
"Lacy, Lacy Deandris."
Tangan Noya berhenti menulis. Dirinya diam membeku. Nafasnya mulai tidak stabil. Jantungnya pun mulai berdetak kencang.
"Halo? Apa anda baik-baik saja?"
Lacy melambai-lambaikan tangannya di depan wajah wanita itu. Namun, dirinya sama sekali tidak berkutik. Pandangannya kosong dan suara disekitarnya mulai tidak terdengar.
"Hei, ap--"
"Arrghh!!!! Kecoa!!!! Jauhkan dia dariku! Aku takut, bos!!!" teriak Noya tiba-tiba.
Lacy tersentak kaget. Sontak dia melihat meja kerja Noya dan menemukan seekor kecoa yang sedang nongkrong di buku tempat wanita itu menulis. Dengan sigap, Lacy menangkapnya dan membuang jauh-jauh binatang menjijikan itu.
Kecoa yang malang, dia dilemparkan terlalu tinggi hingga menjadi bintang di langit.
Lacy kembali ke dalam gedung sembari menepuk-nepukkan tangannya.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Noya dengan suara yang bergetar.
"Sudah," jawab Lacy seraya menganggukan kepala.
Noya menghela nafas lega dan kembali ke meja kerjanya. Dia melanjutkan menulis nama Lacy di bukunya dan mengeluarkan sebuah brosur tentang tempat kerjanya.
"Baiklah, nona Lacy, saya adalah Noya yang akan menemanimu berkeliling. Mari ikut saya," ucap Noya ramah.
Lacy pun mengikutinya dengan senang hati. Gadis itu dibawa pergi menuju salah satu pintu dari 3 pintu yang ada. Noya mengantarkan Lacy ke depan pintu yang terletak di sebelah kiri. Gadis itu begitu penasaran dengan apa yang akan muncul dihadapannya.
Bagi gadis muda itu, tidak ada yang lebih penting dari tempat berlatih untuknya. Selama ini, Lacy hanya berlatih di tempat terbuka seperti hutan. Tidak banyak gym di kota yang menerima seorang nulla.
Oleh sebab itu, ketika Lacy menemukan brosur tempat ini dia begitu bersemangat. Dia begitu peduli dengan tampak depan gedung itu yang kurang menjanjikan.
Noya memegang gagang pintu dihadapannya. Sama seperti Alven, pintu itu mulai diselimuti oleh cahaya berwarna hijau. Ketika dibuka, Lacy dapat melihat dengan jelas bahwa ada sebuah sihir ruang yang terhubung.
Ruangan itu tampak gelap dan tak ada ujungnya, namun ketika melangkah masuk, ruangan luas dengan alat bantu latihan yang berlimpah menyambut Lacy dengan hangat.
Gadis itu berdecak kagum. Baru kali ini dia merasakan sihir ruang milik penyihir jenis controller. Dirinya tidak tahu itu berada dimana, tapi sensasi ketika dia berpindah dimensi itu cukup menyenangkan. Sepertinya dia bakal betah berlatih disana.
"Di sini, kami menyediakan semua alat untuk berlatih sesuai kemampuan bertarung anda. Apakah itu menggunakan sihir ataupun senjata, semuanya tersedia. Boneka untuk membantumu berlatih pun ada. Jika kau tidak memiliki senjata pribadi pun, kami menyediakannya disini. Ada keluhan?"
Lacy menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan wanita itu. Noya tersenyum bahagia. Dimatanya, Lacy begitu imut ketika menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kembali mengatakan imut di dalam hatinya ketika Lacy dengan polosnya berkeliling ruangan yang luas itu dan melihat-lihat.
"Ehm~ mengenai biaya..." ujar Lacy ragu.
"Oh, kalau kau hanya ingin melatih sihir, perbulannya 60 mont, kalau hanya ingin menaikkan stamina 65 mont, dan kalau hanya ingin berlatih kemampuan bersenjatamu kau hanya perlu membayar 30 mont. Tapi, kalau kau ingin semuanya, kami ada tawaran paket. Dengan hanya 150 mont kau bisa melatih ketiganya disini. Bagaimana?" jelas Noya dengan semangat.
Wanita itu tidak mau kalah dengan bosnya yang berhasil menggaet satu pelanggan. Namun, dia berbeda dengan bosnya itu. Dia berjanji tidak akan pernah memanfaatkan anak gadis yang manis, imut, dan lugu itu.
Lacy mengerucutkan bibirnya. Dia menjadi bimbang. Dia tidak bisa sihir, jadi dia tidak perlu berlatih sihir disana.
"Apa ada paketan yang hanya latihan stamina dan kemampuan bersenjata saja? Aku...tidak bisa memakai sihir," ucap Lacy ragu.
Gadis itu takut kalau dia akan ditolak. Sudah kesana kemari dia mencari tempat latihan yang bisa dia pakai di kota. Alasannya ditolak pun sama, karena dia tidak bisa memakai sihir.
Hati Noya terenyuh ketika melihat mata gadis itu yang sudah berkaca-kaca. Dia bisa merasakan kesulitan Lacy yang berkeliling kesana-kemari untuk mencari tempat berlatih. Noya memegang dadanya terharu. Dia bahkan menyeka air matanya yang sudah bercucuran bak air terjun
"T-tidak apa-apa nona kecil. Kami bisa memberikan apa maumu. Kau hanya perlu membayar 21 mont perbulan untuk semuanya," isak Noya yang masih berusaha menghentikan tangisnya.
Lacy terkejut mendengar harganya. Matanya tambah berair dan berakhir menangis bersama Noya. Keduanya bahkan sampai berpelukan dan saling menenangkan diri.
"Noya!! Dimana kau?"
Sebuah suara menyadarkan mereka. Noya berpamitan pada Lacy karena dipanggil oleh bosnya.
"Kau berkeliling saja dulu, kalau sudah selesai tinggal keluar dari pintu yang tadi. Tenang saja, pintu itu sudah diberi sihir oleh bosku. Walaupun kau tidak memiliki sihir, kau masih bisa keluar masuk. Jika sudah selesai aku akan menyiapkan dokumen membermu, oke?"
Lacy menganggukkan kepalanya. Gadis itu mengantarkan kepergian Noya dengan tatapan matanya. Lacy menghela nafasnya panjang seraya menyeka air matanya.
Sungguh, akting yang sangat bagus, pikirnya. Ya, tentu saja itu hanya akal-akalan Lacy. Dirinya tahu betul kalau dia tidak akan ditolak. Dilihat dari penampilan depannya saja dia sudah tahu kalau tempat itu belum ada pelanggannya.
Lacy melangkahkan kakinya mengelilingi ruangan itu. Gadis itu tidak tahan melihat ruangan yang luas, rasanya dia ingin berlari mengelilinginya.
Lacy menghembuskan nafasnya kasar dan berkata, "Baiklah, hanya 10 putaran saja sepertinya cukup."
Dia pun mulai berlari mengelilingi ruangan yang luas itu. Kalian bertanya seberapa luas ruangan itu? Sangat luas. Bahkan Lacy yang terbilang cukup cepat dalam berlari saja menghabiskan 20 menit untuk satu putaran. Untuk menyelesaikan 10 putaran, dia memerlukan waktu 3 jam-an di ruangan itu.
Lacy terbaring lemas di lantai ruang latihannya. Dia tidak tahu sekarang sudah jam berapa. Dia sudah terlanjur capek hanya dengan berlari mengelilingi ruangan itu.
"Apa aku mengganggumu?"
Lacy membuka matanya dan melihat Noya tengah menatapnya. Gadis itu langsung memposisikan dirinya dari baring menjadi duduk. Dia lantas menggelengkan kepala menjawab pertanyaan wanita itu.
"Kau tak kunjung keluar. Kukira ada sesuatu, ternyata kau hanya berlatih," ucap Noya sembari terkekeh kecil.
"Ruangannya begitu luas. Kupikir aku akan menyelesaikannya dengan cepat, sudah berapa jam aku disini?" tanya Lacy masih terengah-engah.
"Jam 3 sore," jawab Noya santai.
Lacy membelalakkan matanya. Dia tak menyangka sudah berada di ruangan itu cukup lama. Gadis itu langsung berdiri dan bergegas pergi dari ruangan itu, diikuti dengan Noya dibelakangnya.
"Bagaimana dengan membernya, Lacy?" tanya Noya sekeluarnya mereka dari ruangan luas itu.
Noya mengeluarkan secarik kertas dari kantong sihirnya dan memberikan pada Lacy. Tanpa pikir panjang, gadis itu menandatangani kertas yang melayang dihadapannya.
Dia bahkan tidak melihat isinya terlebih dahulu. Gadis itu harus buru-buru sekarang. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Setelah menandatangani dokumen itu, Lacy langsung pergi ngacir ke rumahnya. Noya yang melihat gadis imut pelanggannya itu pergi dengan terburu-buru, hanya bisa tersenyum sembari melambaikan tangan.
Tak lama setelah Lacy pergi, datanglah Alven dengan membawa sekotak penuh buah jeruk. Itu memang sudah menjadi keseharian bosnya itu. Tiap hari pergi berkeliling. Alih-alih mendapat pelanggan, malah mendapat sekotak penuh buah maupun sayur dari orang tua yang dia tolong.
Alven memang dikenal sebagai pria baik hati yang suka menolong oleh orang-orang sekitar. Pria itu sangat pandai dalam menjaga image-nya. Namun, bagi Noya, dia hanyalah seorang pria tua penipu yang suka memanfaatkan anak-anak polos.
"Alven~aku akan meninggalkan kotak-kotak ini di luar, ya."
Seorang pria kekar berteriak dari luar. Noya yang penasaran, memilih keluar dan betapa terkejutnya dia mendapati ada sekitar 10 kotak penuh jeruk bertengger di depan toko mereka.
"Baik, terimakasih, pak Sagi. Salam untuk putrimu," ucap Alven.
Pria kekar itu mengangguk. Dia segera menaiki mobil miliknya dan pergi dari sana. Noya yang berdiri di samping Alven segera menepukkan tangannya.
"Wah~kemampuan aktingmu pasti sudah membaik sekarang. Bagaimana caramu menipu orang kali ini?"
"Enak saja menipu. Aku hanya membantu pak Sagi dan anaknya saja. Tadi mereka sedang kesusahan karena jeruk hasil panen mereka," ucap Alven.
"Aku hanya membantu mereka mengangkat 100 kotak jeruk masuk ke mobil pengangkut, itu saja. Dan balasanku adalah kotak-kotak jeruk ini," lanjutnya.
Noya menatap bosnya dengan tatapan jengah. Bagaimana caranya 2 orang menghabiskan 10 kotak penuh jeruk. Paling ujung-ujungnya, kotak-kotak itu akan disimpan di ruangan dimensi.
"Terserah aku masih ada urusan tentang pelanggan yang baru saja kita rekrut," ucap Noya sembari berlalu meninggalkan Alven yang bingung bagaimana caranya memindahkan kotak-kotak itu.
...****************...
Sebuah tempat antah berantah yang dihuni oleh orang-orang yang memakai jubah bertudung dengan wajah yang ditutupi mendadak ricuh. Seseorang yang terlihat seperti pemimpinnya itu mengamuk dan membanting semua barang yang ada
"Dasar tidak berguna!! Mencari dua orang saja tidak becus!! Apa kalian tidak malu dengan gelar kalian??!!" bentaknya.
"Aku tidak mau tahu lagi. Kalian cari si Hugo dan Tanaya itu. Mau mereka hidup atau mati, aku tidak peduli. Kalau kalian belum menemukan mereka, aku akan membunuh kalian semua. Kalian mengerti??!!!" lanjutnya.
Orang itu menggertakkan giginya kesal. Bola matanya yang tadinya berwarna coklat berubah menjadi merah darah, sama seperti warna rambutnya.
Dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat, sampai tangan itu mengeluarkan darah yang segar.
"Hugo, Tanaya, kalian tidak seharusnya ada di dunia ini. Aku pasti akan menghabisi kalian, tunggu saja," ucapnya.
Pria itu kembali mengamuk dengan membanting sebuah bingkai foto disampingnya. Foto yang menggambarkan dirinya, Hugo, dan seorang pemuda berambut putih tengah berpose ria.
Siapakah pemuda itu?