
Tidak terasa, waktu telah berlalu begitu cepat. Tugas pembuatan protector tersisa 2 hari lagi. Selama waktu luang itu, Gerald dan teman-teman sudah diajari oleh Arnold. Begitu juga dengan Lacy. Gadis itu berlatih dengan sungguh-sungguh supaya tidak menjadi beban temannya.
Dari kelompok mereka, protector pertama yang berhasil mereka buat adalah milik kelompok Kannon dan Cecilia. Mereka dengan mudahnya menggabungkan kekuatan mereka untuk membuat protector di jalan utama.
Kedua adalah protector milik kelompok Emil dan Mao. Pekerjaan mereka menjadi double karena harus membuat protector di asrama laki-laki dan perempuan. Sebenarnya, mereka tidak terlalu yakin kalau protector itu bisa bertahan selama seminggu. Tapi, mereka berpikir tidak akan apa-apa jika protector mereka hancur, asalkan yang lain tidak.
Tersisa, kelompok Mage dan Ladon, serta kelompok Gerald dan Lacy.
Gerald menghela nafasnya gugup. Dia sedikit takut untuk mempraktikkan sihir yang baru dipelajarinya beberapa minggu lalu. Jujur saja, Gerald bukanlah anak yang pintar. Saat Arnold menjelaskan saja, dia tertidur.
Pemuda itu hanya bisa berharap kalau dia tidak membuat kesalahan yang bisa membuat kelompoknya gagal dalam ujian ini. Gerald kembali menghela nafasnya. Dia hanya bisa bersabar, karena ini adalah ujian.
"Kupikir ini tempat yang bagus sebagai intinya," ucap Lacy membuyarkan lamunan Gerald.
"Ayo, jangan buang-buang waktu," lanjut gadis itu.
Gerald menganggukkan kepalanya. Dia segera melangkahkan kakinya mendekati Lacy dan menaruh tangannya di tanah. Sedangkan, Lacy menaruh tangannya di pundak pemuda itu. Tujuannya adalah agar energinya mengalir ke tubuh Gerald.
Ya, itu adalah cara yang di ajarkan oleh Arnold pada mereka. Hal ini agar protector yang mereka buat semakin kuat dan kokoh.
"Protector Magic Activated : Shield," gumam Gerald.
Sebuah sinar mulai menyebar luas ke seluruh aula. Sinar itu membentuk kubah berwarna kuning yang transparan.
"Wah~ternyata bisa juga ya. Tadinya aku takut kalau misalnya protector kita nggak bisa mencapai semua bagian aula," ujar Gerald.
Lacy menganggukkan kepalanya. Dia segera melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda itu. Namun, saat dia akan melangkah keluar dari kubah itu, dirinya terpental dan menimbulkan suara yang keras.
Lacy mengaduh kesakitan sambil mengelus-elus jidatnya yang sedikit benjol. Gadis itu menatap tajam ke arah Gerald yang hanya bisa tertawa canggung.
"Oops, sepertinya aku lupa menambah command-nya," ucap Gerald sembari cengengesan.
Command dalam pembuatan protector itu diperlukan agar penyusup atau monster tidak bisa masuk ke dalamnya. Begitu pun dengan orang yang berada di dalamnya, jika sang pembuat protector tidak membuat command, maka dia tidak bisa keluar. Itu yang dijelaskan oleh Arnold.
"Jangan hanya cengengesan disana, cepat batalkan sihirnya dan buka protector ini. Kita sudah ditunggu sama yang lain."
Gerald menganggukkan kepalanya. Pemuda itu segera kembali ke titik inti sihir protector mereka dan menambahkan command didalamnya.
Namun, alih-alih menambahkan command, protector yang sudah mereka buat malah pecah bak sebuah kaca. Lacy mendecak kesal. Dia sudah hampir memarahi Gerald karena mereka harus memulainya dari awal.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Gerald. Dia melihat pemuda itu sedang termenung dan berdiam diri seperti sebuah patung. Berulang kali dia memanggil namanya, namun tidak ada jawaban. Pemuda itu hanya menatap sesuatu yang ada dihadapannya.
Tentu saja Lacy kesal karena diabaikan oleh pemuda itu. Pekerjaan mereka masih banyak. Gadis itu juga sudah sangat lelah, dia ingin beristirahat di kasurnya. Lacy mempercepat langkahnya menuju Gerald, dia berteriak tepat di telinga pemuda itu.
Kalian tahu apa hal pertama yang dikatakan oleh Gerald? Dia bergumam, "Portal ilusi." secara terus-menerus. Hal itu membuat Lacy mengernyit bingung. Dia terus menguncang-guncangkan tubuh Gerald yang sedikit kaku. Namun, pemuda itu tak kunjung sadar juga.
Teriakan Gerald mulai membuat Lacy ketakutan. Gadis itu mulai berlari keluar dari aula untuk meminta bantuan. Untungnya, dia bertemu Arnold yang memang berencana untuk menemui mereka di aula.
Tanpa basa-basi, Lacy langsung menarik Arnold untuk membantu Gerald yang masih meneriakkan kata "Portal ilusi".
Arnold yang melihat situasi mengerikan Gerald, hanya bisa tercengang. Dia terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Pria itu tidak bisa berpikir jernih. Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan sihirnya.
Saat ini, keadaan Gerald sangatlah menakutkan. Mereka seperti sedang menonton film horror di depan mata. Lacy dan Arnold pun tidak berani untuk mendekatinya.
Lacy masih trauma dengan Gerald yang hampir membunuh Konny dengan sihir benangnya. Dia takut akan bernasib sama dengan pemuda sombong itu jika dia mendekati Gerald sekarang.
Arnold menarik nafasnya dalam-dalam. Dia segera mengeluarkan cairan merah miliknya untuk menahan pergerakkan Gerald. Sebenarnya, hal itu sedikit berhasil, Gerald menjadi tidak bisa bergerak. Arnold menyuruh Lacy untuk memukul belakang leher pemuda itu untuk membuatnya pingsan.
Awalnya, Lacy tidak mau karena masih takut. Tapi, mau tidak mau dia harus melakukannya. Supaya apa? Ya, supaya kaca aula tidak pecah. Kalau pecah, dia harus ganti rugi. Kalau dia ganti rugi, dia akan menyeret pemuda itu untuk mempertanggung jawabkan semuanya bersama.
Lacy berjalan perlahan mendekati Gerald. Pemuda itu masih memberontak. Dia juga masih meneriakkan kata yang sama berulang kali. Lacy mengangkat tangannya untuk bersiap memukul tengkuk Gerald. Sambil berhitung dari satu sampai tiga dalam hati, Lacy memukul dengan cepat tengkuk pemuda itu.
Pergerakkan Gerald berhenti total. Dia juga sudah tidak meneriakkan kata-kata itu lagi. Namun anehnya, pemuda itu tidak pingsan. Dia hanya mengekuh kesakitan setelah tengkuknya dipukul oleh Lacy.
"Aduh, sakit banget. Kupikir kepalaku mau lepas dari tempatnya," keluh Gerald sembari mengelus-elus lehernya yang sakit.
Lacy dan Arnold saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka semakin bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.
"Loh, kok ada kau disini?" tanya Gerald menunjuk Arnold.
Pemuda itu kemudian melihat ke sekitar. Dia baru sadar kalau protector yang baru saja dia buat itu hancur. Mengetahui itu, Gerald langsung meringis. Dia berpikir kalau protector yang dia buat tadi adalah karya terbaiknya.
"A-apa kau tidak ingat?" tanya Lacy gugup.
"Ingat apa? Ingat kalau aku lupa memberi command? Tentu saja ingat, makanya aku ada disini kan," jawab Gerald.
Lacy mengernyitkan dahinya. Entah dia harus bereaksi seperti apa. Kepalanya mulai pusing karena pemuda itu. Begitu pun dengan Arnold, pria itu mulai memijat-mijat kepalanya pelan karena kejadian tidak mengenakkan barusan.
"Sudahlah, lupakan saja. Lanjutkan saja buat protector kalian. Kali ini buat yang benar. Beri command, paham? Aku mau pergi sebentar."
Arnold pergi meninggalkan Lacy dan Gerald. Tanpa banyak bicara, Lacy dan Gerald langsung membuat protector yang baru. Kali ini, dengan menambahkan command.
Lacy menghela nafasnya panjang. Dia sudah cukup lelah. Gadis itu pamit pada Gerald untuk kembali ke asrama duluan. Dia langsung meninggalkan Gerald yang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Setelah Lacy benar-benar pergi, senyuman yang terlukis di wajah tampan Gerald langsung menghilang. Yang tertinggal di wajahnya hanyalah ekspresi kesal. Sambil menatap ruangan tempat inti protector dengan tatapan tajam, pemuda itu bergumam, "Apa itu portal ilusi? Buat kepalaku sakit saja."
Gerald meninggalkan aula sembari masih menggerutu.