Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 23



Arnold menyodorkan beberapa jenis kue kering ke hadapan Gerald. Baru kali ini dia berbuat baik dihadapan anak angkat dari kakak perempuannya itu.


Seperti yang kalian tahu, Arnold dan Gerald selalu berseteru karena masalah kecil. Mereka adalah tipe saudara yang tidak akan pernah akur, namun saling menyayangi satu sama lain. Walaupun, Arnold tidak yakin kalau keponakannya itu berpikiran yang sama seperti dirinya.


"Jadi, ada masalah apa?" tanya Arnold.


Gerald mencomot kue kering yang ada dihadapannya. Sembari masih mengunyah, dia berkata, "Aku sedang kesusahan karena tugas dari bu Levy."


"Oh~tugas membuat protector? Dimana area yang ditugaskan padamu?"


"Di aula."


Arnold tersentak kaget mendengar jawaban dari pemuda itu. Dia sangat mengetahui seberapa luas aula sekolah. Akan sangat sulit bagi seorang siswa baru seperti Gerald bisa membuatnya. Bahkan, murid baru yang dikatakan kuat sekalipun tidak akan mungkin bisa.


Arnold menghela nafasnya panjang. Dia berusaha mencari solusi untuk pemuda itu. Dia berpikir begitu keras hingga wajahnya mengkerut. Tampaknya pria itu tidak peduli lagi dengan penampilannya, toh sekarang hanya ada dirinya dan Gerald di ruangan itu.


"Apa tidak ada area lain yang lebih kecil?" tanya Arnold.


"Tidak, Mage bilang area lain sudah di-klaim oleh kelompok lainnya. Tersisa area yang lumayan luas untuk kelompok kami. Hah~apa tidak ada kata lain selain menyerah ya?"


Gerald kembali menundukkan kepalanya frustasi. Dia sudah berulang kali menyerah pada tugas itu.


"Kapan batas waktu pembuatannya?" tanya Arnold.


"Kata Mage sih, kami diberi waktu sebulan untuk membuat protector itu."


"Bagus, ajak teman sekelompokmu itu untuk menemuiku setelah kelas besok."


Gerald mengernyit bingung. Wajah bgingungnya seakan mengatakan "Buat apa?" pada Arnold.


"Sudah, kau akan tahu besok."


...****************...


Keesokan harinya, Gerald dan ketujuh teman kelompoknya pergi menemui Arnold. Mereka disuruh oleh pria itu untuk pergi ke aula sekolah dan menunggu disana.


"Berapa lama lagi kita harus menunggu? Siapa yang ingin kita temui?" keluh Kannon.


"Bersabarlah, sebentar lagi dia akan datang, sepertinya," ucap Gerald ragu.


Mereka sudah menunggu Arnold cukup lama. Untunglah mereka sudah tidak ada kelas. Jadi, tidak apa baginya untuk menunggu pria itu.


Tiba-tiba pintu aula terbuka dengan sangat keras. Suaranya membuat mereka mengalihkan pandangan ke arah pintu. Awalnya, Gerald tersenyum sumringah, mengira Arnold sudah datang. Namun, senyum itu sirna begitu melihat orang yang benar-benar tidak ingin dia lihat.


"Oh, ya ampun kupikir siapa yang berisik di aula. Ternyata adik kelasku yang manis," ujar Fred.


Sama seperti kemarin, dia ditemani oleh anggota osis lainnya. Dengan wajah yang sombong dan menyebalkan, dia melangkahkan kakinya mendekati kelompok itu.


"Sepertinya kau sering kesini ya, Lacy. Apa kau sudah menemukan solusi untuk tugasmu itu? Sepertinya belum ya."


Fred tertawa senang. Dia merasa sudah menang dalam permainan itu. Sambil masih tertawa, dia berkata, "Sudah, terima saja tawaranku. Kau tahu, aku ini memiliki sihir yang kuat. Tidak seperti teman-temanmu ini."


Mereka terperanjat kesal. Mereka sangat tersinggung dengan ucapan senior itu. Bahkan, Kannon yang awalnya ingin memaksa Lacy untuk menerima bantuan dari senior itu pun mengepalkan kedua tangannya, marah.


"Oh, jangan begitu marah padaku. Kalau kalian dengan senang hati memberi teman kalian yang cantik ini padaku, akan kupastikan hidup kalian aman dan tenang di sekolah ini," ucap Fred sembari mencolek dagu Lacy.


Melihat itu, Gerald segera menepis tangan lelaki berambut panjang itu. Dia menatap sini senior dihadapannya. Pemuda itu benar-benar tidak takut pada orang yang mengganggu ketenangan hidupnya.


Ladon, Emil, dan Mage mengikuti jejak Gerald. Mereka melangkah kedepan, melindungi anggota perempuan di belakang punggung mereka.


Fred tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mage. Dia menganggap perkataan junior-nya sangat lucu. Dia tahu, kalau tugas dari bu Levy bukanlah sekedar tugas sekolah.


"Ya ampun, ucapanmu lucu sekali. Apa kalian tidak tahu kalau ini adalah ujian pengambilan misi? Oh, apa aku tidak pernah bilang? Ha?" tanya Fred pada anggotanya.


Seluruh anggota osis yang bersama Fred ikut tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi tawa itu membuat darah Gerald dan kawan-kawan menjadi mendidih.


Fred berhenti tertawa dan menarik Lacy keluar dari aula. Sedangkan, anggota osis lainnya menahan Gerald dan kawan-kawan menggunakan barrier berbentuk kubah yang kecil.


Gerald memberontak dan meneriakkan nama Lacy. Pemuda itu meninju-ninju barrier dihadapannya, walaupun dia tahu itu adalah hal yang sia-sia.


"Sudahlah, hal yang kau lakukan itu tidak ada gunanya. Bukankah dengan memberikan Lacy pada Fred akan menguntungkan kalian?" ucap salah seorang gadis anggota osis disana.


Mereka kemudian meninggalkan Gerald dan anggota kelompoknya itu terkurung didalam barrier itu. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan aula, mereka dihadang oleh Arnold yang baru saja datang.


"Oh, apa yang terjadi disini?" tanya Arnold.


Pandangannya beralih pada Gerald yang terkurung bersama teman-temannya. Lalu, pandangannya beralih kembali pada anggota osis yang ingin keluar. Sepertinya, dia sedikit mengerti situasinya.


Gadis anggota osis itu ingin mencoba menjelaskan pada Arnold. Namun, sebelum membuka mulutnya, para anggota osis itu sudah disambar oleh cairan berwarna merah yang keluar dari botol yang tersampir di pinggang Arnold.


Mereka terhempas jauh karena cairan itu. Arnold kemudian mengendalikan cairan itu ke arah barrier yang mengurung Gerald dan menjatuhkannya tepat diatas barrier kubah itu.


Perlahan, barrier itu menghilang seperti meleleh dan orang yang membuatnya meringis kesakitan. Arnold mendekatkan dirinya pada orang yang meringis itu.


"Senia, apa ini perbuatan Fred lagi?" tanya Arnold.


Pria itu bertanya biasa saja, namun suaranya menggema dengan sangat menakutkan di telinga mereka. Tanpa ragu, mereka menganggukkan kepala. Mereka takut kalau mereka berbohong lebih jauh, Arnold tak akan segan untuk mencelakai mereka lebih parah lagi.


"Apa yang diinginkannya?"


"L-Lacy, pak. Dia mau Lacy jadi kekasihnya," jawab Senia, gadis yang mengurung Gerald.


Arnold menghela nafasnya kesal. Dia mengeluarkan semua anggota osis itu keluar dari aula menggunakan cairan merah miliknya. Tak lupa, dia menutup pintu aula dengan kencang dihadapan mereka.


"Baiklah, kita mulai pelajarannya," ucap Arnold sembari mengembalikan cairan merah itu ke dalam botol.


"Tapi Lacy dibawa oleh bajingan itu," sanggah Gerald.


Dia masih ingin menyelamatkan Lacy dari lelaki hidung belang itu. Arnold menggelengkan kepala, dengan santainya dia berkata, "Gadis itu tidak akan kenapa-napa. Percaya saja padaku,"


Gerald terdiam. Dia terduduk di lantai aula, begitu pun dengan yang lainnya. Sedangkan, Arnold membawa masuk sebuah papan tulis geser menggunakan sihirnya.


Dia menuliskan beberapa kata di papan tulis itu. Kelompok Gerald memperhatikan dengan seksama. Mereka masih bingung dan bertanya-tanya, apa yang akan di ajarkan oleh Arnold pada mereka.


"Baiklah."


Arnold mengetokkan spidol ke papan tulis, meminta mereka untuk fokus pada kata yang tertulis di papan tulis itu.


"Aku, akan mengajarkan kalian membuat protector," ujarnya.


"Tapi, bu Levy sudah memberu materinya, pak," seru Mage.


Arnold menangguk. Dengan santainya dia berkata, "Ya, aku akan mengajarkan kalian membuat protector yang bahkan, seorang nulla sekalipun bisa membuatnya."


"Ha??!!"