
Di kediaman Devil Horns, tampak dua anggota kepercayaan Faelardo sedang memberikan informasi terbaru tentang apa yang sudah terjadi pada keluarga Black Wolf.
“Tuan,” ucap Maxim.
“Info apa yang kalian dapatkan ?” tanya Faelardo.
“Begini Tuan, ternyata Celine sangat dekat dengan dua gadis berhijab yang merupakan teman satu kampusnya. Sore tadi, Celine baru saja mengunjungi asrama yang di tinggali oleh dua gadis itu,” ucap Charles.
“Lalu ?” tanya Faelardo.
“Informasi yang sangat penting Tuan, Zano menyukai salah satu teman Celine,” ucap Maxim.
“Siapa nama gadis itu ?” tanya Faelardo dengan nada kejamnya.
Tampaknya moodnya sedang buruk sekarang.
“Shifa, Tuan,” ucap Charles.
“Bagus, kalau begitu kalian pantau apapun kegiatan mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Ada saatnya aku memeberikan serangan kepada Black Wolf si pecundang itu,” ucapnya sambil melemparkan gelas berisi wine yang berada di tangannya.
Charles dan Maxim segera keluar dari ruangan Faelardo. Mereka sudah mengetahui bahwa sikap Faelardo selalu berubah-ubah karena depresi berat yang pernah dialaminya terkadang kambuh semenjak kepergian ayahnya yaitu Tuan Aldo.
***
Pagi hari yang masih tampak mendung karena beberapa hari lagi akan memasuki musim dingin, terlihat keluarga Tuan Zardo sedang sarapan di meja makan mewah miliknya.
“Musim dingin tahun ini, Ayah dan uncle Jordan memutuskan untuk tidak pergi kemanapun. Seperti yang kalian tahu, kelompok Devil Horns masih mengintai dan memantau kegiatan kita secara diam-diam,” ucap Tuan Zardo kepada Zano, Marcel dan juga Celine.
Zano yang paham maksud dari perkataan ayahnya hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
“Kamu kapan libur, Nak ?” tanya uncle Jordan.
“Sebulan setelah musim dingin ini, Ayah,” jawab Celine.
“Okay, setelah itu kamu juga harus tetap berada disini. Tidak boleh pergi kemanapun karena Ayah tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu,” ucap uncle Jordan serius.
“Itu pertanda kamu tidak boleh pergi kemanapun,” sambung Marcel.
Celine yang mendengar ucapan ayahnya hanya diam tanpa mengatakan apapun dan tidak menghiraukan ucapan dari Marcel. Tidak tahu dia setuju atau tidak atas perkataan ayahnya.
“Celine, kamu kenapa masih bersikap seperti ini ? Kamu kan sudah janji,” ucap Marcel.
Zano yang mendengar keluahan dari Marcel hanya melanjutkan makannya tanpa menghiraukan ucapan Marcel.
“Janji apa ?” tanya uncle Jordan penasaran.
“Ini Ayah, masa Marcel bilang kalau kak Zano…,”
Belum sempat Celine melanjutkan perkataannya, Marcel sudah menimpali ucapannya.
“Bukan begitu Uncle… Tidak ada kok,” sambung Marcel dengan nada gugup dan melototkan matanya ke arah wajah Celine.
Tuan Zardo yang mendengar percakapan antara Marcel, Celine, dan adiknya hanya diam tanpa menanggapinya dengan serius. Menurut Tuan Zardo, pembicaraan mereka bukanlah hal yang serius.
Zano yang merasa namanya disebut mengalihkan pandangannya ke arah Marcel.
“Kenapa sebut-sebut namaku, hah ?” tanya Zano dengan nada dinginnya yang membuat Marcel sedikit takut.
“Tidak ada apa-apa Tuan Muda,” ucap Marcel.
Celine yang melihat Marcel ketakutan tertawa dan merasa bahagia karena telah berhasil membuat Marcel bingung serta ketakutan.
Beberapa menit kemudian, Tuan Zardo dan uncle Jordan sudah selesai sarapan dan pergi meninggalkan meja makan. Tinggallah Zano, Marcel dan Celine yang masih belum selesai. Suasana menjadi hening kembali.
“Kak Zan…” ucap Celine memecahkan keheningan.
“Hmm.. ?” jawab Zano.
“Kakak musim dingin tahun ini berencana pergi kemana ?” tanya Celine.
“Tidak ada,” ucap Zano singkat.
“Are you sure ?” tanya Celine masih tidak percaya.
“Zano sudah bilang Celine kalau tidak berencana pergi kemanapun,” ucap Marcel memperjelas ucapan Zano.
“Hishh… Bukan kamu yang ditanya juga,” ketus Celine.
Marcel tersenyum melihat Celine yang merasa kesal karena bisa membelas Celine atas perbuatannya tadi.
“Bagaimana kalau kita bermain salju ?” ucap Celine girang.
“Tidak,” jawab Zano singkat.
“Bagaimana kalau…,” ucap Celine.
“Shifa,” ucap Celine dengan lantang membuat Zano berhenti makan sejenak.
Zano masih diam menunggu Celine melanjutkan perkataannya.
“Celine, uncle kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh pergi kemanapun,” ucap Marcel.
“Ada apa dengan Madinah ?” tanya Zano dengan serius.
Celine dan Zano tidak menanggapi ucapan dari Marcel.
“Kakak mau tahu kan ?” tanya Celine.
Zano hanya diam menatap wajah Celine.
“Kalau kakak mau tahu aku akan beritahu tapi ada syaratnya,” ucap Zano.
“Tidak, aku tidak ingin tahu,” ucap Zano yang paham maksud perkataan sepupunya itu.
“Are you sure ?” ucap Celine dengan gaya menggoda Zano untuk membuat sepupunya itu penasaran.
Zano hanya diam tanpa menjawab apapun.
“Sudahlah Cel, kamu kan tahu Zano itu orangnya bagaimana. Mau kamu berusaha sekeras apapun, dia enggan mengatakan apapun. Sikap dinginnya selalu muncul dalam situasi apapun,” ucap Marcel.
Celine melototkan matanya ke arah Marcel pertanda Marcel dilarang untuk ikut campur.
“Zano,” ucap Celine kesal.
Zano tak bergeming.
“Zainab bilang sama aku kemarin waktu di asrama kalau Shifa mau jalan bareng dengan kak Arka,” ucap Celine.
Zano yang mendengar ucapan Celine merasa cemburu yang masih bisa dia sembunyikan.
“Kenapa wajah kakak berubah jadi kesal. Kakak jealous yaa ?” ledek Celine yang melihat wajah Zano berubah meskipun Zano berusaha menyembunyikannnya.
“Beneran, Cel ?” tanya Marcel terkejut.
Celine hanya senyum-senyum melihat sikap dan wajah Zano yang tampak tidak suka mendengar perkataan Celine.
“Fix, ucapan Marcel bener kalau kak Zano suka sama Shifa. Oh my God, kakakku sayang kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal,” ucap Celine dalam hati.
“Becanda deh… hehhehhe,” ucap Celine seketika membuat Zano dan Marcel heran melihat tingkahnya.
“Kebiasaan kamu Cel,” ucap Marcel.
“Shut up,” ucap Celine.
Mendengar ucapan Celine, Marcel langsung diam.
“Sebenarnya, Zainab tidak berkata seperti itu, tapi Zainab bilang kalau Shifa ingin bermain salju pada musim dingin tahun ini karena ini baru pertama kalinya Shifa bisa bermain salju namun karena Zai tidak bisa keluar saat musim dingin jadi Shifa mengurungkan niatnya untuk bisa bermain salju,” ucap Celine menjelaskan.
Zano yang mendengar hal itu hanya diam lalu pergi meninggalkan Celine dan Marcel di meja makan.
“Kak Zan,” teriak Celine karena melihat Zano selalu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.
“Tak perlu teriak begitu Cel, kamu kan tahu itu kebiasaan Zano yang tidak bisa dihindari,” ucap Marcel sambil tersenyum.
Celine yang mendengar ucapan Marcel hanya mendengus kesal.
“Hish…,” ucap Celine.
Tiba-tiba suara klekson mobil milik Zano berbunyi.
“Tuh, udah di tungguin sama Zano,” ucap Marcel.
“Siap Tuan Marcel,” ucap Celine sambil tersenyum.
Marcel yang melihat sikap Celine seperti itu menjadi bingung dan heran mendengar Celine yang mau mengucapkan perkataan seperti itu.
Celine dan Zano sudah pergi meninggalkan halaman utama Black Wolf. Marcel yang masih berada di meja makan tersenyum mengingat perkataan Celine.
“Apa Celine sudah bisa menerima aku ?” ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba salah satu pelayan datang memberitahu Marcel kalau uncle Jordan memanggilnya.
“ Maaf Tuan. Tuan Jordan menyuruh saya memanggil Tuan disuruh ke ruangannya sekarang,” ucap pelayan itu sambil menunduk.
“Okay, thanks,” ucap Marcel.
Marcel langsung bergegas pergi menuju ruangan uncle Jordan.