
Shifa sedang menunggu jawaban dari Zai.
“Jangan-jangan apa Zai, jangan buat aku penasaran deh,” ucap Shifa.
“Kamu ngerasa gak?” tanya Zai.
“Ngerasa apa? Oh atau jangan-jangan aku membuat kesalahan yaa sama Sir Arka?” Shifa yang seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.
“Bukan itu, Shif” jawab Zai.
“Jadi apa Zainab?” tanya Shifa lagi.
“Tapi gak mungkin kali Shif?” ucap Zai yang bingung dan menerka-nerka sendiri mengingat saat bertemu dengan Arka saat itu.
“Hiss.. Apaan sih kamu. Gak jelas tau gak. Udahlah, lihat dosen sudah datang tuh,” ucap Shifa menghentikan topik pembicaraan mereka yang mulai ngawur.
Pembelajaran di kelas Shifa dan Zainab berjalan dengan lancar. Tepat pukul 12 siang, jam mata kuliah mereka selesai.
“Celine gak masuk kampus yaa?” ucap Zai.
“Iya Zai, Celine kenapa gak masuk?” ucap Shifa.
“Apa aku chat aja yaa?” tanya Zai.
“Iyaa coba Zai,” ucap Shifa.
“Yahh.. sepertinya dia gak lihat ponselnya, aku telepon gak aktif juga,” ucap Zai.
“Kita bisa menanyakannya besok sama Celine Zai,” ucap Shifa.
“Iyahh.. Oh yaa Shif kita sholat di Musholla kan. Setelah itu aku temenin aja ya kamu sampai selesai mengerjakan tugas dari kak Arka. Aku gak mau kejadian waktu itu terulang lagi,” ucap Zainab dengan serius.
“Gak apa-apa Zai. Kamu pulang duluan aja. Insyaa Allah nanti aku gak pulang sore kok,” ucap Shifa.
“Aku gak percaya,” ucap Zai dengan gaya juteknya.
“Kamu gak percaya sama sahabat kamu sendiri Zai?” tanya Shifa sambil melotot kepada Zai.
Zai yang mendengar ucapan dari Shifa langsung luluh melihat Shifa yang berekspresi seperti itu.
“Iya.. iya.. Yasudah aku pulang duluan yaa Shif, kamu hati-hati disini. Nanti kalau pulangnya takut sendirian bisa telpon aku yaa,” ucap Zai.
“Mau ngapain hubungin kamu?” tanya Shifa yang sebetulnya tahu maksud sahabatnya itu namun dia sengaja membuat lelucon dan candaan kepada sahabatnya.
“Mau terbang Shifa. Ya mau jemput kamu pulanglah Shifa,” ucap Zai.
“Iya-iya hahah Yaudah take care on the way. Siapkan makanan buat dinner yahh hehe,” ucap Shifa yang melihat Zai sudah berjalan menuju gerbang keluar kampus.
“Impossible,” ucap Zai tersenyum berbalik arah ke Shifa sambil berjalan keluar gerbang kampus.
Shifa tersenyum bahagia sambil menatap Zai yang sudah tak kelihatan dari kejauhan. Dia sangat bersyukur memilki sahabat yang tulus menyayanginya.
***
Zano, Marcel dan Celine sudah sampai di mension mereka. Tampak wajah Zano yang masih meredam amarahnya karena kejadian tadi. Zano turun dari mobil mewahnya dan menutup pintu mobilnya dengan kasar dan masuk dengan wajah yang dingin. Celine yang melihat sepupunya itu baru pertama kali melihatnya melakukan hal yang membuat Celine terkejut dan takut.
“Oh God,” ucap Celine yang juga ikut turun dari mobil.
Marcel yang melihat Celine terkejut seperti itu merasa dilema antara kasihan atau tidak.
“Celine sebaiknya kau jangan temui Zano dulu. Aku tau moodnya sedang tidak baik hari ini.
Biar aku yang akan bicara padanya nanti. Kau istirahat saja dulu di kamarmu,” ucap Marcel dengan raut wajah serius kepada Celine. Celine tahu tidak biasanya Marcel bersikap serius kepadanya.
Celine menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujui ucapan Marcel. Setelah Marcel berbicara kepada Celine, dia menyusul Zano untuk masuk ke dalam mension sementara Celine masih diam mematung berdiri disamping mobil sepupunya.
“Huff… Apakah dua sejoli itu benar-benar berubah. Aku gak pernah lihat mereka bersikap begitu kepadaku. Semoga aja Zano memaafkanku. Dear God.. Please help me,” ucap Celine yang berbicara sendiri, merasa cemas dan takut.
Marcel yang sudah mengikuti langkah Zano yang akan menuju ke kamar utamanya mencoba berbicara.
“Tuan Muda Zano..,” panggil Marcel.
Zano masih melanjutkan langkah kakinya, namun saat Marcel memanggilnya untuk kedua kali, Zano menghentikan langkahnya yang sudah berada di depan pintu kamarnya.
“Tuan… Tenangkan dirimu. Lihatlah lukamu cukup parah, jika kau kehabisan banyak darah maka itu akan berbahaya. Sebaiknya kau mengobati lukamu itu terlebih dahulu,” ucap Marcel.
“Marcel, kumpulkan semua anggota Black Wolf. Sudah lama aku tidak memberikan mereka pemanasan,” ucapnya dingin.
“Baik Tuan. Tapi sebelum itu saya akan panggil dokter Kevin untuk membalut luka Tuan,” ucap Marcel.
Zano tidak menjawab apapun dan masuk kedalam kamar utamanya.
***
Disisi lain, Shifa yang baru saja melaksanakan ibadahnya, kemudian dia mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh Arka kepadanya.
Tling… Tling… Tling…
Bunyi ponsel Shifa pertanda panggilan masuk. Dia melihat siapa nama pemanggilnya dan ternyata Arka lah yang meneleponnya.
“Assalamu’alaykum Sir,” ucap Shifa.
“Wa’alaykumussalam Shifaa..,” ucap Arka dengan nada yang lembut untuk mengakrabkan diri kepada Shifa.
Shifa yang mendengar nada bicara Arka menjadi canggung dan bingung.
“Ada apa yaa Sir?” tanya Shifa.
“Kok Sir sih?”
“oh kak,” ucap Shifa yang sambil tersenyum dari seberang telepon. Walaupun Arka tidak sedang melihat Shifa sekarang tapi dia tahu Shifa sedang tersenyum.
“Kamu dimana Shif? Have you done?,” tanya Arka.
“Oh I’m in the library right now, Sir. I almost finish it. Maybe a few minute more,” ucap Shifa.
“Oh okay I’ll pick you yaa.. Sekalian kita have lunch bareng. Sebaiknya kamu lanjutinnya di café aja setelah kita selesai lunch, gimana Shif?” tanya Arka.
“Oh yaa Kak. It’s sounds good. Heheh ..Okay kak, Shifa beresin berkas-berkasnya dulu yaa nanti kakak tunggu di depan koridor kampus aja,” ucap Shifa.
“Siyappp deh,” ucap Arka dengan senang hati.
Shifa menutup telponnya dan bersiap-siap untuk segera menemui Arka.
***
“Bagaimana dengan keadaan Tuan Zano, dok?” tanya Marcel khawatir.
Marcel dan dokter Kevin sudah berada di dalam kamar Zano. Zano duduk bersandar di dasboard tempat tidurnya sambil diperiksa oleh dokter.
“Lukanya tidak terlalu parah karena segera ditangani. Mungkin akan lebih berbahaya jika terlambat,” ucap dokter Kevin yang sedang memperban lengan Zano.
Zano yang diobati hanya diam tanpa ekspresi apapun. Seperti biasa sikap dinginnya tidak bisa dimusnahkan dari dirinya.
“Baiklah Dokter Kevin thanks a lot for your kindness,” ucap Marcel.
“Ini obatnya, and please take the medicine regularly,” ucap dokter.
“Sure dok..” ucap Marcel.
Zano memalingkan wajahnya melihat dokter pribadinya memberikan obat kepada Marcel karena Zano sangat benci obat. Marcel tahu kalau Zano pasti tidak mau makan obat itu, tapi sepertinya dia punya rencana agar Zano mau meminum obatnya. Wahh rencana apa yaa?
Marcel tersenyum melihat Zano yang memalingkan wajahnya, dia tahu pasti kalau rencananya berhasil, Zano akan meminum obatnya juga.
“Baik thanks a lot Dok,” ucap Marcel. Kemudian dokter itu pergi dari kamar Zano.
FYI : Dokter Kevin adalah dokter pribadi Zano yang berasal dari negara Zano juga tapi dia sekolah dokter di Eropa.
Saat itu juga Zano bangkit dari kasurnya untuk menemui anggota Black Wolf.
“Tuan…” Marcel menghentikan gerakan Zano.
“Tuan, sebaiknya anda istirahat dulu karena luka anda baru saja di perban, tidak baik banyak bergerak, bukankah itu akan sia-sia?” ucap Marcel yang merasa khawatir kepada Tuan sekaligus sahabat kesayangannya itu.
“Apa maksudmu? Kau pikir aku seorang bayi?” ucap Zano dengan wajah kejamnya.
“Bukan begitu Tuan, hanya saja aku merasa khawatir denganmu,” ucap Marcel yang berhasil mendudukkan kembali Zano di kasurnya.
“Kau anggap aku lemah sekarang?” ucap Zano lagi masih dengan ekspresinya.
“Bu.. bu.. bukan begitu Tuan Muda Zano, leboh baik anda istirahat sebentar saja dulu. Kau kan tau aku tidak pernah melihatmu terluka seperti ini. Kau selalu menang dalam pertempuran tapi kali ini aku khawatir padamu meskipun kau anggap ini hanya masalah kecil. Jadi aku takut kau ada apa-apa,” ucap Marcel gemetar karena saat ini Zano sedang melotot kepadanya.
“Ini bukan masalah bagiku,” ucap Zano yang masih emosi.
“Iya aku tau Tuan tapi bukankah tidak baik jika mengambil keputusan dalam keadaan seperti ini? Aku tidak mau Tuan ambil langkah yang salah. Nanti malam akan aku kumpulkan seluruh anggota Black Wolf,” ucap Marcel membujuk Zano agar mau beristirahat.
“Huff baiklah.. nanti malam aku akan ke mension utama,” akhirnya Zano mengalah dan emosinya sedikit reda.
Marcel merasa lega akhirnya Zano mau beristirahat dan sebenarnya dia mau meminta Zano meminum obatnya tapi Marcel tahu Zano menolak jika dia yang meminta.