
Dikediaman Devil Horns
Prakkkk……..
Di mension utama salah satu mafia terdengar begitu banyak gelas berisi wine yang hancur menandakan ketua Davil Horns itu sedang marah besar. Charles dan Maxim beserta anggota suruhannya berdiri di hadapan tuan mereka, dengan kepala menunduk tak berani menatap Faelardo yang kejam itu. Faelardo berdiri dari duduknya dan menampar semua anggotanya dengan keras termasuk Charles dan Maxim. Darah mengalir di sudut bibir mereka hingga pipi mereka memerah akibat tamparan dari ketua mafia yang kejam itu.
“SH*TTT, APA ISI OTAK KALIAN, HAHHHH?” bentak Faelardo dengan emosi yang memuncak.
Charles dan Maxim hanya diam begitu juga dengan anggota lainnya, mereka takut menjawab karena Faelardo begitu tampak emosi saat ini.
“HAAAA?” tanya Faelardo lagi
“ANSWER!” bentak Faelardo.
Charles berusaha untuk menjawab karena dia tau kalau mereka terus diam maka bisa saja mereka di tembak mati oleh tuannya.
“Ma..maaf Tuan tapi ini semua terjadi karena Zano dan Marcel datang untuk menolong Celine.”
Prakkk… Tamparan melayang di pipi Charles.
“Where is your brain? YOU SHOULD KNOW HOW YOU GET THE WOMAN SO YOU CAN GIVE TO ME!!”bentak Faelardo lagi.
“Ma..maaf Tuan..” Maxim mencoba untuk menjawab.
Prakk… Tamparan keras pun melayang di pipinya.
“AKU TAK MAU TAUU..BAGAIMANAPUN CARANYA AKU INGIN CELINE SEKARANG!!! KALIAN SERAHKAN DIA KEPADAKU SEGERA!” ucap Faelardo.
“Ba..ba..baik Tuan, kami akan susun strategi dengan baik,” ucap Maxim.
“Kalau tidak kalian tau kan apa akibatnya?” ucap Faelardo menyeringai.
“Baik Tuan kami permisi,” ucap Maxim.
Setelah Charles, Maxim dan anggota lainnya keluar dari ruangan Faelrado, tampak Ketua Devil Horns itu masih emosi dengan wajahnya yang merah, kemudian dia meminum segelas wine yang masih tersisa di atas mejanya.
“Hah.. lihat saja kau Zano.. apa permainan kita selanjutnya” ucapnya.
Disisi lain, Charles dan Maxim tengah menghajar anggota bawahannya karena telah gagal dalam misinya. Meskipun anggota bawahannya adalah anggota dari Devil Horns tapi mereka adalah tanggung jawab Maxim dan Charles.
Brakkkk…. Brukkk….. Brakkk…. Brukkk…..
Beberapa pukulan mengenai perut dan kepala mereka.
“Kalian tahu, Hahhh! Sekali lagi kalian tidak becus mengerjakan misi ini, HABIS KALIAN!” ucap Charles.
Sementara Maxim hanya diam dan menatap semua anggotanya dengan dingin.
***
Di kamar yang megah dengan nuansa berwarna hitam dan elegan, Zano yang berada di atas tempat tidurnya berukuran king size sedang berbicara serius dengan Marcel, orang kepercayaannya sekaligus saudara angkatnya itu.
“Untuk beberapa hari ini, sebaiknya Celine tidak masuk kampus dulu. Aku tahu pasti saat ini Faelardo sedang berusaha untuk mencari cara agar bisa menyekap Celine,” ucap Zano dengan dingin dan baru kali ini Zano berbicara panjang lebar.
“Ya, Tuan kau benar. Aku setuju,” ucap Marcel.
“Dan sebaiknya kau jangan terlalu memanjakan Celine,” ucap Zano lagi masih dengan sikap dinginnya.
“Aku hanya berusaha untuk menjaga dan melindungi Celine,” ucap Marcel serius.
“Baiklah. Bagaimana, Apa kau sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan? Aku akan segera kesana,” ucap Zano sambil beranjak dari kasurnya.
“Tuan, sebaiknya anda meminum obat anda dulu karena luka anda masih belum kering Tuan,” ucap Marcel.
Saat ini Marcel hanya berbicara serius kepada Zano, tidak seperti biasanya karena dia memang benar-benar khawatir terhadap Tuannya itu.
“Huff, how many times I told you that I’m well now,” ucap Zano yang duduk kembali di atas kasurnya karena ditahan oleh Marcel.
Saat Marcel ingin menjawab perkataan Tuannya, Tuan besar Zardo, Uncle Jordan dan Celine masuk ke dalam kamar ketua Black Wolf itu. Mereka menghampiri Zano dan berdiri disampingnya.
“Zano.. Marcel sudah menceritakan semuanya kepada Uncle.”
Zano masih diam dengan gaya dingin dan coolnya.
“Kak Zan.. I’m so sorry, that’s my fault. I will not do it again. Please forgive me,” ucap Celine merasa menyesal.
“Ayah, Uncle. Kita harus membuat strategy baru untuk mengalahkan Devil Horns. Mereka sedang mengincar Celine saat ini,” ucap Zano tanpa menghiraukan perkataan sepupunya itu.
“Ayah tau, target mereka adalah orang-orang terpenting kita.” Ucap Tuan Zardo serius.
“Iya benar Tuan Zardo, maka kita juga harus lebih waspada dan memperketat keamanan di mension,” tambah Marcel.
“Celine” panggil Zano.
Celine yang dipanggil pun terkejut karena Zano sudah mau berbicara dengannya.
“Untuk beberapa hari ini kau tidak perlu ke kampus. Kau cukup di rumah dan jangan hubungi siapapun,” ucap Zano dingin.
Sebenarnya Celine tidak keberatan untuk tidak masuk kampus tapi dia sebenarnya tidak terima juga kalau tidak boleh menghubungi siapapun karena saat ini dia ingin sekali bercerita dengan Shifa dan Zainab. Tapi niat untuk menolak dia urungkan karena Zano sudah melarangnya. Celine takut kalau Zano tidak memaafkannya dan akan bertambah marah.
“Gak usah cemberut gitu Celine, apa yang dikatakan Zano itu semua demi kebaikan kamu,” sambung Marcel.
Baru kali ini Celine melihat sikap bijak tanpa candaan dari Marcel. Celine hanya mengangguk untuk merespon perkataan Marcel.
“Zano, sebaiknya kamu pulih dulu sebelum memberi perintah kepada anggota lainnya karena itu tidak akan baik jika mereka tahu kalau kamu sedang keadaan seperti ini,” ucap Tuan Zardo memberi saran kepada Zano.
Zano hanya diam, memang seperti itu sikapnya. Tuan Zardo tidak heran dengan sikap anak tunggalnya itu.
“Baiklah, ayah keluar dulu. Ketika keadaanmu sudah membaik kau dan Marcel datang ke ruangan ayah untuk membicarakan tentang hal ini selanjutnya,” ucap Tuan Zardo.
“Apa tidak terlalu lama ayah?” tanya Zano akhirnya berbicara lagi.
“No.. it’s the best for you,” ucap Tuan Zardo.
“Ok.” Ucapa Zano.
***
Shifa kini sedang berada di sebuah café dekat kampus bersama seorang dosen muda yang tampan.
“What do you want, Shif?” tanya Arka.
“Same with you, Sir,” jawab Shifa.
“Okay, is it enough?”
“Yes, it is,” jawab Shifa dengan senyuman.
“Ok.. i wanna get two spaghetti cheese and two lemon tea,” ucap Arka kepada pelayan café.
“Ok, Sir. Thank you” ucap pelayan café.
Setelah pelayan café itu pergi, Arka melanjutkan pembicaraannya dengan Shifa.
“Kamu bisa kerjakan setelah kita selesai lunch yaa dan nanti kita bisa kerjakan bareng,” ucap Arka dengan lembut.
“Oh, No Problem Sir ‘coz I can do it by myself and it’s my duty as your assistant,” ucap Shifa.
“Actually, I haven’t course after this. It will be better if I help you to do it,” ucap Arka.
Shifa akhirnya menyetujui perkataan dari Arka karena dia segan untuk menolak lagi.
Setelah beberapa menit, pesanan mereka datang. Shifa dan Arka tampak serasi seperti couple menurut orang-orang yang melihatnya. Dan justru pastinya Arka merasa senang saat ini karena bisa lunch bersama dengan Shifa.
“Do you like lemon tea?” tanya Arka disela-sela makan mereka.
“Yes, I do,” jawab Shifa santai.
“But I want to know your favorite drink or food maybe,” ucap Arka yang ingin sekali tahu tentang apa-apa saja kesukaan dari Shifa.
“Hm… I don’t know Sir but I just like healty food and drink. Just it,” jawab Shifa dengan senyum manisnya.
“Oh.. okay. So lemon tea juga minuman sehat, isn’t it?” ucap Arka sambil tertawa.
“Oh yaa haha,” ucap Shifa sambil tertawa dengan santun.
Setelah makanan mereka habis, Shifa melanjutkan pekerjaannya dan tentunya dibantu oleh Arka. Mereka mengerjakannya dengan serius, tapi sebenarnya Arka sudah beberapa kali menatap wajah cantik Shifa tanpa Shifa ketahui karena dia memang terlalu fokus dengan kerjaannya sehingaa tidak menyadari akan hal itu.
“Finally Sir,” ucap Shifa tersenyum dengan wajah lelahnya.
“Are you tired ?” tanya Arka.
“Hahah actually yes Kak hehe,” jawab Shifa jujur karena dia memang sedang lelah saat ini.
“Ok.. next time kakak akan kurangi pekerjaan kamu yaa..”
“Jangan Kak.. aku sanggup kok,” tolak Shifa.
Arka hanya mengangguk dan menatap wajah Shifa dengan senyuman manis. Shifa yang ditatap pun merasa canggung.
“Hm.. Ok Sir.. hmm… kak kalau begitu aku pulang dulu yaa kak soalnya udah mau sore juga,” ucap Shifa.
“Kakak antar yaa..” ucap Arka.
“Oh saya bisa naik bus kak,” ucap Shifa.
“Itu akan berbahaya. Sudah ayo kakak antar saja” ucap Arka.
Shifa pun tidak bisa menolak ajakan dosen sekaligus kakak alumninya itu karena seperti tawaran memaksa bagi Shifa.
Arka membayar bill café, setelah itu mereka keluar dari café itu dan saat Shifa dan Arka akan memasuki mobil tiba-tiba seseorang pria menghampiri Shifa. Arka pun bingung siapa lelaki itu.
Nah, readers .. kira2 siapa yaa lelaki itu? Apakah itu bagian dari anggota Devil Horns atau justru tokoh baru dalam novel ini? Apa iya author buat tokoh baru?
Kalian akan tau jawabannya di next episode yaa ..
Terima kasih sudah setia membaca 💖 🙏🏻