdengar.
Tak lama, terdengar suara seperti pengumuman yang keluar dari makhluk terbang di atas kepala mereka.
"Konny dan kawan-kawan gugur dalam ujian. Konny dan kawan-kawan gugur dalam ujian. Kelompok tersisa : 18 kelompok. Kelompok tersisa : 18 kelompok."
Gerald dan Lacy menatap ke arah makhluk itu. Suara itu sangat mengganggu. Ingin rasanya mereka menghancurkan alat itu.
"Ayo pergi. Sampai kapan kalian mau pura-pura pingsan?" seru Gerald.
"Pura-pura pingsan katamu? Aku benar-benar dilempar oleh si kepala pink itu. Badanku sakit semua," keluh Kannon tak terima.
"Masih mending kau ku selamatkan. Dasar tidak tahu terimakasih," sanggah Emil.
"Oh, aku sangat berterimakasih kau sudah menyelamatkanku. Tapi, tidak dengan cara dilempar jauh. Kau pikir kau atlit lempar jauh apa?"
Gerald mengorek kupingnya yang pengang mendengar celotehan Emil dan Kannon. Mereka terlalu berisik, pikirnya. Pertengkaran mereka sudah seperti sepasang suami istri yang telah menikah puluhan tahun lamanya.
"Sudahlah, ayo kita lanjutkan ujian ini. Kita tidak boleh kalah," ujar Mage menengahi Emil dan Kannon yang sudah seperti kucing dan anjing.
"Ya, mari lanjutkan perburuannya," ucap Gerald bersemangat.
Akhirnya, mereka semua berjalan meninggalkan Konny dan yang lainnya tergeletak begitu saja di lantai koridor. Mereka bahkan tidak sadar sudah diperhatikan oleh pria misterius dengan jubah lusuh sedari tadi.
Sambil menyunggingkan senyumnya, dia berkata, "Kau berhutang padaku karena sudah membantumu."
Matanya yang berwarna merah, menyala terang di kegelapan. Dia menarik tudung jubah untuk menutupi wajahnya dan pergi menuju ruangan kepala sekolah sembari tertawa kecil.