Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 26



Gerald menghela nafasnya panjang. Dia dan teman kelompoknya harus menghadap Nosen, guru kedisiplinan, atas kekacauan yang mereka buat. Pemuda itu diomeli selama 8 jam non-stop. Telinganya panas dan hampir berdarah.


Hari sudah berganti malam. Mau tidak mau, mereka harus kembali ke asrama untuk beristirahat. Selama perjalanan menuju asrama, tidak ada yang mau berbicara dengan Gerald. Dia ditinggal sendirian di belakang, sedangkan yang lainnya berjalan lebih dulu di depan.


Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Setiap kali dia bertanya pada temannya, dia selalu diabaikan. Mereka selalu mengganti topik dan tidak mau menjelaskannya pada Gerald.


"Hei, apa kalian mau mengabaikanku terus? Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa. Terakhir kali yang kuingat hanya aku berusaha kabur dari anggota osis itu," ucap Gerald.


Dia capek karena harus mengulang perkataan yang sama didepan mereka dan didepan sang guru kedisiplinan. Ketika dia sadar, dia sudah ada di koridor dan melihat tubuh Konny yang tergeletak di lantai sambil bersimbah darah.


"K-kalau begitu kami akan kembaku ke asrama duluan, dah."


Gerald mengernyit bingung. Kannon, yang biasanya selalu mencari perhatiannya, sekarang malah menjauhinya. Sorot matanya menunjukkan ketakutan. Begitu pun dengan yang lainnya, kecuali Mage dan Lacy. Kedua orang itu malah melihat Gerald dengan tatapan penuh kehati-hatian. Seakan, mereka melihat Gerald sebagai musuh.


"Apa aku seorang penjahatnya disini? Oh, ayolah...aku tidak ingat apa-apa," ucap Gerald membela dirinya.


"Aku tidak mengatakan apa-apa," ujar Mage sembari meninggalkan Gerald untuk pergi menuju asrama.


Gerald termenung. Dia ditinggal sendirian oleh teman-temannya. Namun, apa yang bisa dia perbuat? Dia tidak merasa telah menyakiti Konny. Tapi, yang punya sihir benang hanya dirinya.


Pemuda itu berdecak kesal karena tidak bisa mengingat apa-apa. Kepala serasa mau pecah jika terus mencoba mengingatnya. Dia pun berjalan di sekitar asrama untuk menyegarkan pikirannya. Berharap, semua ini akan cepat berlalu.


Namun, mau sekeras apa pun dia berusaha, pikiran itu selalu terlintas. Dia berusaha mengalihkan pikirannya dengan membahas makanan kesukaannya, tapi kembali ke topik utama. Begitu terus hingga pagi menjelang, dan pemuda itu tidak tidur semalam.


Mata Gerald tampak lesu. Dia ingin beristirahat di kasurnya yang empuk, namun dia ada kelas pagi ini. Gerald pun melangkahkan kakinya yang lemas menuju ruang kelas.


Dipertengahan jalan, dia bertemu dengan teman-temannya. Dengan suara yang parau, dia menyapa mereka.


"Apa kau semalaman disini?" tanya Mage.


Gerald menganggukkan kepala. Dia berkata, "Aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Ingatanku buruk, aku jadi stress. Tapi, sekarang butuh tidur."


Pemuda itu juga bergumam, "Aku tidak salah, aku tidak ingat apa-apa."


Mage bertukar pandang dengan Emil dan Ladon. Mereka merasa iba dengan temannya itu. Mereka juga sempat menyuruhnya untuk beristirahat di UKS, namun Gerald menolak dengan alasan tidak ingin bolos.


Alhasil, Gerald menghadiri kelas sambil menahan rasa kantuknya. Dia pun sempat beberapa kali dimarahi karena tertidur di kelas.


"Aarrghh~aku capek," keluh Gerald setelah selesai kelas pagi.


"Sudah kusarankan kau untuk tidur saja di UKS," ujar Mage.


Gerald menggeleng. Dia berpikir, kalau dia bolos setelah membuat keonaran, reputasinya akan bertambah buruk. Bisa-bisa dia dikeluarkan dari sekolah, dan diusir dari asrama. Dia akan menjadi gelandangan dan dia tak mau hal itu terjadi. Memikirkan hal itu saja, Gerald sudah bergidik ngeri.


"K-kalau tidak salah kelas kemampuan bertarung."


Gerald menatap Emil yang masih segan untuk berbicara dengannya. Pemuda berambut pink itu masih takut untuk menatap matanya. Begitu juga teman sekelasnya yang lain. Mereka takut untuk berbicara didepannya. Bahkan, saat Gerald masuk, suasana kelas menjadi hening. Tidak ada yang berani bicara.


Sebenarnya Gerald berpikir kalau itu adalah hal yang bagus karena mereka tidak meremehkan dirinya lagi. Namun, dia merasa tidak nyaman dengan perlakuan itu. Dia bukanlah orang yang jahat. Dia juga bukan orang yang cepat terbakar emosi. Dia juga tidak ingat dia sudah melakukan hal itu ke Konny.


Lagi-lagi, Gerald merasa canggung. Untungnya, masih ada Mage yang bersikap sama padanya. Ya, Gerald tahu kalau pemuda itu tidak akan mudah takut pada orang sepertinya yang baru saja tahu tentang sihir.


"Ck, cepatlah sedikit! Kalian menghalangi jalanku."


Sebuah suara mengagetkan Gerald. Mereka menoleh secara bersamaan, dan mendapati seorang pemuda berbadan kekar tengah menatap mereka marah. Gerald menyingkirkan tubuhnya kesamping agar orang itu bisa lewat.


Namun, perkataan dari pemuda itu selanjutnya, membuat dia terdiam menahan amarah. Dia berkata, "Ck, apa yang ditakutkan orang-orang itu dari orang lemah ini."


"Hei, kau bilang apa tadi?" tanya Mage.


"Apa? Apa aku salah? Dia hanya penyihir dengan jenis sihir yang lemah. Konny kalah hanya karena dia lengah. Tapi, aku berbeda dari pria kurus kering itu. Sihirku lebih kuat darinya."


Gerald memandang tak suka pada pemuda itu. Lagi-lagi, ada yang meremehkan mereka. Padahal dia sudah agak senang karena tidak ada yang mencemooh mereka. Namun, ternyata masih ada orang yang berpikiran seperti penuda itu.


"Maafkan aku bung, namaku Gerald, senang berkenalan denganmu."


Gerald mengulurkan tangannya. Namun, tangan itu ditepis mentah-mentah oleh pemuda bertubuh kekar dihadapannya.


"Hah! Mana sudi aku menjabat tangan orang yang lemah. Aku, Javandille Cruise, adalah penerus dari kerajaan Crandle di West Mantauna. Aku tidak butuh orang lemah sepertimu."


Pemuda kekar itu pergi meninggalkan Gerald yang masih menahan amarahnya. Dia menghela nafas panjang dan berkata, "Aku benci dia, apa kita sekelas dengannya?"


"Tidak, tapi untuk kelas kali ini kita akan melawan kelasnya," jelas Mage.


Gerald mengernyit kebingungan. Melihat itu, Mage melanjutkan, "Di kelas kemampuan bertarung ini, kita akan kelas mereka."


Gerald menganggukkan kepala, mengerti. Dia segera mempercepat langkahnya menuju kelas dan memikirkan cara agar dia bisa mengunci rapat-rapat mulut sombong pemuda bertubuh kekar itu.


Senyuman miring terlukis di wajahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang menantikan ekspresi marah dan kesal dari Javandille.


"Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang gila, lagi," ujar Ladon pada Mage.


"Ya, dia memang selalu seperti itu."


Mage, Ladon, dan Emil mengikuti Gerald dari belakang. Mereka terus bergosip dengan tingkah Gerald yang terlihat menyeramkan.