Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 28



Langkah Louise terdengar sangat jelas melewati lorong yang panjang. Pria itu tampak sangat marah begitu mengetahui hutan yang dia lindungi dibakar begitu saja oleh seseorang. Hutan itu hangus tak bersisa. Untuk memadamkannya pun sangat menguras energi.


Suara gertakan giginya sangatlah keras, membuat Harmin yang berjalan dibelakangnya terus-menerus menelan ludahnya.


"Jadi, apa yang kau lakukan sebenarnya? Pekerjaanmu tidak ada yang benar. Kau bahkan tidak bisa menemukan Hugo dan Tanaya sampai sekarang. Ditambah dengan hutan Praesidium yang terbakar habis."


Harmin sedikit terperanjat kaget ketika mendengar teriakan atasannya itu. Mata merahnya menyala terang, dan cahaya sihir milik pria itu membuat nafasnya tercekat.


"Jawab aku, Harmin. Apa kau mau mengulang kejadian malam itu?" tanya Louise sedikit berbisik.


Harmin menggeleng. Jelas dia tidak mau mengingat apalagi mengenangnya. Kejadian itu sungguhlah mengerikan daripada amarah Louise. Mengingatnya saja membuatnya ingin muntah. Bekas luka yang terukir saat itu kembali terasa nyeri.


"Bagus, sekarang kembali ke kota Selene dan temukan Hugo. Aku yakin dia tidak akan pergi jauh. Dia akan tahu mana pihak yang harus dia percayau," lanjut Louise masih dengan sedikit berbisik.


Sebenarnya, ketika Louise berbicara seperti itu, malah membuat suasana tambah menakutkan bagi Harmin. Setiap kata dari pria yang bahkan lebih muda dari Harmin itu seakan mengancam.


"Apa yang kau tunggu??!! Cepat cari dan bawa dia ke hadapanku!!!" teriak Louise.


Harmin pergi dari hadapannya Louise dengan tergesa-gesa. Dia bahkan hampir terjatuh. Namun, Louise tidak peduli. Terlalu banyak masalah yang harus dia selesaikan. Kepalanya serasa mau pecah menghadapinya.


"Tidak kusangka hutan Praesidium dibakar. Siapa sebenarnya yang melakukannya. Apa penyihir tinggi? Atau para raja?"


Louise memijat-mijat kepalanya yang berdenyut. Dia kembali menghela nafasnya panjang. Seharusnya dia tidak terlibat dengan semua ini. Dia sangat benci dalam hal memikirkan taktik berperang, dan masalah politik.


Sejak kecil, dia selalu menjauhi permasalahan politik. Itu karena dia hanya berfokus pada menyerang. Dia tidak akan pernah berpikir kalau dirinya akan melakukan ini semua sendirian. Tanpa keluarganya, tanpa adik kesayangannya.


Louise mengacak-acak rambut putihnya dengan frustasi. Dia hanya bisa berharap ini semua berakhir dan tidak ada lagi penderitaan baginya. Dia terlalu malas untuk memikirkan hal-hal berbau politik ini.


"Kita tidak punya banyak waktu. Kita juga tidak bisa terus-terusan mempercayakan pekerjaan ini pada Harmin."


Sebuah suara mengusik Louise. Dia menolehkan kepalanya ke arah kanan. Sembati berdecak kesal, dia berkata, "Diam. Kau tidak punya hak berbicara seperti itu. Kau juga sama tidak bergunanya dengan Harmin."


Louise melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan dengan pintu kayu yang terlihat sangat berat. Dia mendobrak pintu itu dengan cara ditendang.


"Kalau kau memerintahku seperti tadi, aku akan menghilangkanmu sekarang juga," tegas Louise entah pada siapa.


Ruangan yang dia masuki kosong. Bahkan, perabotan pun tak ada. Disana hanya ada dirinya dan bayangannya.


"Hah~ancamanmu selalu sama. Nyatanya, kau tidak akan bisa menghilangkanku. Kau membutuhkanku sebagai matamu, benar kan?"


Louise menggeram kesal. Wajahnya tampak memerah karena menahan amarah. Pria itu memukul-mukuli angin sembari terus bergumam, "Enyah kau, pergi kau."


"Hahaha~apa gunanya memukul udara? Dasar orang gila"


"Diam!!! Jangan berbicara lagi. Aku tidak mau mendengar suaramu. Kau adalah aku, kau hanyalah proyeksi sihir yang kubuat!!" bentak Louise.


Pria itu sepertinya sangat kesal. Hal-hal yang membuatnya naik pitam, terus berdatangan. Cahaya sihirnya mulai menyelimuti dirinya lagi.


"Wo~wo~ bung, kau tidak bisa berbicara tentang proyeksi sihir sembarangan. Sihir itu tidak pernah diajarkan di sekolah, dan orang-orang tidak tahu kalau ada sihir itu. Hanya kau dan keluargamu yang tahu, karena mereka-"


"Diam!!" potong Louise.


Pria itu menutup telinganya rapat-rapat. Dia melangkahkan kakinya menuju kaca jendela yang bisa menampilkan bayangannya. Sambil menatap sesosok bayangan yang hanya tampak di pantulan kaca jendela itu.


"Kalau kau terus mengeluarkan omong kosongmu, aku betul-betul akan menghampirimu dan mengambil kesadaranmu."


Sosok itu hanya terdiam. Dia tidak lagi memprotes perkataan Louise. Lama kelamaan, sosok itu menghilang seperti abu yang ditiup angin.


Dia mengelilingi ruangan kosong itu sembari menggumamkan sesuatu. Entah apa yang dia gumamkan, namun tiba-tiba dia terperanjat kaget dan segera pergi ke suatu tempat.


...****************...


"Bos, apa kau tidak bosan terus melamun seperti itu? Ini sudah waktunya merekrut anggota baru. Gerald sudah jarang kesini, dia sudah pergi ke asrama sekolahnya," ucap Noya.


Entah sudah berapa hari, Alven terus-terusan melamun dia kantor dan tidak keluar seperti dia yang biasanya. Jujur, Noya sangat terganggu mendengar helaan nafas dari bosnya itu. Sangat merusak pendengarannya.


Noya lebih memilih Alven pergi dari kantor, daripada melihatnya tiap hari. Ayolah~biasanya pria itu memiliki banyak kerjaan di luar. Entah itu mencari anggota, atau hanya sekedar membantu orang lain. Apa pun itu, asalkan Noya tidak harus melihat Alven tiap hari.


"Hah~aku capek. Energiku terkuras. Aku mau berhenti kerja saja. Apa tidak ada kerjaan yang bisa ongkang-ongkang kaki?"


Noya memutar bola matanya jengah. Kalau ada pekerjaan yang seperti itu, dia akan langsung keluar dari pekerjaannya sekarang. Itu adalah ide yang bagus untuk tidak melihat wajah menjengkelkan Alven.


"Andai saja ada hujan uang yang-"


"Permisi."


Perkataan Alven terpotong oleh suara dari seorang wanita yang masuk. Alven dan Noya terdiam sejenak. Namun, dengan cekatan Alven langsung bersikap ramah bak sales-sales lainnya.


"Ehem, selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah.


"Ah, kebetulan saya liat brosur ini di jalan. Saya penasaran sama fasilitasnya, apa boleh saya liat-liat dulu?" tawar wanita itu.


Tentu saja, dengan senang hati Alven langsung mengajak wanita itu ke ruangan dimensi paling kanan. Dia menjelaskan semua tawaran-tawaran menggiurkan yang disediakan oleh usahanya.


Wanita itu menganggukan kepalanya sembari melihat ke sekitar. Dia berdecak kagum melihat betaoa luasnya ruangan itu. Semua perlengkapannya pun lengkap.


"Wah, tempat ini sangat bagus. Cocok sekali untuk membantuku berlatih sihir," ucap wanita itu.


"Benar sekali, hanya dengan 259 mont saja anda bisa mendapatkan semua fasilitas dari kami."


Alven mengeluarkan kertas brosur tempatnya. Namun, wanita itu tidak begitu peduli. Dia langsung meminta kontrak anggota pada Alven dan menandatanganinya tanpa basa-basi.


Alven lumayan terkejut. Bahkan, wanita itu langsung memberikannya 300 mont dimuka. Mata Alven menyipit. Dia mencurigai wanita itu sebagai penipu.


"Oh, apakah kurang? Aku akan memberimu 100 mont lagi," ucap wanita itu sembari memberi Alven 100 mont.


Alven mengerjapkan matanya bingung. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia bisa menerima uang itu dan percaya padanya.


Namun, Alven tidak mau ambil pusing didepan uang. Dia dengan senang hati menerimanya. Senyumnya terukir lebar di wajahnya.


"Baik, silahkan liat-liat dulu, atau mungkin ibu mau coba fasilitasnya? Silahkan. Saya akan menunggu di luar."


Alven membalikkan badannya, berniat keluar dari ruangan itu. Tapi, langkahnya ditahan oleh wanita itu.


"Eee~aku...boleh tanya sesuatu nggak?" ucap wanita itu sedikit menggoda Alven.


Sebagai seorang laki-laki, tentu Alven sedikit tergoda olehnya. Tanpa sadar, dia menganggukkan kepalanya. Pria itu memperlihatkan wajah bodohnya dihadapan wanita itu.


Sedangkan, si wanita mendekatkan wajahnya ke telinga Alven dan berkata, "Apa kau tahu dimana Lacessca berada?"


Alven mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti kenapa wanita itu bertanya hal yang tidak diketahuinya. Namun, ketika dia mendengar kata-kata wanita itu selanjutnya, wajahnya berubah menjadi ketakutan. Tubuhnya bergetar dan keringat mulai membasahi dahinya.


Wanita itu berkata, "Hugo".