Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 33



Alven terduduk santai dihadapan Eden di ruangan rahasia aula sekolah Alphrolone. Dia menenggak teh hangat yang disediakan oleh pria yang menyandang title kepala sekolah itu.


"Aku tidak pernah menyangka bisa mendapat bantuan dari master Eden."


Eden tersenyum lebar. Dia tampak bahagia bertemu dengan kawan lamanya itu. Dengan suaranya yang berat, dia berkata, "Kenapa kau tidak lepas sihir penyamaranmu itu? Aku ingin melihat wujud aslimu."


Alven menganggukkan kepalanya dan segera mengubah dirinya ke wujud asli, yaitu Hugo. Rambutnya yang berwarna hitam legam, memudar dan menjadi sedikit keabuan. Struktur wajahnya pun sedikit berubah dari sebelumnya. Dia telah benar-benar berubah menjadi Hugo, orang yang dicari oleh Louise.


"Terimakasih banyak sudah membantuku, master. Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin aku sudah mati di tangan pengawal kerajaan itu," ucap Alven yang sudah berubah menjadi Hugo.


"Oh, kau dikejar oleh pengawal kerajaan? Aku tidak tahu, aku hanya merasakan energi yang familiar di dekat protector-ku."


Hugo sedikit terkejut dengan pernyataan yang diutarakan oleh Eden. Dia tidak pernah melihat, apalagi merasakan adanya protector disekitarnya. Dia hanya berlari menyelamatkan dirinya.


Hugo menyunggingkan sebuah senyuman. Sepertinya waktu itu adalah hari beruntungnya. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa bertemu dengan master-nya.


"Bagaimana lukamu? Aku bukanlah pemegang sihir jenis healer, aku tidak bisa menyembuhkanmu. Aku juga tidak bisa membawa dokter ke sini. Tapi, sepertinya kau mengobati luka-lukamu dengan cukup baik," ucap Eden.


Hugo menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, dia hampir saja mati. Kalau saja Gerald terlambat datang, dia mungkin akan menjadi seonggok mayat di ruang rahasia itu.


Eden kembali tersenyum bahagia. Namun, pandangannya terhenti ketika melihat sebuah inti protector berada tak jauh dari dirinya. Pria itu bertanya, "Apa kau yang membuat protector ini?"


Hugo menggelengkan kepalanya. Dia segera menjelaskan situasinya yang hampir mati dan bertemu dengan salah satu murid disana. Hugo tidak memberitahukan nama Gerald pada maste**r-nya itu. Entah karena apa, dia merasa tidak perlu memberi tahukannya.


"Oh~dia cukup pintar juga untuk menyembunyikan inti protector di ruangan ini," puji Eden.


Dia tidak menduga kalau protector itu adalah buatan dari murid baru sekolahnya. Dia juga tahu kalau Levy, guru yang memberikan pelajaran tentang pertahanan diri, tidak akan memberi penjelasan lebih tentang protector.


Wanita itu hanya akan memberikan penjelasan rancu dan tidak menerima pertanyaan. Karena, murid yang tidak memiliki sihir di tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Eden melangkahkan kakinya mendekati inti protector yang berbentuk bola berwarna hitam gelap itu. Pria itu menyentuhnya untuk mengetahui command apa yang ada didalamnya.


"Hm~command didalamnya cukup terperinci dan mengerucut. Cukup pintar, tapi tetap saja protector ini memiliki kelemahan," ucapnya.


"Mari bertaruh, Hugo. Apakah protector ini bisa bertahan selama seminggu tanpa retakan sedikit pun, atau akan hancur sebelum hari yang ditentukan?"


Hugo berpikir sejenak. Dia tidak begitu yakin, tapi dia memilih kalau protector itu akan berhasil bertahan selama seminggu tanpa goresan sedikit pun. Eden tersenyum. Otomatis pilihan yang tersisa untuknya adalah protector itu akan hancur kurang dari seminggu. Sayang sekali, padahal dia percaya protector itu dapat bertahan. Tapi apa boleh buat, ini adalah taruhan.


"Apa yang kau mau kalau kau benar?" tawar Eden.


"Tidak ada. Tawarkan saja pada sang pemilik protector ini," balas Hugo.


"Oh, kau tak mau memberikan hadiah pada muridmu?"


Tampaknya Eden telah salah paham kalau Hugo lah yang telah mengajarkan Gerald tentang pembuatan protector yang kuat. Mendengar itu, Hugo tertawa kecil dan menggelengkan kepala.


"Tidak, aku tidak pernah mengajarkan siapa pun. Aku baru saja bertemu dengannya, bagaimana mungkin aku mengajarkannya dalam waktu sesingkat itu," jelas Hugo.


Eden menganggukkan kepala. Masuk akal juga apa yang diucapkan oleh Hugo. Belajar pengaplikasian protector itu paling lama dua bulan lebih, dan paling cepat mungkin sebulan.


"Lagipula, kau tidak perlu bertaruh apa-apa master. Bahkan, jika kau bertaruh akan berhenti jadi kepala sekolah pun, tidak ada pengaruhnya bagiku," lanjut Hugo.


"Ahaha~kau benar juga. Lagipula, aku tidak yakin aku akan menang."


Tawa renyah dari Eden dan Hugo menggema di ruangan rahasia itu. Mereka kembali bercanda dan menanyakan tentang kabar satu sama lain hingga langit menjadi gelap, dan tidak ada yang sadar akan cepatnya waktu berjalan.


...****************...


Sebenarnya, Gerald dan teman kelompoknya tidak terlalu menyukai ide ini. Hal ini bisa dipakai oleh kelompok lain untuk diam-diam menghancurkannya, dan Gerald paham bagaimana rasanya protector yang kita buat, dihancurkan oleh orang lain. Rasanya sangat menyakitkan, seperti berada di ambang kematian.


"Gerald, apa kau tak apa kemarin?" bisik Mage.


Gerald mengernyitkan dahinya. Dia bingung kenapa temannya itu bertanya tentang keadaannya. Walaupun sedikit bingung, Gerald tetap menjawab, "Tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?"


Kannon dan Cecilia menatap Mage secara bersamaan. Gadis-gadis itu pun bingung tentang pertanyaan dari pemuda berkacamata disamping mereka.


"Tadi malam, aku tidak bisa tidur, jadi pergi keliling asrama sebentar. Aku ada dengar orang yang bilang kalau dia sudah hancurin inti protector yang ada di aula. Di aula kan hanya ada protector milikmu dan Lacy," jelas Mage.


Lacy tersentak kaget. Pantas saja, kemarin, setelah selesai bebersih, dia merasakan ngilu di tangannya. Tangannya kebas sampai beberapa detik lamanya. Awalnya, dia kira karena dirinya terlalu lelah. Tapi, setelah mendengar ucapan Mage, mungkin saja hal itu berkaitan.


"Oh~tidak apa. Hanya sedikit nyeri di dada," ucap Gerald santai.


"Mana mungkin hanya sedikit nyeri. Orang yang membuat inti protector akan mendapat damage paling besar jika itu dihancurkan, kan pak Arnold sudah menjelaskannya."


Semuanya mengangguk setuju dan beralih menatap Gerald, meminta penjelasan. Gerald yang enggan menanggapi mereka, hanya berlalu tanpa menjawab rasa penasaran mereka.


"Lalu, bagaimana dengan protector yang ada di aula?" tanya Ladon.


"Baiklah anak-anak, ayo kita beralih ke aula. Kita akan melihat protector milik Gerald dan Lacy. Ingat, penilaian dimulai hari ini. Jika ada protector yang hancur, maka otomatis mereka akan gugur," ucap Levy tiba-tiba.


Gerald terdiam sambil menatap sinis wanita itu. Dia bisa melihat kalau wanita itu tersenyum miring sambil menatapnya. Seakan, dia tahu kalau protector miliknya hancur.


Pemuda itu menggertakkan giginya kesal. Wanita itu sangat licik, seperti seekor rubah. Gerald memang tidak bisa membuktikannya, tapi dia yakin kalau wanita itu menyuruh beberapa orang murid untuk membuat kelompoknya gagal dalam ujiannya. Hanya karena ada seorang nulla didalamnya.


Sesampainya mereka di aula, Mage terkejut bukan main. Mata pemuda itu membulat dengan sempurna. Entah apa yang membuatnya terkejut seperti itu. Tapi, dia menyembunyikan rasa terkejutnya itu dari teman-temannya.


Rasa terkejut itu tampaknya juga dirasakan oleh Levy. Wanita itu terkejut karena protector milik Gerald masih berdiri kokoh. Dia menatap tajam seorang murid yang berdiri didekatnya. Dalam hati, dia mengutuknya karena pekerjaan yang tidak becus.


Sedangkan, Gerald yang melihat itu semua, tertawa penuh kemenangan dalam hati. Pemuda itu sangat bangga pada dirinya, namun dia menyembunyikan itu semua dengan wajah tidak pedulinya.


"Bagaimana bu? Protector milik kami sangatlah bagus kan? Protector kami melindungi seluruh aula," ucap Gerald sembari tersenyum ramah.


Pemuda itu bermaksud meledek gurunya yang licik itu. Benar saja, Levy begitu kesal dengan perkataan pemuda itu. Terlihat dari wajahnya yang tertekuk dan tangannya yang mengepal.


"Ha! Jangan sombong dulu, ini baru hari pertama. Lagipula, protector ini pasti hanya kerjamu saja kan? Karena tidak mungkin si nulla tidak berguna itu bisa membuat sebuah protector," ucap seorang murid perempuan yang sama menyebalkannya dengan Levy.


Gerald sangat marah sebenarnya, namun dia memilih tetap diam dan mengalah. Mage pun sudah menepuk pundaknya dan mengatakan untuk tidak terlalu memedulikan sindiran mereka.


"Iya, kalian tidak boleh sombong. Di atas langit masih ada langit. Kalau kalian sudah besar kepala di hari pertama, kalian akan menangis nanti pada hari selanjutnya karena protector kalian hancur."


Setelah mengatakan hal itu, Levy kembali menatap murid yang berada disebelahnya. Memberi kode untuk segera menghancurkan protector itu. Murid itu menganggukkan kepalanya mengerti.


"Baiklah, mari kita beralih ke tempat selanjutnya."


Levy dan yang lainnya melanjutkan langkah mereka. Hanya Gerald yang terdiam memaku di tempat. Dia sangat benci hal ini. Kenapa banyak sekali orang yang berbuat licik hanya untuk menjatuhkan satu atau dua orang?


"Tidak usah pedulikan mereka, nak. Protector milikmu tidak akan bisa hancur semudah itu. Asal kau rajin memperbaiki jebakan di depan, protector-mu tidak akan bisa disentuh orang lain."


Gerald bisa mendengar suar Alven dengan sangat jelas. Pemuda itu mengalihkan pandangannya kedalam aula. Disana, dia bisa melihat Alven yang sedang tersenyum ke arahnya sembari melambaikan tangan.


Gerald ikut tersenyum. Dia seperti termotivasi dengan kata-kata pria itu. Dia melangkahkan kakinya, mengikuti teman-teman yang sudah berada jauh didepannya. Dia sudah bertekad sangat kuat, bahwa dia tidak akan kalah oleh siapa pun. Sebelum dia mendapatkan tempat tinggal yang tetap, dia tidak akan keluar dari sana.