
Arnold mengorek telinganya. Dia merasa gendang telinganya akan pecah karena teriakan dari Gerald dan teman-temannya.
"Apa kalian tidak diberitahu oleh Levy kalau sihir protector itu bisa dibuat oleh siapa saja?"
Mereka menggeleng. Yah~sebenarnya Arnold sudah menduganya. Dia sudah tahu kalau wanita itu sangat tidak suka dengan seorang nulla. Mungkin tujuan wanita itu tidak memberi tahu kalau seorang nulla bisa membuat protector adalah agar mereka, para nulla, segera menyerah dengan kelasnya dan pergi.
Arnold berdecak kesal, dia melanjutkan, "Lalu, apa kalian tahu tujuan dari pemberian tugas ini?"
Lagi-lagi, Gerald dan teman-temannya menggeleng menjawab pertanyaan Arnold. Pria itu kembali menghela nafasnya panjang. Entah siapa yang harus disalahkan dari masalah ini. Tapi jujur, dia sangat kesal pada pengajar yang ada di sekolah ini.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Dengarkan dengan seksama. Kalau ada pertanyaan silahkan angkat tangan."
Mereka menganggukan kepala. Arnold melanjutkan, "Setiap sekolah sihir, memberi misi pada muridnya untuk nilai kelulusan. Tugas membentuk protector ini adalah ujian untuk itu. Jika kalian gagal melaksanakan tugas ini, bisa dipastikan kalian tidak akan lulus."
"Murid yang gagal membuat protector tidak akan mendapatkan misi karena dinilai tidak kompeten. Yah~siapa juga yang mau memberi misi pada orang yang tidak bisa melindungi mereka? Ya kan?" ucap Arnold.
"Namun, dari sekian banyak murid yang lulus dari sini, title protector terbaik yang pernah dibuat disandang oleh seorang nulla. Apa kalian tahu kenapa? Hm? Hm?"
Gerald terdiam. Jangan bertanya padanya, dia tidak pernah tahu apa pun tentang sihir. Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Mage, temannya yang paling pintar. Namun, sepertinya pemuda berkacamata itu juga tidak tahu jawabannya. Dahinya mengkerut kebingungan.
"Kita hidup saling bersandingan di dunia ini, antara wizard dan nulla. Kebanyakan dari nulla memiliki kemampuan bersenjata yang dominan, kemampuan fisik yang lebih bagus daripada wizard. Oleh karena itu, protector juga memiliki dua jenis. Protector yang murni dibuat dari energi sihir dan protector yang dicampur dengan stamina. Mana yang lebih kuat? Tergantung bagaimana kalian membuatnya," jelas Arnold.
Gerald terdiam. Dia baru kali ini mendengar penjelasan itu. Ternyata, bu Levy hanya menjelaskan setengah dari ilmu yang sebenarnya. Pemuda itu menelan ludahnya. Dia menjadi semangat untuk mendengar panjelasan Arnold selanjutnya.
"Penghalang untuk bangunan atau suatu tempat disebut protector, penghalang yang lebih kecil disebut barrier, seperti yang mengurung kalian tadi. Mereka sama-sama terhubung pada tubuh sang pemakai. Lalu, ada pula yang namanya cage. Cage itu..."
Arnold berhenti sejenak. Dia agak ragu untuk melanjutkan penjelasannya. Materi itu antara penting dan tidak penting. Namun, pria itu tersadar sesuatu dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ah, sepertinya dia sudah kembali," ucap Arnold.
Gerald kebingungan. Dia memiringkan kepala, berusaha memahami perkataan pamannya barusan. Namun, tiba-tiba pintu aula terbuka. Meemperlihatkan sosok Lacy yang terngengah-engah, seperti habis berlari.
Gadis itu berjalan memasuki aula dengan langkah yang terseok. Dia tampak sangat kelelahan dan kehabisan tenaga. Entah apa yang terjadi pada dirinya.
Namun, sebelum gadis itu berjalan lebih jauh dari pintu, sebuah tangan menarik rambut putihnya yang indah. Lacy meringis kesakitan dan muncul lah seorang pria dengan rambut coklat kemerahan dari sampingnya.
"Arnold Fruinder?" panggil pria itu.
Alih-alih menjawab, Arnold malah menatap dingin pria yang tidak diundang itu. Dia melangkah perlahan mendekatinya tanpa merubah ekspresi datarnya.
"Suatu kehormatan bagiku untuk bertemu penyihir tertinggi istana disini. Ada perlu apa anda bertemu denganku, tuan Yasser Zurin?"
Walaupun, wajahnya tampak tenang, namun suara Arnold memperlihatkan amarahnya. Dia tidak suka melihat pria itu dengan seenaknya masuk ke sekolah dan memperlakukan seorang murid seperti itu.
"Bisakah kau melepaskan gadis itu? Sepertinya dia tidak ada urusannya dengan hal ini," ucap Arnold sembari tetap berusaha tenang.
Yasser tergelak mendengar ucapan Arnold. Dia segera melepaskan tangannya dari rambut indah Lacy dan Gerald segera menariknya keluar dari pandangan keduanya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya berkunjung kesini. Melihat keadaan anakku."
"Kebetulan sekali, aku hampir menghajar anakmu itu karena merusak ketenangan sekolah lagi. Kau tahu, aku tidak akan tinggal diam walaupun dia seorang ketua osis," sindir Arnold.
Yasser terdiam. Wajahnya kaku karena menahan amarah. Ingin rasanya dia menghajar pria berambut biru gelap itu. Namun, kunjungannya kali ini bukanlah untuk mencari masalah. Alhasil, pria itu hanya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Meninggalkan Arnold yang sudah diselimuti oleh cahaya sihirnya. Melihat itu, Gerald meledeknya dengan berkata, "Bukankah kau bilang penyihir tidak boleh memperlihatkan cahaya sihirnya?"
"Baiklah, kelas hari ini dibubarkan. Lacy, akan kuantar kau ke UKS. Ayo," ujar Arnold.
"Aku ikut," seru Gerald.
Arnold menatap Gerald. Dengan wajah yang pasrah Arnold mengiyakan seruan pemuda itu. Sedangkan, yang lainnya kembali ke asrama untuk beristirahat.
...****************...
Ketenangan tidak tampak lagi di hutan Praesidium. Pohon-pohon yang tinggi sudah habis terbakar. Pemandangan hijaunya berubah menjadi lautan berwarna merah.
Seorang pria keluar dari lautan api itu bersama dua ekor beast yang sangat mengerikan. Pria itu melihat sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.
"Akai," panggil pria itu.
Seorang pria tampan, berambut merah, dan memiliki bekas luka di pipinya muncul tiba-tiba. Dia segera berlutut dan menundukkan kepalanya dihadapan pria itu.
"Berapa sisa tubuh yang kita punya?"
"20, tuanku" jawab Akai.
"20? Kenapa begitu sedikit? Apa kau tidak bisa mengerjakan pekerjaanmu dengan baik?"
"Kau tahu, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi, kan?" lanjut pria itu.
Akai bergidik ngeri. Entah apa yang akan dilakukan tuannya itu padanya. Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
"Kita harus segera melaksanakannya. Apa kau sudah menemukan Hugo?"
Akai menggelengkan kepalanya. Pria itu terdiam sejenak. Wajahnya tidak terlalu tampak karena tudung dari jubahnya, namun bisa terlihat kalau dia sangat marah. Cahaya sihir yang berwarna hitam mulai menyelimuti tubuhnya.
"Cepat cari dia sebelum Louise menemukannya. Anak dari keluarga Bricht itu tidak boleh menemukannya sebelum kita. Kalau rencanaku hancur karena kelalaianmu, aku tidak akan segan-segan mengurungmu di ruang hampa dan membiarkanmu mati disana," ancam pria itu.
"Ingat, siapa yang memberikan kehidupan padamu," lanjutnya.
Akai menganggukkan kepalanya dan pergi dari hadapan pria itu.
"Kau lebih menyeramkan dariku yang seorang iblis,"
"Berisik, apa kau sudah mendapatkan petunjuk?" tanya pria itu pada sebuah bayangan yang tiba-tiba muncul disampingnya.
"Tidak, tidak ada jejak sama sekali. Aku sudah ke pusat kota dan tidak menemukan apa-apa. Sihir gadis kecil itu sungguh sulit untuk ditembus. Tidak salah kalau dia adalah anak dari keluarga Bricht," oceh bayangan itu.
Pria misterius itu menatap sinis bayangan disampaingnya sembari berkata, "Jangan pernah kau memuji keluarga itu lagi. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku."
Bayangan itu terkekeh pelan. Dia berkata, "Bahkan kau tidak bisa menandingi gadis kecil itu dulu. Kudengar, dia membuat protector hanya untuk mengurangi energi sihir yang melimpah di tubuhnya."
"Berisik!!! Sekarang aku sudah lebih kuat darinya. Cahaya sihir yang berwarna hitam pekat inilah buktinya," teriak pria itu.
"Akan kubuktikan kalau aku lebih baik dari dirinya. Akan kubunuh dia, seperti dia membunuh keluargaku."
Pria itu melangkah pergi meninggalkan hutan Praesidium yang hampir habis terbakar api. Dia melepaskan jubahnya dan menjatuhkannya ke tanah. Secara perlahan, jubah itu terhisap oleh bayangannya ke dalam tanah. Memperlihatkan rambut putih keperakan, serta mata indah yang berwarna hijau emerald.
Ehem~ maaf ya, aku bakal revisi jadwal upload. hari senin-jum'at bakal upload jam 20.10, terus sabtu & minggu bakal upload jam 12.00. Makasih udah ngertiin, salam sayang~