Unleashed Power

Unleashed Power
Bab 17



Pagi yang cerah. Seluruh murid Alphrolone telah berkumpul di aula sekolah. Tak terkecuali Gerald yang masih terkantuk-kantuk. Sedari tadi dia menguap karena tidak tidur tadi malam. Tampaknya pemuda itu masih memikirkan tentang apa yang terjadi padanya.


Dia terus memikirkan kemungkinan yang ada hingga matanya menutup karena tak tahan menahan kantuk. Ketika bangun, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dan dia harus masuk sekolah.


Pemuda itu sempat bertanya pada teman sekamarnya kenapa tidak ada yang membangunkannya.


"Kami sudah membangunkanmu. Dengan cara ditampar, ditendang, diguyur air pun tidak mempan. Hampir saja aku membawa dokter sekolah karena kupikir kau sudah mati," jelas Mage.


Gerald menghela nafasnya panjang. Sebenarnya, dia terlalu malas untuk berkumpul di aula ini. Dia teringat kembali dengan perkataan Emil yang dingin kemarin.


Kalian tahu? karena hal itu, Gerald tidak menyapa Emil sedari pagi. Walaupun, Emil masih seperti dia yang biasanya, namun Gerald menjadi tidak nyaman dan agak canggung. Gerald juga masih menyimpan rasa kesal dalam hatinya karena perkataan temannya itu.


"Kau ingin satu kelompok dengan siapa?"


"Tentu saja Konny. Dia adalah salah satu kandidat murid terkuat. Apalagi dengan jenis sihir controller-nya, kastanya bertambah tinggi. Siapa yang tidak mau satu kelompok dengannya?"


"Ya, dia tidak bisa dibandingkan dengan si ****** yang tak punya sihir itu."


"Kudengar dia menjual dirinya supaya bisa masuk sekolah ini."


"Ya, sangat tidak masuk akal jika dia lulus ujian dengan kemampuannya yang lemah itu. Pasti dia telah bermain curang."


Gerald menggelengkan kepala mendengar sekumpulan gadis-gadis rumpi dibelakangnya. Walaupun dia tidak tahu siapa yang mereka bicarakan, tapi pemuda itu merasa kasihan padanya.


Mereka pasti hanya iri karena tidak bisa menyamainya, pikirnya. Gerald mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pemuda itu memperhatikan satu per satu peserta yang ada.


Mereka terlihat berbeda dengan saat ujian masuk. Mereka semua tampak terlihat senang dan bangga, mungkin sedikit angkuh.


Gerald kembali menghela nafasnya. Dia bertanya-tanya kenapa ada sistem klasifikasi sihir di dunia ini. Mengapa orang dengan jenis sihir yang terbilang lemah malah dikucilkan, sedangan orang dengan jenis sihir yang terbilang kuat dielu-elukan. Bukankah mereka sama saja?


"Selamat pagi, adik-adik sekalian. Hari ini, saya selaku ketua osis di sekolah ini akan membagikan kelompok kalian," ucap Fred.


Gerald menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menutup matanya. Pemuda itu tidak begitu ingin mendengar ucapan senior berambut panjang itu. Dia tidak peduli dengan siapa dia berkelompok. Tidak menjadi masalah baginya siapa yang akan menjadi kelompoknya.


Dia bukanlah orang dengan tipe yang membanding-bandingkan orang dengan sihirnya. Tak butuh waktu lama, pemuda itu terlelap dalam tidurnya. Tampaknya dia begitu capek karena tidak tidur semalam.


...****************...


"Unleashed Authority of the Ruler : Forgotten Memories,"


Gerald terbangun kaget. Dia melihat ke sekitar. Pemuda itu mencari ke sekeliling. Sepertinya ada orang yang membisikkan kata-kata itu saat dia tertidur. Tapi, dia merasa familiar dengan suara itu.


Gerald mengernyit. Dia berusaha mengingat dimana dia pernah mendengar suara itu. Dan apa maksud dari kata-kata itu? Apa itu sejenis mantra sihir?


Kepala Gerald mulai pusing. Dia tidak bisa mencari jawaban dari pertanyaan di kepalanya. Tak lama ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan.


"Hei, apa kau sudah bangun? Ayo kesana, kita sekelompok."


Gerald mengerjapkan matanya berulang kali. Dia tampak bingung dengan perkataan Mage.


"Apa pembagian kelompoknya sudah selesai?" tanya Gerald bingung.


"Ya, dan kau tidur sepanjang pembagiannya. Cepat ikuti aku, biar kukenalkan kau dengan yang lain. Yah, walaupun kau sudah kenal dengan sebagian orang disana."


Gerald mengikuti Mage pergi menuju kelompok mereka. Disana dia bisa melihat dengan jelas ada Emil dan Ladon yang tampak sedang menunggu mereka. Pemuda itu juga dapat melihat 4 gadis bersama mereka, dan dia sangat mengenal salah satu darinya.


"Lacy?" panggil Gerald.


"Oh, apakah tukang tidur kita sudah bangun?" tanya salah seorang gadis yang memiliki rambut seperti ombak laut.


"Siapa kau?" tanya Gerald polos.


"Apa? Kau tidak tahu aku? Bagaimana orang rendahan sepertimu tak tahu aku? Aku adalah Kannon Waves, anak dari Count Waves," jelas gadis itu bangga.


"Tidak, aku tidak tahu. Apa mereka terkenal?"


Gerald mengalihkan pandangannya pada Mage, berharap temannya itu mau dengan senang hati menjelaskan padanya.


"Count Waves adalah salah satu bangsawan terkenal di North Mantauna. Mereka menjalin hubungan yang baik dengan bangsawan dari negara bagian lain karena bisnis mineralnya," jelas Mage.


Gerald menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan, Kannon mengangkat kepalanya sombong. Gadis itu berpikir bahwa hanya dirinyalah yang berada di keluarga terpandang.


"Lalu?" tanya Gerald lagi.


Kannon yang mendengarnya, terdiam tak bisa berkata-kata. Dia belum pernah bertemu dengan orang setidak peka Gerald. Biasanya, semua orang yang tahu tentang keluarganya selalu menunjukkan rasa hormat. Alasannya adalah agar mereka bisa bekerja sama dengan keluarganya.


"Ha! Siapa keluargamu? Kupastikan keluargamu tidak akan pernah hidup tenang. Salahkan lah dirimu sendiri karena bersikap tak sopan padaku."


Pemuda itu sedikit kesal dengan cara bicara Kannon yang terkesan sombong. Dia mengalihkan pandangan pada gadis yang tampak malu-malu disamping Kannon.


"Lalu, siapa namamu?" tanya Gerald pada gadis itu.


"Namanya Cecilia Lukewarm. Keluarganya juga seorang bangsawan yang terkenal di West Mantauna," jelas Mage.


"Dan gadis berambut coklat ini adalah Mao Grenschutte. Ayahnya adalah dokter Shern Grenschutte yang terkenal," lanjutnya.


Gerald mengernyit begitu mendengar nama itu. Dia merasa pernah mendengar nama itu dari Harmin, secara dia juga adalah seorang dokter.


"Oke, jadi kelompok kita ada 8 orang?"


Mage mengangguk menanggapi pertanyaan temannya itu. Pemuda berkacamata itu menyuruh mereka semua untuk duduk senyaman mungkin.


"Oke, mari kita mulai dari perkenalan. Sebutkan namamu dan jenis sihirmu. Mulai dari aku, namaku Mage Kressarron, jenis sihirku adalah maker."


Mage mengalihkan pandangannya pada Ladon yang berada disampingnya. Dengan maksud menyuruhnya untuk memperkenalkan diri setelahnya.


"Namaku Ladon, jenis sihirku adalah maker. Aku bisa membuat bom," ucapnya.


"Hm? Apa kau tak punya nama keluarga?" tanya Kannon.


"Ehemm~ Kannon silahkan perkenalkan dirimu," potong Mage.


Kannon menatap pemuda itu sinis. Dalam hati, dia mengutuknya karena berani memotong pembicaraannya.


"Hm! Namaku Kannon Waves, jenis sihirku elemental api."


"Wah~ sangat tidak sesuai dengan nama dan rambutmu. Apa itu karena sifatmu?" ejek Gerald.


Mage melerai Gerald dan Kannon yang hampir saling menghajar satu sama lain. Jika dia terlambat sedikit saja, Gerald mungkin sudah terbakar karena sihir Kannon.


"N-namaku Cecilia Lukewarm. J-jenis sihirku elemental air," ucap Cecilia gugup.


Mendengar jenis sihir milik Cecilia, Gerald tertawa terbahak-bahak. Sambil menunjuk Kannon, pemuda itu berkata, "Wahaha~ sihir kalian sungguh berbanding terbalik, ahahaha~"


Kannon mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju pemuda berambut coklat itu. Namun, lagi-lagi Mage menghentikannya dan langsung menyuruh Emil untuk mengenalkan dirinya.


"Namaku Emil B-"


Emil terhenti sejenak. Dia tampak ragu untuk menyebut nama panjangnya. Entah apa yang dia pikirkan, wajahnya tampak pucat. Pemuda itu menelan ludahnya dengan susah payah sebelum melanjutkan perkenalannya.


"Namaku Emil Breau, jenis sihirku adalah maker, aku membuat jaring."


"Wah~kau dari keluarga Breau? Kudengar keluarga itu cukup kuat dengan sihir Controller-nya. Tapi, kenapa jenis sihirmu maker?" tanya Kannon.


Emil terdiam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Dia mengalihkan pandangan dan mengabaikan pertanyaan dari Kannon.


"Namaku Mao Grenschutte, jenis sihirku adalah maker yang bisa mengeluarkan belukar," potong Mao.


Sepertinya gadis itu juga sedikit risih dengan Kannon yang terlalu kepo. Bagaimana pun itu adalah privasi dari Emil. Tidak sepantasnya dia bertanya seperti itu. Dia tidak sopan, pikir Mao.


"Namaku adalah Lacy Deandris, aku tidak punya sihir. Aku hanya bisa mengayunkan pedang. Kalau masalah kekuatan, aku tidak kalah."


Gerald menepuk tangannya pelan. Dia tampak begitu bangga mendengar perkataan Lacy. Namun, kebahagiaannya itu diusik dengan perkataan menyakitkan dari Kannon.


"Huh! Mau sekuat apa pun dirimu, kau tetaplah orang tanpa sihir. Tidak mungkin kau mengalahkan seseorang yang dikaruniai kekuatan sihir."


Ingin rasanya Gerald menyumpal mulut dan hidung gadis itu dengan cabai pedas agar dia tidak asal ceplas-ceplos lagi. Tidak peduli siapa pun dirimu, jika kau memiliki kepribadian yang buruk, semuanya akan hancur begitu saja.


"Namaku adalah Gerald Bender, jenis sihirku adalah maker, aku bisa mengeluarkan benang, sepertinya," ucap Gerald ragu, namun dengan nada yang ketus. Dia masih sedikit kesal dengan Kannon karena telah mengata-ngatai pujaan hatinya.


Namun, saat dirinya mengalihkan pandangan pada gadis itu, Kannon tampak membelalakkan matanya. Gadis itu tampak terkejut, entah karena apa.


"K-kau anak dari Harmin Bender?" tanyanya gugup.


Tanpa ragu, Gerald mengangguk. Dengan santainya dia berkata, "Yah~apa ada masalah?"


Pemuda itu mengedarkan pandangannya. Tampaknya semua temannya terkejut, kecuali Mage. Pemuda itu tampak santai saja mendengar fakta yang dikeluarkan Gerald. Dia terlalu sibuk menulis sesuatu dan tidak sempat menanggapi cerita miliknya.


"Wow~ kau selalu membuatku terkejut kawan. Bukankah pamanmu juga Arnold Fruinder?" ucap Emil.


"APA??!!!" Teriak keempat gadis di kelompoknya berbarengan.


"Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Gerald dalam hati.