Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 15



"Hugo telah hilang."


Mata Harmin terbelalak. Pria itu tidak bisa memungkiri keterkejutannya mendengar ucapan Louise. Sedangkan, Katarine mengernyit bingung menanggapinya. Dia tidak tahu siapa itu Hugo dan kenapa suaminya itu begitu terkejut.


Katarine sangat ingin bertanya pada suaminya langsung, namun dia begitu takut untuk membuka suara di hadapan singa yang sedang marah.


"B-bagaimana mungkin tuan. Kami sudah memasang protector di sekitar hutan Praesidium." ucap Harmin membela dirinya.


Louise terdiam. Mata pria itu menatap tajam Harmin. Bola matanya yang berwarna merah, bersinar terang, dan cahaya sihir miliknya kembali mengelilingi tubuhnya.


"Sir Harmin, aku tidak akan pernah datang ke sini jika kau melakukan pekerjaanmu dengan benar."


Harmin bergidik ngeri. Suara Louise berdengung mengerikan di telinganya. Cahaya sihirnya yang berwarna merah itu seakan ingin melahapnya. Tanpa dia sadari, dirinya sudah berlutut dihadapan pria itu.


Katarine yang terkaget dengan tindakan suaminya, langsung berusaha membela dengan berkata,


"S-suami saya benar-benar sudah bekerja dengan keras tuan. Bukankah ada kemungkinan mereka memiliki....."


"Nyonya Katarine," potong Louise.


Pria itu beralih menatap Katarine dengan tajam.


"Apa kau juga mau menguji kesabaranku?" tanyanya.


Dengan cepat, Katarine menggelengkan kepala. Mana mungkin dia berani melawan seorang penyihir hebat sepertinya. Untuk menatap matanya saja dia tidak berani.


Katarine kembali menutup mulutnya. Dia tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk membela suaminya lagi. Wanita itu hanya bisa berlutut disamping suaminya meminta ampunan dari tuannya.


"Sudah kuperingatkan dirimu dan teman-temanmu itu, Sir Harmin. Hugo adalah kunci bagiku untuk menemukan adikku tercinta. Jika dia hilang, atau sampai jatuh ke tangan orang-orang bodoh itu...."


Louise berjongkok di hadapan suami istri itu. Dia mencengkram pundak Harmin dengan sangat kencang, hingga pria itu berteriak kesakitan.


"Hanya kematianlah yang menunggumu, Sir Harmin."


Tubuh Katarine bergetar dengan hebat mendengar teriakan suaminya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak terpikirkan alasan untuk menenangkan monster itu.


"Mohon kemurahan hati anda tuan. Kami akan secepatnya menemukan tuan Hugo," ucap Berner tiba-tiba.


Pria tua itu tak tahan melihat orang yang sudah dia layani sejak 20 tahun yang lalu, tersiksa begitu saja. Dia sudah menganggap Harmin dan Katarine seperti anaknya sendiri.


"Ah, Berner, sang pelayan setia keluarga Bender. Aku lupa kau ada disini. Bagaimana kabarmu?"


Louise mengalihkan pandangannya dari Harmin. Pria itu berjalan menuju Berner dan menjabat tangannya ramah. Setidaknya, itu yang terjadi pada awalnya. Karena tak lama setelahnya, Louise mencengkram tangan pria tua itu dengan sangat erat hingga Berner mengernyit kesakitan.


"Apa kau lupa aku adalah atasanmu, Sir Berner Kressarron? Apa kau sudah lupa siapa yang memberikan gelar kehormatan pada keluargamu?" ucap Louise yang terdengar seperti peringatan.


"Hari ini kalian cukup beruntung tuan dan nyonya. Aku akan memberikan kalian satu kesempatan lagi untuk mencari Hugo dan rekannya, Tanaya. Aku sudah berbaik hati untuk tetap membiarkan kalian hidup, mengingat kalian adalah kawan lamaku. Tapi, jika kalian tidak bisa menemukannya dan aku tidak bisa bertemu dengan adikku karena kalian, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian. Apa kalian mengerti tuan-tuan dan nyonya-nyonya?"


Harmin dan Katarine menganggukkan kepalanya dengan sangat kencang. Mereka sudah cukup frustasi karena tekanan dari Louise. Mereka tidak peduli lagi dengan syarat yang diajukan oleh pria itu. Bagaimana pun caranya, mereka akan dengan senang hati menurutinya karena Louise telah bermurah hati membiarkan mereka hidup.


Harmin dan Katarine bernafas lega. Nafas mereka yang tadi tercekat sudah kembali normal. Badan mereka menjadi lemas. Mereka benar-benar ketakutan setengah mati dihadapan Louise Bricht.


"Aku tidak sadar dia sudah kembali. Aku bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaannya," keluh Harmin.


Katarine mengangguk mengiyakan. Dengan ragu, dia bertanya, "Siapa itu Hugo?" pada suaminya. Namun, tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Harmin melenggang pergi begitu saja.


Sebelum dia benar-benar pergi, pria itu berkata, "Sekarang tidak penting siapa dia. Kita harus mencarinya sebelum ditemukan para wadah itu, kalau tidak kita yang akan mati. Aku akan pergi ke hutan Praesidium untuk menginvestigasi. Kau dan Berner pergilah ke kota."


Katarine mengangguk. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, dia dan Berner langsung melesat ke kota mencari teman lama mereka yang menghilang.


...****************...


Setelah pergi dari kediaman Bender, Louise melangkahkan kakinya menuju sebuah kota antah berantah. Kota itu dilindungi dengan sebuah shield yang berwarna hijau.


Pria itu memandang sendu kota itu dari kejauhan. Dia mengenang masa-masa saat dirinya dan keluarganya tinggal di kota itu.


Dirinya masih mengingat ketika dia pertama kali pergi ke pasar kota bersama ibunya. Dia juga masih mengingat saat pertama kali diajari ilmu pedang oleh ayahnya. Dan dia masih ingat ketika dirinya diangkat menjadi kepala prajurit divisi 2 kerajaan saat dia berumur 9 tahun.


Siapa sebenarnya Louise? Louise Bricht adalah seorang legenda dunia sihir. Dirinya dikatakan jenius karena sudah bisa menguasai sihir kuat saat dia masih berumur 4 tahun.


Dia begitu kuat, hingga dia bisa mengalahkan semua kandidat prajurit dan menjadi pemenang di umurnya yang masih belia. Banyak orang yang iri dengannya karena kekuatannya itu. Bahkan, namanya telah terukir di buku sejarah sebagai pahlawan ternama.


Saat usianya menginjak 11 tahun dia meninggalkan Mantauna atas perintah sang raja, namun apa yang dia dapat setelah kembali?


Dia mendapat berita bahwa kerajaan pusat negri Mantauna diserang. Sang raja dan ratu telah mati. Semua pelayan dan prajurit dibantai habis. Keluarganya dan satu-satunya pewaris kerajaan menghilang entah kemana. Seluruh ibu kota terisolasi dengan sebuah shield berwarna hijau.


Waktu itu, tidak ada yang bisa Louise lakukan selain menangis sejadi-jadinya. Dia menyesali dirinya yang meninggalkan keluarganya disana. Dia menyesali dirinya yang terlambat pulang. Dia menyesal telah pergi 5 tahun lamanya dan tidak tahu penderitaan yang terjadi di istana kerajaan pusat.


Sekarang, sudah 16 tahun berlalu. Louise masih mengusut kasus hancurnya kerajaan pusat dalam sekejap. Dia masih mencari keberadaan pewaris takhta terakhir. Dia masih mencari adiknya tersayang.


Louise melangkahkan kakinya mendekat ke arah kota. Setiap tanggal 19 di bulan baru, Louise akan pergi ke kota itu untuk mengenang keluarganya. Pria itu melangkah memasuki shield yang tampak kokoh itu dengan mudahnya.


Selama penyelidikannya, Louise mengetahui kalau shield itu akan menjadi keras dan kokoh serta tidak bisa ditembus jika orang yang membuatnya tidak mengizinkan.


Dari situlah dia tahu kalau shield itu adalah perbuatan adiknya. Adiknya yang juga digadang-gadangkan sebagai penyihir jenius di negri Mantauna.


Jika mengingatnya, Louise pasti tak sanggup untuk menahan air mata. Saat dia pergi, adiknya itu masih berumur 1 tahun. Walaupun dia disebut penyihir jenius, dia tetaplah adik manis miliknya. Dia hanyalah gadis kecil berusia 6 tahun saat kejadian itu.


Louise mengepalkan tangannya kesal ketika melihat bangunan-bangunan yang hancur. Meskipun dia sering pergi kesana, tapi dia masih tetap kesal dengan pemandangan itu.


Louise kembali melangkahkan kakinya menuju tempat yang benar-benar rata dengan tanah. Yang tersisa dari tempat itu hanyalah pagar yang masih berdiri kokoh serta 2 buah patung.


Pria itu berjalan menuju 2 buah patung itu. Disana terlihat jelas kalau salah satu patung itu adalah patung dirinya saat berusia 11 tahun dan disebelahnya adalah patung seorang gadis kecil yang mengacungkan jempolnya.


Louise menatap sendu patung gadis kecil itu. Patung gadis itu memiliki wajah yang sama dengan gadis yang berada di mimpi Gerald.


Sambil mengelus wajah patung itu, Louise berkata, "Dimana kau, Lacessca?"