
Mendengar perkataan Celine barusan, membuat Zano tidak tenang. Aura wajahnya lebih serius daripada sebelumnya.
“Jangan membantah Celine!” perintah Zano kepada sepupunya itu.
“Kak Zano kok jadi marah sih.. aku kan hanya minta izin sama kakak dan ayah. Apa aku salah?” ucap Celine dengan kesal karena dia tidak suka jika ayah dan sepupunya bersikap seperti itu padanya.
“Udah Cel..” ucap Shifa menenangkan Celine yang sudah terlihat berlinang. Shifa merasa tidak enak hati karena menurut Shifa masalah ini disebabkan karena dirinya.
“Huff.. well.. okay kalau gitu begini saja. Shifa, Zai.. bagaimana kalau kalian membatalkan dulu kepada dosen kalian untuk besok?” ucap Marcel tiba-tiba agar situasi tidak menjadi tegang.
Shifa dan Zai diam karena tak tahu akan menjawab apa. Mereka bingung dan merasa dilema karena di satu sisi dia tak enak hati dengan Celine dan di satu sisi tak mungkin juga membatalkan perjanjiannya dengan Arka.
“Sepertinya tidak bisa yaa?” tanya Marcel lagi. Tuan Zardo dan Uncle Jordan tidak mau ikut campur masalah para anak muda tersebut. Sementara Zano yang sudah gelisah karena Shifa akan pergi dengan orang dimana dia takut Shifa tidak aman.
“Ya tentu tidak bisa lah kak..” jawab Celine. “Aku gak enak sama mereka gara-gara hal ini jadi urusan mereka terkendala.”
“It’s okay Cel.. no problem. I’ll tell him later that I can’t come tomorrow” ucap Shifa.
Dari ucapan Shifa, Zano tahu siapa yang dimaksud oleh gadis itu.
“Hah.. dia lagi” ucap Zano dalam batinnya.
“Okay.. thank you Shif.. it’s for your best” ucap Marcel yang merasa bersyukur karena Shifa mau mengikuti permintaannya. Marcel tahu ada dua hal keuntungan yang dia dapat. Satu agar Zano tidak cemburu karena Shifa akan pergi bersama orang lain dan di satu sisi lagi karena Shifa akan aman bila tetap berada di mension.
“Okay .. ayoo” ucap Zano yang masih kesal dan langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun kepada Shifa.
“Hah dia ngambek.. Kasihan sekali kamu Tuan Zano, untuk apa ngambek kalau ceweknya aja gak peka. Tapi kau seharusnya bersyukur aku sudah membantumu,” batin Marcel sambil sedikit tersenyum.
“You can go back to your room” ucap Tuan Zardo.
“Okay Uncle..” jawab Celine.
Saat Celine dan teman-temannya sudah masuk ke kamar, Tuan Jordan berbicara kepada saudara kandungnya yang berdiri di sampingnya.
“Sepertinya kemanakanku sudah menyukai gadis itu.”
“Impossible” jawab Tuan Zardo.
“Let’s see” ucap Uncle Jordan sambil tersenyum.
Mendengar perkataan adiknya, Tuan Zardo merasa gelisah. Dia takut apa yang dia khawatirkan selama ini terjadi.
***
Disisi lain, Zano yang sudah berada di pelabuhan langsung berhadapan dengan lawan mafianya siapa lagi kalau bukan Devil Horns.
“Hah.. kenapa dia tidak datang? Apa bos kalian itu pengecut?” ucap Marcel yang berada di samping Zano. Zano hanya diam karena dia tak suka banyak bicara namun ketika melakukan aksi dialah yang paling dominan. Tugas Marcel adalah memancing lawannya agar melakukan serangan.
“Hah apa maksudmu bo*d*h! Bos ku terlalu sibuk untuk mengurusi kalian” ucap Charles.
“Heh ..Bullshit.” Zano langsung menekan tembaknya dan langsung tepat sasaran dimana pemimpin dari kelompok mafia itu langsung terkena tembak tepat di dekat jantung.
Dor!!!! Hembusan asap dari pistol Zano sangat jelas terlihat.
“Charles..” ucap Maxim. “Sh***!!”
Dor…!!! Dorr!! Dor!! Maxim menyerang balik musuhnya tapi sayangnya tembakannya tidak tepat sasaran.
Wajah Zano sungguh menakutkan untuk saat ini. Jika Shifa melihat pasti dia akan tidak mau lagi bertemu dengannya.
Dorr!! Dorr!! Dor!! Suara tembakan memenuhi seluruh pelabuhan itu. Pelabuhan itu milik Black Wolf jadi tidak ada yang bisa melarang mereka untuk melakukan aksi tembak menembak mereka.
Zano dan Marcel tidak terkena tembak sedikitpun sementara Charles sudah terluka parah. Maxim tahu lebih baik dia menyerah saja untuk saat ini dikarenakan anggotanya sudah mulai berkurang.
“Tampaknya kekuatan Black Wolf tidak bisa diremehkan” batinnya.
Maxim membawa Charles yang sudah tak sadarkan diri ke kapal pribadi mereka untuk kembali ke Markas Besar namun Zano menghadangnya.
“Heh.. what do you think?” ucap Zano dengan senyum devilnya.
DORRR!! Tembakan keras menusuk ke jantung anggota Devil Horns itu.
“You wanna die?” tanya Zano lagi dengan aura menakutkan.
Maxim mengulurkan pistolnya ke arah Zano.
“Hah .. apa kau pikir aku akan menyerah..” tantang Maxim.
“Too busy to care”ucap Zano dan langsung menekan pistolnya ke arah kepala Maxim namun tiba-tiba serangan datang dan Zano sudah menebaknya.
“Tuan..” ucap Marcel sambil menjauh dari bom yang siap meledak.
Zano tidak sebodoh itu.. dia sudah tahu akan ada jebakan mendadak dan dia siap untuk itu. Tiba-tiba Charles dan seluruh anggotanya menghilang dan tersisa hanya letusan bom. Pelabuhan milik mafia itu kacau dan hancur akibat dari perbuatan Devil Horns. Zano menghilang entah kemana tapi Marcel tau ini bagian dari rencana Zano. Marcel menyuruh seluruh anggotanya untuk membereskan semuanya. Marcel kembali ke penginapan yang berada di dekat pelabuhan tersebut.
***
“Gimana? Masih ada yang tidak paham lagi?” tanya Shifa dengan lembut.
“Nope Shif.. thank you..” ucap Celine sambil memeluk Shifa.
“Aku tidak dipeluk Shif?” kata Zai sambil cemberut.
“Come here..” ucap Celine.
Tiga gadis cantik itu pun istirahat untuk tidur setelah mereka habiskan waktu mereka seharian untuk belajar persiapan UTS minggu depan. Namun mereka melupakan makan malamnya.
Tuk Tuk Tuk… bunyi ketukan pintu kamar Celine.
“Non.. waktunya makan malam. Tuan Zardo sudah menunggu” ucap pelayan paruh baya.
Mendengar suara diketuk, hanya Shifa yang mendengarnya kemudian dia bangkit dan membukakan pintunya.
“Ada apa Bu?”tanya Shifa lembut.
“Oh Nona.. maaf saya hanya mau bilang kalau makan malam sudah siap” ucap pelayan itu dengan sopan.
“Baik kalau begitu saya beritahu Celine dulu yaa. Celine masih belum bangun Bu” jawab Shifa sopan.
“Oh tak apa Non.. biar saya beritahu Tuan Zardo saja.”
“Tidak apa Bu.. tidak sopan kalau kami meninggalkan Tuan Zardo sendiri,” ucap Shifa dengan tulus.
“Baiklah non..” pelayan itu menunduk sopan.
Shifa langsung membangunkan Celine yang masih terlelap di atas kasur king sizenya.
“Celine.. wake up please. It’s time to dinner. Mr. Zardo is waiting us” ucap Shifa.
“Shif.. Tuan Zardo nunggu kita?” tanya Zai yang tiba-tiba bangun.
“Exactly” ucap Shifa.
“Hoaaa.. okay Shif.” Ucap Celine langsung bangkit dan menuju ruang makan. Tiga gadis itu turun dan sudah mengganti pakaian mereka dengan piyama.
“it’s time to dinner Celine” ucap Tuan Zardo.
“Ya Uncle thank you” balas Celine.
Mereka makan malam dengan hikmat. Disela-sela makan malam, Tuan Zardo memperhatikan gerak-gerik Shifa untuk mencoba menerka apa yang diucapkan adiknya itu benar atau tidak.
“Kenapa aku seperti tidak asing melihat rupa gadis ini” batin Tuan Zardo. Ada gambaran seseorang dihatinya namun dia tak ingat siapa.
Deg tiba-tiba… “Apa benar dia? Tidak mungkin” batin Tuan Zardo.