
Sebuah cahaya yang sangat terang, mengusik tidur Lacy. Gadis itu mengernyit karena kepalanya berdengung dan lehernya pun sakit.
Sambil mengerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada, Lacy mengingat-ingat kembali mengapa dia bisa berada di ruangan serba putih itu.
"Apa kau sudah bangun?"
Lacy terperanjat melihat Arnold yang berada di samping kasur dan menatapnya tajam. Dalam hati, gadis itu bertanya apakah dia membuat sesuatu yang bisa membuat Arnold marah.
Lacy kembali mengernyitkan dahinya. Dia tak henti-hentinya mencoba mengingat apa yang terjadi, namun yang dia dapatkan hanyalah sakit yang teramat sangat di kepalanya.
"Apa kau ingat apa yang terjadi padamu?" tanya Arnold lagi.
Lacy menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak ingat mengapa dia bisa sampai disini.
Arnold menghela nafasnya. Dia berkata, "Kau pingsan di hutan belakang sekolah". Pria itu tidak mengatakan kalau dialah yang membuatnya pingsan. Dia tidak ingin orang tahu kalau dia menyerang seorang murid. Yah~mungkin lebih tepat disebut membantu dibandingkan menyerang, ya kan?
"Hutan? Oh, aku ingat kalau aku dikeluarkan dari kelasnya bu Levy. Tapi, ngapain aku ke sana ya?"
Arnold mengangkat bahunya tak tahu. Karena tidak tahu lah, makanya dia bertanya pada gadis itu.
Lacy menopang kepalanya dengan kedua tangan. Dia berpikir dengan sangat keras, namun hasilnya nihil. Dia tidak bisa mengingat apa pun.
Arnold berdecak. Dia teringat kembali pada orang yang menghipnotis dan memberikan perintah pada gadis itu. Dia memang tidak melihat secara langsung, namun sekilas dia dapat merasakan hawa yang tidak mengenakkan dari orang itu.
Dalam hati pria itu berkata, "Apa itu iblis? Tidak mungkin seorang manusia mengeluarkan hawa yang sangat gelap seperti itu. Tapi, bagaimana seorang iblis bisa masuk ke sekolah ini? Apa karena protector-nya rusak seperti kata kepala sekolah?"
"Aku tidak bisa mengingatnya. Terakhir yang kuingat, aku berlari dari kelas karena melihat sesuatu, tapi aku tak tahu apa itu. Aku tak bisa mengingatnya."
Arnold menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari menganggukan kepala. Dia tidak tahu harus bertanya apa lagi kalau misalnya orang yang bersangkutan tidak dapat mengingat apa-apa.
"Baiklah, kau istirahat saja disini. Kalau sudah baikan, kembalilah ke kelas. Aku masih ada urusan."
Lacy mengangguk mengiyakan. Gadis itu kembalu berbaring dan menutup matanya. Kepalanya begitu berat untuk dirinya kembali ke kelas.
Sedangkan, Arnold kembali ke hutan belakang sekolah untuk menginvestigasi disana.
...****************...
Kelas pertahanan milik bu Levy sudah selesai. Gerald dan teman-temannya tengah berkumpul untuk mendiskusikan tentang tugas yang diberikan oleh guru itu.
"Jadi, karena kita ada berdelapan, aku akan membagi menjadi 4 kelompok. Untuk orangnya, mari kita undi," ucap Mage
Cahaya berwarna lime menyelimuti tubuhnya. Mage membuat mesin undian kecil berbentuk bola yang memiliki mata dan mulut. Dari mulut mesin itu muncul kertas bertuliskan nama-nama mereka.
"Baiklah, untuk kelompok pertama ada Kannon dan Cecil."
"Cecil?" tanya Cecilia sambil mengernyit bingung.
"Ya, namamu terlalu panjang untuk diucap. Tidak apa kan?"
Sembari tersipu malu, Cecilia mengangguk mengiyakan. Gadis itu menjadi salah tingkah mendengar Mage memanggil nama kecilnya. Tidak ada yang pernah memanggilnya dengan nama itu, kecuali keluarganya.
"Selanjutnya, kelompok kedua ada aku dan Ladon, kelompok tiga ada Mao dan Emil. Kelompok terakhir ada Gerald dan Lacy."
Gerald tersenyum girang. Akhirnya, dia bisa berduaan dengan pujaan hatinya. Pemuda itu berharap dia dan Lacy akan menjadi lebih dekat dari sebelumnya.
"Untuk pembagian tugasnya, Kannon dan Cecil akan pergi membuat protector di jalan utama, aku dan Ladon akan membuat di dekat uks, Mao dan Emil di dekat asrama, dan untuk Gerald dan Lacy...."
"Kau dan Lacy akan kutempatkan di aula. Apakah tidak apa?"
"Apa kau gila? Aula itu luas, penyihir pemula seperti kita tidak mungkin bisa mempertahankannya selama seminggu tanpa hancur. Apalagi, kelompoknya memiliki seorang nulla. Lebih baik aku dipasangkan dengan Gerald," sanggah Kannon.
"Tapi kita sudah sepakat untuk membentuk kelompok dengan cara mengundi. Lagi pula tidak ada salahnya mencoba. Kata bu Levy juga, setidaknya ada satu protector dari masing-masing kelompok yang bertahan untuk membuat kita lulus," jelas Mage.
Kannon langsung kicep dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa berdebat dengan orang seperti Mage. Itu hanya akan membuatnya seperti orang bodoh jika kalah berdebat.
"Baiklah, mungkin itu saja pembahasan kita. Gerald tolong kau beritahukan pada Lacy tentang hal ini, dan yang lainnya tolong segera lihat lokasi. Bubar."
Mereka berpencar ke lokasi masing-masing. Kannon pun diseret oleh Cecilia sambil merengek ingin ikut dengan Gerald. Sedangkan, Gerald melambaikan tangan dan tersenyum bahagia mengantar kepergian Kannon. Dia sangat lega sudah terlepas dari jeratan gadis itu.
Gerald menghela nafasnya panjang. Sekarang, dia harus pergi kemana untuk mencari Lacy?
Pemuda itu ingat, terakhir kali Lacy menatap hutan belakang sekolah sebelum pergi. Dengan langkah yang mantap Gerald pergi kesana.
Namun, alih-alih menemukan gadis cantik berambut putih, dia malah bertemu pria tua berwajah mengesalkan dengan penutup mata.
"Sedang apa kau disini? Bikin mood-ku hancur saja," keluh Arnold.
"Hei, kau pikir mood-ku tidak hancur karenamu? Sial, seharusnya aku bertemu Lacy disini."
"Kau mencari Lacy?" tanya Arnold.
Gerald mengangguk. Dengan nada yang ketus, dia berkata, "Ya, aku mencarinya untuk tugas kelompok dari bu Levy,"
Arnold menganggukkan kepalanya. Namun, tanpa melihat ke arah Gerald, dia kembali merapalkan mantra pendeteksi di sekitar.
Dengan rasa kesal, Gerald bertanya, "Apa kau tahu dimana Lacy?"
"Apa untungnya bagiku memberitahumu?"
Gerald menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Kali ini dia benar-benar kesal dengan pria itu. Ingin rasanya dia memaki-maki, namun sebelum dia benar-benar melakukan itu, Arnold menjawab, "Dia ada di uks,"
Tanpa basa-basi, Gerald langsung meluncur menuju uks, meninggalkan Arnold yang masih menginvestigasi hutan itu.
Dengan langkah yang ringan, Gerald berlari menuju uks untuk bertemu Lacy. Namun, saat pemuda itu berada di depan uks, dia melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah mengintip di balik pintu uks.
Seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang panjang dan diikat sedang melihat ke dalam uks melalui kaca kecil yang terpasang di pintu.
"Ehmmm~ senior Fred?" panggil Gerald.
Fred yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya. Begitu tahu siapa yang memanggilnya, pemuda itu tersenyum begitu ramah.
"Sedang apa kau disini?" tanya Gerald heran.
Fred menjadi salah tingkah. Wajahnya menjadi memerah dan Gerald menjadi takut untuk mendengar jawaban dari seniornya itu.
"Sebenarnya, tadi aku melihat pak Arnold membawa Lacy kemari. Aku jadi khawatir dan ingin menjenguknya, tapi aku begitu malu untuk bertemu dengannya," ucap Fred.
Gerald mengernyit. Dengan suara yang sedikit bergetar, dia bertanya, "Apa...kau suka dengan Lacy?"
Awalnya, Fred kaget mendengarnya. Namun, dengan mantap, pemuda itu menganggukkan kepala.
"Ha?" teriak Gerald.