Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 22



Gerald dan Lacy masih mengelilingi aula sekolah yang luas itu. Mereka berdua menghela nafas lelah. Tidak mereka sangka aula itu sangatlah luas. Diperhatikan baik-baik, sangat luas. Bahkan, mereka hampir putus asa memikirkan cara agar protector-nya bisa bertahan sampai semingu.


"Apa kita menyerah saja?" saran Lacy.


Gerald menggeleng dengan pasti. Walaupun dia hampir frustasi, tapi dia tidak ingin menyerah begitu saja.


Lacy menatap kesal pemuda itu. Mereka bukannya tidak berusaha, tapi mencari solusi terbaik pun mereka tidak bisa menemukannya. Dengan kesal, gadis itu berkata, "Jangan jadi keras kepala. Ini bukan saatnya pamer kekuatan. Untuk satu orang melindungi aula ini dengan protector membutuhkan energi sihir yang sangat banyak."


"Belum lagi ada kemungkinan kelompok lain yang berusaha menyerang. Apa kau lupa kalau protector itu terhubung pada tubuh sang pemakai?" lanjutnya.


Gerald terdiam. Ini bukan masalah keras kepala atau ingin pamer. Dia hanya ingin membuktikan kalau dia mampu dan tidak akan ada lagi yang meremehkan dirinya.


Namun, perkataan Lacy ada benarnya juga. Dia tidak bisa merelakan hidupnya begitu saja untuk ambisinya itu. Pemuda itu menghela nafasnya frustasi. Dia melangkahkan kakinya menuju kursi terdekat. Kepalanya tertunduk mikirkan cara lain yang lebih pas untuknya.


"Aku tidak tahu lagi harus ngapain," keluh Gerald.


Lacy menatap pemuda itu iba. Sebenarnya, dia juga memiliki ambisi untuk membuktikan dirinya. Saat pembagian kelompok tadi, banyak yang mencibir kelompok mereka karena kebanyakan anggota mereka adalah penyihir dengan jenis sihir terlemah dan seorang nulla.


Gadis itu sangat kesal karena diskriminasi ini. Namun, dia kembali tertampar oleh kenyataan. Alih-alih berambisi membuktikan kemampuannya, dia malah terpuruk karena tidak bisa berbuat apa-apa dalam tugas kelompok.


"Bagaimana kalau kita minta pada Mage untuk mengganti lokasi milik kita?" saran Lacy.


Gerald terdiam sejenak. Dia agak ragu kalau pemuda itu akan mendengarkan permintaannya. Namun, apa yang bisa dia perbuat? Dia hanya perlu mengubur pelan-pelan ambisinya itu.


"Ehem~ada perlu apa disini, adik-adik kelasku yang manis?"


Sebuah suara mengalihkan perhatian Gerald dan Lacy. Secara bersamaan, mereka menoleh ke arah sumber suara. Disana, mereka menemukan Fred bersama anggota osis yang lain berdiri di depan pintu aula. Sepertinya mereka sedang berpatroli.


"Kami sedang survey tempat untuk tugas bu Levy," jelas Lacy.


Gerald hanya bisa terdiam. Dia masih kesal dengan senior itu yang memiliki perasaan pada Lacy. Ingin rasanya dia mengabaikan semua pertanyaan yang terlontar dari mulut senior itu.


Fred mendekati mereka berdua. Dengan nada suara yang bahagia, dia berkata, "Oh~tugas bu Levy....guru itu memang selalu memberi tugas yang menyusahkan. Apa kalian perlu bantuan?"


Fred berdiri tepat di hadapan Lacy. Pemuda itu tampak sedang tebar pesona padanya. Tapi, entah kenapa Lacy merasakan perasaan tak nyaman dari senior itu. Perasaan canggung seperti, mendengar seseorang yang tak kau kenal menyatakan perasaannya padamu.


Lacy tertawa canggung. Dia segera menarik Gerald untuk keluar dari sana. Namun, jalannya dihalangi oleh beberapa anggota osis yang bersama Fred tadi. Dia dipisahkan paksa dari Gerald. Kedua lengannya pun dikunci oleh anggota osis lainnya.


Sambil tertawa pelan, Fred melangkahkan kaki mendekati Lacy. Dia memperhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia mengangkat tangannya, mencoba memegang wajah cantik Lacy. Namun, dirinya terhenti karena teriakan Gerald.


"Jangan pernah coba-coba untuk menyentuh Lacy."


Fred mengalihkan pandangannya ke arah Gerald. Dia menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan, Gerald menatap senior itu penuh amarah. Entah karena pernyataan Fred tadi, atau karena dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari senior itu.


"Oh, ayolah~ kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? Apa kalian pacaran? Hm? Kau sedang cemburu?"


Fred melihat Gerald dan Lacy bergantian. Tidak ada jawaban. Dengan cepat, Fred memegang dagu Lacy. Dengan percaya diri, dia berkata, "Aku bisa saja membantumu membuat protector di tempat yang luas ini. Tidak akan ada yang tahu kalau bukan kalian yang membuatnya."


"Bu Levy juga tidak akan berani menghukumku, tapi-"


Fred menarik gadis itu untuk lebih dekat dengan wajahnya. Dia melanjutkan, "Asal kau mau jadi kekasihku. Kalau kau bersedia, tidak akan ada lagi orang yang berani menghinamu karena kau hanyalah seorang nulla."


Lacy menelan ludahnya dengan susah payah. Seketika, wajah tampan dari Fred berubah menjadi menyeramkan. Setiap kata yang terucap dari bibirnya terdengar seperti ancaman.


Tubuh gadis itu bergetar ketakutan. Dia tidak memiliki perlindungan sekarang. Dia tidak memiliki pedangnya, tubuhnya menjadi kaku, dan lidahnya kelu.


Fred menghela nafas panjang dan menutup matanya. Tampak dengan sangat jelas bahwa pemuda itu kesal karena ucapan Gerald. Namun, dia tidak bisa merusak imagenya sebagai ketua osis yang baik dan tampan.


Akhirnya, Fred menyuruh teman-temannya untuk melepaskan Lacy. Dengan perasaan yang kesal, dia meninggalkan aula. Namun, sebelum dia betul-betul meninggalkan aula, dia meninggalkan pesan, "Masih belum terlambat untuk berubah pikiran. Aku akan selalu menunggumu di ruangan osis."


Gerald menatap sinis senior itu. Kemarahannya memuncak. Dia sudah tidak peduli lagi tentang harga dirinya atau pengakuan orang-orang tentang kemampuannya. Dia hanya peduli tentang kesalamatan Lacy.


Pemuda itu tidak mau Lacy berkorban dengan menerima tawaran bajingan itu demi kelompoknya. Dia hanya perlu meminta Mage untuk memilihkan tempat yang lebih kecil dari aula agar dirinya dan Lacy tidak harus menguras banyak energi sihir.


...****************...


"Maaf Gerald, aku sudah menyerahkan dokumennya ke bu Levy. Lagipula, area lain juga sudah di klaim oleh kelompok lainnya. Apa kau mau berganti tempat denganku?"


Gerald dan Lacy terdiam. Semua tempat yang diambil oleh kelompoknya adalah skala yang luas. Semuanya sebelas-duabelas hampir sama dengan aula. Mau ditukar dengan siapa pun, hanya akan menyebabkan kerugian bagi mereka.


Keduanya menghela nafas panjang. Mereka mulai putus asa kembali. Semua usaha yang terpikirkan oleh mereka tidak bisa terealisasikan.


"Tidak usah Mage. Aku akan memikirkan cara lain saja."


Kepala Gerald tertunduk. Tubuhnya mulai sangat lelah. Dia merasa tidak sanggup untuk mengikuti kelas sore.


"Owhh~tupai kecilku yang malang. Aku sudah menyarankanmu untuk bertukar kelompok denganku saja. Nulla itu memang selalu menyulitkan orang, tidak ada gunanya," ujar Kannon sembari memandang rendah Lacy yang hanya bisa berdiam diri.


Gerald yang amarahnya sudah memuncak, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Dia berkata, "Berisik. Tutup mulutmu sebelum kubunuh kau."


Semua orang yang ada disana tersentak kaget, termasuk Lacy. Baru kali ini mereka melihat Gerald semarah itu. Kannon pun menjadi terdiam dan tak bisa berkata-kata.


Suasana menjadi sunyi. Gerald pun pamit dan pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam kaku.


Gerald melangkahkan kaki pergi menuju hutan di belakang sekolah. Tubuhnya memanas karena amarah yang dia pendam. Sebuah cahaya sihir tipis berwarna kuning mulai menyelimuti tubuhnya.


"Ehem, ehem~ apa kau tidak tahu kalau penyihir tidak boleh memperlihatkan cahaya sihirnya begitu saja?"


Sebuah suara yang sangat familiar mengusik ketenangan Gerald. Dia menjadi tambah kesal karena melihat penutup mata menyebalkan pria itu.


"Ho~ kau terlihat sangat marah? Apa karena aku? Sepertinya tidak. Ada apa? Kau bisa berbicara pada pamanmu ini," ucap Arnold.


Namun, Gerald menghiraukan perkataan pria itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju hutan belakang sekolah. Tapi sayangnya, Arnold masih mengikuti dirinya.


"Apa kau tidak ada kerjaan selain mengikutiku?" protes Gerald.


"Oh, kau adalah kerjaanku nak. Tugasku adalah memastikan para murid di sekolah ini aman, dan kau adalah murid disini."


Gerald menyipitkan matanya. Dia tidak bisa membalas perkataan pria itu. Pemuda itu menghela nafas, berusaha menenangkan pikirannya. Dia sadar kalau dia sudah bertindak ceroboh sekarang. Dirinya tidak bisa berpikir rasional karena memikirkan Lacy.


Arnold menatap Gerald. Dengan tenang, dia berkata, "Ikuti aku, jangan pergi ke hutan untuk menenangkan diri. Area itu sedang diisolasi. Kau bisa pergi ke kantorku kalau mau, kalau tidak mau, ya sudah."


Gerald mengernyit. Dia tidak pernah melihat Arnold berbicara dengan lembut padanya. Namun, mau tidak mau dia mengikuti langkah pria itu pergi menuju kantornya.


Meninggalkan seseorang yang misterius dengan jubah, berdiri diantara pohon menggerutu kesal melihat Gerald yang berlalu pergi bersama Arnold.


"Sial, sedikit lagi," ujarnya sembari berlalu pergi meninggalkan hutan itu.