Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 27



"Baiklah, mari kita mulai pelajaran hari ini."


Seorang pria tampan dengan rambutnya yang berwarna hitam berbicara didepan kelas. Dia tampak berwibawa dan berkharisma dengan setelan jas yang lengkap.


Semua murid perempuan terpana melihatnya. Dia seakan menjadi idola baru di kelas itu. Banyak yang menggosipkan pria itu hingga kelas menjadi ribut


Pria itu mengetuk meja dua kali, mencoba menenangkan mereka. Dengan suara yang berat, dia berkata, "Pertama-tama, biar aku memperkenalkan diri, namaku adalah Shin. Aku akan mengajari kalian cara bertempur. Tidak ada perbedaan antara wizard dan nulla, yang ada hanyalah perbedaan kemampuan kalian."


"Walaupun kalian memiliki tipe sihir yang kuat, namun memiliki kontrol sihir yang lemah, kalian akan gagal dalam kelas ini."


Gerald sedikit terperanjat ketika dia dan pria itu bertukar pandang. Ketika pria itu berbicara tentang kontrol sihir, dia mengalihkan pandangannya pada Gerald. Yah~mungkin itu hanyalah pikirannya saja.


"Penilaian di kelas ini adalah ketepatan sasaran, kekuatan, stamina, dan kontrol. Jika kau tidak bisa mengontrol sihirmu, maka orang lain akan terluka, benar kan?" ujar Shin.


Lagi-lagi, Shin mengalihkan pandangannya pada Gerald. Pria itu seakan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Gerald melihat ke sekitar, bertanya-tanya apakah hanya dirinya yang menyadari pandangan tidak mengenakkan itu.


"Ha! Orang yang memiliki tipe sihir terkuat tidak perlu itu semua. Kami sejak lahir sudah menguasai itu semua," ucap Javandille sombong.


Semuanya terdiam. Sepertinya, mereka terlalu takut untuk membalas perkataan pemuda itu. Ada rumor yang mengatakan, kalau ada orang yang menentang atau bermasalah dengan Javandille, maka bisa dipastikan orang itu akan menghilang di keesokan harinya.


"Baiklah, hentikan ini semua. Penjelasannya sampai disini saja, saatnya praktik."


...****************...


"Ya, biar kujelaskan tentang praktik ini...."


"Jelas dengan satu lawan satu kan," ucap Javandille, memotong penjelasan Shin.


Semua mata tertuju pada pemuda berbadan kekar itu. Mereka menunjukkan pandangan tak nyaman karena perkataannya. Mereka mulai bertanya-tanya, siapa yang merusak suasana hati monster itu.


"Tidak salah, tapi itu akan menjadi penilaian terakhir. Untuk hari ini, kalian hanya perlu berlari," jelas Shin.


Reaksi para murid terbagi menjadi dua. Ada yang protes dan mengeluh kalau hal itu tidak ada hubungannya dengan kemampuan bertempur, sedangkan yang lainnya hanya diam saja menunggu kelanjutan penjelasan Shin.


"Yang protes dan tidak setuju, silahkan beristirahat di pinggir lapangan, jangan mengganggu orang yang berlari. Yang merasa tidak apa-apa dengan ujian ini, silahkan berlari 5 putaran dari sekarang."


Shin menyingkirkan dirinya ke pinggir lapangan, begitu pun dengan para murid yang protes. Hanya beberapa murid yang berlari di lapangan. Termasuk Gerald.


Menurut pemuda itu, tidak ada salahnya dia berlari di lapangan yang luas itu. Toh, dari awal dia masuk sekolah ini, dia berniat untuk menaikkan staminanya. Yah~ walaupun lapangan ini tidak seluas ruangan dimensi yang ada di toko milik Alven, tapi hal ini bisa saja membantunya berkembang.


Gerald mulai berlari dengan perlahan mengelilingi lapangan, mengikuti teman-temannya yang sudah berlari duluan.


Satu per satu dari mereka tumbang di tengah jalan karena kelelahan. Tersisa Gerald, Javandille, dan Lacy yang berhasil berlari hingga putaran keempat.


Walupun dengan nafas yang hampir habis, Gerald tetap berlari dengan semampunya. Jarak antara dirinya dan Javandille serta Lacy sangatlah jauh. Mereka pun tidak tampak kelelahan.


"Sudah kuduga, dia tidak mudah menyerah," seru Mage.


"Ya, dia pasti masih kesal dengan perkataan si tubuh kekar itu. Sekarang, aku bingung siapa yang lebih menakutkan," balas Emil.


"Menurutku lebih menakutkan Gerald. Dia tidak banyak omong, jadi kita tidak tahu apa yang dipikirkannya," tambah Ladon.


"Benar, kita juga tidak tahu seberapa kuat dia."


"Ngapain kamu disini?" tanya Emil.


"Oh, ya ampun, terserah aku dong mau kemana aja. Lagi pula, tempat ini adalah tempat yang paling jelas untuk melihat sayang aku," jawab Kannon.


"Ha? Kamu lagi halu ya?"


Kannon menatap jengah Emil. Dari awal, dia tidak pernah suka pemuda berambut pink terang itu. Pemuda itu narsisnya sampai ke tulang. Walaupun, gadis itu tidak sadar kalau dirinya juga hampir sama.


"Urus urusanmu sendiri," ucap Kannon.


"Ya ampun, kejam kali itu mulut. Hatiku langsung terbelah menjadi dua. My heart is break," balas Emil sembari memeragakan hatinya yang terbelah.


Mage dan Ladon hanya bisa menggelengkan kepala melihat pertengakaran mereka. Kedua sudah seperti sepasang suami istri yang bertengkar karena masalah kecil.


"Baik, Lacy dan Javandille sudah menyelesaikan 5 putarannya dalam 27 menit," ucap Shin tiba-tiba.


Dia mengalihkan pandangannya pada Gerald yang masih berlatian setengah mati. Posturnya sudah tidak karuan, nafasnya pun tersengal. Wajahnya mulai pucat. Pria itu tahu kalau Gerald tidak akan bertahan lama.


"Hei, nak! Tidak usah memaksakan diri. Kau bisa menyerah sekarang. Menyelesaikan 4 dari 5 putaran itu sudah lebih dari cukup."


"Ya, menyerah saja pecundang," timpal Javandille.


Dia tertawa terbahak-bahak meledek Gerald. Wajahnya tampak puas karena bisa mengalahkan pemuda itu.


Gerald terhenti sejenak. Dia menundukkan kepala dan mengatur nafasnya. Cahaya sihirnya yang berwarna kuning mulai menyelimuti tubuhnya. Dalam waktu sekejap, dia sampai ke garis finish dan berhasil membuat semuanya terkejut.


"Wah, kupikir itu tidak akan berhasil, hahaha~. Aku benar-benar frustasi tadi. Untung saja berhasil, tapi..."


Tubuh Gerald terhuyung. Dia tiba-tiba pingsan begitu saja. Sembari menenangkan semuanya, Shin berkata, "Kelas hari ini selesai. Silahkan kembali ke asrama, atau bagi kalian yang memiliki kelas sore, silahkan berpindah. Aku akan membawanya ke UKS."


Shin mengangkat tubuh Gerald menuju ruang UKS, meninggalkan para murid yang menjerit kesenangan. Sedangkan, Mao mengikuti langkah Shin yang membawa Gerald dengan matanya.


Tatapan gadis itu sangatlah dingin. Hingga terlihat seperti ingin membunuh pemuda itu.


Pundak Mao tiba-tiba ditepuk oleh Lacy. Dengan nada mengejek, Lacy berkata, "Aku baru tahu kau juga tertarik oleh si bodoh itu. Kupikir hanya Kannon yang mau dengannya."


Mao tertawa pelan. Dengan suara yang lembut, dia menjawab, "Tidak, aku hanya berpikir, Gerald sangatlah kuat, ya."


"Entahlah, aku tidak terlalu mengerti sihir. Apa si bodoh itu sekuat itu?" tanya Lacy.


Mao kembali tertawa kecil. Dia menarik tangan sahabatnya itu menuju asrama. Lacy sedikit kesal karena Mao tidak menjawab pertanyaannya.


"Hei, kau mengabaikanku lagi. Ini sudah kedua kalinya kau seperti ini. Kau sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan," keluhnya.


"Haha~aku tidak tahu kau begitu peduli padanya. Bukankah kau tidak suka dengan sikapnya."


Lacy menekuk wajahnya. Perkataan Mao tidaklah salah. Tapi, itu bukanlah semata karena pemuda bodoh itu. Dia sadar sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengatakannya."


Lacy melangkah pergi meninggalkan Mao yang masih memasang wajah tersenyumnya. Setelah melihat Lacy menjauhi dirinya, Mao bergumam, "Dia sangat kuat loh. Sangat kuat sampai punya tiga cahaya sihir sekaligus". Diiringi dengan tawa kecilnya.