Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 6



"Lacy" gumam Gerald.


Pikiran pemuda satu itu menjadi kacau. Di satu sisi dia senang melihat Lacy berada di depannya, namun di sisi lain dia tidak ingin bertarung melawan gadis itu. Selain karena rumornya, pemuda itu juga takut dia tidak diterima dan menjadi gelandangan.


Lacy menghela nafasnya panjang. Gadis itu mencengkram pedang yang berada di kedua tangannya dengan erat. Saat ini dia benar-benar berhati-hati. Beda dengan peserta yang lain, dia tidak tahu asal usul pemuda dihadapannya. Dia juga tidak tahu jenis sihir apa yang dipakainya.


Keduanya tampak tegang. Sinyal tanda pertandingan telah dimulai, namun tidak ada dari mereka yang berniat menyerang duluan. Lacy menenggak ludahnya dengan susah payah. Dia berpikir, kalau tidak ada yang berinisiatif mulai duluan, dirinyalah yang dirugikan.


Tanpa pikir panjang lagi, Lacy langsung melompat ke arah Gerald. Gadis itu langsung menghunuskan pedang tepat ke leher pemuda berambut coklat dihadapannya.


Dengan sekuat tenaga Lacy mengayunkan pedang di tangan kirinya. Namun, Gerald berhasil menghindarinya dengan menundukkan tubuh. Pemuda itu langsung menghela nafas lega dan berlari menjauhi Lacy.


Saat ini Gerald benar-benar berada di situasi yang gawat. Dia tidak tahu cara mengaktifkan sihirnya. Pemuda itu memutar otaknya berusaha mengingat orang-orang sebelumnya menggunakan sihir.


Tentu saja Lacy tidak memberikan waktu untuknya berpikir. Gadis itu tetap mengejarnya dengan kedua pedang yang tajam di tangan. Dia mencoba menyerang Gerald dengan kedua pedangnya itu. Namun, semua serangan itu berhasil dihindari oleh Gerald.


Alhasil, lantai arena menjadi retak dan rusak karena terkena serangan gadis kuat itu. Semua orang berdecak kagum, mengagumi kekuatan Lacy. Namun tidak dengan panitia penyelenggara, mereka meringis karena pekerjaan mereka bertambah banyak.


Gerald dan Lacy berlari mengelilingi arena berkali-kali. Sebenarnya Gerald sudah lelah berlari. Pemuda itu jarang berolahraga. Ya, kalian tahu lah, dia adalah pemuda yang malas.


Gerald mengangkat tangannya ke arah Lacy dan mengatakan, "Thread Maker Activated : Thread Prison".


Seutas benang yang panjang keluar dari tangan Gerald. Benang itu melayang mengarah ke Lacy yang masih mengejarnya. Namun sayang, gadis itu dapat dengan mudah menghindar.


"Oh~ sayang sekali, serangan pertama dari Gerald meleset," komentar Fred.


Melihat sihir milik Gerald, semua orang mulai meremehkannya. Mereka mentertawakan pemuda itu. Dilihat bagaimana pun sihir benang milik Gerald akan kalah melawan pedang yang tajam. Lacy bisa saja dengan mudah memotong benang-benang itu.


Apalagi serangan Gerald tidak ada yang bisa mengenai Lacy daritadi. Dia hanya menyerang arah-arah yang random.


Yah, dilihat dari jauh Gerald memang orang yang dirugikan disini. Dia tidak bisa mengendalikan sihir yang dia saja baru tahu cara mengaktifkannya.


Lacy semakin dekat dengan Gerald. Gadis itu semakin yakin kalau pemuda didepannya tidak terlalu kuat. Terlihat seperti pemuda itu baru saja mempelajari sihir. Tujuan Lacy sekarang adalah mengakhiri semua dan beristirahat dengan tenang.


Menurut gadis itu, dia sudah cukup memperlihatkan kemampuannya pada juri. Dia hanya perlu membuat lawannya jatuh.


Lacy menaikkan kecepatannya. Gadis itu berniat memukul Gerald jatuh dengan belakang mata pedang yang tumpul.


Namun, sebelum dia berhasil melakukannya, sebuah dinding dari benang menghalangi jalannya. Gadis itu melihat sekitar dan baru sadar bahwa dia sudah terjebak di dalam sebuah penjara dari benang.


"Huu~ itu cukup susah," ucap Gerald.


Ternyata dari tadi dia sudah memahami cara mengendalikan sihirnya dan membuat jebakan di lantai arena. Memang terlihat seperti dia salah sasaran, tapi sebenarnya memang itu yang dia inginkan.


Lacy menghela nafasnya. Dia berpikir walaupun pemuda itu berhasil menjebaknya, tapi penjara itu tetaplah hanya sebuah benang.


Gadis itu mengayunkan pedangnya berusaha memotong benang-benang itu dan membebaskan diri. Namun, benang itu tidaklah hancur. Malahan benang-benang itu bergerak seperti mendorongnya keluar arena.


Lacy menjadi panik. Dia tidak tahu kalau benang-benang itu cukup kuat hingga tidak bisa dipotong.


Gerald tersenyum bangga. Dia bangga karena bisa memperlihatkan kekuatannya pada Lacy. Bahkan, mungkin dia sudah lupa kalau dia sedang berada di tengah ujian masuk.


Penjara benang milik Gerald terus menerus mendorong Lacy keluar arena. Namun, Lacy tidak kehabisan akal. Gadis itu menancapkan kedua pedangnya ke lantai arena di arah yang berlawanan.


Apa yang dia lakukan? Gadis itu menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan lantai arena menjadi bongkahan. Dia menginjak kedua pedangnya dengan sekuat tenaga dan membuat bongkahan itu menjadi pijakannya di luar arena.


"Oh~ apakah itu diperbolehkan? Membawa lantai arena ke luar arena. Apa itu termasuk keluar atau masih di dalam arena? Bagaimana juri?" tanya Fred pada juri.


Para juri berdiskusi. Bagaimana pun Lacy telah keluar dari arena. Bisa dinyatakan pertandingan itu selesai. Tapi, Lacy membawa lantai arena menjadi pijakannya. Apakah itu masih bisa dilanjutkan?


Salah satu juri mengibarkan bendera tanda pertarungan telah selesai. Berbeda dengan pertarungan yang lainnya, para peserta tidak ada yang bersorak. Semua terdiam karena merasa tidak puas dengan pertarungan itu.


Gerald dan Lacy kembali ke tempatnya masing-masing. Gerald tampak tidak masalah dengan pertarungannya. Menurut pemuda itu, yang terpenting adalah dia telah memperlihatkan kemampuannya.


Saat ini dia hanya bisa berharap hal itu membuat juri puas dan dirinya diterima di sekolah itu.


"Hei, bagaimana kau mengendalikan benangmu agar tidak bisa dipotong?" tanya Emil setelah Gerald kembali.


Gerald mengangkat bahunya tidak tahu. Seingatnya, dia tidak melakukan apa pun. Dia hanya merapal mantra tadi. Darimana dia tahu mantra itu? Pemuda itu pun tak tahu.


Pertandingan dilanjutkan setelah arena yang dihancurkan selesai diperbaiki. Mesin undian itu berputar dan menampilkan nama Mage dan Ladon. Gerald terkejut. Pemuda itu menatap kedua temannya khawatir.


"Baiklah, kami akan segera kembali," ucap Mage.


Gerald menatap Emil. Pemuda itu melihat bahwa Emil biasa saja melihat Mage dan Ladon pergi memasuki aren.


"Apa mereka tidak apa-apa? Bukannya mereka sangat dekat?" tanya Gerald.


"Lalu kenapa? Ini hanyalah ujian. Mereka tidak akan mati."


Ucapan Emil memang benar. Lagipula penilaian ujian ini bukanlah menang dan kalah. Gerald merasa dirinya sangatlah bodoh dan memutuskan untuk melihat pertarungan antara Mage dan Ladon.


Di sisi lain, Lacy sedang merenung. Kepercayaan diri gadis itu menjadi turun karena dia tidak bisa memenangkan pertarungannya. Sudah beberapa kali Mao menenangkannya bahwa masih ada kesempatan untuknya.


Namun, sayangnya gadis itu seperti tidak mendengar perkataan sahabatnya itu. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Gadis itu sudah berputus asa sebelum tahu hasil akhirnya.


"Ooh~ sungguh kekuatan ledak yang sungguh besar dari Ladon. Bagaimanakah Mage akan mengatasinya?"


Suara komentar Fred sungguh mengganggu Lacy. Gadis itu menutup kedua matanya dan menghela nafas. Saat ini dia benar-benar butuh istirahat.


"Menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Mao.


"Entahlah. Mungkin si rambut hijau itu," jawab Lacy ogah-ogah.


"Hm~ menurutku si kacamata yang akan menang." sanggah Mao.


Lacy menatapnya heran. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada Mage yang sedang bertarung.


"Dia terlihat lemah bagiku. Sihirnya pun terlalu lemah."


Mao menggelengkan kepalanya dan berkata, "Entahlah, menurutku dia cukup kuat."


Lacy mengernyit bingung. Dia melihat sekitarnya. Semua orang meneriakkan nama Ladon dan mendukungnya. Bisa dipastikan orang-orang itu sependapat dengan dirinya. Mereka berpikir Ladon lebih kuat dari Mage.


Dari dulu Lacy memang suka heran dengan cara pandang sahabatnya itu. Mereka terlalu berbeda. Entah bagaimana dia bisa berteman dengan Mao. Itu adalah sebuah misteri baginya.


"Terserahmu saja, aku hanya ingin istirahat sekarang."


Lacy kembali memejamkan matanya. Dia sudah tidak peduli siapa yang menang antara Mage dan Ladon. Saat ini dia hanya ingin tidur di kasurnya yang empuk.


Sementara Lacy tertidur, seseorang yang sangat misterius sedang memperhatikan setiap pertarungan ujian masuk itu. Dia memperhatikan dengan seksama dengan matanya yang berwarna keabuan.


"Pendaftar tahun ini cukup kuat. Menarik," gumamnya.


Pertarungan antara Mage dan Ladon berakhir. Mage menang karena Ladon terlempar keluar arena.


Seseorang yang misterius itu tersenyum senang dan pergi dari sana. Meninggalkan tempatnya tanpa jejak sama sekali, tanpa ada yang sadar akan dirinya.