Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 18



Gerald terduduk canggung dikelilingi oleh empat gadis cantik. Dia seperti sedang diinterogasi karena ketahuan selingkuh.


"Ayolah~sampai kapan kalian mau seperti ini? Kalian membuatku seperti seorang kriminal," keluhnya.


"Aku masih tidak percaya pak Arnold memiliki hubungan keluarga dengan Harmin Bender," ucap Lacy.


Gerald menatap Lacy, meminta tolong untuk mengeluarkannya dari sana. Namun sayang, Lacy tidak menggubris tatapannya itu karena merasa mereka tidak terlalu dekat.


"Kenapa kau merahasiakan keluargamu?" tanya Kannon.


Dari keempat gadis itu, hanya Kannon lah yang senang mendengar cerita tentang keluarganya. Dia berubah haluan menjadi mendekati Gerald. Mungkin gadis itu berpikir hanya Gerald lah yang satu kasta dengannya.


"Aku tidak merahasiakannya. Bisa kah kau menjauh dari wajahku?"


Gerald mendorong wajah Kannon yang terlalu dekat dengan wajahnya. Mata gadis itu berbinar dan membuatnya risih. Hidupnya yang tenang seakan terusik karena seorang gadis.


"Mage!! Bantulah aku, sepertinya orang ini sudah gila!!" jerit Gerald meminta bantuan.


"Baiklah...aku sudah selesai menulis dokumen kelompok kita, ayo masuk kelas."


Mage melangkahkan kakinya meninggalkan mereka, diikuti dengan Ladon, Emil, Lacy, dan Mao dibelakangnya. Gerald menatap Cecilia dan Kannon yang menetap bersamanya.


"Apa kalian tidak mengikuti mereka?" tanya Gerald takut-takut.


Sepertinya pemuda itu takut Kannon akan mendekati dirinya lagi dan membuatnya kesusahan. Dan ternyata katakutannya menjadi kenyataan. Sambil menggandeng lengannya, Kannon berkata, "Aku akan pergi denganmu. Kemana pun kau pergi akan ku ikuti."


"TIDAAKKK!!!!!" teriak Gerald menggema di seluruh ruangan.


...****************...


Di hutan Praesidium, hutan terpelosok di East Mantauna, Harmin tengah menyusuri hutan itu sembari menginvestigasi keberadaan Hugo. Di tengah hutan tadi, dia melihat beberapa tumpukan rusa yang telah diburu, namun tidak diambil.


Pria itu menghela nafas panjang. Dia tidak menemukan jejak apa pun tentang Hugo. Sudah 2 hari dia belum pulang, dan sudah 2 hari pula dia tidak menemukan apa-apa.


Tempat persembunyian Hugo telah hancur berkeping-keping. Jejak sihir pun tidak dia temukan. Kepalanya semakin sakit. Entah apa yang harus dia beritahukan pada Louise nanti.


Sedari dulu, Harmin selalu ketakutan jika mendengar nama itu. Walaupun, dia jauh lebih muda dari Harmin, namun pria itu tidak bisa melupakan bagaimana kekuatan Louise hampir menyamai penyihir agung pada masanya. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang bocah berumur 6 tahun.


Tak dapat dipungkiri pemuda itu memanglah anak dari keluarga Bricht. Sudah tercatat dalam sejarah, keluarga Bricht adalah satu-satunya keluarga yang bisa mengendalikan sihir di usia yang muda. Itulah yang mereka sebut sebagai jenius.


Banyak yang ingin menggaet keluarga itu untuk menjadi besan mereka agar bisa mendapat kekuatan yang luar biasa. Namun sayang, keluarga Bricht sudah menukar janji dengan keluarga kerajaan.


Karena janji itu pula, tidak ada yang berani mengganggu keluarga Bricht. Selain karena kekuatan mereka, kedudukan mereka pun tak kalah mengerikannya. Bahkan, setelah kerajaan pusat hancur pun, keluarga itu masih menjadi momok mengerikan bagi para penyihir.


Harmin menghela nafasnya panjang. Sepertinya dia tidak bisa pulang sebelum bisa menemukan jejak dari Hugo, kawan lama Louise.


Entah apa yang dipikirkan pria itu hingga menganggap Hugo adalah kunci untuk mempertemukan dirinya dengan adiknya. Jujur, Harmin tidak terlalu tahu tentang adik Louise. Dia tidak pernah mendengar namanya ataupun bertemu dengannya.


Dari seluruh keluarga Bricht, hanya adik dari Louise itu lah yang tidak tercatat di buku sejarah. Harmin pun tak tahu kenapa. Saat dia bertanya pada Louise, pria itu hanya berkata jangan ikut campur.


"Thread Maker Activated : Tracer Thread"


Cahaya berwarna biru mulai menyelimuti tangan Harmin. Dari tangannya, muncul dua helai benang yang melayang menyusuri hutan di depannya. Kedua benang itu menyusuri dari arah yang berlawanan.


Harmin menunggu dengan tenang hingga benang-benangnya kembali. Namun, wajah pria itu tampak kecewa. Tampaknya, dia masih belum bisa menemukan petunjuk. Pria itu pun membalikkan badannya, berniat untuk pergi mencari di daerah lain.


Harmin tidak tahu itu siapa. Dia tidak mengenalnya. Namun, dia bisa merasakan sebuah bahaya dari orang itu. Jika dia ditangkap, mungkin dia akan dibunuh di tempat.


Pria itu menelan ludahnya dengan kasar. Nafasnya mulai memburu, jantungnya berdetak semakin kencang.


"Hmm~ sepertinya ada seseorang yang baru datang kesini."


Harmin menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak boleh tertangkap disini. Pria itu berniat mengeluarkan sihir untuk menyembunyikan keberadaannya. Sambil berbisik, dia berkata, "Invisible"


"Hmmm....apa cuma perasaanku ya?"


Harmin melihat dengan jelas pria itu pergi menjauh darinya. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, dia pergi dari hutan dan berlari menuju rumahnya.


Namun, siapa sangka, ternyata pria berambut merah itu masih berada disana. Dia bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Harmin telah pergi meninggalkan hutan.


"Nomor 20, kejar dia dan cari tahu dimana dia tinggal. Jangan lakukan apa pun sebelum aku perintahkan."


Seorang gadis dengan seragam yang sama dengan pria itu turun dari atas pohon. Sambil membungkukkan badannya, gadis itu berkata, "Baik, tuan." dan pergi mengikuti Harmin.


"Mari kita lihat apakah kau berguna bagiku atau tidak? Seekor kelinci harusnya memang segera diburu kan?" ucap pria itu sembari mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sudah tergeletak di tanah.


"Aku akan memanfaatkan dengan baik jiwamu itu. Jangan khawatir."


Pria itu menyeret satu lengan seseorang yang terbaring itu keluar dari hutan. Mereka pergi menuju tempat yang berpagarkan pohon besar. Itu terlihat seperti portal, namun, tidak terlihat seperti portal biasa.


Portal biasanya memiliki cahaya biru tua dan terlihat seperti galaksi. Namun, portal yang itu terlihat seperti kolam darah yang jika kau masuk ke dalamnya, maka kau tidak akan selamat.


Pria berambut merah itu melemparkan jasad yang dia seret ke portal itu. Dengan senyuman miringnya, dia merapal mantra, "Soul Taker Ancient Magic : Bloody Mary"


Jasad seseorang itu terhisap oleh portal. Pria berambut merah itu tertawa terbahak-bahak. Bahkan, dia sampai memegangi perutnya karena terlalu keras tertawa.


"Tuan, sudah waktunya kembali."


Pria itu memberhentikan tawanya. Dia menatap tajam bawahannya itu. Dia kesal karena waktu bersenang-senanya diganggu oleh orang hina sepertinya.


Tanpa pikir panjang, pria itu mengeluarkan pedang miliknya dan menebas kepala bawahannya. Darahnya menyiprat kemana-mana, bahkan hingga ke wajahnya.


Layaknya seorang psikopat, pria itu menjilati darah yang berada di dekat mulutnya. Dia juga menjilati darah yang ada di pedangnya itu.


"Tidak enak. Darah dari orang yang lemah memang selalu pahit. Hah~kapan aku bisa membunuh orang kuat? Aku ingin segera meminum darahnya."


Pria itu terkekeh kecil. Dia berteriak, "Louise, aku tahu kau ada disini. Ayo bermain. Aku ingin mencicipi darahmu, kawan lamaku,"


Tak ada jawaban. Pria itu mengernyit. Dia yakin bahwa tadi dia merasakan kehadiran yang cukup kuat. Apa dia salah mendeteksinya? Tidak, itu tidak mungkin.


Louise adalah penyihir yang hebat. Dia memiliki lebih dari satu jenis sihir. Bisa saja dia menyembunyikan presensinya dan menghilang begitu saja.


Pria itu mendengus kesal, dan bergumam, "Dasar pengecut."


Dia pun pergi dari hutan itu. Menyisakan Louise yang memperhatikannya dari jarak yang sangat jauh.


"Carilah kemama pun kau mau, kawan. Bagaimana pun juga, pada akhirnya aku lah orang yang akan menemukan Hugo duluan. Aku tidak akan mengulang kesalahanku untuk kedua kalinya."


Louise meninggalkan hutan itu dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.