
Mage menatap heran Gerald yang datang sendirian. Padahal dia sudah berpesan pada dia dan Lacy untuk menemui mereka. Tenggat waktu untuk tugas mereka ini tidaklah banyak. Mereka harus menyusun strategi agar protector milik kelompok mereka tidaklah hancur.
"Mana Lacy?" tanya Emil.
Gerald hanya mengangkat bahu seperti tidak peduli. Pemuda itu malah menggerutu sembari memijat kepalanya.
"Tidak tahu. Kepalaku sakit, jangan ajak aku bicara dulu. Bahas saja apa yang ingin kalian bahas, aku hanya akan mendengarkan disini," ujar Gerald.
Mage menghela nafas. Dia sudah mulai terbiasa dengan temannya yang tempramen itu. Emosinya bisa berubah kapan saja.
"A-apa kau mau air putih?" tawar Cecilia sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Gerald.
Pemuda itu menerimanya dengan senang hati. Dia menggaknya hingga setengah dari botol itu habis. Tak lupa, Gerald berterima kasih pada Cecilia.
Senyuman bodoh mulai terlukis di wajah Gerald. Tampaknya, dia sudah mulai kembali pada dirinya yang ceria.
Mage menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak bisa memahami pemuda berambut coklat itu. Namun, dia tidak mau ambil pusing sekarang. Mereka masih harus membahas strategi.
"Seperti yang kalian tahu, tugas kali ini adalah ujian kita untuk mendapatkan misi agar bisa lulus. Semua murid pasti sudah tahu juga tentang hal ini, entah itu dari ucapan senior ataupun dari guru yang lain. Untuk menyingkirkan pesaing, mungkin saja mereka akan mencoba menghancurkan protector milik kelompok lain. Jadi, ada yang punya strategi agar protector bisa bertahan sampai seminggu?"
Mereka terdiam. Wajah mereka tampak berpikir keras. Jujur saja, siapa juga yang mau gagal. Setelah ujian masuk yang sulit itu, mereka tidak mungkin akan menyerah begitu saja pada ujian kali ini.
"Kenapa tidak pasang jebakan saja di sekitar?" saran Gerald asal-asalan.
Pemuda itu tidak tertarik dengan hal yang lain. Dia hanya ingin mengakhiri pertemuan mereka itu dan meminun coklat panas, serta bersantai di kasurnya yang empuk.
Namun, siapa yang sangka kalau mereka malah tertarik dengan ide milik Gerald. Mereka mengingat saat Gerald melawan Lacy di ujian masuk, saat Gerald membuat jebakan di lantai arena agar gadis itu terkurung.
"Mungkin itu ide yang bagus. Tapi, aku tidak tahu cara membuat jebakan. Kau tahu?" tanya Emil pada Mao.
Gadis itu menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya pada Ladon, namun pemuda itu juga tidak tahu bagaimana caranya.
"Apa kau bisa memberitahu kami bagaimana cara membuat jebakan yang kau maksud Gerald?"
Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika mendengar pertanyaan dari Mage. Bukan ini yang dia mau. Seharusnya mereka meremehkan idenya dan beralih ke ide yang lain.
Dengan ragu-ragu Gerald berkata, "Eee~mungkin...dengan cara membuat sihirmu mengalir ditanah?"
Jujur, Gerald juga tidak tahu bagaimana caranya. Hal yang dia lakukan saat ujian masuk adalah spontanitas, atau mungkin sebuah kebetulan. Dia hanyalah merapal mantra prison, namun salah sasaran.
Sembari terus memutar bola matanya, mencari alasan. Gerald mengutarakan ide-ide yang tak masuk akal, namun dipercaya oleh teman-temannya. Itu bisa dilihat dari Mao dan Cecilia yang mencatat apa yang dikatakan olehnya.
Setelah Gerald selesai mengatakan omong kosong, Mage menepuk tangannya dan menyuruh setiap kelompok untuk kembali ke tempat protector mereka masing-masing.
Satu per satu dari mereka mulai pergi. Tersisa Gerald yang masih terbengong, mencoba memahami situasi kali ini. Dia bertanya dalam hati, apa yang dikatakannya masuk akal? Jujur saja, dia sendiri tidak berpikir kalau itu masuk akal. Tapi kenapa mereka menganggukkan kepala seolah paham tentang apa yang dia bicarakan?
Gerald menepuk pipinya pelan. Dia tidak mau memikirkan hal yang memusingkan lagi. Jika diteruskan, kepalanya mungkin akan meledak.
Seperti yang disuruh oleh Mage, Gerald kembali ke aula untuk membuat jebakan disekitarnya. Namun, saat dia hampir mencapai aula, dia melihat seseorang yang mencurigakan sedang celingak-celinguk. Entah apa yang dia perbuat, namun tiba-tiba Gerald merasakan sakit yang teramat sangat.
Awalnya, saat Arnold berbicara tentang efek samping hancurnya sebuah protector, Gerald tidak begitu percaya. Tapi, ketika dia merasakannya sendiri, dia paham akan hal itu.
Gerald mengintip, melihat orang yang dicurigai telah menghancurkan protector miliknya dan Lacy. Dia melihat dengan sangat jelas kalau orang itu tampak tak merasa bersalah sama sekali. Sambil tertawa girang, dia berlari meninggalkan tempat kejadian.
Dengan langkah yang lemah, Gerald pergi ke aula untuk melihat keadaan. Sesampainya disana, dia sudah melihat inti protector mereka hancur dan menyisakan pecahan kaca berwarna kuning.
Gerald terdiam sejenak. Dia begitu marah, namun pada dirinya sendiri. Karena dirinya yang tidak begitu kuat, protector miliknya dan Lacy hancur. Karena command-nya yang punya banyak celah, orang itu bisa masuk dan menghancurkan intinya.
Gerald mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia hampir menitikkan air mata. Dia merasa sudah menjadi beban bagi teman-temannya.
Pemuda itu menghela nafasnya panjang. Dia mengelilingi aula. Ini bukanlah hal yang harus disesali begitu lama. Dia harus mencari tempat untuk menyembunyikan intinya lagi.
Gerald menghentikan langkahnya. Dia mengingat sesuatu yang bisa membantunya. Dia pernah membaca buku yang ada di perpustakaan kediamannya.
Sejenak, dia menelan ludahnya. Lalu, berkata, "Thread Maker Activated : Tracer Thread,"
Cahaya sihirnya mulai menyelimuti tangan kirinya. Setelah itu, muncul lah dua helai benang yang melayang-layang, mengitari aula.
Gerald menunggunya dengan tenang. Dia mencoba merasakan, dimana tempat yang bagus untuk menyimpan inti protector. Namun, alih-alih menemukan tempat yang bagus, pemuda itu malah merasakan ada seseorang yang bersembunyi di aula.
Gerald menelan ludahnya kasar. Dia menghilangkan sihir benangnya, dan melangkahkan kaki menuju tempat orang itu bersembunyi.
Perlahan, namun pasti dia melangkahkan kakinya. Jujur, dia sedikit takut untuk menghadapi orang itu, bisa saja dia adalah penyusup dan berniat jahat.
Namun, pikiran itu seakan dikesampingkan olehnya. Dia semakin dengan orang misterius itu. Dengan cepat, Gerald membuka pintu ruangan yang dikiranya ada seseorang bersembunyi. Akan tetapi, tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ruangan kosong dengan lukisan-lukisan aneh.
Gerald mengernyit. Dia berpikir mungkin ini karena sihirnya yang tidak terlalu sempurna, jadi dia merasakan hal yang tidak ada.
Pemuda itu berniat menutup pintu dan pergi dari ruangan kosong tersebut. Namun, perasaan akan adanya seseorang itu makin besar.
Gerald memasuki lebih dalam ruangan itu dan melihat ke sekitar. Jika itu adalah ruangan rahasia, pasti ada sesuatu seperti tombol yang bisa ditekan.
Dia menelusuri kesana-kemari ruangan yang lumayan kecil itu, namun tidak menemukan apa-apa. Gerald hampir putus asa. Dia tahu kalau ada seseorang yang bersembunyi disana, namun dia tidak bisa menemukan pintunya.
"Open sesame."
Gerald mulai mengatakan omong kosong. Ini adalah sekolah sihir, pasti pintu rahasianya juga memakai sihir kan? Pikirnya.
Pemuda itu terus-menerus mengatakan kata-kata yang dia sendiri tak tahu artinya, sambil menunjuk lukisan-lukisan aneh disana. Tapi, tidak ada yang terjadi.
Gerald mulai menghela nafasnya panjang. Dia berkata, "Ini adalah yang terakhir, Secret Door Activated : Open."
Tiba-tiba suara bergemuruh mulai terdengar di telinga Gerald. Dinding dihadapannya mulai membuka dan memperlihatkan sebuah ruangan rahasia. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah penampakan seorang pria yang terluka parah didalamnya.
Gerald membelalakkan matanya, dia berteriak dengan pelan memanggil nama pria itu.
"Alven?"