
Suara langkah kaki seseorang menggema di sebuah koridor. Ketukan dari tumit sepatu yang berirama membuat semua orang yang berada di depannya menyingkir sembari menundukkan kepala.
Seorang pria paruh baya sedang menunggunya di ujung koridor. Wajahnya tampak menunjukkan kekesalan pada seseorang itu. Dahinya mengernyit, rahangnya mengeras, urat di leher serta tangannya terlihat dengan sangat jelas.
Perlahan pria paruh baya itu melangkahkan kakinya mendekati seorang pemuda yang diagungkan oleh dunia di hadapanya.
"Kukira kau tidak akan datang, wahai penyihir agung Barvich." Ujar Pemuda itu menyunggingkan senyuman kepada pria tua di hadapanya.
Barvich menghunuskan tongkat kayu yang dia gunakan untuk membantunya jalan, ke depan dada pemuda itu. Senyum indah pemuda itu berubah menjadi senyum miring. Seakan-akan sedang memandang rendah sang penyihir agung itu.
"Dengarkan aku, Dominic. Kali ini kau sudah melangkah terlalu jauh. Kami para penyihir tertinggi istana tidak akan pernah menyetujui usulanmu, sekalipun kau adalah Raja dari negeri ini." Barvich menurunkan tongkat kayunya.
Pria tua itu mengetukkan tongkatnya dua kali ke tanah dan membuat sebuah pusaran pasir di bawah kakinya. Seakan terhisap oleh pusaran itu, dia menghilang perlahan.
Sebelum terhisap seutuhnya oleh pusaran itu, Barvich kembali memperingatkan Dominic akan perkataannya tadi. Pemuda itu menundukkan kepalanya pada Barvich hingga pria tua di hadapannya menghilang.
Setelah Barvich menghilang seutuhnya, senyuman yang tersungging di bibir Dominic menghilang seketika. Diikuti oleh beberapa pengawal yang cukup loyal, Dominic melangkahkan kaki menuju ruangan kerja miliknya. Ruangan berpintu kayu besar di ujung koridor dimana ketika dia membukanya menimbulkan bunyi derik yang cukup keras.
Pemandangan pertama yang terlihat ketika pintu itu terbuka adalah seorang gadis kecil berumur sekitar 5 hingga 6 tahun sedang menggoyang-goyangkan kakinya santai.
Rambut putih miliknya bersinar terang karena pantulan cahaya matahari terlihat sangat indah. Tangan mungilnya memegang dua buah permen, diayunkan ke kanan dan kiri.
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya ketika menyadari Dominic berada di depan pintu sedang menatapnya.
"Dominic, kau telat. Aku sudah menunggumu dari tadi." Pemuda itu terkekeh pelan menghadapi keimutan gadis kecil yang duduk di meja kerjanya.
Dominic menghampiri gadis kecil itu dan menurunkannya dari meja. "Jangan naik ke meja lagi ya, banyak kerjaanku di meja ini," ujarnya.
Sang gadis kecil menaruh kedua tangannya di pinggang. Mendengus kesal, dia menjauhi Dominic yang duduk di meja kerja berfokus pada tumpukan kertas disana menuju jendela yang besar di ruangan itu dan memandang jauh ke halaman istana.
"Dominic, apa aku boleh bermain ke luar?" gadis itu menyentuh kaca jendela dihadapannya. Pandangannya menampakkan kesedihan. Dominic terkekeh pelan dan menghampirinya.
Pemuda itu menepuk pelan pucuk kepala sang gadis kecil dan berkata "Ini sudah kesekian kalinya kau bertanya hal yang sama Lacessca, dan jawabanku tetaplah sama."
Gadis kecil yang diketahui bernama Lacessca itu menatap Dominic dan memohon agar dia bisa bermain keluar bersama yang lainnya. Dominic melayangkan senyumannya dan mengelus pelan pucuk kepala gadis kecil itu.
Sejak umurnya menginjak 2 tahun, Lacessca sudah bisa menggunakan sihir yang terbilang cukup sulit untuk anak seumurannya. Oleh sebab itu, dia sudah diangkat menjadi penyihir terhormat dan selalu berada di samping sang raja.
Saat umurnya genap 4 tahun pun, dia kembali membuat seluruh penghuni istana kagum akan dirinya. Dia dapat mengalahkan semua prajurit-prajurit terkuat di istana hanya dengan pisau plastiknya.
Sejak saat itu lah dia di angkat menjadi pengawal kerajaan tertinggi sekaligus pengawal pribadi sang raja, yaitu Dominic, di umurnya yang masih kecil.
"Tapi aku ingin bermain bersama yang lainnya. Aku ingin bermain dengan Licht." Gadis itu kembali menatap ke kejauhan.
Seketika air muka Dominic berubah. Dia terlihat marah ketika mendengar nama yang disebutkan oleh Lacessca, namun sebisa mungkin dia sembunyikan dari gadis kecil itu dengan senyumannya.
Pemuda itu mengelus pelan kepala Lacessca dan mengatakan "Baiklah, kau bisa bermain dengan yang lain." Lacessca menyunggingkan senyum sumringah ketika mendengarnya.
"Tapi, jangan pernah pakai sihirmu," lanjutnya. Sang gadis kecil memiringkan kepalanya bingung. Dia tidak mengerti mengapa Dominic berkata seperti itu, namun tanpa bertanya lebih banyak dia menganggukkan kepalanya dan berlari keluar ruangan. Dengan senyuman hangat Dominic memperhatikan pengawal pribadinya itu meninggalkan ruang kerjanya.
Dominic mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan dengan perasaan yang kesal, dia meninggalkan jendela besar itu.
Lacessca berlarian dengan kakinya yang mungil di sepanjang koridor. Bibirnya membentuk garis melengkung sempurna di sepanjang langkahnya. Gadis kecil itu sangat senang bisa bertemu dengan satu-satunya teman miliknya di istana.
Menjadi penyihir terhormat dan pengawal kerajaan tertinggi sekaligus pengawal pribadi raja di usia yang sangat muda membuatnya jarang bertemu dengan teman sebayanya. Dia bahkan seperti dijauhi oleh teman-temannya karena gelarnya itu. Hanya satu orang saja yang memperlakukannya sama dan mau bermain dengannya, yaitu Licht.
Licht adalah anak lelaki yang sudah berusia 11 tahun. Dia yang paling sering bermain dengan Lacessca. Ketika teman-teman sebaya Lacessca menjauhinya, hanya Licht lah yang mendekati gadis kecil itu.
Sebenarnya Lacessca kurang tahu latar belakang Licht. Dia tidak tahu siapa ayahnya, dia tidak tahu mengapa Licht berada di Istana, bahkan dia tidak tahu sepeti apa keluarga Licht.
Lacessca hanya peduli bahwa dia memiliki teman untuk diajak bermain, tidak peduli kalau perbedaan usia antara dirinya dan Licht itu begitu jauh.
Lacessca terus melangkahkan kaki mungilnya menuju luar istana. Dia melambai-lambaikan tangan kanannya ketika dirinya sudah melihat Licht yang tengah bermain dengan sihirnya.
"Licht!!" teriak gadis kecil itu sembari menghampiri remaja tampan berambut putih keperakan. Licht menghentikan aktivitasnya dan menyambut gadis itu dengan senyuman manis.
"Licht, ayo main!" ujar Lacessca.
"Dia sedang tidak bisa bermain denganmu, wahai penyihir terhormat Lacessca Marriotte." Sebuah suara menjawab pernyataan gadis kecil itu dengan intonasi yang cukup tinggi.
Suara itu seakan marah dengan Lacessca karena mengganggu Licht. Sontak sang gadis kecil menolehkan kepalanya menuju sumber suara.
Disana, dia menemukan Barvich yang tengah menatapnya marah. Lacessca yang ketakutan, berjalan mundur dan bersembunyi di belakang punggung Licht.
"Ayah, biarkan aku bermain dengan Lacessca. Aku sudah melakukan apa yang kau mau sejak 2 jam yang lalu, aku ingin istirahat." Keluh Licht sembari melindungi teman kecilnya.
Barvich menatap pemuda yang merupakan anak keduanya itu dengan tatapan marah. Pria tua itu mendekati Licht dan mencengkram kerah bajunya. Tatapan matanya begitu menakutkan sehingga membuat tubuh Lacessca dan Licht bergetar ketakutan.
Mata tajam berwarna hijau emerald milik Licht mengeluarkan air mata saking takutnya. Suaranya bergetar dan pecah, namun dengan berani dia berkata, "Aku tidak peduli seberapa bencinya kau pada Lacessca, tapi aku tidak akan membiarkan kau melukainya."
Pemuda tampan itu mencoba melepaskan cengkraman Barvich dari kerah bajunya. Namun apalah daya, kekuatannya tidak seimbang dengan pria tua itu.
Walaupun dari luar penyihir tua yang memiliki gelar penyihir agung itu terlihat rapuh, namun kekuatannya sangatlah luar biasa.
"Wahai penyihir agung, Barvich Kavrlot, anda sudah diberi ultimatum oleh Yang Mulia untuk tidak memakai sihir yang dapat melukai seseorang di istana."
Sebuah suara menyelamatkan Licht dan Lacessca. Suara itu adalah milik seorang pengawal terkuat di istana, Ikaros.
"Dan kupikir kekuatanmu tidak akan sebanding dengan kekuatan milik nona Lacessca," lanjutnya sembari memandang rendah pria tua yang masih mencengkram kerah baju Licht itu.
Senyuman miring ditampilkannya. Pria itu seakan-akan tidak takut pada gelar yang melekat pada diri Barvich.
Barvich mendecak kesal dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan memakai sihir teleportasinya.
Ikaros menghela nafasnya pelan dan mengalihkan pandangannya menuju kedua sahabat itu. Dia menyunggingkan senyuman hangat pada mereka berdua dan berkata, "Sudah tidak apa-apa nona Lacessca, dan tuan Licht."
Lacessca segera berlari menuju dekapan salah satu teman baiknya itu dan menangis sejadi-jadinya. Sepertinya gadis kecil itu benar-benar ketakutan hingga lupa dia bisa saja mengalahkan Barvich dengan mudah.