Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 9



Hari yang indah. Hari yang sangat bagus untuk merayakan kepergian Gerald. Sepanjang perjalanannya, Katarine bersenandung senang. Dia memilih barang-barang yang menurutnya cantik dengan perasaan gembira. Akhirnya, dia bisa menggunakan uangnya untuk dirinya sendiri.


Katarine mendongakkan kepalanya. Menikmati indahnya langit yang berwarna biru. Hari itu memanglah sangat cerah. Secerah hati Katarine sekarang.


Katarine melangkahkan kakinya melanjutkan jalan-jalannya. Sepertinya wanita itu benar-benar dalam suasana hati yang baik. Dia bahkan berjalan sambil melompat-lompat kegirangan. Bahkan, orang yang dilaluinya menganggap wanita itu aneh.


Berbeda lagi dengan Gerald yang terpaksa menemani Katarine berbelanja keperluan pesta siang nanti. Pemuda itu berjalan sembari menyeret langkahnya. Dia sudah capek mengikuti wanita itu berkeliling kota.


Jika kalian melihat pengawal mereka dibelakang, terlihat sangat jelas bahwa mereka kelimpungan karena barang belanjaan Katarine. Bahkan wajah mereka sudah tertutup oleh tas-tas belanja itu.


"Kenapa dia tidak membawa kantong sihir sendiri sih?" keluh salah satu pengawal Katarine.


"Cepatlah sedikit, kalian berjalan seperti siput. Siput saja mungkin lebih cepat dari kalian," ucap Katarine yang sepertinya mendengar keluhan pengawalnya itu.


"Tidak bisa kah kita beristirahat sebentar? Aku mulai capek, kakiku sudah tidak bisa diajak kompromi," tawar Gerald.


Katarine menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap sinis Gerald. Waktu acara tinggal sedikit lagi. Tidak ada waktu untuk bersantai.


"Baiklah kita pulang, masih ada dekor yang menunggu sebelum acara dimulai. Aku harap sayangku sudah menyiapkan semuanya," ucap Katarine dengan girangnya ketika menyebut suaminya.


Gerald ingin muntah mendengarnya. Selain iri karena dia masih jomblo, dia juga tidak terbiasa dengan panggilan sayang antara Harmin dan Katarine. Telinganya seakan berdarah ketika mendengarnya.


"Kau tidak ikut?" tanya Katarine yang melihat Gerald hanya berdiam diri.


Gerald menggelengkan kepalanya dan berkata, "Duluan saja kakiku masih tidak bisa diajak kompromi. Aku mau istirahat disini sebentar,"


Katarine terdiam sejenak. Dia mengarahkan bola matanya ke arah samping tempat Gerald berdiri. Sontak Katarine segera menyunggingkan senyum miringnya dan menatap Gerald.


"Baiklah, terserahmu saja. Jangan keluarkan banyak uang, ya. Dah~"


Gerald yang bingung segera melihat ke bangunan di sampingnya. Disana dia dapat melihat ada toko penjual mainan orang dewasa. Yah~kalian tahu lah apa.


"Bukan seperti yang kau pikirkan!!!!" teriak Gerald pada Katarine yang sudah berjalan sangat jauh darinya.


Pemuda itu menghela nafasnya dan pergi ke kursi terdekat untuk beristirahat. Dia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. Dia sudah terlihat seperti remaja jompo. Baru sebentar berjalan, sudah pegal-pegal.


"Sepertinya aku kurang olahraga. Bagaimana dengan sihirku nanti ya?" keluh Gerald.


Memang benar, kekuatan sihir bergantung pada stamina sang penyihir. Jika penyihir sudah lelah, maka efektivitas sihirnya akan menurun. Oleh sebab itu, banyak penyihir yang rajin berolahraga untuk menaikkan staminanya, namun ada juga yang tidak.


Bagaimanapun cara mereka menaikkan stamina itu tergantung orangnya masing-masing. Tapi, tentu saja hal paling umum untuk meningkatkan stamina adalah dengan cara berolahraga.


"Hei, nak, apa kau adalah penyihir?" tanya sebuah suara.


Sontak Gerald langsung memalingkan wajahnya menghadap sumber suara. Disana, dia dapat melihat seorang pria berusia sekitar 30 tahunan sedang menatapnya sembari tersenyum.


"Maaf aku tidak tertarik membeli," ucap Gerald tak acuh.


Akhir-akhir ini banyak sales penjual barang-barang sihir yang cukup menyebalkan. Jika Gerald berbaik hati sedikit saja, takutnya dia bakal ngelunjak. Jadi, mau tak mau Gerald menghiraukan pria itu.


Sebenarnya Gerald cukup enggan untuk memalingkan wajahnya. Sekilas, pria itu mirip dengan temannya Mage. Rambut hitamnya, kacamatanya, bahkan dari segi wajahnya pun hampir mirip. Gerald berpikir apakah yang dihadapannya ini adalah kerabat dari temannya itu.


"Oh, jangan salah paham nak. Aku hanya ingin menawarkan fasilitas pelatihan sihir. Kalau kamu berkenan, silahkan kunjungi kami. Kebetulan kami baru saja buka," ucap pria itu sembari memberikan Gerald sebuah selebaran.


"Disini kamu bisa berlatih sihir, meningkatkan stamina, dan berlatih kemampuan bersenjata. Jika kamu mengambil paketan harganya hanya 150 mont saja."


Gerald menyipitkan matanya ragu. Kesempatan ini datang terlalu kebetulan dengan situasinya. Pemuda itu mulai mencurigai pria dihadapannya dan mulai menatapnya dengan seksama.


Pria berkacamata yang tidak tahu maksud tatapan Gerald itu hanya bisa tersenyum dan menunggu jawaban darinya. Pria itu segera merogoh saku celananya. Dia mengambil satu kartu namanya dan diberikan pada Gerald.


"Namaku Alven. Tempat kami sangatlah kredibel. Sudah mendapat ijin dan sertifikat. Kebetulan gedung kami ada didekat sini, apa ingin melihat-lihat dulu?" jelas pria itu.


Dia mengira Gerald mencurigainya sebagai seorang penipu dan menjadi ragu untuk menjadi member.


"Nak? Kenapa melamun? Gedung kami cuma berjarak dua gedung dari sini. Letaknya juga dijalan besar kok."


Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Gerald, Alven langsung menjelaskan dengan suaranya yang lembut layaknya seorang salesman.


Karena malu pikirannya seakan terbaca, Gerald berdehem kecil. Dia segera meminta Alven untuk menunjukkan jalan menuju tempat usahanya.


...****************...


Gerald tak henti-hentinya berdecak kagum. Sesampainya di gedung tempat Alven bekerja, dia langsung dibawa ke tempat pelatihan sihir. Ruangan memang masih sepi, belum ada pelanggan, tapi ruangan itu sungguh luas dan memang cocok untuk dipakai latihan.


Awalnya pemuda itu tidak terlalu yakin ketika melihat tampilan depan gedungnya. Bagaimana tidak? Dari luar, gedung itu tampak kecil, kumuh, dan rapuh. Yah~walaupun ada sedikit renovasi, tapi tetap saja bangunan itu tidak menjanjikan.


Namun ketika melihat didalamnya, Gerald terkagum-kagum sekaligus heran. Bagaimana bisa ruangan seluas itu tidak terdeteksi sama sekali dari luar. Kalau saja tampilan luarnya itu diperbaiki, dia yakin tempat ini banyak peminatnya.


"Disini kau bisa berlatih sepuasmu, entah itu sihirmu atau kekuatan fisikmu. Tenang saja, ruangan ini tidak bisa hancur sekuat apa pun dirimu."


Gerald kembali berdecak kagum. Ruangan yang tidak bisa hancur sekuat apapun dirimu. Mata pemuda itu mulai berbinar-binar. Dia tidak sabar untuk menceritakan ini pada orangtuanya.


Namun, senyuman pemuda itu tiba-tiba menghilang. Dia baru ingat sekarang dia adalah gelandangan yang hanya menumpang di asrama Alphrolone. Sepeser uang pun dia tidak punya karena orangtuanya menolak memberinya lebih. Uang yang tersisa baginya hanya sekitar 900 mont.


Lagi-lagi, pemuda itu cukup pelit untuk membelikan uangnya. Padahal uang itu sangat cukup baginya untuk bertahan hidup dan membayar jasa Alven, namun dia ragu dengan dirinya sendiri.


Gerald adalah orang yang pemalas. Dari kecil dia tidak mau berusaha untuk mencari uang karena orangtuanya yang kaya raya. Tapi sekarang dia bukanlah anak orang kaya, dia hanyalah sebatang kara yang pengangguran dan gelandangan. Mengingat itu, rasanya Gerald ingin menangis saja meratapi nasibnya.


"Maaf pak, kayaknya saya nggak sanggup buat biayanya. Terimakasih."


Gerald hendak pergi dari sana, namun dia dicegat oleh Alven dengan cepat. Pria itu menarik pelan Gerald ke tempat semula dan mengeluarkan kantong sihirnya yang berwarna abu-abu.


"Bayarannya bisa dicicil nak, kalau kau tandatangan disini, disini, dan juga disini kami akan memberikan diskon hingga 70% jadi perbulan hanya perlu membayar 105 mont saja. Bagaimana?"


Gerald tertegun. Ternyata dia bertemu dengan salesman yang cukup menyebalkan. Sialnya dia sudah masuk di dunia salesman itu.


"Karena kebetulan kau juga adalah pelanggan pertama kami, kami akan menambahkan diskon 20%. Jadi jika dihitung, perbulan kau hanya perlu membayar 21 mont saja. Sangat murah bukan? Jadi bagaimana tertarik untuk bergabung?" lanjut Alven.


Mata Gerald kembali berbinar. Tanpa pikir panjang dia mengiyakan tawaran Alven dan menandatangani kontrak yang melayang dihadapannya. Pemuda itu tak henti-hentinya tersenyum girang. Alven pun ikut tersenyum girang karena berhasil memikat satu pelanggan.


Tidak, sebenarnya Alven sedikit tersenyum licik. Gerald adalah pelanggan pertamanya yang berhasil dia gaet. Tentu saja dia memberikan diskon-diskon yang terdengar menjanjikan untuk pemuda lugu itu.


"Baiklah akan aku antar kau keluar," ucap Alven setelah Gerald selesai menandatangani dokumennya.


Langkah Gerald menjadi ringan. Dia lupa kalau dia capek setelah berkeliling tadi. Pemuda itu berniat mampir ke tempat Alven untuk berlatih sebelum pergi ke asrama Alphrolone.


Senyuman manis Alven mengantarkan kepergian Gerald. Tak disangka, pemuda itu membayar dp sebesar 40 mont. Tentu saja hal itu tambah membuat Alven ingin menguras uang milik pemuda polos itu.


"Bos, kau terlalu kejam pada anak-anak," ucap seorang wanita berambut oranye yang dikepang menjadi dua.


"Diam saja kau. Ini demi bisnis kita. Siapa yang tahu kalau ternyata dia mudah dibodohi," balas Alven.


Pria itu melepas jaket yang dia pakai untuk keluar dan digantungkan di gantungan dekat meja kasir. Alven lantas berbalik ke arah ruangan yang dia masuki bersama Gerald tadi dan berkata, "Aku akan sibuk sementara, kau jaga toko disini."


"Baik, bos."


Cahaya berwarna hijau mulai mengelilingi pintu yang dipegang oleh Alven. Pria itu pun langsung menghilang ketika melintasi pintu. Meninggalkan wanita bernama Noya itu sendirian.


Tak lama, datanglah seseorang ke toko milik Alven. Dengan ramah, Noya menyapanya dan menanyakan ada perlu apa.


"Ehmmm~ aku menemukan selebaran ini di jalan, apa aku boleh melihat fasilitasmu? Sekalian aku mau mendaftar jika perlengkapan kalian bagus," ucap seorang gadis pelanggan itu.


"Baik, mohon maaf dengan siapa saya bicara?" tanya Noya dengan sopan.


"Lacy. Lacy Deandris"