Unleashed Power

Unleashed Power
Bab Special Valentine



"Hachooo~"


Gerald merapatkan jaketnya karena cuaca yang makin dingin. Akhir-akhir ini dia sering merasa kedinginan, apalagi saat melihat pasangan yang sedang bermesraan di jalan.


"Hei, apa kau sudah tahu siapa yang akan kau beri hadiah?"


"Aku akan memberikannya pada Konny,"


"K-kupikir aku akan memberikannya pada Emil,"


"Ha! Kalau aku, tentu saja aku akan memberikannya pada Geraldku tersayang."


Gerald tersentak kaget. Dia tahu siapa yang berbicara, walau tidak melihat siapa orangnya. Seorang gadis yang terus mengusiknya setiap hari. Meskipun dia sangat ingin menghindarinya, gadis itu selalu bisa menemukannya.


Pemuda itu menundukkan kepala, berusaha bersembunyi dari Kannon. Namun, alih-alih bersembunyi, hal itu malah membuat gadis itu mendekatinya dan menepuk pundaknya. Gerald terperanjat. Tanpa sadar dia berteriak, "Kyaa!!!"


"Sayang, aku punya hadiah untukmu," ucap Kannon seraya memberi Gerald sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu dan pita merah.


"Ya tuhan, jauhkanlah aku dari setan yang terkutuk. Jauhkanlah hambamu ini dari bisikan-bisikan sesat iblis. Musnahkanlah mereka agar aku tidak terganggu lagi. Lindungilah diriku yang polos dan tidak punya dosa ini. Aamiin~"


Kannon mengerjapkan matanya berulang kali melihat Gerald yang bergumam tidak jelas seraya mengangkat tangannya. Gadis itu tidak mengerti apa yang dilakukannya. Dia menaruh hadiah yang sudah dia siapkan di meja Gerald sejenak dan mengubah ekspresinya kembali menjadi senang.


Sembari bertepuk tangan, Kannon berkata, "Wah~pria yang taat dengan agamanya. Aku suka seseorang yang seperti itu.", lalu dia memeluk leher pemuda itu dari samping.


Gerald tertawa canggung. Sungguh, dia sudah terbiasa dengan tingkah aneh daru Kannon. Entah apa yang gadis itu lihat dari dirinya sehingga membuat dia terus mengejar Gerald.


"Wah~bisakah kau melepaskanku? Kau membuatku susah bernafas," gumam Gerald yang tampaknya tidak digubris oleh Kannon.


Gadis itu terus memeluk Gerald seraya mengayunkannya ke kanan dan ke kiri. Seakan-akan, Gerald hanyalah sebuah boneka. Bahkan, cengkraman lengan gadis itu di leher Gerald sudah seperti headlock.


"Ehem~boleh aku pinjam sebentar Gerald-nya, nona Kannon?" ucap Mage menyelamatkan temannya.


Gerald menatap pemuda berkacamata dengan wajah yang bahagia. Dia seakan melihat Mage bak seorang malaikat yang turun dari kahyangan.


"Apa aku akan mati? Aku melihat seorang malaikat, ibu. Aku melihat kakek memanggilku. Tunggu kakek, aku ikut," igau Gerald.


Tampaknya pemuda itu hampir saja menemui ajalnya jika Mage tak segera menolongnya. Dia bahkan berhalusinasi melihat kakek yang tidak pernah ditemuinya. Dia tidak tahu seperti apa wajah kakeknya.


Mage menepuk puncak kepala temannya itu dengan cukup kuat untuk menyadarkannya. Pemuda itu segera menyeret Gerald menjauh dari Kannon dan teman-temannya. Dia membawa Gerald menuju tempat Emil dan Ladon sudah bergabung.


"Aku sudah membawanya. Dia sudah sekarat sepertinya, giliran kalian yang membantunya," ucap Mage.


Dia menaruh badan Gerald berbaring di atas meja. Ladon dan Emil saling menatap satu sama lain. Mereka memikirkan cara bagaimana untuk menyadarkan pemuda berambut coklat itu.


Tiba-tiba, Emil terpikir suatu ide. Dia langsung memberitahukan idenya itu pada Ladon serta Mage dan idenya langsung diakui oleh keduanya.


"Ehem, ehem~ oh, apakah itu Lacy? Dia bersama senior Fred," ucap Emil di telinga Gerald.


"Wah, dia diberi sebuah kado yang besar sekali," timpal Ladon.


"Yah~wajar sih, hari ini kan, hari valentine. Mereka juga pasangan yang cocok kok," sambut Mage juga.


Sepertinya strategi dari mereka bertiga adalah untuk membuat Gerald cemburu dan mau tidak mau harus bangun. Benar saja, ketika mendengar nama Lacy, alis pemuda itu terangkat. Dia berusaha mendengar percakapan ketiga temannya dengan seksama.


"Ya, tentu saja. Senior Fred adalah senior paling tampan dan dia juga seorang ketua osis. Siapa yang tak mau dengannya?" balas Ladon.


"Ya, dia tidak bisa dibandingkan dengan Gerald yang tak punya apa-apa. Oh! Lihat, mereka berpegangan tangan....ya ampun!!wajah mereka makin dekat."


Emil mulai menyalakan api pada tubuh Gerald yang sudah tersiram bensin. Pemuda itu langsung bangun dari tidurnya dan berteriak, "TIDAKKK!!!"


Emil, Ladon, dan Mage tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Gerald. Faktanya, tidak Lacy dan Fred di dekat mereka. Cerita itu hanya dibuat Emil untuk membuat Gerald bangun. Sungguh, cara yang bagus sekali untuk membangunkan seseorang.


"Apa kalian puas mengerjaiku?" ucap Gerald sarkas. Dia menatap kesal ketiga temannya itu yang masih menertawai dirinya. Bahkan, ada yang sampai mengeluarkan air mata karena terlalu keras tertawa.


Gerald memutar bola matanya. Dia mulai menyesali dirinya yang berteman dengan ketiga iblis itu.


"Hahaha~yang tadi itu sungguh lucu sekali, hahaha...haha..ha..ha~ oke tidak lucu lagi," ucap Mage.


"Lagian, tidak mungkin juga Lacy membiarkan tangannya dipegang oleh senior itu. Kau saja pernah ditendang oleh gadis itu hanya karena memegang tangannya," ucap Ladon mengingatkan Gerald akan kenangan itu.


"Berisik, padahal aku hampir melupakannya," balas Gerald.


"Apa kau tidak akan memberinya hadiah? Ini hari valentine, loh," ucap Mage mencoba merubah topik.


"Hadiah? Hadiah apa? Apa itu valentine?" tanya Gerald.


Semua tercengang mendegar pernyataan pemuda itu. Suasana kelas menjadi sunyi. Namun, tidak lama kemudian mereka semua kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.


"Apa kau benar-benar tidak tahu apa itu valentine?"


Gerald menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Emil.


"Ya ampun kawan, dimana kau tinggal selama ini hingga tidak tahu apa itu valentine," ucap Emil.


"Valentine adalah hari kasih sayang. Di East Mantauna, orang-orang akan memberi hadiah pada orang yang mereka sukai. Ada rumor yang mengatakan kalau pasangan yang terbentuk saat hari valentine, maka cinta mereka akan abadi," jelas Emil.


"Tapi, yah~itu cuma rumor..tidak mungkin kita mempercayai rumor konyol seperti it-"


Ketika Emil menolehkan kepalanya, dia sudah tidak melihat Gerald disana. Dia bertanya pada Ladon dan Mage. Dengan kompaknya mereka menjawab, "Dia pergi setelah kau berkata 'abadi',"


Mereka bertiga saling tatap. Yah~sejak kapan juga Gerald membiarkan mereka menyelesaikan perkataannya. Alhasil, mereka hanya bisa menghela nafas panjang dengan kelakuan temannya itu.


Sedangkan, Gerald dengan cepatnya pergi menuju kantin sekolah untuk membeli cemilan yang Lacy suka. Namun, dengan tidak sengaja dia bertemu Lacy dan Mao yang berlalu lalang dihadapannya. Dia juga tidak sengaja mendengarkan sebuah kata-kata yang membuat harapannya hancur.


"Apa kau tahu? ternyata rumor yang bilang kalau pasangan yang terbentuk pada hari valentine itu akan abadi adalah salah. Pasangan yang terbentuk di hari valentine malah akan sengsara di dalam hubungannya sampai akhir hayat," ujar Mao yang membuat Gerald tersungkur jatuh.


"Ya, dari awal itu adalag rumor yang konyol. Jika ada yang mempercayainya, maka dia adalah orang yang bodoh, tidak rasional, dan tidak bisa diandalkan."


Gerald tertohok dengan setiap kata yang terucap dari mulut Lacy. Gadis itu seperti mengolok dirinya yang percaya pada rumor tak berdasar.


Dengan langkah yang sempoyongan, Gerald kembali ke kelas. Dia patah semangat setelah mendengar fakta dari Lacy. Namun, dia bukanlah pria yang mudah menyerah. Dia tidak mungkin menyerah hanya karena hal konyol yang hampir dia lakukan.


Pemuda itu menepuk kedua pipinya dengan cukup keras. Dia mengangkat kepalanya, mencoba bersemangat kembali untuk mendapat cinta dari Lacy. Tapi, ada yang aneh sepertinya.


Gerald langsung mengalihkan pandangannya ke sekitar. Banyak pasangan yang sedang bermesraan dihadapannya. Sembari tertawa kesal, pemuda itu mengeluh, "Kuharap tidak ada lagi hari valentine ini. Pasangan-pasangan ini membuat hidupku yang jomblo menjadi merana."


"Pergilah kalian iblis-iblis yang haus cinta!!!!! Pergi kalian dari muka bumi ini!!! Tunjukkan kemesraan kalian di tempat lain. Arrghh!!!"


Semua orang menatap Gerald yang berteriak tidak jelas. Pemuda itu berlarian di sepanjang koridor sembari masih berteriak. Hal itu membuat semua guru keluar dari kantornya hanya untuk melihat tontonan asik bagi mereka, termasuk Arnold.


Sambil menyilangkan tangannya di depan dada, Arnold berkata, "Pemuda yang malang. Tidak memiliki pasangan di hari kasih sayang? Dia memang selalu kalah dari dalam segala aspek. Hahahaha~"


Tawa iblis dari Arnold menggema di seluruh koridor dan menutup satu hari yang damai lagi di sekolah Alphrolone.


.


.


.


.


.


.


Halo~selamat hari Valentine semuanya. Semoga hari ini mendapat kebahagiaan yang lebih baik dari kemarin. Bagi yang tidak punya pasangan pun tak apa, masih ada keluarga, masih ada waifu, masih ada oppa. Betul?


Coklat itu bisa dibeli sendiri kok, nggak perlu dibeliin orang lain, iya kan? Kayak author😢


Tapi tak apa selama kita bahagia kan....


Untuk bab 22 akan di upload besok ya. Bab hari ini hanya selingan dari hari special. Semoga kalian suka ceritanya.


Sampai jumpa besok. Salam sayang~