
Mari kita kembali sejenak, saat Alven masih bersama seorang wanita misterius yang tiba-tiba memanggilnya dengan nama Hugo.
Alven terdiam. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku. Keringatnya mengalir deras di dahinya. Matanya terbelalak kaget. Tak disangka penyamarannya telah terbongkar. Namun, Alven mencoba untuk tetap tenang dan balik bertanya, "Hugo? Siapa itu? maaf, tapi namaku adalah Alven."
Wanita itu tersenyum miring. Walaupun tidak melihatnya secara langsung karena Alven membelakanginya, dia tahu kalau pria itu sangat gugup.
Sebuah cahaya sihir berwarna putih menyelimuti tangan kanannya, tak lama kemudian suara tembakan beruntun terdengar. Tiba-tiba wanita itu memiliki shotgun di tangannya. Tembakan beruntun dia lepaskan, namun sayangnya semua pelurunya meleset. Alven berhasil menghindari itu semua.
"Ha!! Cukup bagus juga refleksmu, pengkhianat."
Wanita itu menghilangkan senjatanya dan mengeluarkan sihir elemen api-nya. Dia menyerang Alven dengan membabi buta. Seakan sudah menyimpan dendam yang sangat dalam.
"Mati saja kau pengkhianat!!"
Alven terus-terusan menghindari serangan dari wanita itu, hingga dia bisa menyelinap kebelakang dan menahan gerakan sang wanita dengan cara memiting kepalanya.
"Pengkhianat? Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun, aku tidak pernah memihak siapa pun. Tubuhku dan hidupku ini hanya kuserahkan pada tuanku seorang," ucapnya sembari menusukkan sebuah pisau yang tiba-tiba muncul dari tangannya ke leher wanita itu.
Darah mulai mengalir deras dari leher jenjang milik wanita itu. Tubuhnya digelatakkan begitu saja oleh Alven. Pria itu menatap sinis tubuh sang wanita yang mulai memucat karena kehabisan darah.
Alven membalikkan badannya berniat meninggalkan mayat itu. Lagipula, dia berada di ruang dimensi, tidak akan ada yang tahu kalau ada mayat yang dia sembunyikan.
Saat tepat berada di depan pintu, dan hendak memegang gagangnya, Alven mendengarkan suara yang membuatnya menjadi gugup.
Dengan perlahan, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah mayat wanita yang sudah kehabisan darah. Dia melihat cahaya sihir milik wanita itu yang berwarna putih mulai berkedip bagaikan bom waktu.
Sembari mengumpat, Alven memegang gagang pintu dengan cepat dan keluar dari ruang dimensi sebelum mayat itu meledak.
Pria itu berteriak pada Noya agar segera pergi dari tempat itu. Namun, begitu dia kembali ke D'Montana, sekumpulan orang dengan baju serba hitam sudah mengepung gedung itu.
Tubuh Noya bergetar ketakutan. Dia menatap Alven, yang baru saja kembali, dengan tatapan minta tolong.
Alven berdecak kesal, dia segera menarik tangan Noya dan meneleportasi mereka berdua ke kota sunyi yang diselimuti oleh protector berwarna hijau.
"Masuklah kedalam, jangan pernah ke luar. Kau adalah kunci yang bisa membawa kita pada master selain aku, jangan sampai kau terbunuh," jelas Alven.
Noya menganggukkan kepalanya. Dia bergegas menerobos dinding protector itu untuk memasuki kota. Sedangkan, Alven teleportasi kembali ke D'Montana untuk membasmih hama-hama yang berkeliaran.
Begitu kembali, bangunan D'Montana sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan baju serba hitam itu. Alven menatap mereka sinis. Berani-beraninya mereka mengusik kehidupan tenang dirinya.
Diam-diam, Alven mengalirkan cahaya sihirnya yang berwarna tosca ke belakang puluhan orang itu untuk mematahkan leh mereka. Satu per satu dari mereka tersungkur di tanah. Sementara yang lain, dengan paniknya melihat ke sekeliling karena tidak bisa melihat Alven.
Namun, ada satu orang dari mereka yang tahu dimana Alven berada. Dia segera melemparkan sebilah pisau yang melesat tepat disamping Alven.
"Sebaiknya kau segera perlihatkan dirimu, sang pelayan setia keluarga Bricht, Si pengkhianat Hugo," ucap orang itu.
Alven menggertakkan giginya kesal. Perlahan dia memunculkan dirinya dihadapan orang itu. Wajahnya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang marah.
"Senang bertemu denganmu, tuan. Aku adalah Taylor, ketua dari kelompok Black Mont," ucap orang itu memperkenalkan diri.
Mungkin dia terlihat tenang, namun saat menundukkan kepala, dia menyunggingkan senyuman yang sangat tidak mengenakkan. Seakan-akan dia sedang meremehkan orang dihadapannya.
Alven terdiam. Dia masih memikirkan kenapa orang-orang ini begitu yakin kalau dia adalah Hugo. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan dirinya adalah Hugo. Namun, begitu dia sadar, dia tertawa sinis. Pria itu membuat Taylor dan teman-temannya yang masih hidup, menjadi bingung.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Taylor
"Ahahaha~sekarang aku paham kenapa kau begitu percaya diri kalau aku adalah Hugo."
Alven mengusap air matanya yang keluar karena tertawa terlalu lepas. Pria itu melanjutkan, "Kau pasti meminum ramuan distinguish kan? Sungguh bodoh sekali. Apa kalian tidak tahu kalau ramuan itu punya efek samping?"
Kini giliran Taylor yang menggertakkan giginya. Sambil menahan amarahnya, dia berkata, "Diamlah kau pengkhianat."
"Aku? Pengkhianat? Ahahahahaha~bukankah kalian yang pengkhianat? Ketua kalian sebelumnya berani bersumpah untuk tetap setia pada raja Dominic dan semua keluarga yang mendukungnya. Tapi kalian membalikkan badan setelah raja Dominic mati dan memilih menyerang orang-orang yang pernah mendukungnya. Apa karena uang?"
"Kubilang diam!!"
Taylor langsung melompat untuk menyerang Alven. Namun, dia bisa dijatuhkan dengan mudah oleh Alven, begitu pun dengan anggota Black Mont yang masih ada.
Alven menghela nafasnya panjang. Dia benar-benar termakan oleh emosinya saat itu. Yah, sepertinya bangunan itu sudah tidak bisa dipakai untuk usaha lagi. Mau tak mau, dia harus menutup usahanya.
Pria itu mengangkat puluhan orang dengan sihirnya. Memindahkan mereka, atau lebih tepatnya mengurung mereka, di ruang dimensi pintu tengah.
Tubuh Alven terduduk di lantai. Energi sihirnya tidak terkuras. Mereka adalah musuh paling mudah yang oernah dia lawan. Tapi, emosi mentalnya terkuras karena pembicaraannya dengan Taylor tadi. Dia mulai merindukan master-nya.
Alven mengesampingkan perasaan rindunya. Dia harus bertahan hidup untuk bisa bertemu dengan master-nya lagi. Dia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia juga tidak bisa bersikap lemah seperti ini.
Pria itu berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang dipenuhi oleh debu. Namun, saat dia masih membersihkan bajunya, tiba-tiba sebuah cahaya melesat menuju arahnya. Untung saja, dia bisa menghindarinya. Kalau tidak, mungkin kepalanya sudah bolong karena sihir elemen cahaya itu.
"Oh~kau bisa menghindarinya? Ternyata titlemu yang beruntun itu tidak diberikan secara cuma-cuma ya."
Alven membelalakkan matanya kaget. Seorang pria berambut hitam panjang yang diikat, berseragam putih dengan emblem kerajaan tengah menghampirinya. Pria itu tidak menyangka keberadaannya sudah diketahui oleh pihak pengawal kerajaan.
"Hmm~sepertinya kau bertanya-tanya, kenapa pengawal kerajaan tahu keberadaanmu?" tanya pria itu seakan tahu isi kepala dari Alven.
Senyuman tersungging di wajahnya. Sembari menaruh tangannya di dagu, dia berkata, "Kau tahu, aku meninggalkan jejak pada ketua kelompok itu. Aku tahu mereka akan sangat berguna jika kuberi mereka ramuan itu."
Alven terdiam. Dia sangat mengetahui sifat dari pengawal kerajaan. Pemimpinnya adalah orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Tidak kusangka kau bersembunyi disini. Tempat ini tidak terlalu jauh dari hutan Praesidium. Ahaha~aku tak mengerti kenapa Akai masih belum bisa menemukanmu," lanjutnya.
Alven menatap pria itu sinis. Dia sangat membenci tawanya. Dia juga sangat membenci seragam yang dia pakai. Mereka adalah musuh terberat baginya. Mereka adalah alasan dirinya dan Noya atau Tanaya, harus bersembunyi hingga saat ini.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Dia sudah bersiap untuk menyerang pria dihadapannya secara tiba-tiba. Namun, sepertinya orang itu sadar akan niatan Alven.
Pria pengawal kerajaan itu langsung mengubah cahaya sihirnya menjadi pedang yang besar serta panjang, dan menebas tubuh Alven dari pundak kiri ke perut secara diagonal.
Alven mengerang kesakitan. Tubuhnya tersungkur ke tanah. Sebuah partikel energi sihir mulai beterbangan keluar dari tubuhnya.
"Tidak, partikel energi sihir ini akan menunjukkannya dimana master berada. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," batin Alven.
Pria itu segera meneleportasi dirinya ke suatu tempat, meninggalkan si pria pengawal kerajaan tertawa tidak percaya.
Alven berlari sebisanya sambil menahan rasa sakit dari tubuhnya. Darah dari tubuhnya mengalir dengan sangat deras. Namun sayang, pria si pengawal kerajaan itu berhasil menemukan jejaknya. Dia terus menembakkan cahaya sihirnya pada Alven.
Dikarenakan tubuhnya yang terluka parah, Alven tidak bisa menghindari beberapa tembakan dari pria itu. Tapi, sebisa mungkin dia terus bergerak maju. Kalau dia tidak bergerak dalam waktu tertentu, energi sihir yang keluar dari tubuhnya akan menjadi penunjuk arah menuju master-nya. Hal itu tidak boleh terjadi. Apalagi pada pengawal kerajaan.
Sayang, sekeras apa pun dia berusaha, tubuhnya yang terluka itu tidak sanggup untuk melanjutkannya. Dia terjatuh ke tanah.
"Wah~terimakasih sudah menjadi batu loncatan untukku."
Pria itu semakin dekat dengan Alven yang hampir kehilangan kesadarannya. Dia mengangkat tangannya untuk menebas leher Alven dengan cahaya sihir miliknya. Namun, sebelum cahaya sihir itu benar-benar menyentuh leher pria itu, tubuh Alven menghilang tiba-tiba. Membuat pria si pengawal kerajaan itu hanya menebas angin.
Dia mengumpat. Padahal dia sudah melihat kebahagiaan didepan mata. Tapi, kebahagiaan itu menghilang juga dideoan matanya. Pria itu berdecak kesal sembari membalikkan badannya. Terpaksa dia harus melaporkan dirinya yang kehilangan target pada atasannya.
Di sisi lain, Alven sedikit bernafas lega karena bisa terlepas dari orang itu. Namun, dia kembali waspada karena ter-teleportasi ke tempat yang tidak dia ketahui. Dengan sisa tenaganya, Alven mencoba berdiri. Dia masih harus bergerak. Dia tidak mau partikel energi sihirnya yang beterbangan membawa orang-orang jahat pada master-nya.
"Kau tidak bisa pergi dengan tubuh seperti itu."
Sebuah suara membuat Alven tersentak kaget. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya, mencari orang yang berbicara dengannya.
Alven terdiam. Matanya mulai berair ketika melihat sesosok pria bertubuh kekar, namun memiliki wajah yang berwibawa dan dapat menenangkan dirinya.
Tangisan Alven pecah. Sambil terisak, dia berteriak, "Master Eden."
Tak lama setelahnya, Alven pingsan karena kelelahan.