Unexpected Love

Unexpected Love
5.3 SHE CAN'T ESCAPE FROM HIM



"Oh My God," Sean menghela nafasnya kasar. "Di atas sana aku belum punya apa-apa, dan tak mungkin aku tidur di atas lantai tanpa satu pun alas, setidaknya pinjamkan sofamu," sambung Sean lalu dia makin mendekatkan wajahnya. Kiran menutup matanya, apa dia sedang bersiap untuk dicium? Kenapa Kiran menutup mata? Apa dia sedang kehilangan akal sehatnya. Matamu harus tetap terbuka Kiran!


Sean diam, dia tidak melakukan apa pun. Dan sekarang dia sedang menahan tawanya. Gadis itu tak mau dicium tetapi ketika wajah Sean mendekat, Kiran malah menutup matanya. Apa dia akan bilang tubuhnya sedang menghianatinya?


"Buka matamu, apa yang kau harapkan dengan menutup matamu yang besar itu," kata Sean sambil terkekeh geli. Sekarang dia sedang tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang di atas sofa. Sean sampai memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit karena tertawa terlalu kencang.


Kiran melongo, mulutnya sedikit terbuka dan dia merasa sangat bodoh sekarang. "Hentikan tawamu atau aku tak akan meminjamkan sofaku," ancam Kiran yang sedang menahan malu.


Kiran mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Wajahnya sudah merah seperti tomat. Dia ingin pergi ke laut saja dan terjun ke dalam sana. Biar air dingin menyadarkan dirinya yang sudah bertingkah sangat bodoh!


"Baiklah-baiklah aku akan berhenti tertawa, tapi kenapa kau menutup matamu heh? Kau benar-benar mau aku cium?" kekeh Sean.


Kiran hanya diam, dia sedang mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. "Ayolah berhenti membahas itu, atau aku akan benar-benar membuatmu pergi ke neraka!" pekik Kiran.


"Baiklah aku akan berhenti membahasnya, tapi aku ingin mengatakan suatu hal dan ini jujur," kata-kata Sean terdengar sangat serius dan bukan hanya sekedar sebuah candaan.


Kiran melirik ke arah Sean beberapa kali. Atmosfer aneh apa yang sedang tercipta sekarang? Ada ketegangan tersendiri yang sedang Kiran rasakan. Seperti sedang membicarakan sesuatu yang instens yang dapat membuat debaran jantungnya menjadi lebih kencaang.


"Kau melakukannya lagi, ckkckck," Sean berdecak.


"Melakukan apa?" tanya Kiran yang merasa dirinya tak melakukan hal yang salah.


"Hanya diam, tak merespon, ketika orang menunggu sebuah jawaban harusnya kau mengatakan sesuatu," Sean menghela nafasnya dengan kasar, "situasi yang canggung ini membuat aku merasa sedang melakukan suatu hal yang memalukan," sambung Sean.


"Kau terlalu berlebihan Sean, katakanlah kau bilang ingin jujur kan?" tanya Kiran.


Sean menautkan jari-jemarinya, dia merasa sangat gugup. "Aku sepertinya tidak menemukan kebahagiaan di hidupku, setiap hari yang aku lakukan hanya menyakiti orang-orang dengan perkataan kasarku," kata Sean dia lalu menoleh ke arah Kiran mencoba merekam jejak ekspresi yang Kiran tunjukkan setelah mendengar apa yang baru saja dia katakan.


"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Kiran. Sungguh dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Dari tadi mereka mengobrol dengan topik pembahasan secara acak. Berpindah-pindah begitu saja seperti sedang saling menggali informasi dari satu sama lain.


"Benarkah? Bagaimana dengan kepribadianku? Aku rasa aku sering menyakiti orang lain dengan sikapku ini,"


"Haaaah..." Kiran menghela nafasnya, "rasanya aku tak bisa membantu kalau sudah berbicara tentang watak dan sifat, kau pikirkan saja sendiri aku mengantuk!" seru Kiran lalu beranjak dari sofa melewati Sean yang masih duduk di sana.


Langkah kaki Kiran terhenti saat Sean menarik lengannya, "terima kasih," kata Sean.


Sean menatap Kiran, dan sungguh Kiran tahu apa yang baru saja diucapankan Sean itu tulus. Kiran dapat mengetahuinya dari tatapan mata Sean. Walau Kiran tak terlalu mengerti tentang pembicaraan tadi.


"Okay," Kiran menganggukkan kepalanya pelan. "Jika kau membutuhkan sesuatu cari saja aku, usahakan tak menganggu waktu tidurku," sambung Kiran lalu menarik lengannya pelan dari genggaman tangan Sean.


Sean tersenyum, "gadis itu," gumam Sean sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


Sean bahkan tidak tahu kalau Kiran juga tersenyum. Hati Kiran sedikit terketuk dan jantungnya berdebar. Sudah 6 tahun sejak dia putus dengan Rio dan tak menjalin hubungan dengan lelaki mana pun. Rasanya seperti kejaiban.


Kiran mengira jantungnya tak akan pernah berdetak sekencang ini lagi. Tapi, semenjak bertemu dengan Sean debaran jantungnya seperti pelari yang habis melakukan lari cepat 100 meter. Debarannya terlalu kuat dan Kiran merasa khawatir sekarang.


Sean masih menonton acara TV sambil sesekali menatap pintu kamar Kiran yang tertutup rapat. Dia bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini? Dia merasa seperti orang bodoh dan dia makin merasa bodoh karena dia memikirkan kebodohannya sambil tertawa.


"Kiran," gumam Sean.


>>>>


VOTE AND COMMENT FOR THE NEXT CHAP!!


DOUBLE UPDATE!