
"Kau tahu, kau bisa menghubungi kami nanti. Tapi lebih baik tidak usah sih."
Gerald menatap jengah Katarine yang berpura-pura menangis mengantar kepergiannya. Dia tahu betul kalau wanita itu sangat senang dirinya meninggalkan rumah.
Sudah saatnya Gerald pergi meninggalkan kediaman Bender untuk tinggal di asrama. Semua pekerja di rumahnya keluar untuk mengantarkannya pergi. Bahkan, Gerald bisa melihat dengan jelas kalau Berner menangis.
Pria tua itu menyeka air matanya menggunakan sapu tangan berwarna violet miliknya.
"Sudahlah, berhenti menangis. Kau membuatku merasa aku sudah mati," ucap Gerald pada kepala pelayan kediaman Bender itu.
"Maafkan saya tuan muda, saya terharu melihat anda keluar dari kediaman ini."
"Ya, aku keluar dan menjadi gelandangan. Wah- sungguh menyenangkan sekali," ucap Gerald dengan sarkas.
Pemuda itu langsung membalikkan badannya dan pergi memasuki kereta kudanya. Dia tidak mau lagi berhadapan dengan orang-orang itu. Sekarang, dia sudah memiliki sebuah hidup yang baru dan Gerald sangat menantikan hal itu.
"Nak, apa kau sudah membawa semua barangmu?" tanya Harmin. Dengan acuh tak acuh, Gerald menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati ya."
Gerald menatap sendu wajah Harmin. Selama 16 tahun hidupnya, dia sangat dekat dengan pria itu. Banyak kenangan yang berkesan bagi Gerald. Walaupun Gerald tahu dia bukanlah ayah kandungnya, namun dia cukup senang bisa bertemu dan kenal dengannya.
Gerald mengalihkan wajahnya. Dia merasa akan menangis jika tinggal lebih lama. Dia tidak sanggup menatap wajah Harmin dan Katarine. Mereka cukup baik padanya, meskipun kadang menyebalkan.
Kereta kuda Gerald berjalan perlahan. Katarine dan Harmin menatapnya sampai kereta kuda itu tidak terlihat lagi.
Katarine menatap wajah suaminya. Dia paham betul jika dia khawatir pada Gerald. Walaupun begitu, Gerald adalah anak satu-satunya. Dia lah yang selalu membuat rumah yang besar itu terasa ramai.
"Sayang, tugas kita sudah selesai. Sekarang adalah tugasnya untuk mencari tahu tentang dirinya."
Harmin menganggukkan kepala. Pria itu menyunggingkan senyum manisnya pada istrinya tercinta. Dia merangkul Katarine dan mengajaknya masuk ke rumah.
Di waktu yang bersamaan, seseorang yang misterius tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Seseorang itu terus-menerus bergumam seakan sedang berbicara dengan orang lain.
Dia menghela nafasnya. Seseorang itu mengalihkan pandangan ke arah jalannya kereta kuda milik Gerald pergi. Tanpa menunggu lebih lama, seseorang itu langsung melesat pergi menuju arah yang sama dengan kereta kuda milik Gerald.
...****************...
"Hoahmm~"
Gerald menguap. Dia begitu lelah karena harus menempuh jarak yang begitu jauh. Dari tadi dia sudah berusaha untuk menutup matanya dan tidur. Namun, dikarenakan jalan yang berbatu, dirinya terus terbangun.
"Pak, tolong jalan pelan-pelan. Saya mau istirahat sebentar," ucapnya.
Sebenarnya Gerald tidak terlalu buru-buru. Toh, nanti dia akan pergi menggunakan portal sihir untuk cepat sampai ke sekolah Alphrolone.
"Baik, tuan," balas sang kusir.
Gerald kembali menutup matanya. Pemuda itu tampaknya benar-benar lelah. Selang beberapa menit saja, pemuda itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Di dalam tidurnya, dia bermimpi sedang menyusuri sebuah kota yang sangat indah. Orang-orang disana sangatlah ramah. Wajah mereka dipenuhi oleh senyuman yang menenangkan hati. Jujur, Gerald tidak benci suasana itu.
Gerald melangkahkan kakinya menyusuri kota yang dipenuhi dengan warna kuning matahari tersebut. Entah karena pengaruh warnanya atau apa, pemuda itu merasa hangat melihatnya.
Baru pertama kali dia merasakan hal tersebut. Gerald menjadi nyaman dan tidak ingin pergi dari kota tersebut.
Semua orang seperti bahagia berada disana. Anak-anak berlarian kesana kemari sembari tertawa. Para pedagang bersahut-sahutan menawarkan barang dagangannya. Para pembeli sibuk menawar. Dan dirinya berdiri di tengah-tengah mereka, mengagumi setiap pemandangan yang terlihat oleh matanya.
"Terpujilah sang penguasa Mantauna, penyelamat negri ini."
Sebuah suara mengejutkan Gerald yang masih melihat-lihat. Semua orang disekitarnya mulai membuat jalan dan bersorak-sorai untuk orang yang dipanggil sang penguasa Mantauna itu.
Awalnya Gerald bingung, namun dia mengikuti yang lain untuk menyingkir ke tepi jalan. Tak lama kemudian, datanglah segerombolan orang yang menunggangi kuda melewati jalan itu.
Gerombolan itu dipimpin oleh seorang pria tampan nan gagah yang sekali lihat saja, Gerald bisa menyimpulkan kalau dia adalah seorang bangsawan. Rambutnya yang berwarna keemasan, serta bajunya yang tampak begitu mewah sudah memperlihatkan semuanya.
Gerald menghela nafasnya panjang. Dia tidak terlalu suka tontonan berbau politik seperti ini. Dia membalikkan badannya dan melangkah pergi dari kerumunan itu.
Pemuda itu lebih memilih untuk menyusuri kota daripada berdiam diri mengagumi seorang bangsawan yang bahkan tidak dia kenal.
Tentu saja, setiap kali Gerald melangkahkan kaki, hanya suara decakan kagum yang terdengar dari mulutnya. Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya melihat kota itu. Semuanya seakan nyata, bukanlah sebuah mimpi semata.
Gerald menghentikan langkahnya didepan gerbang yang dijaga oleh dua orang dengan zirah besi melekat di badan mereka. Pemuda itu yakin kalau tempat itu adalah tempat yang sangat penting dan tentu saja tidak sembarang orang boleh masuk.
Gerald pun langsung membalikkan badannya, berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun, sebuah suara menahannya. Dia segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
Disana, Gerald dapat melihat dengan jelas seorang gadis kecil yang berusia sekitar 7 tahun-an tengah melayang terbang menuju dirinya. Gerald yang memiliki refleks yang jelek, tentu saja tidak bisa menghindarinya. Alhasil, dia dan gadis itu bertabrakan.
Gerald meringis kesakitan. Dia terbaring di tanah dengan gadis kecil itu berbaring di atas dirinya.
Gadis itu langsung menyingkir dari atas tubuh Gerald dan segera meminta maaf karena perilakunya.
Sejenak Gerald tercengang melihat gadis di depannya. Bagaimana tidak? Gadis kecil itu sangatlah mirip dengan Lacy, gadis yang dia sukai.
Wajahnya memang tidak terlalu mirip, tapi rambutnya yang lurus dan panjang serta berwarna putih itu lah yang membuat Gerald menjadi teringat akan Lacy.
"Kakak, apa kau tidak apa-apa? Apakah kepalamu terbentur?" tanya gadis itu khawatir.
Gerald segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Dengan senyumnya yang bodoh, pemuda itu berkata, "Aku tak apa-apa. Bagaimana denganmu?"
Gadis kecil itu tersenyum senang dan berkata kalau dia tidak apa-apa. Gerald mengalihkan pandangannya. Senyuman gadis kecil itu sangatlah manis. Mungkin, jika Gerald seumuran dengan gadis cilik itu, dia akan langsung menyukainya. Sayang, dia hanyalah seorang gadis kecil. Niu~ niu~
"Ehem~"
Gerald berdehem berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh di kepalanya.
"Kakak siapa? Sepertinya kakak bukan penduduk disini. Kakak datang darimana?"
Gerald menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pemuda itu tidak dapat menahan keimutan gadis itu. Rasanya dia ingin berteriak dan memeluk gadis itu dengan erat.
Sekali lagi, Gerald berdehem dan dia memosisikan dirinya agar sejajar dengan mata gadis di depannya.
"Namaku Gerald. Aku datang dari kota seberang. Siapa namamu?"
Gerald sebenarnya tidak tahu dia ada dimana. Dia hanya menjawab asal tentang asal-usul kedatangannya, toh gadis itu juga tidak akan menyadarinya.
"Namaku..."
Belum selesai gadis itu berbicara, sebuah suara seakan memanggil Gerald. Pemuda itu tidak bisa mendengar dengan jelas jawaban gadis itu. Dirinya seperti ditarik paksa ke dunia nyata dan semua menjadi gelap bagi Gerald.
Begitu membuka mata, Gerald dapat melihat kereta kudanya sudah hancur berantakan. Dia juga dapat melihat seseorang dengan jubah hitamnya tengah bertarung melawan kusir kereta kudanya.
Gerald tentu saja bingung dengan apa yang terjadi. Dia berada di tempat yang asing dan tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia yakin kalau itu bukanlah jalan menuju portal sihir menuju sekolah Alphrolone, tapi bagaimana dia bisa sampai disini?
Gerald terbengong melihat pertarungan antara kusir dan seseorang misterius itu. Pemuda itu tambah bingung ketika melihat sang kusir ternyata bisa memakai sihir.
Setahunya, tidak ada kusir kereta keluarganya yang bisa memakai sihir. Tentu saja hal ini adalah peraturan dari Katarine. Sebenarnya Gerald juga tidak begitu mengerti kenapa kusir kereta keluarganya harus seorang nulla dan selama ini dia tidak pernah mempermasalahkannya.
Tapi, Gerald hanya bingung saja dengan pemandangan di depannya. Sang kusir mengeluarkan sihir api miliknya, sedangkan seseorang yang misterius itu menangkis semua sihir itu dengan hanya sebilah pedang miliknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" gumamnya.
Sihir api milik sang kusir seakan menampar Gerald untuk segera tersadar. Sihir itu bukanlah untuk mempertahankan diri, namun sebuah sihir yang ingin membunuh si orang misterius.
Sihirnya sangatlah hebat, sampai-sampai Gerald yang berdiri cukup jauh dari mereka pun merasakan panasnya. Tanpa sadar pemuda itu berteriak karena panas api itu.
Namun, hal itu membuat sang kusir mengalihkan perhatian padanya dan tanpa basa-basi, kusir itu melompat menuju Gerald. Sepertinya dia berniat untuk membunuh pemuda itu. Tapi kenapa?
Gerald menutup matanya rapat-rapat. Apa yang dia harapkan? Refleksnya sangatlah buruk. Dalam mimpi saja dia bertabrakan dengan gadis kecil, apalagi di dunia nyata. Kemana pun dia pergi, dia tetap akan mati.
Akan tetapi, ditunggu beberapa lama pun tubuhnya tidak terasa sakit sama sekali. Gerald memberanikan diri untuk membuka matanya. Disana, dia dapat melihat sang kusir sudah tergeletak di tanah sambil bersimbah darah.
Didepannya, si orang misterius berjubah tengah berdiri sembari membelakangi dirinya. Gerald mengalihkan pandangannya menuju pedang orang itu yang sudah berlumuran darah. Dia yakin kalau orang itu lah yang sudah membuat sang kusir tergeletak di tanah.
"T-terimakasih?" ucap Gerald terbata-bata.
Dia merasa takut dengan orang itu. Walaupun dia sudah menolongnya, tapi bisa saja orang itu berniat menghabisinya juga.
"Jika kau keluar dari hutan ini dan belok kiri kau akan menemukan portal menuju sekolah Alphrolone."
Gerald tercengang mendengar ucapan orang itu. Apakah dirinya terlalu mudah dibaca hingga orang itu tahu kalau dirinya bersekolah di Alphrolone tanpa dia beritahu.
Namun, dia tidak ingin memperpanjang masalah dan menuruti perkataan orang itu untuk segera keluar dari hutan. Meninggalkan orang misterius itu bergumam sendirian.
"Target sudah menuju titik," gumam orang itu.
Dia membuka tudung jubahnya dan menunjukkan rambutnya yang berwarna putih.
"Terkutuk kau pengkhianat."
Orang itu menatap sang kusir yang sudah hampir sekarat, meronta-ronta. Tanpa belas kasihan, orang itu lansung menancapkan pedangnya ke punggung sang kusir dan dengan sekejap mengakhiri hidupnya.
"Bukan kami yang pengkhianat, tapi kalian lah yang terlalu bodoh."
Seseorang itu menutup kembali tudung jubahnya dan melesat pergi memasuki hutan yang lebih dalam.