Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 26



Di salah satu café kampus, terlihat Zai yang sudah menunggu kedatangan Arka. Ya, Zai memang sengaja datang lebih awal karena yang dia temui adalah dosennya. Tak beberapa lama, seorang lelaki masuk ke dalam café itu dan menghampiri Zai. Siapa lagi kalau bukan Arka.


“Hai…” ucap Arka mengawali pembicaraan mereka.


“Hai.. Sir,” ucap Zai.


“Ini bukan pertemuan formal Zainab,” ucap Arka sambil tersenyum.


“Oh.. I’m so sorry kak Arka,”ucap Zai yang paham arti dari ucapan Arka.


“Oh yaa kamu sudah pesan makanannya ?” tanya Arka yang sudah duduk di depan Zai.


“Belum kak,” ucap Zai.


Mendengar jawaban dari Zai, Arka langsung memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka. Sebenarnya Zainab masih bingung maksud dari Arka mengajaknya bertemu. Zai ingin bertanya tapi dia mengurungkan niatnya. Dia pikir Arka juga akan menjelaskannya nanti.


***


Zano, Shifa dan Celine sudah tiba di salah satu tempat pariwisata di negara Eropa tersebut. Tempat yang sangat terkenal dengan keindahan pemandangannya. Ya, tempat itu juga di kelilingi oleh sungai yang mengalir dengan air yang jernih serta terlihat juga beberapa perahu yang indah berada di atas air sungai yang tenang.


“MaasyaaAllah… wow.. it’s so beautiful,” ucap Shifa yang sudah keluar dari mobil Zano.


Celine yang mendengar ucapan Shifa hanya tersenyum melihat temannya itu yang sangat terkesan.


Zano yang sudah turun dari mobilnya masih bersikap cool dan bersikap biasa saja karena dia sudah sering pergi ke tempat tersebut.


“Benar kan kata aku Shif, tempat ini sangat menabjubkan,” ucap Celine.


Shifa yang mendengar ucapan dari Celine tersenyum girang.


“Iya kamu benar Cel. Tapi kenapa aku tidak tahu yaa ada tempat seindah ini di negara yang sedang aku tinggali ini,” ucap shifa.


Zano yang mendengar ucapan Shifa merasa lucu dan dia sedikit tersenyum mendengarnya.


Celine yang menyadari akan sikap sepupunya itu pun segera menjalankan rencananya.


Kini, Shifa, Zano dan Celine sedang berada di atas jembatan yang mengalir air sungai di bawahnya.


“Kak Zan.. Shif.. Aku kesana dulu yaa aku ingin menghibur diriku dan memuaskan diriku sebelum tugas-tugas itu mengejarku pada malam hari,” ucap Celine.


Sebenarnya ucapan Celine benar namun di balik ucapannya ada tersimpan rencana yang sudah dia susun untuk mendekatkan Zano dan Shifa.


“Tapi Cel…,”


Belum sempat Shifa melanjutkan perkataannya, Celine sudah meninggalkannya. Sekarang, Shifa hanya berdua dengan Zano. Meskipun tempat itu ramai dengan pengunjung dan berbagai turis asing, tapi tetap saja Shifa merasa canggung karena kali ini dia hanya dengan Zano.


“Madinah…,” ucap Zano membuka pembicaraan mereka.


“Ya kak ?” jawab Shifa yang sedang berdiri di samping Zano sambil memandangi pemandangan di tempat itu.


“Jadi sekarang kamu sudah menjadi asisten dosen ?” tanya Zano.


“Ya,” jawab Shifa singkat.


Setelah mendengar jawaban dari Shifa, Zano hanya diam dan tidak berkata apapun. Sikap Zano yang seperti itu membuat Shifa menjadi canggung kembali.


“Belum lama ini kok kak. Dan waktu kak Zano jemput aku di kampus sore itu, itu adalah tugas pertama aku dari kak Arka sebagai asisten dosen,” ucap Shifa mencairkan suasana.


“Jadi dia menyuruh Madinah dan tidak bertanggung jawab. Hish.. dasar tidak berubah,” ucap Zano dalam hati.


Shifa yang melihat Zano masih diam menepuk tangan Zano yang berada di sebelahnya.


“Kak Zan..,” ucap Shifa.


“Hmm..,” ucap Zano.


Shifa yang melihat sikap Zano sangat dingin membuatnya menjadi kesal.


“Hish…,” Shifa mendengus dengan kesal.


“Kenapa ?” tanya Zano santai.


“Kakak tahu, baru saja aku seperti berbicara dengan patung,” ucap Shifa.


Zano yang mendengar ucapan Shifa hanya tersenyum. Ya, setiap kali Shifa berbicara Zano selalu merasa bahagia. Entah rasa apa yang dia rasakan sekarang, namun dia tahu berada di samping Shifa dan melihat wajahnya adalah hal ternyaman bagi Zano. Dan dia belum pernah merasakan hal ternyaman seperti itu sebelumnya.


“Kak Zano kenapa tersenyum ? Kakak senang kalau aku bilang seperti patung ?” tanya Shifa dengan polosnya.


Shifa memang belum pernah merasakan cinta jadi dia tidak mengerti makna dari sikap Zano kepadanya.


“Ya benar aku senang,” ucap Zano dengan senyumannya.


“Hish… Mana ada orang bahagia jika dikatakan seperti patung,” ucap Shifa serius.


“Ada,” jawab Zano yang berencana meledeki Shifa agar kesal.


“Iya hanya kak Zano sendiri yang seperti itu,” ucap Shifa.


Shifa yang menyadari kalau Zano sedang menjailinya merasa kesal.


“Kak Zan…,” ucap Shifa sambil melototi Zano.


Zano yang melihat ekspresi Shifa dan raut wajahnya merasa sangat bahagia dan menatap wajah Shifa dengan dalam. Meskipun Shifa membuat mimik wajahnya seperti itu, tetap saja wajah cantik Shifa tidak pudar di hadapan Zano.


“Kenapa sikap kakak berubah ?” tanya Shifa yang merasa canggung karena ditatap oleh Zano.


Zano hanya tersenyum mendengar jawaban dari Shifa dan masih menatapnya. Shifa yang menyadari hal itu merasa sangat gugup.


“Kak Zan… Ayo kita pergi kesana menyusul Celine,” ucap Shifa untuk mengubah suasana.


Zano hanya tersenyum dan mengikuti perintah dari Shifa. Zano tahu gadis yang sedang berada dihadapannya sekarang sedang gugup dan canggung karena sikapnya tapi hal itulah yang membuat Zano bahagia.


***


Disisi lain, Arka dan Zainab sedang menikmati makan siang bersama di café kampus.


“Makanlah yang banyak, tidak usah sungkan. Hari ini jangan anggap saya sebagai dosenmu tapi kakak tingkatmu,” ucap Arka sambil tersenyum.


“Baik kak,” ucap Zai.


“Oh yaa, saya dengar kamu tinggal bersama Shifa di asrama kampus. Apa itu benar ?” tanya Arka memulai topik pembicaraan mereka.


Ya, sebenarnya tujuan Arka mengajak Zainab bertemu untuk mencari tahu tentang Shifa dan meminta bantuannya agar bisa lebih dekat dengan gadis yang disukainya itu.


“Iya kak itu benar,” jawab Zai dengan polos dan belum paham tujuan Arka bertemu dengannya.


“Jadi kalian hanya tinggal berdua ?” tanya Arka lagi.


“Iya kak,” jawab Zai dengan gamblangnya.


“Kamu sudah lama bersahabat dengan Shifa ?” tanya Arka.


“Bagaimana kakak tahu kalau aku dan Shifa bersahabat ? Padahal kami tidak pernah mengumbarnya hehhe….,” ucap Zai sambil tertawa kecil.


“Kamu ini bagaimana sih Zai, kakak kan sudah pernah mengatakan ini sebelumnya. Kalian selalu bersama jadi hal itu sudah cukup menandakan kalau kalian bersahabat,” ucap Arka.


“Oh iya juga sih bener yang kak Arka katakan,” ucap Zai yang masih melanjutkan aktivitas makannya.


Arka yang juga makan dengan santai sambil mengajak Zai berbicara tentang Shifa. Zainab belum menyadari kalau sikap Arka menandakan kalau Arka menyukai sahabatnya itu sehingga Arka ingin mengetahui lebih tentang Shifa dari Zainab.


Meskipun Shifa dan Zainab bersahabat belum lama tapi Zai sudah tahu banyak tentang Shifa bahkan keadaan keluarganya.


“Hmm.. Zai,” ucap Arka.


“Iya kak ?” tanya Zai.


“Kakak ingin menanyakan sesuatu tentang Shifa,” ucap Arka.


“Boleh kak, apaitu ?” tanya Zai.


“Apa hal yang dia sukai ?” tanya Arka.


Mendengar pertanyaan dari Arka, Zainab memberhentikan makannya lalu berpikir sejenak.


“Salju. Ya, salju,” ucap Zai yang melanjutkan makannya kembali.


“Salju ?” tanya Arka.


Zai melihat wajah Arka yang masih belum paham akan perkataannya berusaha menjelaskan.


“Jadi begini kak.. Sebenarnya Shifa ingin sekali menikmati liburan tahun ini dengan bermain salju dan maybe membuat Snowman bersama tapi karena aku alergi dengan salju jadi akhrinya Shifa mengurungkan niatnya,” ucap Zai.


“Jadi hal itu yang disukai Shifa,” gumam Arka yang masih bisa di dengar oleh Zai.


“Lebih tepatnya hal yang diinginkan sih kak. Kalau hal yang disukai aku belum pernah mendengarnya dari Shifa langsung tentang apa yang dia sukai,” ucap Zai memakan makanannya yang hanpir habis.


“Hm.. Okay but kamu tahu tidak hal apa yang dia benci atau semacam yang dia hindari ?” tanya Arka.


Zainab kembali berpikir sejenak.


“Cinta.. yaa maybe cinta,” jawab Zai ngasal.


“Cinta ?” tanya Arka lagi yang tampak bingung.


“Ya dan aku katakan kembali kak.. Sebenarnya bukan apa yang Shifa benci sih, tapi yang Shifa hindari untuk saat ini lebih tepatnya,” ucap Zai.


“Apa Shifa pernah berpacaran atau sedang dekat dengan seseorang saat ini ?” tanya Arka lagi.


“Tidak,” jawab Zai yang sudah mengahabiskan makanannya.


“Oh okay…,” jawab Arka.


Meskipun Zai sudah menghabiskan makanannya, Arka masih terus bertanya semua hal tentang Shifa kepada Zai. Arka dan Zai terus melanjutkan obrolan mereka dan Arka terus menggali informasi tentang Shifa dari Zai sampai semuanya yang ingin Arka ketahui tentang Shifa terjawab.