
Hari telah berganti malam. Semua peserta dipulangkan untuk beristirahat. Gerald telah kembali ke kamarnya. Pemuda itu melamun menatap bulan di luar jendela.
"Wah~aku baru tahu kau orang yang sangat melankolis," goda Mage.
Gerald menghiraukannya dan tetap menatap bulan yang bersinar terang. Dari dulu Gerald memanglah anak yang melankolis. Dia selalu suka memandang indahnya pemandangan. Sayang saja dia tidak bisa merangkai kata. Kalau bisa, mungkin dia sudah menjadi seorang penyair.
"Mikirin apa sih?"
Gerald menatap Emil yang bertanya. Pemuda itu menatap temannya dengan tatapan kosong. Jujur saja, dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tapi, entah mengapa dia selalu suka melamun menatap pemandangan yang indah.
Pemuda itu tersenyum tipis. Dia sedang merasa bahagia sekarang. Entah apa yang ada dipikirannya. Mungkin saja dia benar-benar sudah gila karena telah diusir dari rumah.
"Ah!!!!!" teriak Gerald.
Emil, Mage, dan juga Ladon tersentak kaget karenanya. Mereka menatap heran Gerald yang mengacak-acak rambutnya frustasi. Pemuda itu mulai menggigiti kuku jarinya.
"Apakah dia sudah gila?" gumam Mage.
Gerald mulai mengelilingi kamarnya. Dia seperti sedang frustasi memikirkan sesuatu. Bisa dilihat dari raut wajahnya bahwa dia benar-benar kacau sekarang.
Emil, Mage, dan Ladon saling bertukar pandang. Dalam pikiran mereka, mereka ingin membuang jauh-jauh pemuda berambut coklat itu ke sungai agar dia lebih tenang. Gerald sangat mengganggu ketenangan malam ini.
Malam dimana semuanya sudah lelah karena ujian dan ingin beristirahat, diganggu oleh teriakan frustasi seorang pemuda. Emil hanya bisa menunggu dengan cemas jikalau ada salah satu peserta yang datang ke kamar mereka untuk protes.
Dug..dug...dug..
"Bisakah kalian tenang sedikit?"
Suara gedoran di pintu kamar mengagetkan Gerald. Pemuda itu terdiam sejenak dan mengalihkan pandangan ke arah temannya. Disana, dia bisa melihat Emil yang tengah memasang senyum kecutnya.
"Maaf," sahut Gerald.
Pemuda itu menghela nafasnya panjang. Dia merasa bersalah sekarang. Dia melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya dan duduk tenang menghadap teman-temannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Emil khawatir.
"Aku..."
Emil, Mage, dan Ladon menunggu dengan antusias perkataan Gerald.
"Aku lupa lihat ekspresi Arnold. Harusnya aku bisa menyombongkan diri didepannya tadi. Arrgghh~" ucap Gerald sembari mengacak-acak rambutnya lagi.
Emil dan juga Mage beralih memasang wajah tidak pedulinya. Tentu saja itu yang ada dipikiran Gerald. Pemuda itu terlalu sederhana untuk memikirkan hal-hal yang rumit. Tidak mungkin dia sefrustasi itu karena hal yang serius.
Ketiga teman Gerald menghela nafasnya panjang dan pergi ke tempat tidur masing-masing. Mereka sudah lelah dan tak mau lagi berurusan dengan keanehan Gerald.
"Loh? Kok kalian udah mau tidur sih?" tanya Gerald.
"Ini sudah hampir tengah malam. Kau juga tidurlah. Besok masih ada ujian," ucap Mage.
Gerald menggeram kesal. Dia tidak ingin tidur sekarang. Lagipula, dia sudah maju untuk ujian. Besok hanyalah ujian untuk peserta yang belum maju, sedangkan yang sudah, bebas mau kemana saja.
Pemuda itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dia pergi untuk mengelilingi sekolah. Yah, pemuda itu memang kurang kerjaan. Jadi inilah saatnya untuk mencari pekerjaan. Apa itu? Membuat masalah. Mwehehehe~
...****************...
"Hah~Indahnya pemandangan malam ini," seru Mao.
Gadis itu tengah berjalan di taman sekolah Alphrolone. Bersama dengan temannya Lacy, gadis itu mengelilingi taman itu dengan perasaan senang. Sudah sangat lama dia ingin pergi kesana.
Taman sekolah milik Alphrolone memanglah terkenal akan keindahannya. Taman itu dibuat dengan sangat teliti oleh penyihir Builder dari sekolah. Bunga-bunga cantik disana pun hasil kerja keras dari para murid.
Sejak kecil, Mao memang sangat suka dengan tanaman. Entah karena sihirnya yang berupa belukar, atau karena dari kecil dia ikut membantu ibunya untuk mengurus bunga-bunga. Apa pun itu, dia sangat suka untuk mempelajari tentang tanaman.
"Mao, mau berapa lama lagi kau berkeliling? Aku sudah capek, mau tidur," ucap Lacy.
Lacy memanglah sangat sayang pada satu-satunya sahabat miliknya itu. Dia selalu mau pergi menemani Mao. Gadis itu berperan sebagai seorang pengawal disampingnya. Sungguh teman yang sangat bisa diandalkan.
"Tunggu sebentar lagi," balas Mao.
Lacy menghela nafasnya. Dia benar-benar kelelahan sekarang. Dari awal ujian, dia tidak fokus karena sudah terlalu lelah.
Tak lama, terdengar suara berisik dari semak-semak di dekat mereka. Lacy dengan sigapnya melindungi Mao dan memasang kuda-kuda siap menyerang.
Kedua gadis itu menunggu dengan perasaan cemas. Masalahnya, mereka takut itu adalah seekor Beast. Namun, mereka bisa bernafas lega. Karena yang datang ternyata adalah Gerald.
"Oh, sedang apa kalian disini?" tanya Gerald sembari melangkah mendekati mereka berdua.
"Kau sendiri sedang apa disini?" ucap Lacy ketus.
Lacy memasang wajah seperti ingin muntah setelah mendengar ucapan Gerald. Gadis itu sudah banyak bertemu dengan laki-laki penggoda seperti Gerald. Jawaban yang tepat untuk laki-laki seperti itu adalah menghiraukannya.
Lacy menarik tangan Mao untuk meninggalkan pemuda itu. Dia tidak mau berurusan dengan orang sepertinya.
"Loh? Sudah mau pergi? Padahal kita baru ketemu loh,"
Gerald mengikuti kedua gadis itu dari belakang sambil terus mengoceh. Pemuda itu tak henti-hentinya memanggil nama Lacy dan menyuruhnya berhenti.
Lacy yang sudah muak itu pun membalikkan badannya dan berteriak untuk membuat Gerald diam. Tindakannya berhasil membuat pemuda itu diam. Namun, itu juga berhasil membuatnya terdiam.
Saat berbalik, Lacy dapat melihat dengan jelas ada seekor Beast yang berdiri di belakang Gerald dengan air liurnya yang menetes. Gerald tampaknya tidak sadar ada sosok mengerikan di belakangnya.
Lacy menelan ludahnya dengan susah payah. Saat ini dia tidak memiliki pedangnya. Dia sadar bahwa kekuatannya tidaklah cukup untuk melawan seekor Beast dengan tangan kosong.
Gerald menatap Lacy yang tiba-tiba terdiam. Pandangan gadis itu tertuju ke belakangnya. Dengan perlahan, pemuda itu memutar badannya dan melihat sebuah sosok besar yang menutupi pandangannya.
Setelah mengerti situasi, pemuda tampan itu hanya bisa tertawa canggung di depan sosok itu. Seekor Beast yang berparas seperti beruang dengan tubuh yang besar itu mengaum dengan sangat keras, membuat Gerald hampir terbang karena angin dari mulutnya.
"Wow, mulutmu sangat bau. Kau belum sikat gigi ya?" canda Gerald.
Apa pemuda itu tidak takut? Tentu saja dia takut. Kedua kakinya bergetar dengan sangat hebat. Dia adalah orang yang paling dekat dengan Beast itu. Bisa dipastikan dia orang pertama yang akan dimakan.
Di waktu yang singkat itu, dia mengumpati dirinya sendiri karena berkeliaran di tengah malam dan tidak tidur. Di sisi lain, dia mengutuk sekolah Alphrolone karena tidak memasang protector dengan baik.
"Apa yang kau lakukan? Lari dari situ sekarang juga."
Sebuah suara terdengar sangat jelas di telinga Gerald. Pemuda itu berbalik menghadap Lacy. Dia berpikir gadis itu yang mengatakannya. Tapi, suara ditelinganya lebih mirip suara seorang laki-laki dibandingkan suara seorang gadis.
Gerald mengangkat bahunya dan kembali melihat sosok Beast didepannya. Pemuda itu melayangkan senyum cantiknya berharap itu akan meredakan kemarahan makhluk itu. Tapi, hal itu tidak berhasil. Hal itu malah membuat Beast itu tambah mengamuk dan berusaha menangkap Gerald.
Refleks Gerald kurang cepat dari sosok itu. Dia hampir saja ditangkap dan dijadikan santapan kalau saja tidak ada orang yang menolongnya.
Sesosok pria yang cukup familiar bagi Gerald. Pemuda itu memasang wajah malasnya setelah melihat penutup mata pria itu yang sangat menyebalkan baginya.
"Pak Arnold!" teriak Mao dan Lacy bersamaan.
Kedua gadis itu berlari mendekati Arnold dan Gerald. Sekarang mereka bisa menghela nafas lega karena sudah ada orang yang akan menolong mereka. Apalagi orang itu adalah orang yang terkenal kuat.
"Oh, kukira kau akan membiarkanku mati di tangan binatang itu," sarkas Gerald.
Pemuda itu benar-benar tidak suka ide untuk berterimakasih pada pria menyebalkan itu.
"Haruskah aku melemparkanmu lagi ke mulutnya?"
Gerald menatap Arnold jengah. Candaannya sangat tidak lucu. Bagaimana bisa seorang guru berkata seperti itu? Sungguh tidak berperasaan.
"Ini adalah salahmu sendiri, kenapa kalian keluar di jam segini? Sudah, kalian kembali lah ke kamar. Biar aku yang urus disini."
Arnold langsung melompat kearah Beast itu dan menghabisinya dengan satu tebasan. Darah binatang itu terciprat kemana-mana, termasuk ke arah Gerald yang masih berdiam disana memperhatikan Arnold.
Lacy dan Mao sudah pergi ke kamarnya meninggalkan pemuda itu. Sebenarnya Lacy tidak peduli apakah pemuda itu mengikuti mereka kembali ke hostel atau tidak. Hal terpenting bagi Lacy adalah dia dan Mao sudah selamat dan bisa beristirahat.
"Oh, kau masih ada disini? Kupikir kau sudah terbirit ketakutan," ejek Arnold.
"Haha- sungguh lucu. Tanpa ada dirimu pun aku bisa saja menghabisi Beast itu."
Arnold menganggukan kepalanya malas. Dia mengangkat tangannya setinggi dada dan mengeluarkan cahaya berwarna biru laut. Pria itu mengangkat darah-darah Beast yang terciprat dengan sihirnya.
Arnold memindahkan darah makhluk itu ke dalam sebuah botol yang terikat di pinggangnya. Setelahnya, dia berjalan menghadap Gerald yang masih menatapnya.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan nak?"
Gerald memutar bola matanya kesal. Pemuda itu berdehem dan berkata, "Hari ini aku yang menang,"
Arnold mengernyit heran. Pria itu tidak mengerti apa maksud keponakan tersayangnya itu.
"Pertunjukkanku cukup memuaskan di ujian hari ini. Aku menang dan aku bisa memakai sihir. Akan kubuktikan padamu kalau aku bisa memasuki sekolah ini," ucap Gerald sembari menunjuk wajah Arnold.
Gerald berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu. Senyum kemenangan telukis di wajahnya. Dia sangat bangga pada dirinya yang berhasil mengatakan hal itu di depan pamannya yang sombong.
Sedangkan, Arnold yang melihat Gerald sudah menjauh, tiba-tiba tertawa tebahak-bahak. Di sela tawanya, pria itu berkata, "Oh~keponakanku yang manis. Apa kau lupa aku juga seorang guru disini?"
Arnold menyeka air mata di matanya karena tertawa terlalu lepas.
"Aku bisa membuatmu tidak diterima wahai anak muda. Wahahahaha~"
Tawa jahat Arnold menghiasi malam itu dan menutup hari yang sangat melelahkan.