Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 31



Special Episodeđź’–


Pagi hari tampak mendung dan gelap, karena musim dingin akan tiba wajar cuaca di negara itu seperti itu. Suasana dingin itu pun terasa di dalam kamar asrama dua gadis berhijab, siapa lagi kalau bukan Shifa dan Zainab. Dua sejoli yang saling tulus menyayangi.


“Shif, kamu pakai jacket yang mana?” tanya Zai yang akan bersiap-siap pergi ke kampus bersama dengan Shifa.


“What do you think? Did you know, I have only one jacket?” jawab Shifa.


“Hehhe sorry, but you can wear my jacket. It’s not problem Shif,” ucap Zai sambil mengambil dua jacket miliknya yang berada di dalam lemari.


“Hmm, yeah I’m used to it but not everytime Zai..,” ucap Shifa yang masih memakai outfit kampusnya dan belum memakai jacket tebal musim dingin.


“It will be better if you drink this milk before,” ucap Shifa yang duduk di atas kursi di depan meja makan mungil mereka.


Seperti biasa, masalah menyiapkan sarapan ataupun makanan selalu Shifa karena Zai tidak terbiasa dengan itu sehingga Shifa yang mengerjakannya, dan Shifa tidak keberatan tentang hal itu karena Zai sudah meminta izin kepadanya terlebih dahulu.


“Okay ma B, Hot drink isn’t it?” ucap Zai yang duduk di samping Shifa.


“Ehem… Don’t forget to say Bismillah,” ucap Shifa kepada Zai.


“Sure,” ucap Zai.


Mereka sarapan dengan susu dan roti panggang dengan selai coklat namun Zai dengan selai bluberry. Mereka menikmati sarapan dengan tenang.


“Finish,” ucap Zai setelah selesai sarapan.


“Alhamdulillah, Zai..” ucap Shifa.


“Hehhe iya Shif. Alhamdulillah,” ucap Zai.


Shifa bangkit dari duduknya dan segera mencuci piring lalu bersiap untuk berangkat ke kampus.


“Shif, kamu pakai jaket aku yang ini aja yaa karena aku pikir kamu akan fashionable kalau pakai ini,” ucap Zai sambil mengambil jaket musim dingin miliknya yang berwarna Abu-abu.


Zai terlahir dari keluarga kaya, wajar kalau dia memikirkan tentang outfit dan memilki banyak jenis pakaian dan jaket.


Shifa sudah selesai mencuci piring dan berjalan mendakati Zainab yang berada di depan lemari.


“Up to you Zai,” ucap Shifa.


“Kalau begitu pakai dong Shif, hurry up. Kamu bilang kak Arka suruh kamu ke ruangannya yaa? Tuh jangan sampai telat kamu Shif,” ucap Zai.


Zainab mengetahui hal itu kemarin ketika Shifa selesai VC dengan keluarganya, Arka mengirim pesan ke Shifa untuk datang ke kantornya besok pagi sebelum kelas dimulai.


“Iyaa Zai, kamu bawel banget sih,” ucap Shifa.


“Apa itu bawel?” tanya Zai yang bingung akan bahasa Shifa. Zai tidak tahu kalau Shifa menggunakan bahasa gaul.


“Mau tahu?” tanya Shifa.


Zai mengangguk dengan gaya puppy eyes nya.


“Cerewet. Do you know what is cerewet in English?” tanya Shifa.


“Iya aku tahu. Eh dasar kamu Shif,” ucap Zai.


Mereka selalu bercanda di pagi hari. Itu semua karena sikap Zai yang welcome. Shifa sudah memakai jaketnya dan mereka berdua pergi meninggalkan asrama dan berjalan menuju kampus mereka.


***


Di ruang makan mension Black Wolf, Tuan Zardo, Uncle Jordan, Marcel dan Zano sudah sarapan.


“Celine kenapa belum turun?” tanya Uncle Jordan kepada Marcel.


“I don’t know Uncle but kemarin Celine sedang marah sama Tuan Muda Zano,” ucap Marcel.


“Why? What happen Zano?” tanya Uncle Jordan.


Zano yang akan menyuapkan sendok yang berisi makanan ke mulut meletakkan kembali ke atas piringnya.


“As usual Uncle,” ucap Zano singkat dan menyuapkan makanannya ke mulutnya.


“What do you mean?. Can you speak clearly Zano?. I didn’t catch it,” ucap Uncle Jordan yang masih tidak paham.


“Actually it’s not problem but it’s problem she thinks,” ucap Zano.


“Hmm.. Why do you always fighting with Celine, Zano? You should protect and care to her,” ucap Tuan Zardo.


“I had did it,” ucap Zano santai.


“Yasudah biar aku saja Tuan yang menyusul Celine ke kamarnya,” ucap Marcel.


Namun ketika Marcel akan bangkit dari duduknya, tampak seorang gadis cantik turun dari tangga berjalan menuju meja makan dengan wajah tidak bersemangat.


“What happen to you, dear?” tanya Ayah Celine.


“Nothing, Ayah,” ucap Celine.


Dengan wajah yang seperti itu, tentunya Celine masih marah dengan Zano atas kejadian kemarin.


“Aku tidak mau di antar sama Zano,” ucap Celine.


Zano yang mendengar hal itu hanya diam dan tetap stay cool.


“Jadi kamu mau di antar oleh siapa sayang?” ucap Uncle Jordan.


Celine diam sejenak lalu Zano berbicara singkat.


“With Marcel. It will be better, right?” tanya Zano kepada Celine.


Celine tidak menghiraukan perkataan Zano lalu dia pergi dari ruang makan tanpa meneguk segelas susu yang sudah di siapkan di atas meja.


“Celine…” panggil Uncle Jordan yang khawatir dengan anak semata wayangnya.


“Tidak apa-apa Uncle, nanti siang juga Celine bakal balik ke sikap semula,” ucap Zano kepada Uncle Jordan.


“Zano,” ucap Tuan Zardo.


Zano hanya diam dan melanjutkan aktivitas makannya.


“Celine..,” panggil Marcel.


Celine tidak menghiraukan perkataan Marcel yang sedang mengejarnya.


“Marcel stop follow me !” ucap Celine yang masih badmood.


“Biar aku antar kamu ke kampus yaa.. Diluar sana bahaya Celine apalagi kamu pergi sendirian. Kamu tahukan kelompok Devil Horns sedang mengintai kita,” ucap Marcel.


Celine tetap tidak perduli. Dia tetap ingin menyetir sendiri. Sebenarnya dia ingin membuat efek jera pada sepupunya dengan sikap yang dibuatnya sekarang. Tapi entah itu berhasil atau tidak dengan sikap Zano yang dingin dan cuek itu.


“Aku mau menyetir sendiri. Please don’t bother me,” ucap Celine.


Marcel tahu Celine masih belum bisa membuka hati untuknya tapi dia tetap berusaha karena Uncle Jordan mendukungnya.


“Baiklah aku tak memaksa tapi kamu hati-hati yaa. Kalau ada apa-apa please contact me,” ucap Marcel.


“Iya,” jawab Celine singkat.


“Take care on the way,” ucap Marcel dengan wajah khawatir.


Celine melajukan mobil mewah miliknya keluar dari gerbang utama. Marcel menatap lama mobil Celine sampai hilang dari pandangannya. Marcel tidak sadar kalau Zano sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa kau masih disini? Dimana Celine?” tanya Zano dengan nada dinginnya. Aura Zano memang seperti Tuan Muda Mafia yang dingin dan kejam.


Marcel yang terkejut Tuannya sudah berada disampingnya langsung menoleh ke arah Zano.


“Celine ingin pergi sendiri Tuan,” ucap Marcel.


Zano mengerutkan kedua alisnya, “Kamu membiarkan dia pergi sendiri?” ucap Zano kesal.


“Tapi Tuan tadi Celine memang benar-benar tidak ingin diganggu. Jadi aku harus bagaimana?” tanya Marcel yang tidak tahu harus berbuat apa.


“Kau pikir sendiri,” ucap Zano singkat lalu berjalan memasuki mobil pribadinya untuk menyusul Celine.


“Tuan tunggu aku,” ucap Marcel.


Zano melajukan mobilnya dan tentu Marcel sudah di sampingnya sekarang. Mereka menyusul Celine.


Di perjalanan menuju kampus, Celine yang sedang mengendarai mobilnya masih berpikir bagaimana caranya agar Zano merubah sikapnya yang dingin itu. Celine sama sekali tidak suka kalau Zano tidak merespon apa yang Celine tanyakan.


Tiba-tiba Celine mengerem mobilnya dengan cemas karena hampir menabrak sebuah mobil hitam yang berada di depannya.


Dua pria berotot keluar dari dalam mobil hitam itu dan membuka pintu mobil Celine untuk menculiknya. Celine yang sadar akan hal itu langsung berteriak.


“Hey mau apa kalian?” teriak Celine dengan panik.


“Ayo ikut kami. Jangan membantah,” ucap salah satu pria itu dengan suaranya yang besar seperti bodyguard.


“Lepaskan,” ucap Celine.


Dua pria itu berhasil menarik Celine keluar dari mobil dengan kasar dan berusaha untuk membawanya tapi saat dua pria itu akan memasukkan Celine ke dalam mobil mereka, Celine menendang benda berharga dua pria itu dengan kakinya. Dua pria itu kesakitan. Celine sudah belajar bela diri pastinya apalagi dia seorang anak mafia.


“Aww.. ****,” ucap dua pria itu.


“Rasakan hahaha,” ucap Celine sambil tertawa mengejek. Dalam keadaan genting seperti inipun Celine masih bisa tertawa. Dasar Celine memang gadis yang ceria dan jahil. Pantas saja Zano bersikap begitu padanya.


“Awas kamu gadis nakal,” ucap dua pria itu sambil mengejar Celine yang ingin masuk ke mobilnya.


Celine berhasil ditahan oleh dua pria dan akan membawanya masuk ke mobil.


“Lepaskan aku,” ucap Celine.


Saat dua pria itu akan memasukkan Celine ke mobil mereka, sebuah mobil hitam yang mewah menabrak dua pria itu sekaligus mobil mereka juga.


Zano sengaja menabrak dua pria itu dengan kasar beserta mobil mereka. Celine berlari menuju Zano dan Marcel yang sudah berdiri di antara dua mobil itu.


“Hah aku sudah tahu akan seperti ini,” ucap Zano sinis.


Dor.. Dor… Dor… suara tembakanmenggema di jalan itu. Tanpa berpikir panjang Zano menembak dua pria berotot yang berada di hadapannya. Mobil mereka juga sudah rusak total akibat tabrakan keras dari mobil Zano.


Dua pria itu tergeletak di jalan dengan lumuran darah dari tubuh mereka akibat tembakan.


“Tuan, kenapa kita tidak menyekap mereka dahulu?” tanya Marcel.


“For what? It’s clear, Devil Horns,” ucap Zano dingin.


Celine yang merasa bersalah pada Zano masih diam. Dia tidak tahu akan mengatakan apa dan berbuat apa. Saat Zano menatapnya dengan tatapan tajam Celine bersembunyi di belakang Marcel tanpa menatap Zano. Marcel yang sadar dan tahu akan kemarahan Zano yang sudah memuncak membela Celine tentunya.


“Tuan lebih baik kita masuk ke dalam mobil Tuan,” ucap Marcel yang berusaha mendinginkan Zano.


Zano tidak menghiraukan perkataan Marcel. Dia masih bersikap dingin namun saat Zano akan masuk ke mobil tiba-tiba serangan dari arah persembunyian menyerangnya.


“Dor..,” sekali tembakan meleset karena Zano mengelak.


“Dor..” tembakan kedua mengenai lengan kanan Zano.


Marcel langsung bertindak cepat ketika serangan itu muncul.


“Celine cepat masuk ke dalam mobil Zano,” ucap Marcel.


Celine langsung masuk ke dalam mobil milik Zano sementara Marcel mengeluarkan tembaknya dan menembak seseorang yang berada di persembunyian.


“Dor .. Dor… Dor..,” tiga tembakan menusuk jantung pria yang bersembunyi itu.


Zano dengan lengannya yang berdarah melihat pria itu dan ternyata pria itu adalah salah satu anggota Black Wolf yang berani berkhianat.


“Marcel setelah ini, kumpulkan semua anggota di mension utama,” ucap Zano. Marcel sudah tahu kalau sekarang Zano sedang tidak main-main dan sikap kejamnya kembali terlihat.


“Baik Tuan,” ucap Marcel.


Zano dan Marcel masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat.


“Kak Marcel..,” bisik Celine di dekat telinga Marcel yang duduk di samping Zano.


“Tumben banget Celine panggil aku pakai kata kak,” batin Marcel.


“Kak Marcel,” ucap Celine dengan gaya seperti anak-anak.


“Shuttt.. Kamu diam dulu Celine. Kau tidak lihat wajah Zano sudah seperti itu,” bisik Marcel kepada Celine yang duduk di kursi belakang.


“Tapi tangan kak Zano terluka..,” lirih Celine antara kasihan atau takut karena Celine belum pernah melihat ekspresi Zano saat sedang melawan musuh mafia.


“Iyaa.. Tenang saja. Aku ada ide untuk itu,” ucap Marcel.


Celine mengangguk dan diam kembali sambil menatap wajah sepupunya yang dingin.


***


Di kampus ternama itu, Zai sudah berada di ruang kelas sedangkan Shifa pergi ke kantor Arka. Mereka berpisah di koridor kampus, pemisah antara ruang dosen dan ruang mahasiswa.


Tuk Tuk Tuk… Shifa mengetuk pintu Arka.


“Come in, please” ucap Arka.


Shifa masuk kedalam ruangan milik dosennya itu.


“Morning Sir..” ucap Shifa yang sudah berdiri di depan meja di hadapan Arka.


“Morning Shifa, sit down please,” ucap Arka mempersilahkan Shifa untuk duduk.


“What can I do,Sir?” tanya Shifa.


“Okay..,” ucap Arka sambil membolak-balik kertas yang ada di tangannya.


“I sent you a text yesterday, I mean would you like to help me input of these data?” tanya Arka.


“Can I see the data,Sir?” ucap Shifa.


“Sure,” Arka menyerahkan berkasnya kepada Shifa.


“InsyaaAllah I can do that, Sir” ucap Shifa.


“Do you have a class now?” tanya Arka.


“Yes, I do Sir. What do you think if I will do it later, after my class is finish?” tanya Shifa.


“Oh yeah okay, it’s not problem. You can come here to do it later,” ucap Arka.


“Thank you, Sir” ucap Shifa lalu pergi.


Namun saat Shifa akan membuka pintu untuk keluar, Arka memanggil Shifa lagi.


“Shifa..” ucap Arka sambil menatap Shifa dalam.


Shifa berbalik kemudian bertanya,”Yes Sir?” tanya Shifa yang masih berdiri di depan pintu.


“Would you like to accompany me to have lunch this afternoon?” tanya Arka sedikit canggung.


“Oh yes Sir, of course. Maybe after I pray Dzuhur Sir” ucap Shifa.


“Okay,” ucap Arka dan Shifa keluar dari ruangan Arka.


Shifa sudah masuk ke dalam kelas dan seperti biasa duduk di samping sahabatnya, Zai.


“Bagaimana Shif?” tanya Zai.


“As usual Zai, sir Arka give me a task to input the data” ucap Shifa.


“Keep it up” ucap Zai.


“Kemarin Sir Arka sama kamu bahas apa Zai?” tanya Shifa yang teringat dengan hal itu. Sebenarnya Shifa ingin menanyakan itu kemarin namun Shifa lupa.


“Oh itu, Sir Arka tanya tentang aku dan kamu,” ucap Zai.


“Oh…” ucap Shifa sambil berpikir.


“Tapi dia lebih banyak menanyakan tentangmu Shif,” ucap Zai.


Shifa tampak bingung, belum paham apa maksud dari sahabatnya ini.


“Jangan-jangan,” ucap Zai.


“Jangan-jangan apa Zai?” tanya Shifa penasaran.


BAB 31 ini adalah special episode dari Author karena di episode ini author menulis dua ribu kata lebih, jadi lebih panjang ceritanya.


Agar author semangat menulisnya, readers jgn lupa vote, like comment and tambahkan ke favorite kalian..


thank you, happy reading 🙏🏻💖