Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 12



Waktu telah berjalan cukup lama. Gerald terbaring di lantai karena kelelahan. Entah sudah berapa kali dia me-restore boneka latihan itu dan semua hasilnya kurang memuaskan baginya


Nafas Gerald terasa berat. Wajahnya pucat. Dia sudah seperti mau mati. Padahal, tenaga yang dia keluarkan selama latihan tidak terlalu banyak.


Jika dibandingkan dengan penyihir lainnya, sihir Gerald adalah yang paling lemah. Tubuhnya pun lemah.


Secara perlahan pemuda itu bangkit dari tidurnya. Dia menyeret kembali boneka latihan itu ke tempat semula. Latihan untuk hari ini sudah cukup, pikirnya.


Gerald melihat ke sekelilingnya. Setelah mengembalikan boneka itu, dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya.


"Halo?"


Pemuda itu terus-menerus memanggil sesuatu yang tidak pasti. Tiba-tiba, dia melihat sebuah bayangan yang melesat di ujung matanya. Tentu saja dia terkejut. Dia bahkan hampir berteriak jika bayangan itu tak mengeluarkan suara.


"Apa kau sudah selesai nak? Sepertinya kau terlalu sibuk sampai tidak sadar ada aku disini sedari tadi."


Gerald menghela nafasnya lega setelah melihat Alven. Dalam hati dia memaki pria itu karena menakutinya.


"Kau membuat jantungku hampir copot," ucapnya seraya mengelus dadanya.


"Kenapa tidak copot saja sekalian?" timpal Alven.


Gerald menatap pria itu tak percaya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada pelanggan pertamanya. Namun, Gerald tak mau mempermasalahkannya. Pemuda itu segera mengemasi barang-barangnya dan berniat untuk pergi dari ruangan.


"Sihirmu sangatlah lemah nak."


Langkah Gerald terhenti. Dia cukup kesal mendengar ucapan Alven. Tanpa pria itu beritahu pun dia sudah tahu. Pemuda itu baru saja bisa mengendalikan sihir yang bahkan dia pun tak tahu kalau hal itu ada di dirinya.


"Aku tahu."


"Kau tidak bisa bersaing dengan anak-anak di sekolah Alphrolone jika sihirmu masih seperti itu," lanjut Alven.


Kini Gerald tertegun. Dalam hati dia mempertanyakan apakah dia sudah memberitahu Alven kalau dia diterima di sekolah Alphrolone. Bagaimana pria itu tahu?


Pemuda itu membalikkan badannya menghadap Alven. Dia dapat melihat dengan jelas wajah pria itu. Ekspresi wajahnya seakan mengatakan bahwa dia tahu segalanya.


"Kau tahu nak? Jenis sihirmu itu adalah jenis sihir yang dicap sebagai sihir terlemah."


Gerald mengikuti Alven yang mulai berjalan menuju boneka latihan yang baru saja dia simpan, dengan matanya.


Dia sudah menyadari kalau sihirnya itu adalah jenis sihir yang lemah. Hal itu bisa dilihatnya dari reaksi para peserta saat dia memenangkan pertarungannya di ujian masuk.


Dia juga diberitahu oleh Emil dan Mage kalau penyihir yang memiliki jenis sihir Builder dan Maker sering diabaikan oleh pemakai jenis sihir yang lainnya.


Sebenarnya Gerald cukup kesal mendengar hal itu. Dia percaya kalau penyihir dengan kedua jenis sihir itu tidaklah seperti apa yang dipikirkan orang lain.


Contohnya saja ibunya. Ibunya adalah penyihir dengan jenis sihir maker, namun menurut Gerald sihir ibunya itu termasuk kuat.


"Para penyihir mengagung-agungkan seorang penyihir yang memiliki jenis sihir controller, karena dinilai sebagai sihir paling kuat setelah jenis sihir ruler. Kau tahu kenapa?"


"Karena pemakaiannya yang sulit?" jawab Gerald asal-asalan. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri.


Alven menggelengkan kepalanya menjawab pernyataan pemuda itu. Pria itu meletakkan boneka latihan yang diseretnya di tengah ruangan. Secara perlahan, dia memundurkan dirinya hingga jarak antara dirinya dan boneka itu cukup jauh.


"Justru karena pemakaiannya yang mudah, namun memiliki damage yang besar."


Alven mengangkat tangan kirinya dan membuat gestur seperti menembakkan sesuatu. Awalnya, Gerald cukup bingung dengan perkataan pria itu. Namun, tak lama kemudian boneka latihan di hadapan Alven meledak begitu saja.


Gerald membelalakkan matanya. Dia cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak mengerti situasinya. Dia mulai bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa meledakkan boneka itu.


"Itu adalah contohnya," ucap Alven dengan santainya.


Tanpa sadar Gerald berdecak kagum. Pemuda itu tak bisa melepaskan pandangannya pada boneka yang sudah hancur di depannya.


"Wah~ jenis sihir apa itu?" bisik Gerald. Namun Alven masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


"Sihirku adalah mind control, nak," jelas Alven sembari mendekati Gerald yang tak habis-habisnya memuji kekuatan pria itu.


"Ha?"


Gerald cukup terkejut mendengarnya. Setahunya, kekuatan sihir mind control tidak bisa sampai menghancurkan sebuah boneka latihan dengan begitu mudahnya.


Pemuda itu mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna perkataan Alven yang terasa janggal baginya. Kepala Gerald hampir meledak karena memikirkan alasannya, tapi seketika dia tersadar apa maksud perkataan Alven.


"Ah!! Kau mengontrol pikiranku ya?" teriak Gerald ketika dia baru saja teringat bagaimana sihir itu bekerja.


Jadi, saat Alven menunjukkan gestur seperti menembak, Gerald yang terlalu fokus pada boneka latihan tidak sadar bahwa Alven telah mengalirkan cahaya sihirnya yang berwarna hijau muda ke sekeliling pemuda itu.


Cahaya itu lah yang membuat Gerald berhalusinasi seakan-akan boneka itu meledak. Padahal, aslinya boneka itu tidak hancur sama sekali. Itu hanya lah pikiran Gerald saja karena dia begitu ingin melihat boneka itu hancur.


Alven tertawa sangat lepas melihat reaksi pelanggan pertamanya itu. Entah kenapa dia merasa ingin mengerjai pemuda itu. Pria dewasa yang tak tahu malu telah mengerjai anak kecil itu, menyeka air matanya karena tertawa terlalu lepas.


"Oh, ayolah~ aku hanya ingin menunjukkan kalau hal ini bisa saja terjadi padamu di sekolah."


Gerald memasang wajah cemberutnya. Dia sudah terlalu malas menanggapi ucapan Alven yang terasa seperti mengejek itu.


"Ya, ya. Terserahmu saja. Aku sudah terlalu capek. Aku mau pulang saja."


Gerald melangkahkan kakinya meninggalkan Alven yang masih saja tertawa. Pemuda itu menyumpahi Alven agar dia tertawa saja sampai mati.


Dia begitu kesal dan mengomel sepanjang jalan. Sampai dia keluar dari ruangan dimensi pun, dia masih saja mengomel tentang perilaku Alven yang menyebalkan baginya.


"Oh, apa kau sudah selesai Gerald?" tanya Noya.


"Noya, ada apa dengan bosmu itu? Apa dia tidak ada pekerjaan lain selain mengerjaiku?" tanya Gerald kesal.


Noya menggelengkan kepalanya. Dia sudah bertahun-tahun bersama dengan Alven untuk berbisnis dan memang itu lah satu-satunya hal kekanakan di diri pria itu. Dia bisa menyimpulkan kalau Alven merekrut Gerald hanya sebagai salah satu mainannya saja.


"Dia memang selalu seperti itu. Aku pun sudah tak tahan dengan sifatnya yang kekanakkan itu," ucap Noya seraya melanjutkan pekerjaannya.


Gerald terdiam sebentar. Dengan ragu-ragu, dia bertanya, "Apa kalian pacaran?"


Noya menggebrak meja yang membuat Gerald tersentak kaget dan hampir terjatuh. Dengan tatapan yang menyeramkan, wanita itu seakan berkata 'jangan bercanda' pada Gerald.


Dengan susah payah Gerald menelan ludahnya sembari melayangkan senyum canggung pada Noya yang tampaknya benar-benar marah.


"Apa kau mau langsung pulang?" tanya Noya berusaha tenang.


"Ya, aku masih harus bersiap-siap untuk pindah ke asrama."


Noya menganggukkan kepalanya dan menyodorkan sebotol air mineral pada pemuda itu. Awalnya Gerald bingung. Namun, Noya bilang kalau itu hanyalah salah satu servis dari toko mereka.


Tentu, dengan senang hati Gerald menerimanya. Kebetulan juga dia sudah haus karena latihannya tadi. Latihan berteriak pada Alven maksudnya.


Ya, satu-satunya hal yang betul-betul menguras energi pemuda itu hanyalah saat dia bertengkar dengan sang pemilik toko.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Semoga bosmu tidak akan menggangguku lagi lain kali."


Gerald melangkah pergi meninggalkan toko itu sembari menenggak air yang telah diberikan Noya. Noya memperhatikan Gerald pergi menjauh hingga pemuda itu tak terlihat lagi di matanya. Wanita itu sedikit mengerti kenapa bosnya suka mengerjai Gerald.


Gerald adalah orang yang polos dan mudah percaya pada orang lain. Bisa saja air yang diberikannya itu adalah minuman beracun, namun pemuda itu dengan santainya menerima pemberian orang yang baru 2 hari dikenalnya itu.


"Permisi, apakah benar ini tempat yang menyediakan ruangan untuk berlatih menggunakan sihir?"


Sebuah suara membuyarkan lamunan Noya. Dengan cepat, wanita itu menyunggingkan senyuman bisnisnya pada seorang pelanggan di depannya.


"Selamat datang di D'Montana, ada perlu apa?" ucap Noya ramah pada pemuda dengan rambut pinknya yang unik.